Habakuk 1:1-4, 2:1-5 | Orang Benar akan Hidup oleh karena Percayanya - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Orang Benar akan Hidup oleh karena Percayanya 


Beberapa hari yang lalu saya membaca salah satu tulisan seorang teman di Facebook. Isi tulisan itu adalah komentarnya tentang beberapa kalimat iklan yang tampak ‘wah’. Beberapa mau saya sebutkan sekarang: 

1. “Orang pintar minum ...” 
Jadi, kalau kita gak minum produk itu, kita belum termasuk orang pintar. Padahal apa kaitannya antara tumbuh kembang otak dengan produk yang tujuan sebenarnya itu adalah untuk mencegah (bukan menyembuhkan lho), masuk angin? Gak ada kaitannya sama sekali!

2. “Kulit tetap sehat, cerah dan kencang” 
Jadi, kalau kita gak pake produk itu, semua kita pasti punya kulit yang ‘tidak selalu cerah, kusam dan tak kencang’. Padahal, masalah umur semua orang kan tidak bisa bohong ya. Menua itu adalah keharusan memang. 

3. “Wajahmu mengalihkan duniaku” 
Coba aja dipake itu produknya ... bener gak kejadian? Kita pake, kemudian wajah kita menjadi mengalihkan dunia (perhatian) orang lain di sekitar kita waktu itu ... Beneran? 

Mungkin kita semua bisa bilang, “Ya pak .. namanya juga iklan!” ... Iya bener, itu iklan doang ... iklan yang pake kalimat ‘wah’, walau itu belum tentu benar .. dan setiap kita bisa saja jadi percaya dengan ungkapan ‘wah’ dari iklan-iklan itu ... akhirnya beli-beli juga kan ... 

Dalam teks Alkitab kita hari ini, ada satu kalimat yang tampak wah juga dari Tuhan untuk umat Israel dan nabi Habakuk di masa itu (dan pastinya kalimat yang tampak wah itu pun masih tampak mempesonakan semua orang percaya dari masa ke masa) ... 

Yang mana? Habakuk 2:4c 
“Orang benar akan hidup oleh percayanya”. 

Tampak wah? Sepertinya ... Tampaknya menenangkan, mendamaikan ... tetapi kalau kita mau melihat alur kisahnya ... ternyata gak mudah sama sekali lho meng-amin-kan pernyataan ‘wah’ dari Tuhan itu. 

Mari kita mulai melihat dari Habakuk 1 perikop yang pertama (1:1-4) 
Habakuk mengeluhkan tentang ketidaksetiaan. Saya kira perikop paling awal dari Habakuk 1 ini adalah keluhan Habakuk karena Allah yang tampak tak peduli karena Israel dipenuhi oleh orang-orang yang tidak setia, orang fasik (bnd. ayat 2) 

Perikop yang selanjutnya dari Habakuk 1 (1:5-11) 
Allah mulai angkat bicara. Dia mulai marah dan menghukum Israel. Bacalah 1:6-11 ... Israel yang jahat dan tidak setia itu dihukum oleh Tuhan dengan cara mengirim suatu bangsa yang garang dan jahat pula. 

Perikop yang selanjutnya lagi dari Habakuk (1:12-17) 
Habakuk mempertanyakan ‘dimana letak keadilan Tuhan?’ Ketika orang benar yang hidup di Israel sudah hidup sengsara – menderita karena ditindas oleh orang Israel yang fasik, ... dan sekarang? Orang yang benar di Israel pun kini harus menghadapi kenyataan: “Tuhan menghukum Israel dengan mengirim satu bangsa yang garang – jahat juga”. Itu artinya penghukuman Allah juga akan ber-efek dalam kehidupan orang benar yang terkena dampak (pastinya) dari cara Allah menghukum orang Israel yang fasik. 

Barulah dalam perikop selanjutnya (2:1-5), setelah kita tahu bahwa itulah rencana penghukuman Allah kepada Israel (artinya hukuman itu belum terjadi hari itu, lihat 2:3) ... Barulah Tuhan mengatakan kepada Habakuk – pasti dengan maksud untuk menentramkan hati Habakuk – dengan kalimat dalam 2:4c, “orang benar akan hidup oleh percayanya”. 

Saya mau tanya ... Jika bapak dan ibu adalah Habakuk dan orang Israel di masa itu (katakanlah bapak dan ibu, kita semua ada di posisi ‘orang benar’nya) ... apakah bapak dan ibu sudah bisa jadi damai dan tenteram dengan perkataan Tuhan yang tampak ‘wah’ itu? 

Jadi kira-kira begini: 
Orang benar sudah tertindas oleh orang fasik. Itu menyesakkan pastinya. Kemudian Tuhan membeberkan rencana-Nya kepada Habakuk bahwa nanti Israel akan mendapatkan hukumannya. Dan ketika Tuhan menjalankan hukuman itu, dengan mengirim bangsa yang lebih garang lagi untuk menaklukkan Israel, itu berarti berasa juga dalam hidup orang benar di Israel. Sudah menderita, nanti malah makin menderita lagi. 

Sudah dapat rasa tenteram dan damainya? Mungkin belum ... 
Karena apa yang dikatakan Tuhan tentang rencana-Nya ke depan bagi Israel waktu itu, bukanlah menyulap keadaan jadi serba baik. Dia tidak sedang merencanakan mengubah ‘hutan’ menjadi ‘Taman Impian Jaya Ancol’. Bukan. Justru yang akan Allah lakukan adalah ... menghukum Israel melalui penderitaan. Bukan dilepaskan dari penderitaan, tetapi malah terkesan jadi bertambah itu penderitaannya. Dan yang lebih menyesakkan lagi adalah ... mereka (orang benar) yang sudah menderita akan menjadi semakin menderita karena tindakan Allah kepada orang fasik yang ... seperti yang sudah dinyatakan tadi ... yang berefek pula pastinya dalam hidup orang Israel yang dikatakan ‘orang benar’ itu. Bukan mereka yang mau dihukum, tetapi mereka kena dampaknya aja ... 

Jadi apa yang bisa menentramkan hati, jika situasinya menjadi sedemikian buruknya? 

Jika realitas penderiitaan dalam perikop yang kita sudah ulas tadi, pasti akan jauh lebih mudah meng-amin-an kalimat ‘wah’, “orang benar akan hidup oleh percayanya”. Tetapi kan kenyataan dalam perikop kita tidak seperti itu: Bukan menjadi hilang penderitaannya, malah terkesan ‘mau ditambahin’ ... 

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal ... 

(1) Mari kita yakini bahwa Allah akan selalu bertindak adil ditengah rasa ketidakadilan dalam hidup ini. 

Coba saja lihat perikop selanjutnya (2:6-20) ... Kepada siapa Tuhan marahnya? 
Ayat 6: “celakalah orang yang menggaruk ...” 
Ayat 9: “celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal ...” 
Ayat 12: “celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah ...” 

Siapa yang dimarahi oleh Tuhan? Bukan orang benar. 
Itu artinya dengan cara-Nya yang mungkin kita gak akan bisa mengerti kali ya, Tuhan akan menjagai hati dan pikiran orang percaya ketika mereka berada di posisi yang ‘sudah sulit dan menjadi semakin sulit’ ... sebab bukan kepada merekalah Tuhan marah. 

Kenapa itu bisa terjadi? 

(2) Karena yang namanya kebenaran, walau digoyang dengan cara apapun, dia akan tetap mampu bertahan dan berlanjut. 

Saya suka cerita tentang petani kentang yang setelah panen, seluruh kentangnya itu diangkut ke bak mobilnya untuk di bawa ke pasar. Seseorang bertanya: “Pak petani, gak repot nanti memisahkan mana kentang yang besar dan mana kentang yang kecil?” Kemudian petani itu menjawab: “Oh, tentu saya tidak akan repot memisahkan lagi, sebab nanti selama perjalanan menuju pasar, akan ada begitu banyak goncangan karena jalan yang tidak rata yang akan dilalui oleh mobil angkut ini. Kentang yang besar akan selalu tampil ke permukaan, sedangkan kentang yang kecil akan menjadi turun ke bawah dengan sendirinya. Gak repot kok.” 

Itulah kebenaran dari kalimat “orang benar akan hidup oleh percayanya.” Dia tidak akan mudah goyah karena guncangan, justru guncangan itulah yang membuat akhirnya mereka mampu tetap bertahan dan selalu mampu muncul kembali ke permukaan (tidak tenggelam). 

Apa yang kita percaya jika kita hari ini merasa sudah melakukan yang benar, tetapi keadaan belum berubah sama sekali? “Aku akan semakin terpuruk!” atau “Tuhan akan membangkitkan kembali kehidupan kami”. Bapak dan ibu mau pilih yang mana? Hati-hati, sebab dua-duanya bisa menjadi kebenaran dalam hidup kita jika kita mempercayai hal itu.

Habakuk 1:1-4, 2:1-5 | Orang Benar akan Hidup oleh karena Percayanya


Orang Benar akan Hidup oleh karena Percayanya 


Beberapa hari yang lalu saya membaca salah satu tulisan seorang teman di Facebook. Isi tulisan itu adalah komentarnya tentang beberapa kalimat iklan yang tampak ‘wah’. Beberapa mau saya sebutkan sekarang: 

1. “Orang pintar minum ...” 
Jadi, kalau kita gak minum produk itu, kita belum termasuk orang pintar. Padahal apa kaitannya antara tumbuh kembang otak dengan produk yang tujuan sebenarnya itu adalah untuk mencegah (bukan menyembuhkan lho), masuk angin? Gak ada kaitannya sama sekali!

2. “Kulit tetap sehat, cerah dan kencang” 
Jadi, kalau kita gak pake produk itu, semua kita pasti punya kulit yang ‘tidak selalu cerah, kusam dan tak kencang’. Padahal, masalah umur semua orang kan tidak bisa bohong ya. Menua itu adalah keharusan memang. 

3. “Wajahmu mengalihkan duniaku” 
Coba aja dipake itu produknya ... bener gak kejadian? Kita pake, kemudian wajah kita menjadi mengalihkan dunia (perhatian) orang lain di sekitar kita waktu itu ... Beneran? 

Mungkin kita semua bisa bilang, “Ya pak .. namanya juga iklan!” ... Iya bener, itu iklan doang ... iklan yang pake kalimat ‘wah’, walau itu belum tentu benar .. dan setiap kita bisa saja jadi percaya dengan ungkapan ‘wah’ dari iklan-iklan itu ... akhirnya beli-beli juga kan ... 

Dalam teks Alkitab kita hari ini, ada satu kalimat yang tampak wah juga dari Tuhan untuk umat Israel dan nabi Habakuk di masa itu (dan pastinya kalimat yang tampak wah itu pun masih tampak mempesonakan semua orang percaya dari masa ke masa) ... 

Yang mana? Habakuk 2:4c 
“Orang benar akan hidup oleh percayanya”. 

Tampak wah? Sepertinya ... Tampaknya menenangkan, mendamaikan ... tetapi kalau kita mau melihat alur kisahnya ... ternyata gak mudah sama sekali lho meng-amin-kan pernyataan ‘wah’ dari Tuhan itu. 

Mari kita mulai melihat dari Habakuk 1 perikop yang pertama (1:1-4) 
Habakuk mengeluhkan tentang ketidaksetiaan. Saya kira perikop paling awal dari Habakuk 1 ini adalah keluhan Habakuk karena Allah yang tampak tak peduli karena Israel dipenuhi oleh orang-orang yang tidak setia, orang fasik (bnd. ayat 2) 

Perikop yang selanjutnya dari Habakuk 1 (1:5-11) 
Allah mulai angkat bicara. Dia mulai marah dan menghukum Israel. Bacalah 1:6-11 ... Israel yang jahat dan tidak setia itu dihukum oleh Tuhan dengan cara mengirim suatu bangsa yang garang dan jahat pula. 

Perikop yang selanjutnya lagi dari Habakuk (1:12-17) 
Habakuk mempertanyakan ‘dimana letak keadilan Tuhan?’ Ketika orang benar yang hidup di Israel sudah hidup sengsara – menderita karena ditindas oleh orang Israel yang fasik, ... dan sekarang? Orang yang benar di Israel pun kini harus menghadapi kenyataan: “Tuhan menghukum Israel dengan mengirim satu bangsa yang garang – jahat juga”. Itu artinya penghukuman Allah juga akan ber-efek dalam kehidupan orang benar yang terkena dampak (pastinya) dari cara Allah menghukum orang Israel yang fasik. 

Barulah dalam perikop selanjutnya (2:1-5), setelah kita tahu bahwa itulah rencana penghukuman Allah kepada Israel (artinya hukuman itu belum terjadi hari itu, lihat 2:3) ... Barulah Tuhan mengatakan kepada Habakuk – pasti dengan maksud untuk menentramkan hati Habakuk – dengan kalimat dalam 2:4c, “orang benar akan hidup oleh percayanya”. 

Saya mau tanya ... Jika bapak dan ibu adalah Habakuk dan orang Israel di masa itu (katakanlah bapak dan ibu, kita semua ada di posisi ‘orang benar’nya) ... apakah bapak dan ibu sudah bisa jadi damai dan tenteram dengan perkataan Tuhan yang tampak ‘wah’ itu? 

Jadi kira-kira begini: 
Orang benar sudah tertindas oleh orang fasik. Itu menyesakkan pastinya. Kemudian Tuhan membeberkan rencana-Nya kepada Habakuk bahwa nanti Israel akan mendapatkan hukumannya. Dan ketika Tuhan menjalankan hukuman itu, dengan mengirim bangsa yang lebih garang lagi untuk menaklukkan Israel, itu berarti berasa juga dalam hidup orang benar di Israel. Sudah menderita, nanti malah makin menderita lagi. 

Sudah dapat rasa tenteram dan damainya? Mungkin belum ... 
Karena apa yang dikatakan Tuhan tentang rencana-Nya ke depan bagi Israel waktu itu, bukanlah menyulap keadaan jadi serba baik. Dia tidak sedang merencanakan mengubah ‘hutan’ menjadi ‘Taman Impian Jaya Ancol’. Bukan. Justru yang akan Allah lakukan adalah ... menghukum Israel melalui penderitaan. Bukan dilepaskan dari penderitaan, tetapi malah terkesan jadi bertambah itu penderitaannya. Dan yang lebih menyesakkan lagi adalah ... mereka (orang benar) yang sudah menderita akan menjadi semakin menderita karena tindakan Allah kepada orang fasik yang ... seperti yang sudah dinyatakan tadi ... yang berefek pula pastinya dalam hidup orang Israel yang dikatakan ‘orang benar’ itu. Bukan mereka yang mau dihukum, tetapi mereka kena dampaknya aja ... 

Jadi apa yang bisa menentramkan hati, jika situasinya menjadi sedemikian buruknya? 

Jika realitas penderiitaan dalam perikop yang kita sudah ulas tadi, pasti akan jauh lebih mudah meng-amin-an kalimat ‘wah’, “orang benar akan hidup oleh percayanya”. Tetapi kan kenyataan dalam perikop kita tidak seperti itu: Bukan menjadi hilang penderitaannya, malah terkesan ‘mau ditambahin’ ... 

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal ... 

(1) Mari kita yakini bahwa Allah akan selalu bertindak adil ditengah rasa ketidakadilan dalam hidup ini. 

Coba saja lihat perikop selanjutnya (2:6-20) ... Kepada siapa Tuhan marahnya? 
Ayat 6: “celakalah orang yang menggaruk ...” 
Ayat 9: “celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal ...” 
Ayat 12: “celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah ...” 

Siapa yang dimarahi oleh Tuhan? Bukan orang benar. 
Itu artinya dengan cara-Nya yang mungkin kita gak akan bisa mengerti kali ya, Tuhan akan menjagai hati dan pikiran orang percaya ketika mereka berada di posisi yang ‘sudah sulit dan menjadi semakin sulit’ ... sebab bukan kepada merekalah Tuhan marah. 

Kenapa itu bisa terjadi? 

(2) Karena yang namanya kebenaran, walau digoyang dengan cara apapun, dia akan tetap mampu bertahan dan berlanjut. 

Saya suka cerita tentang petani kentang yang setelah panen, seluruh kentangnya itu diangkut ke bak mobilnya untuk di bawa ke pasar. Seseorang bertanya: “Pak petani, gak repot nanti memisahkan mana kentang yang besar dan mana kentang yang kecil?” Kemudian petani itu menjawab: “Oh, tentu saya tidak akan repot memisahkan lagi, sebab nanti selama perjalanan menuju pasar, akan ada begitu banyak goncangan karena jalan yang tidak rata yang akan dilalui oleh mobil angkut ini. Kentang yang besar akan selalu tampil ke permukaan, sedangkan kentang yang kecil akan menjadi turun ke bawah dengan sendirinya. Gak repot kok.” 

Itulah kebenaran dari kalimat “orang benar akan hidup oleh percayanya.” Dia tidak akan mudah goyah karena guncangan, justru guncangan itulah yang membuat akhirnya mereka mampu tetap bertahan dan selalu mampu muncul kembali ke permukaan (tidak tenggelam). 

Apa yang kita percaya jika kita hari ini merasa sudah melakukan yang benar, tetapi keadaan belum berubah sama sekali? “Aku akan semakin terpuruk!” atau “Tuhan akan membangkitkan kembali kehidupan kami”. Bapak dan ibu mau pilih yang mana? Hati-hati, sebab dua-duanya bisa menjadi kebenaran dalam hidup kita jika kita mempercayai hal itu.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER