Mazmur 32:1-7 | Diburu Rasa Bersalah - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Diburu Rasa Bersalah 

Diburu oleh perasaan bersalah dan berdosa hampir selalu disertai oleh kawan-kawan persaaan negatif lainnya: ketakutan, kuatir, malu, merasa terancam ... wah gak karuan pokoknya. 

Saya membaca satu kisah nyata tetang seseorang yang mengalami hal itu. Nama orang itu Sarah Winchester. Dia tinggal di California – Amerika, di sebuah rumah yang buesar sekali. Rumahnya itu warisan dari mertuanya yang memiliki perusahaan senapan rakitan terkenal waktu itu. 

Gak ada yang kurang dari hidup Sarah. Tapi di satu titik hidupnya dia merasa bersalah dan berdosa sekali sehingga takut luarbiasa bahwa ia akan di datangi oleh arwah-arwah dari orang-orang yang telah di bunuh oleh senapan rakitan keluarganya itu. 

Perasaan berdosa dan takutnya itu kemudian membuat dia mempunyai sebuah ide. Ia berpikir bahwa roh-roh itu tidak akan bisa menemukan dia jika ia membuat rumahnya yang buesar itu jadi mbingungi. Maka ia melakukan renovasi terus menerus setiap hari selama ... 38 tahun.

Apa yang ia bangun dan renov’? 
Pintu-pintu yang bila dibuka ternyata buntu oleh dinding batu bata, tangga-tangga yang bila dinaiki ternyata gak berhubungan dengan lantai manapun. Dan juga jendela-jendela yang ternyata gak bisa dibuka untuk melihat keluar. Semuanya tipuan. 

Mau tahu besarnya rumah Sarah? 
Rumah Sarah memiliki 160 ruangan, 48 perapian, 8 lantai di atas tanah sekitar 3 hektar. Pada saat Sarah meninggal dunia di usia 85 tahun, di tahun 1922, rumah itu memiliki 10.000 jendela dan 2000 pintu ... Wow! 
Waktu saya baca data rumahnya itu, saya gak kebayang gimana dia ngepel atau beberes rumahnya sendirian ya .. haha. 

Tapi ada hal yang jauh lebih saya pikirkan lagi tentang kehidupan teman kita bernama Sarah Winchester itu. Apakah dengan caranya “bersembunyi” seperti itu tadi, dia akhirnya mendapatkan apa yang dia cari? Bebas dari rasa bersalah, takut dan berdosa? Tiga puluh delapan tahun dia bersembunyi di rumah buesarnya itu, apakah akhirnya dia menemukan kedamaiannya? Kita gak tahu. 

Apa yang disadari oleh Sarah sewaktu dia takut dan merasa bersalah ... apa yang dicari oleh Sarah sampai dia meninggal ... Itulah yang disadari dan ditemukan oleh Daud dalam perikop yang kita baca hari ini ... 

Apa yang disadari oleh Daud (dan Sarah)? Bahwa hidup dengan perasaan bersalah dan berdosa itu hidup yang sengsara! Oleh sebab itulah Daud bilang dalam ayat 1 dan 2, 
“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu!” 

Berbahagialah ... kalau kita bisa keluar dari sana (perasaan bersalah – berdosa). Akan tetapi, jelas itu bukan perkara mudah. Karena yang sedang kita hadapi bukan cuma sekedar perasaan, tapi lebih dari itu, kita ini sadar bahwa kita ini telah salah dan telah berbuat dosa.

Lihatlah ayat 3 dan 4 tentang bagaimana seseorang yang bisa terpuruk dalam kesadarab bahwa dia telah salah dan dia telah dosa: lesu, tertekan, kering ... Gak enak banget! 

Ada banyak orang di luar sana yang mungkin, tidak seperti Sarah Winchester dan Daud; Mereka sadar bahwa hal itu tidak mengenakkan, maka mereka pun (Daud dan Sarah) melakukan sesuatu dengan cara mereka masing-masing. Sayangnya ada banyak orang yang memilih jalan yang lain. Mereka memilih untuk berdiam diri (persis seperti ayat 3-4) ketika menyadari bahwa dirinya itu seberdosa atau sebersalah itu. 

Pak, bu ... jika bapak dan ibu bertemu dengan tipikal orang yang seperti itu ... apa yang bapak ibu mau katakan kepada mereka? Kalau saya, Cuma mau bilang satu ini ... “Sebersalah apapun diri kita, seberdosa apapun diri kita ini ... Kita benar-benar tidak punya hak untuk menghukum diri kita sendiri. Kenapa? Karena diri kita bukanlah milik kita, kita ini punya Tuhan. Dan Tuhan bukan hanya sekedar Tuhan yang maunya main menghukum saja, tetapi Tuhan yang penuh kasih dan mau memperjuangkan tentang hidup kita: “Ini bagaimana caranya supaya kau bisa pulih kembali?!” 

Itu yang disadari oleh Daud tetapi tidak disadari oleh Sarah Winchester. Mereka sama-sama punya rasa bersalah-dosa, tetapi yang satu (Sarah) semakin membangun tempat persembunyian (seperti yang dikatakan Daud dalam ayat 3), sedangkan yang satunya lagi, Daud, keluar dari tempat persembunyiannya dan berbicara kepada pemilik hidupnya itu (ayat 5). 

Sama-sama melakukan sesuatu, tetapi hasil yang di dapat berbeda sangat. 
Berhentilah menghukum diri sendiri! Berhentilah membangun tempat persembunyian, keluarlah dari tempat persembunyianmu! Berbicaralah pada Tuhan. Biarkan Tuhan mengembalikan kebahagiaan kehidupan kita dalam sebuah lembaran yang baru ... di kehidupan yang sama sekali baru. 

Bapak dan ibu mau? 
Saya mau. 

Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku. Engkau mengelilingi aku sehingga aku luput dan bersorak.
Mazmur Daud 32:7

Mazmur 32:1-7 | Diburu Rasa Bersalah


Diburu Rasa Bersalah 

Diburu oleh perasaan bersalah dan berdosa hampir selalu disertai oleh kawan-kawan persaaan negatif lainnya: ketakutan, kuatir, malu, merasa terancam ... wah gak karuan pokoknya. 

Saya membaca satu kisah nyata tetang seseorang yang mengalami hal itu. Nama orang itu Sarah Winchester. Dia tinggal di California – Amerika, di sebuah rumah yang buesar sekali. Rumahnya itu warisan dari mertuanya yang memiliki perusahaan senapan rakitan terkenal waktu itu. 

Gak ada yang kurang dari hidup Sarah. Tapi di satu titik hidupnya dia merasa bersalah dan berdosa sekali sehingga takut luarbiasa bahwa ia akan di datangi oleh arwah-arwah dari orang-orang yang telah di bunuh oleh senapan rakitan keluarganya itu. 

Perasaan berdosa dan takutnya itu kemudian membuat dia mempunyai sebuah ide. Ia berpikir bahwa roh-roh itu tidak akan bisa menemukan dia jika ia membuat rumahnya yang buesar itu jadi mbingungi. Maka ia melakukan renovasi terus menerus setiap hari selama ... 38 tahun.

Apa yang ia bangun dan renov’? 
Pintu-pintu yang bila dibuka ternyata buntu oleh dinding batu bata, tangga-tangga yang bila dinaiki ternyata gak berhubungan dengan lantai manapun. Dan juga jendela-jendela yang ternyata gak bisa dibuka untuk melihat keluar. Semuanya tipuan. 

Mau tahu besarnya rumah Sarah? 
Rumah Sarah memiliki 160 ruangan, 48 perapian, 8 lantai di atas tanah sekitar 3 hektar. Pada saat Sarah meninggal dunia di usia 85 tahun, di tahun 1922, rumah itu memiliki 10.000 jendela dan 2000 pintu ... Wow! 
Waktu saya baca data rumahnya itu, saya gak kebayang gimana dia ngepel atau beberes rumahnya sendirian ya .. haha. 

Tapi ada hal yang jauh lebih saya pikirkan lagi tentang kehidupan teman kita bernama Sarah Winchester itu. Apakah dengan caranya “bersembunyi” seperti itu tadi, dia akhirnya mendapatkan apa yang dia cari? Bebas dari rasa bersalah, takut dan berdosa? Tiga puluh delapan tahun dia bersembunyi di rumah buesarnya itu, apakah akhirnya dia menemukan kedamaiannya? Kita gak tahu. 

Apa yang disadari oleh Sarah sewaktu dia takut dan merasa bersalah ... apa yang dicari oleh Sarah sampai dia meninggal ... Itulah yang disadari dan ditemukan oleh Daud dalam perikop yang kita baca hari ini ... 

Apa yang disadari oleh Daud (dan Sarah)? Bahwa hidup dengan perasaan bersalah dan berdosa itu hidup yang sengsara! Oleh sebab itulah Daud bilang dalam ayat 1 dan 2, 
“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu!” 

Berbahagialah ... kalau kita bisa keluar dari sana (perasaan bersalah – berdosa). Akan tetapi, jelas itu bukan perkara mudah. Karena yang sedang kita hadapi bukan cuma sekedar perasaan, tapi lebih dari itu, kita ini sadar bahwa kita ini telah salah dan telah berbuat dosa.

Lihatlah ayat 3 dan 4 tentang bagaimana seseorang yang bisa terpuruk dalam kesadarab bahwa dia telah salah dan dia telah dosa: lesu, tertekan, kering ... Gak enak banget! 

Ada banyak orang di luar sana yang mungkin, tidak seperti Sarah Winchester dan Daud; Mereka sadar bahwa hal itu tidak mengenakkan, maka mereka pun (Daud dan Sarah) melakukan sesuatu dengan cara mereka masing-masing. Sayangnya ada banyak orang yang memilih jalan yang lain. Mereka memilih untuk berdiam diri (persis seperti ayat 3-4) ketika menyadari bahwa dirinya itu seberdosa atau sebersalah itu. 

Pak, bu ... jika bapak dan ibu bertemu dengan tipikal orang yang seperti itu ... apa yang bapak ibu mau katakan kepada mereka? Kalau saya, Cuma mau bilang satu ini ... “Sebersalah apapun diri kita, seberdosa apapun diri kita ini ... Kita benar-benar tidak punya hak untuk menghukum diri kita sendiri. Kenapa? Karena diri kita bukanlah milik kita, kita ini punya Tuhan. Dan Tuhan bukan hanya sekedar Tuhan yang maunya main menghukum saja, tetapi Tuhan yang penuh kasih dan mau memperjuangkan tentang hidup kita: “Ini bagaimana caranya supaya kau bisa pulih kembali?!” 

Itu yang disadari oleh Daud tetapi tidak disadari oleh Sarah Winchester. Mereka sama-sama punya rasa bersalah-dosa, tetapi yang satu (Sarah) semakin membangun tempat persembunyian (seperti yang dikatakan Daud dalam ayat 3), sedangkan yang satunya lagi, Daud, keluar dari tempat persembunyiannya dan berbicara kepada pemilik hidupnya itu (ayat 5). 

Sama-sama melakukan sesuatu, tetapi hasil yang di dapat berbeda sangat. 
Berhentilah menghukum diri sendiri! Berhentilah membangun tempat persembunyian, keluarlah dari tempat persembunyianmu! Berbicaralah pada Tuhan. Biarkan Tuhan mengembalikan kebahagiaan kehidupan kita dalam sebuah lembaran yang baru ... di kehidupan yang sama sekali baru. 

Bapak dan ibu mau? 
Saya mau. 

Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku. Engkau mengelilingi aku sehingga aku luput dan bersorak.
Mazmur Daud 32:7

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER