Matius 18:21-35 | Susahnya Mengampuni! - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Susahnya Mengampuni!



Dalam sekolah kehidupan, “mata kuliah mengampuni” bukanlah mata kuliah pilihan dalam kurikulum hidup kita. Tetapi merupakan mata kuliah yang wajib kita ikuti sepanjang hidup kita, dan memang ... tidak mudah untuk lulus ujian akhirnya. 

Beberapa orang mendapat nilai F dalam mata kuliah mengampuni ... karena ... mereka tak bisa melakukan hal itu disepanjang hidupnya. Mungkin karena sakitnya memang begitu mendalam sehingga ... tak ada lagi kata pengampunan di sana. 

Banyak orang yang mendapat nilai C dalam mata kuliah mengampuni ... karena ... mereka bisa mengampuni, tetapi mereka tak bisa melupakan. Kata pengampunan memang sudah terucap, tetapi untuk menyingkirkan sakitnya dari hati dan pikiran kita ... sulitnya minta ampun.

Entah berapa banyak orang yang bisa mendapatkan nilai A dalam mata kuliah mengampuni ini ... Mereka tahu seberapa besar rasa sakitnya ... dan mereka memilih untuk mengampuni dan melupakan. Atau dengan kata lain, mereka memilih untuk memperbaharui kehidupan mereka dengan sesama melalui jalan pengampunan. 

Boleh bertanya? Kali terakhir bapak dan ibu merasa tersakiti, dapat nilai berapa bapak dan ibu dari sekolah kehidupan kita tentang mata kuliah mengampuni? A? :)

Pertanyaan Petrus adalah pertanyaan setiap kita yang merasa tersakiti hari ini ... “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” ... Lalu Petrus melanjutkan, “sampai tujuh kali?” 

Hari itu sewaktu Petrus bertanya kepada Yesus, sebenarnya dia sudah sangat bermurah hati ... menurut ukuran orang Yahudi. Semua orang Yahudi diajarkan untuk mengampuni sebanyak sekali, dua kali ... dan tiga kali ... tetapi setelah itu, dia sudah tak layak lagi untuk diberikan pengampunan. Jadi sebenarnya apa yang dilakukan Petrus sewaktu bertanya kepada Yesus itu, dia sudah melipatgandakan ukuran standar yang berlaku pada waktu itu, plus ... tambahan bonus satu kali lagi. Murah hati! Bagi Petrus, inilah perkataan Yesus tentang “berjalan dua mil lebih banyak lagi dan memberikan pipi kirimu”. 

Yang menarik adalah, ketika pak dosen kehidupan kita, justru memberikan ukuran yang jauh sangat tidak dimengerti oleh pikiran orang Yahudi waktu itu, dan pasti juga tak masuk dalam pikiran kita hari ini. “Bukan sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh” ... 

Hmmm, dapatkah bapak dan ibu menghitung jumlahnya dengan cepat? Yups ... butuh waktu beberapa detik untuk menghitungnya sehingga kita bertemu dengan jumlah 490 kali! Dan kita tahu bahwa dosen kehidupan kita tidak sedang berbicara tentang masalah “jumlah berapa kali banyaknya”, melainkan “Kamu harus mengampuni dengan tidak terbatas. Sediakan selalu pengampunanmu untuk dia.” 

Seperti layaknya seorang guru, Yesus kemudian mengajar Petrus dan kita hari ini melalui sebuah perumpamaan. Mari kita simak bersama ... 

1. Pengalaman Diampuni 

Seorang hamba memiliki hutang 10.000 talenta kepada sang Raja. Satu Talenta = 3000 syikal = 6000 dinar. Satu dinar adalah UMR satu hari kerja. Jika UMR DKI hari ini 2,2 juta rupiah, maka cobalah hitung berapa besar si hamba itu berhutang kepada raja ... Suangat buesar hutangnya itu ... Jika hari kerja kita hitung sebanyak 25 hari, maka hasilnya adalah 6000 dinar dibagi 25 hari kerja dalam sebulan = 240. Itu artinya 240 bulan, sedangkan UMR DKI 2,2 juta/bulan. Maka, 2,2 juta dikali 240 ... Rp. 528.000.000,- ... Setengah Milyar lebih hutang si hamba itu kepada sang raja ... Buanyak pisan euy! 

Ups, ada yang terlupakan sedikit ... perhitungan itu baru menghitung bila hutangnya sebanyak 1 talenta! Padahal, si hamba itu memiliki hutang 10.000 talenta! Jadi, Rp 528.000.000 yang sudah buanyak itu. masih harus dikalikan lagi sebanyak 10.000.

Rp. 5.280.000.000.000
(coba sebut itu berapa banyaknya ...)

Ayat 27 
“Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan ... sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya”. 


2. Kesempatan untuk Mengampuni 

“Bayar hutangmu!” 

Seharusnya, pengalaman diampuni akan memudahkan seseorang untuk bisa mengampuni orang lain. Tetapi sayang, hal itu tak berlaku bagi si hamba ini. Kegagalan si hamba itu adalah ketika ia berjumpa dengan satu peristiwa di mana ia bisa menunjukkan belas kasih yang sudah diterimanya kepada seseorang yang membutuhkan apa yang telah .. baru saja ia terima. 

Lihatlah perbandingannya: Diampuni 6000 dinar lalu gagal mengampuni yang hanya 100 dinar. Dengan perhitungan yang sudah kita lakukan di atas, maka perbandingannya adalah diampuni Rp. 528.000.000,- dan gagal mengampuni yang hanya Rp. 8.800.000,- !! Itu jahat (ayat 22)! - Jangan lupa ya, bahwa itu belum dihitung 10.000 talenta, baru dihitung 1 talenta saja -

Hamba yang jahat itu mendapat nilai F. 
Kita semua tentu tidak mau mengulangi kesalahan yang telah ditunjukkan oleh si hamba jahat itu. 

3. Bagaimana Aku Bisa Mengampuni? 

Saya tertarik dengan ayat 34 ... Di sana digambarkan tentang algojo-algojo yang menuntut si hamba jahat itu sampai akhir hingga hutangnya yang ratusan juta itu lunas. Kata kerja dasar Yunani yang digunakan untuk kata “algojo” artinya “menyiksa” – suatu pikiran yang menakutkan. Kata kerja itu muncul dalam Matius 8:6, Lukas 16:23-25 dan 2 Petrus 2:8 ... Semuanya bercerita tentang (kata kerja) kesakitan, penderitaan dan siksaan yang menjadi pengalaman tak terpisahkan. 

Akan tetapi, dalam Matius 18:35, Yesus menyebut tentang algojo – itu kata benda, bukan kata kerja. Atau dengan kata lain, Yesus sedang mau menggambarkan apa jadinya bila sseseorang memilih untuk tidak mengampuni: selalu dihantui oleh pikiran-pikiran yang menyiksa, merasa selalu menderita dan kegelisahan yang selalu menyakiti diri sendiri. Itulah algojonya. 

Seorang penafsir Alkitab menjelaskan hal itu begini: 
“Ini adalah bagian yang sangat jelas menggambarkan apa yang akan terjadi apabila kita tidak mengampuni orang lain. Penjelasan yang tepat tetang kemarahan dan kepahitan yang merongrong serta kebencian atau iri hati yang amat menyakitkan. Perasaan yang sangat tidak enak. Kita tidak dapat lepas darinya. Kita sangat merasakan adanya jurang pemisah dengan orang tersebut dan setiap kali kita memikirkannya kita merasakan adanya api kemarahan dan kebencian yang menggerogoti kedamaian dan ketenangan kita. Itulah siksaan yang sedang dikatakan oleh Tuhan kita, yang akan kita alami (jika memilih untuk tidak mengampuni).” 

Bebaskan diri kita dari semua tuntutan si algojo. Tidak pernah ada kata terlambat untuk keluar dari sel tahanan penderitaan yang kita bangun sendiri ketika kita tidak mau mengampuni orang lain. Segeralah keluar dari sel tahanan penderitaan dan kepahitan yang kita buat sendiri. Ampuni dia. Lupakan kesalahannya. Mulailah hidup yang baru, yang jauh lebih baik dibanding hari ini ...

Matius 18:21-35 | Susahnya Mengampuni!

Susahnya Mengampuni!



Dalam sekolah kehidupan, “mata kuliah mengampuni” bukanlah mata kuliah pilihan dalam kurikulum hidup kita. Tetapi merupakan mata kuliah yang wajib kita ikuti sepanjang hidup kita, dan memang ... tidak mudah untuk lulus ujian akhirnya. 

Beberapa orang mendapat nilai F dalam mata kuliah mengampuni ... karena ... mereka tak bisa melakukan hal itu disepanjang hidupnya. Mungkin karena sakitnya memang begitu mendalam sehingga ... tak ada lagi kata pengampunan di sana. 

Banyak orang yang mendapat nilai C dalam mata kuliah mengampuni ... karena ... mereka bisa mengampuni, tetapi mereka tak bisa melupakan. Kata pengampunan memang sudah terucap, tetapi untuk menyingkirkan sakitnya dari hati dan pikiran kita ... sulitnya minta ampun.

Entah berapa banyak orang yang bisa mendapatkan nilai A dalam mata kuliah mengampuni ini ... Mereka tahu seberapa besar rasa sakitnya ... dan mereka memilih untuk mengampuni dan melupakan. Atau dengan kata lain, mereka memilih untuk memperbaharui kehidupan mereka dengan sesama melalui jalan pengampunan. 

Boleh bertanya? Kali terakhir bapak dan ibu merasa tersakiti, dapat nilai berapa bapak dan ibu dari sekolah kehidupan kita tentang mata kuliah mengampuni? A? :)

Pertanyaan Petrus adalah pertanyaan setiap kita yang merasa tersakiti hari ini ... “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” ... Lalu Petrus melanjutkan, “sampai tujuh kali?” 

Hari itu sewaktu Petrus bertanya kepada Yesus, sebenarnya dia sudah sangat bermurah hati ... menurut ukuran orang Yahudi. Semua orang Yahudi diajarkan untuk mengampuni sebanyak sekali, dua kali ... dan tiga kali ... tetapi setelah itu, dia sudah tak layak lagi untuk diberikan pengampunan. Jadi sebenarnya apa yang dilakukan Petrus sewaktu bertanya kepada Yesus itu, dia sudah melipatgandakan ukuran standar yang berlaku pada waktu itu, plus ... tambahan bonus satu kali lagi. Murah hati! Bagi Petrus, inilah perkataan Yesus tentang “berjalan dua mil lebih banyak lagi dan memberikan pipi kirimu”. 

Yang menarik adalah, ketika pak dosen kehidupan kita, justru memberikan ukuran yang jauh sangat tidak dimengerti oleh pikiran orang Yahudi waktu itu, dan pasti juga tak masuk dalam pikiran kita hari ini. “Bukan sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh” ... 

Hmmm, dapatkah bapak dan ibu menghitung jumlahnya dengan cepat? Yups ... butuh waktu beberapa detik untuk menghitungnya sehingga kita bertemu dengan jumlah 490 kali! Dan kita tahu bahwa dosen kehidupan kita tidak sedang berbicara tentang masalah “jumlah berapa kali banyaknya”, melainkan “Kamu harus mengampuni dengan tidak terbatas. Sediakan selalu pengampunanmu untuk dia.” 

Seperti layaknya seorang guru, Yesus kemudian mengajar Petrus dan kita hari ini melalui sebuah perumpamaan. Mari kita simak bersama ... 

1. Pengalaman Diampuni 

Seorang hamba memiliki hutang 10.000 talenta kepada sang Raja. Satu Talenta = 3000 syikal = 6000 dinar. Satu dinar adalah UMR satu hari kerja. Jika UMR DKI hari ini 2,2 juta rupiah, maka cobalah hitung berapa besar si hamba itu berhutang kepada raja ... Suangat buesar hutangnya itu ... Jika hari kerja kita hitung sebanyak 25 hari, maka hasilnya adalah 6000 dinar dibagi 25 hari kerja dalam sebulan = 240. Itu artinya 240 bulan, sedangkan UMR DKI 2,2 juta/bulan. Maka, 2,2 juta dikali 240 ... Rp. 528.000.000,- ... Setengah Milyar lebih hutang si hamba itu kepada sang raja ... Buanyak pisan euy! 

Ups, ada yang terlupakan sedikit ... perhitungan itu baru menghitung bila hutangnya sebanyak 1 talenta! Padahal, si hamba itu memiliki hutang 10.000 talenta! Jadi, Rp 528.000.000 yang sudah buanyak itu. masih harus dikalikan lagi sebanyak 10.000.

Rp. 5.280.000.000.000
(coba sebut itu berapa banyaknya ...)

Ayat 27 
“Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan ... sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya”. 


2. Kesempatan untuk Mengampuni 

“Bayar hutangmu!” 

Seharusnya, pengalaman diampuni akan memudahkan seseorang untuk bisa mengampuni orang lain. Tetapi sayang, hal itu tak berlaku bagi si hamba ini. Kegagalan si hamba itu adalah ketika ia berjumpa dengan satu peristiwa di mana ia bisa menunjukkan belas kasih yang sudah diterimanya kepada seseorang yang membutuhkan apa yang telah .. baru saja ia terima. 

Lihatlah perbandingannya: Diampuni 6000 dinar lalu gagal mengampuni yang hanya 100 dinar. Dengan perhitungan yang sudah kita lakukan di atas, maka perbandingannya adalah diampuni Rp. 528.000.000,- dan gagal mengampuni yang hanya Rp. 8.800.000,- !! Itu jahat (ayat 22)! - Jangan lupa ya, bahwa itu belum dihitung 10.000 talenta, baru dihitung 1 talenta saja -

Hamba yang jahat itu mendapat nilai F. 
Kita semua tentu tidak mau mengulangi kesalahan yang telah ditunjukkan oleh si hamba jahat itu. 

3. Bagaimana Aku Bisa Mengampuni? 

Saya tertarik dengan ayat 34 ... Di sana digambarkan tentang algojo-algojo yang menuntut si hamba jahat itu sampai akhir hingga hutangnya yang ratusan juta itu lunas. Kata kerja dasar Yunani yang digunakan untuk kata “algojo” artinya “menyiksa” – suatu pikiran yang menakutkan. Kata kerja itu muncul dalam Matius 8:6, Lukas 16:23-25 dan 2 Petrus 2:8 ... Semuanya bercerita tentang (kata kerja) kesakitan, penderitaan dan siksaan yang menjadi pengalaman tak terpisahkan. 

Akan tetapi, dalam Matius 18:35, Yesus menyebut tentang algojo – itu kata benda, bukan kata kerja. Atau dengan kata lain, Yesus sedang mau menggambarkan apa jadinya bila sseseorang memilih untuk tidak mengampuni: selalu dihantui oleh pikiran-pikiran yang menyiksa, merasa selalu menderita dan kegelisahan yang selalu menyakiti diri sendiri. Itulah algojonya. 

Seorang penafsir Alkitab menjelaskan hal itu begini: 
“Ini adalah bagian yang sangat jelas menggambarkan apa yang akan terjadi apabila kita tidak mengampuni orang lain. Penjelasan yang tepat tetang kemarahan dan kepahitan yang merongrong serta kebencian atau iri hati yang amat menyakitkan. Perasaan yang sangat tidak enak. Kita tidak dapat lepas darinya. Kita sangat merasakan adanya jurang pemisah dengan orang tersebut dan setiap kali kita memikirkannya kita merasakan adanya api kemarahan dan kebencian yang menggerogoti kedamaian dan ketenangan kita. Itulah siksaan yang sedang dikatakan oleh Tuhan kita, yang akan kita alami (jika memilih untuk tidak mengampuni).” 

Bebaskan diri kita dari semua tuntutan si algojo. Tidak pernah ada kata terlambat untuk keluar dari sel tahanan penderitaan yang kita bangun sendiri ketika kita tidak mau mengampuni orang lain. Segeralah keluar dari sel tahanan penderitaan dan kepahitan yang kita buat sendiri. Ampuni dia. Lupakan kesalahannya. Mulailah hidup yang baru, yang jauh lebih baik dibanding hari ini ...

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER