Matius 24:37-44 | Kecolongan! - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Kecolongan!  
Matius 24:37-44  

Alkisah, melihat banyak orang makin setia dan hidup di dalam Tuhan ... Iblis menjadi gusar. Saking gusarnya mereka, maka diadakanlah KTT Iblis sedunia untuk membicarakan bagaimana caranya mencuri kembali anak-anak Tuhan dari “rel yang benar” itu.  

Iblis 1: Bos, kita bilang saja ke semua orang bahwa Tuhan itu gak ada sama sekali!  
Ketua: Gak mungkin bisa bro, semua orang tahu pada akhirnya bahwa mereka diciptakan dan telah diselamatkan oleh Tuhan.  
Iblis 2: Hmmm ... gimana kalau kita jerat mereka dengan kesedihan yang mendalam karena pergumulan yang mereka alami dalam hidup mereka itu bos?  
Ketua: Percuma! Cepat atau lambat mereka akan sadar bahwa sedih itu gak enak.  
Iblis 3: Ah, kalau mau mencuri balik mereka yang sudah pro sama Tuhan itu gampang bos. Kita ajak saja mereka untuk menikmati hidup mereka dan bersenang-senang sambil terus bilang ke mereka bahwa mereka masih punya banyak waktu.  
Ketua: Ide cerdas! “Masih ada waktu!” Pergilah, kita pasti akan berhasil dengan cara itu. Yeah!

Dan itulah yang dilakukan oleh si jahat hingga sekarang. Selalu berkata kepada kita bahwa kita ini masih punya banyak waktu. Maka bersenang-senanglah.  
- Gak usah ke gereja hari ini, minggu depan juga masih bisa.  
- Tuhan, maaf ya, periode ini gak bisa untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan untuk-Mu. Periode depan saja kalau aku sudah gak sibuk lagi.  
Merasa masih punya banyak waktu dan ternyata sayangnya mereka kecolongan.  

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Yesus membandingkan tentang rencana kedatangan-Nya kembali nanti (orang luar bilangnya sih kiamat, tapi bagi orang percaya ... justru itu penantian akhir kita kan) dibandingkan dengan peristiwa air bah di zaman Nuh.  

Apa persamaannya?  
Satu persamaan. Mereka sama-sama gak tahu kapan waktunya.  
Nuh hanya diberitahu bahwa air bah akan datang (lihat Kejadian 6:9-22 dan Kejadian 7).
Kapan waktunya? Tuhan yang atur waktunya.  

Yang saya heran adalah ... ayat 40-42. Mengapa yesus menggambarkan masing-masing dua orang yang sedang bekerja (dua orang bekerja di ladang dan dua perempuan sedang memutar batu kilangan), tapi kok ya cuma masing-masing satu yang dibawa?  

Saya memahaminya begini ... bapak dan ibu boleh setuju atau tidak setuju dengan ini ...  
Setiap kita pasti punya kesibukan masing-masing. Entah itu kerja, di kantor atau bahkan sibuk di rumah ngurus keluarga. Akan tetapi, ada orang-orang yang sesibuk apapun dirinya itu ... mereka masih saja tetap menyediakan waktunya untuk Tuhan. Bersekutu – Melayani – Bersaksi, bagi Tuhan dan sesama.  

Bayangkan ... Senin sampai Jumat di kantor, masuk pukul 06.45 dan selesai pukul 15.15 ... Akan tetapi, setiap ada kegiatan pelayanan bagi Tuhan ... dia ada. Dan hari Minggu, hari yang seharusnya bisa dipakai untuk liburan ke mana gitu yah, ternyata masih juga diberikannya untuk pelayanan bagi Tuhan di gereja ... dari pagi sampai malam kalau perlu. Tambahin satu lagi, sampai sakit-sakit kalau perlu gak pa pa.  

Tetapi, apakah semua orang memilih jalan seperti itu?  
Militan dalam kerja di dunia sekaligus juga berkarya di ladang Tuhan? Enggak tuh.  
Itulah dia, satu yang dibawa .. sedangkan yang lainnya ditinggalkan. “Satu” yang tidak melupakan untuk tetap berkarya “di ladang Tuhan” meskipun dia juga punya kerja “di ladangnya sendiri”.  

Bu, pak boleh nanya? Umur kita ini sekarang berapa? Empat puluh tahun? Katakanlah kita se-PD itu bisa hidup sampai umur 70-80 tahun’an ... Itu artinya kita masih punya waktu 30 – 40 tahun lagi untuk memilih jalan yang akan kita tempuh, jika memang waktunya masih sepanjang itu (lah kalau enggak gmana?).  

Sampai dengan hari ini ... apa yang sudah kita lakukan bagi Tuhan? Ke depan, di sisa hidup kita ini, apa yang akan kita lakukan bagi Tuhan? Kapan kita mulai melakukan sesuatu dengan apa yang ada dalam hidup kita sekarang ini bagi Tuhan? Nanti? Iya kalau masih ada waktunya ...  

Semoga kita tidak kecolongan karena tipu muslihat si jahat yang selalu berkata kepada kita: “Hey, kamu masih punya banyak waktu”.

Matius 24:37-44 | Kecolongan!


Kecolongan!  
Matius 24:37-44  

Alkisah, melihat banyak orang makin setia dan hidup di dalam Tuhan ... Iblis menjadi gusar. Saking gusarnya mereka, maka diadakanlah KTT Iblis sedunia untuk membicarakan bagaimana caranya mencuri kembali anak-anak Tuhan dari “rel yang benar” itu.  

Iblis 1: Bos, kita bilang saja ke semua orang bahwa Tuhan itu gak ada sama sekali!  
Ketua: Gak mungkin bisa bro, semua orang tahu pada akhirnya bahwa mereka diciptakan dan telah diselamatkan oleh Tuhan.  
Iblis 2: Hmmm ... gimana kalau kita jerat mereka dengan kesedihan yang mendalam karena pergumulan yang mereka alami dalam hidup mereka itu bos?  
Ketua: Percuma! Cepat atau lambat mereka akan sadar bahwa sedih itu gak enak.  
Iblis 3: Ah, kalau mau mencuri balik mereka yang sudah pro sama Tuhan itu gampang bos. Kita ajak saja mereka untuk menikmati hidup mereka dan bersenang-senang sambil terus bilang ke mereka bahwa mereka masih punya banyak waktu.  
Ketua: Ide cerdas! “Masih ada waktu!” Pergilah, kita pasti akan berhasil dengan cara itu. Yeah!

Dan itulah yang dilakukan oleh si jahat hingga sekarang. Selalu berkata kepada kita bahwa kita ini masih punya banyak waktu. Maka bersenang-senanglah.  
- Gak usah ke gereja hari ini, minggu depan juga masih bisa.  
- Tuhan, maaf ya, periode ini gak bisa untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan untuk-Mu. Periode depan saja kalau aku sudah gak sibuk lagi.  
Merasa masih punya banyak waktu dan ternyata sayangnya mereka kecolongan.  

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Yesus membandingkan tentang rencana kedatangan-Nya kembali nanti (orang luar bilangnya sih kiamat, tapi bagi orang percaya ... justru itu penantian akhir kita kan) dibandingkan dengan peristiwa air bah di zaman Nuh.  

Apa persamaannya?  
Satu persamaan. Mereka sama-sama gak tahu kapan waktunya.  
Nuh hanya diberitahu bahwa air bah akan datang (lihat Kejadian 6:9-22 dan Kejadian 7).
Kapan waktunya? Tuhan yang atur waktunya.  

Yang saya heran adalah ... ayat 40-42. Mengapa yesus menggambarkan masing-masing dua orang yang sedang bekerja (dua orang bekerja di ladang dan dua perempuan sedang memutar batu kilangan), tapi kok ya cuma masing-masing satu yang dibawa?  

Saya memahaminya begini ... bapak dan ibu boleh setuju atau tidak setuju dengan ini ...  
Setiap kita pasti punya kesibukan masing-masing. Entah itu kerja, di kantor atau bahkan sibuk di rumah ngurus keluarga. Akan tetapi, ada orang-orang yang sesibuk apapun dirinya itu ... mereka masih saja tetap menyediakan waktunya untuk Tuhan. Bersekutu – Melayani – Bersaksi, bagi Tuhan dan sesama.  

Bayangkan ... Senin sampai Jumat di kantor, masuk pukul 06.45 dan selesai pukul 15.15 ... Akan tetapi, setiap ada kegiatan pelayanan bagi Tuhan ... dia ada. Dan hari Minggu, hari yang seharusnya bisa dipakai untuk liburan ke mana gitu yah, ternyata masih juga diberikannya untuk pelayanan bagi Tuhan di gereja ... dari pagi sampai malam kalau perlu. Tambahin satu lagi, sampai sakit-sakit kalau perlu gak pa pa.  

Tetapi, apakah semua orang memilih jalan seperti itu?  
Militan dalam kerja di dunia sekaligus juga berkarya di ladang Tuhan? Enggak tuh.  
Itulah dia, satu yang dibawa .. sedangkan yang lainnya ditinggalkan. “Satu” yang tidak melupakan untuk tetap berkarya “di ladang Tuhan” meskipun dia juga punya kerja “di ladangnya sendiri”.  

Bu, pak boleh nanya? Umur kita ini sekarang berapa? Empat puluh tahun? Katakanlah kita se-PD itu bisa hidup sampai umur 70-80 tahun’an ... Itu artinya kita masih punya waktu 30 – 40 tahun lagi untuk memilih jalan yang akan kita tempuh, jika memang waktunya masih sepanjang itu (lah kalau enggak gmana?).  

Sampai dengan hari ini ... apa yang sudah kita lakukan bagi Tuhan? Ke depan, di sisa hidup kita ini, apa yang akan kita lakukan bagi Tuhan? Kapan kita mulai melakukan sesuatu dengan apa yang ada dalam hidup kita sekarang ini bagi Tuhan? Nanti? Iya kalau masih ada waktunya ...  

Semoga kita tidak kecolongan karena tipu muslihat si jahat yang selalu berkata kepada kita: “Hey, kamu masih punya banyak waktu”.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER