Ulangan 30:11-20 | Melangkah dengan Ketaatan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Melangkah dengan Ketaatan 
Ulangan 30:11-20 



Ini cerita tentang seekor kura-kura kecil yang suatu hari berbicara kepada sahabatnya, seekor Elang, “Kapan ya saya bisa terbang seperti burung di udara?” Mendengar hal itu, Elang kemudian berkata kepada kura-kura, “Kamu mau merasakan terbang di udara? Ayo ku ajak kamu untuk terbang di udara”. Kura-kura pun menyambut, “Tetapi bagaimana caranya?”. Elang kemudian mengambil sebuah kayu panjang dan berkata, “Dengan kayu ini kamu bisa terbang di udara, syaratnya satu saja, kamu harus gigit kayu ini dan tidak boleh berbicara selama kita terbang di udara”. Sangat gembira karena sebentar lagi kura-kura akan merasakan apa itu namanya terbang di udara, dia pun menjawab, “Semuanya ok!”.

Maka mulailah sang Elang mencengkeram kayu itu dan kura-kura menggigit kayu itu keras-keras. “Kamu siap? Ingat, saat kita di atas nanti kamu tak boleh berbicara!” kata Elang. “Siap!” kura-kura berkata. Mulailah sang Elang mengepakkan sayapnya, dan sedikit demi sedikit mereka pun mulai ... terbang!

Tak berapa lama di udara, beberapa ekor kura-kura yang ada di daratan melihat kawannya yang sedang terbang bersama seekor elang itu dan kemudian meneriaki kura-kura terbang itu, “Hai ... Hebat! Kamu bisa terbang!” Kura-kura yang sedang terbang itu pun melihat bahwa di daratan ada banyak teman kura-kura lainnya yang berteriak mengaguminya ... sehingga dia pun berkata, “Ya hebat lah, aku gitu loh!” (Ups, dia lupa bahwa dia tak boleh berbicara selagi terbang. Maka jatuhlah dia dari ketinggian menuju daratan, Brukkkk!!)

Menjadi taat memang tak mudah ya? 

Ada banyak godaan yang menggiurkan di sana yang bisa membuat kita melupakan bahwa ketaatan adalah sebuah pillihan yang memang harus kita ambil untuk melihat berkat. Saya jadi ingat dahulu waktu saya ujian kenaikan kelas dari SD menuju SMP, dulu itu zaman boomingnya kartu basket. Wah, saya bela-belain itu ngumpulin dan saling tuker dengan kawan lainnya untuk dapat kartu basket yang bagus. Sampai akhirnya waktu belajar saya berkurang, padahal itu adalah saat-saat sebentar lagi Ujian Akhir. Hasilnya mudah ditebak, NEM saya kurang bagus waktu SD dulu. (Untungnya pengalaman satu yang buruk itu tak berulang lagi sewaktu ujian akhir SMP dan ujian akhir SMA).

Dalam perikop kita hari ini kita berjumpa dengan saat-saat hampir paling terakhir di mana Musa sebentar lagi akan berpisah dengan bangsa Israel. Hanya 4 pasal sebelum kita mendapatkan berita tentang kematian Musa (Ulangan 34) dan Israel melanjutkan perjalanan menuju tanah Perjanjian: Kanaan, tanpa Musa (Kitab Yosua). Dan seperti layaknya seorang ayah kepada anak-anaknya, dalam kitab Ulangan adalah percakapan antara Musa dengan bangsa Israel untuk terus menerus mengingatkan apa yang harus mereka lakukan dan ingat ketika nanti Musa sudah tidak ada bersama-sama dengan mereka lagi.

Seluruh isi kitab Ulangan hanya memiliki dua tema utama. Yang pertama adalah sejarah yang seharusnya membuat mereka bisa belajar sesuatu (maka kita bertemu dengan judul perikop dengan kata “Riwayat-riwayat” di awal kitab ini) dan yang kedua adalah pengulangan hukum yang harus dilakukan oleh Israel. Tujuannya satu, ayat 15-17.


Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.

Hari ini kita mau membahas beberapa tentang ketaatan. Berkaca dari apa yang dialami oleh bangsa Israel hari itu.

1. Memperjuangkan ketaatan meskipun tampak aneh. 

Bila bapak dan ibu pernah melihat bagaimana seorang Yahudi bergaya dalam hal tata rambut, maka kita akan langsung melihat keanehannya. Perkembangan dunia tata rambut yang sangat cepat tampaknya tak mempengaruhi cara kebanyakan orang Yahudi dalam berbusana dan berpenampilan. Jika kita bertanya kepada mereka, “Mengapa kamu melakukan hal itu?” Mereka pasti akan menjawab, “Karena Tuhan telah memerintahkannya.” Hebat! Tampak aneh tampil seperti itu, tetapi mereka Pe-De saja tuh.


Contoh: Rambut Peyot
(bandingkan misalnya dengan ... K-Pop Hairstyle, keren mana?)

Kata peyot, yang juga disebut pe’ot, pe’at, payot, adalah bentuk jamak dari pe’ah. Katape’ah artinya sudut atau samping. Orang Yahudi Yemenite menyebutnya dengan istilahsimanin yang secara harfiah artinya tanda-tanda (signs), karena rambut tepi kepala yang panjang merupakan ciri yang membedakan mereka dengan masyarakat Yaman muslim. Para pria Yahudi ortodoks biasanya membiarkan rambut mereka tumbuh panjang, dan banyak yang memelihara jenggot. Suatu waktu mereka akan pergi ke tukang cukur untuk potong rambut.
Tetapi, rambut bagian tepi kepala (peyot) tidak dipotong. Pemakaian peyot bagi orang Yahudi Ortodoks berdasarkan pada penafsiran perintah Tuhan di dalam Imamat 19:27, yaitu tentang larangan mencukur tepi rambut kepala. Dikatakan, “Janganlah kamu mencukur tepi rambut kepalamu berkeliling dan janganlah kamu merusakkan tepi janggutmu“. Para rabi Yahudi menafsirkan kata pe’at di ayat tersebut sebagai rambut di depan telinga yang memanjang sampai ujung tulang pipi, sejajar dengan hidung. Karena itu mereka tidak mau memotongnya, bahkan membiarkannya sampai panjangnya melebihi tulang rahang.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat ada perintah untuk tidak menyembah allah lain (ayat 17-18). Seperti kita tahu, bahwa masalah "menyembah allah lain selain TUHAN" menjadi masalah khas Israel ketika masuk ke Tanah Perjanjian. Dan itu aneh bagi orang-orang yang hidup di zaman itu. Tuhan yang disembah oleh masyarakat yang ada di tanah perjanjian itu tidak sama dengan Allah Israel. Menyembah Tuhan yang telah terbukti "hebat" di padang gurun dan belum terbukti di tanah agraris menjadi suatu pilihan yang aneh (apalagi jika mereka gagal panen). "Di sini yang berkuasa Ba'al bung!" (bnd. Hakim-hakim 3:7)


Seperti orang di zaman sekarang yang berjuang untuk hidup tanpa korupsi. Tampak aneh hidup tanpa korupsi di dunia sekarang ini. Di mana hampir semua orang melakukan korupsi itu, dari yang kecil hingga yang sebesar sapi import. “Dunia hari ini makin edan, kalau kita tak ikutan edan maka kita jadi edan betulan”.

Tetapi akan selalu ada mereka-mereka yang mau memperjuangkan sebuah ketaatan meskipun dipandang aneh oleh dunia hari ini. Mengapa? Karena mereka telah banyak belajar dari sejarah, apa yang akan terjadi ketika seseorang memilih ketaatan dan apa yang akan terjadi ketika seseorang memilih untuk tidak taat. Sejarah Israel telah membuktikan hal itu pada kita semua. Di kala mereka taat kepada Tuhan, maka berkat Tuhan akan menyertai kehidupan mereka. Tetapi ketika mereka berbalik dari Tuhan, hmmmm ... tak perlu diceritakan lagi bukan? 


2. Menemukan dan mempertahankan berkat Tuhan dengan sebuah ketaatan. 

Bolehkah saya bertanya tentang apa itu Berkat dari Tuhan? Banyak orang yang mengira bahwa berkat Tuhan adalah “Keber-ADA-an”. Ketika “Ada” maka itulah berkat dari Tuhan, tetapi ketika “Tidak Ada”, maka Tuhan tak memberi berkat. 

Itu salah! 

Berkat Tuhan akan selalu dimulai dengan sebuah “Ke-TIADA-an”. Iman kita menyebutnya sebagai “JANJI TUHAN”. Melalui JANJI TUHAN itulah berkatnya dinyatakan bagi kita. Meskipun masih dalam masa “Ke-TIADA-an”, seperti layaknya orang Israel yang tiada berada di Tanah Perjanjian di masa Musa mengucapkan perikop kita ini, tetapi JANJI TUHAN itulah berkat yang utama bagi Israel. Bahwa akan tiba masanya dimana “yang tiada” itu menjadi “ada”. Dari Kitab Ulangan menuju Kitab Yosua, dari “ketiadaan” dan tetap memandang janji-Nya itu sehingga tepat pada waktu-Nya, kaki ini menapak di tanah Perjanjian: Kanaan.

Perjalanan hidup menyusuri “ketiadaan” akan selalu bermakna karena kita tahu bahwa ada JANJI TUHAN yang siap diwujudnyatakan bagi kita tepat pada waktu-Nya. Apakah saya boleh sekali lagi bertanya? Apakah hidup bapak dan ibu diberkati hari ini? “Ke-Tiada-an” yang ada dalam kehidupan kita hari ini sama sekali tidak membuktikan kita tidak diberkati. Pandanglah apa yang telah di Janjikan-Nya dan rangkul itu terus hingga suatu hari nanti, apa yang tiada menjadi hadir dalam hidup kita.

“Tuhan, keluargaku tak harmonis!” 

“Tuhan, hingga kini aku masih jomblo!” 

“Tuhan, kapan aku kerjanya, kok nganggur terus ini?!” 

“Ke-Tiada-an” yang siap diubahkan menjadi “Keber-Ada-an”dengan memandang dan percaya kepada Janji-Nya. Karena berkat Tuhan dimulai dari sebuah Janji (yang artinya “ke-tiada-an, kita belum melihat apa yang dijanjikan-Nya itu mungkin), maka seharusnya kita semua sebagai orang percaya adalah orang yang telah diberkati. Dan ketaatan adalah kaki untuk beralih dari “ke-tiada-an” menuju “keber-ada-an”. Kaki “ketaatan” telah membawa Israel beralih dari padang gurun gersang menuju tanah yang berlimpah susu dan madu itu.

Bukankah seharusnya kita sebagai seorang Kristen, jauh lebih dalam lagi memaknai berkat Tuhan dalam kehidupan kita sekarang. Melalui Yesus, Tuhan telah menunjukkan Janji-Nya bagi kita hari ini: Bukan hidup kekal dalam kebinasaan, melainkan hidup kekal di surga bersama-Nya. Janji keselamatan yang telah di-Ada-kan oleh Dia bagi kita.

Ulangan 30:11-20 | Melangkah dengan Ketaatan


Melangkah dengan Ketaatan 
Ulangan 30:11-20 



Ini cerita tentang seekor kura-kura kecil yang suatu hari berbicara kepada sahabatnya, seekor Elang, “Kapan ya saya bisa terbang seperti burung di udara?” Mendengar hal itu, Elang kemudian berkata kepada kura-kura, “Kamu mau merasakan terbang di udara? Ayo ku ajak kamu untuk terbang di udara”. Kura-kura pun menyambut, “Tetapi bagaimana caranya?”. Elang kemudian mengambil sebuah kayu panjang dan berkata, “Dengan kayu ini kamu bisa terbang di udara, syaratnya satu saja, kamu harus gigit kayu ini dan tidak boleh berbicara selama kita terbang di udara”. Sangat gembira karena sebentar lagi kura-kura akan merasakan apa itu namanya terbang di udara, dia pun menjawab, “Semuanya ok!”.

Maka mulailah sang Elang mencengkeram kayu itu dan kura-kura menggigit kayu itu keras-keras. “Kamu siap? Ingat, saat kita di atas nanti kamu tak boleh berbicara!” kata Elang. “Siap!” kura-kura berkata. Mulailah sang Elang mengepakkan sayapnya, dan sedikit demi sedikit mereka pun mulai ... terbang!

Tak berapa lama di udara, beberapa ekor kura-kura yang ada di daratan melihat kawannya yang sedang terbang bersama seekor elang itu dan kemudian meneriaki kura-kura terbang itu, “Hai ... Hebat! Kamu bisa terbang!” Kura-kura yang sedang terbang itu pun melihat bahwa di daratan ada banyak teman kura-kura lainnya yang berteriak mengaguminya ... sehingga dia pun berkata, “Ya hebat lah, aku gitu loh!” (Ups, dia lupa bahwa dia tak boleh berbicara selagi terbang. Maka jatuhlah dia dari ketinggian menuju daratan, Brukkkk!!)

Menjadi taat memang tak mudah ya? 

Ada banyak godaan yang menggiurkan di sana yang bisa membuat kita melupakan bahwa ketaatan adalah sebuah pillihan yang memang harus kita ambil untuk melihat berkat. Saya jadi ingat dahulu waktu saya ujian kenaikan kelas dari SD menuju SMP, dulu itu zaman boomingnya kartu basket. Wah, saya bela-belain itu ngumpulin dan saling tuker dengan kawan lainnya untuk dapat kartu basket yang bagus. Sampai akhirnya waktu belajar saya berkurang, padahal itu adalah saat-saat sebentar lagi Ujian Akhir. Hasilnya mudah ditebak, NEM saya kurang bagus waktu SD dulu. (Untungnya pengalaman satu yang buruk itu tak berulang lagi sewaktu ujian akhir SMP dan ujian akhir SMA).

Dalam perikop kita hari ini kita berjumpa dengan saat-saat hampir paling terakhir di mana Musa sebentar lagi akan berpisah dengan bangsa Israel. Hanya 4 pasal sebelum kita mendapatkan berita tentang kematian Musa (Ulangan 34) dan Israel melanjutkan perjalanan menuju tanah Perjanjian: Kanaan, tanpa Musa (Kitab Yosua). Dan seperti layaknya seorang ayah kepada anak-anaknya, dalam kitab Ulangan adalah percakapan antara Musa dengan bangsa Israel untuk terus menerus mengingatkan apa yang harus mereka lakukan dan ingat ketika nanti Musa sudah tidak ada bersama-sama dengan mereka lagi.

Seluruh isi kitab Ulangan hanya memiliki dua tema utama. Yang pertama adalah sejarah yang seharusnya membuat mereka bisa belajar sesuatu (maka kita bertemu dengan judul perikop dengan kata “Riwayat-riwayat” di awal kitab ini) dan yang kedua adalah pengulangan hukum yang harus dilakukan oleh Israel. Tujuannya satu, ayat 15-17.


Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.

Hari ini kita mau membahas beberapa tentang ketaatan. Berkaca dari apa yang dialami oleh bangsa Israel hari itu.

1. Memperjuangkan ketaatan meskipun tampak aneh. 

Bila bapak dan ibu pernah melihat bagaimana seorang Yahudi bergaya dalam hal tata rambut, maka kita akan langsung melihat keanehannya. Perkembangan dunia tata rambut yang sangat cepat tampaknya tak mempengaruhi cara kebanyakan orang Yahudi dalam berbusana dan berpenampilan. Jika kita bertanya kepada mereka, “Mengapa kamu melakukan hal itu?” Mereka pasti akan menjawab, “Karena Tuhan telah memerintahkannya.” Hebat! Tampak aneh tampil seperti itu, tetapi mereka Pe-De saja tuh.


Contoh: Rambut Peyot
(bandingkan misalnya dengan ... K-Pop Hairstyle, keren mana?)

Kata peyot, yang juga disebut pe’ot, pe’at, payot, adalah bentuk jamak dari pe’ah. Katape’ah artinya sudut atau samping. Orang Yahudi Yemenite menyebutnya dengan istilahsimanin yang secara harfiah artinya tanda-tanda (signs), karena rambut tepi kepala yang panjang merupakan ciri yang membedakan mereka dengan masyarakat Yaman muslim. Para pria Yahudi ortodoks biasanya membiarkan rambut mereka tumbuh panjang, dan banyak yang memelihara jenggot. Suatu waktu mereka akan pergi ke tukang cukur untuk potong rambut.
Tetapi, rambut bagian tepi kepala (peyot) tidak dipotong. Pemakaian peyot bagi orang Yahudi Ortodoks berdasarkan pada penafsiran perintah Tuhan di dalam Imamat 19:27, yaitu tentang larangan mencukur tepi rambut kepala. Dikatakan, “Janganlah kamu mencukur tepi rambut kepalamu berkeliling dan janganlah kamu merusakkan tepi janggutmu“. Para rabi Yahudi menafsirkan kata pe’at di ayat tersebut sebagai rambut di depan telinga yang memanjang sampai ujung tulang pipi, sejajar dengan hidung. Karena itu mereka tidak mau memotongnya, bahkan membiarkannya sampai panjangnya melebihi tulang rahang.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat ada perintah untuk tidak menyembah allah lain (ayat 17-18). Seperti kita tahu, bahwa masalah "menyembah allah lain selain TUHAN" menjadi masalah khas Israel ketika masuk ke Tanah Perjanjian. Dan itu aneh bagi orang-orang yang hidup di zaman itu. Tuhan yang disembah oleh masyarakat yang ada di tanah perjanjian itu tidak sama dengan Allah Israel. Menyembah Tuhan yang telah terbukti "hebat" di padang gurun dan belum terbukti di tanah agraris menjadi suatu pilihan yang aneh (apalagi jika mereka gagal panen). "Di sini yang berkuasa Ba'al bung!" (bnd. Hakim-hakim 3:7)


Seperti orang di zaman sekarang yang berjuang untuk hidup tanpa korupsi. Tampak aneh hidup tanpa korupsi di dunia sekarang ini. Di mana hampir semua orang melakukan korupsi itu, dari yang kecil hingga yang sebesar sapi import. “Dunia hari ini makin edan, kalau kita tak ikutan edan maka kita jadi edan betulan”.

Tetapi akan selalu ada mereka-mereka yang mau memperjuangkan sebuah ketaatan meskipun dipandang aneh oleh dunia hari ini. Mengapa? Karena mereka telah banyak belajar dari sejarah, apa yang akan terjadi ketika seseorang memilih ketaatan dan apa yang akan terjadi ketika seseorang memilih untuk tidak taat. Sejarah Israel telah membuktikan hal itu pada kita semua. Di kala mereka taat kepada Tuhan, maka berkat Tuhan akan menyertai kehidupan mereka. Tetapi ketika mereka berbalik dari Tuhan, hmmmm ... tak perlu diceritakan lagi bukan? 


2. Menemukan dan mempertahankan berkat Tuhan dengan sebuah ketaatan. 

Bolehkah saya bertanya tentang apa itu Berkat dari Tuhan? Banyak orang yang mengira bahwa berkat Tuhan adalah “Keber-ADA-an”. Ketika “Ada” maka itulah berkat dari Tuhan, tetapi ketika “Tidak Ada”, maka Tuhan tak memberi berkat. 

Itu salah! 

Berkat Tuhan akan selalu dimulai dengan sebuah “Ke-TIADA-an”. Iman kita menyebutnya sebagai “JANJI TUHAN”. Melalui JANJI TUHAN itulah berkatnya dinyatakan bagi kita. Meskipun masih dalam masa “Ke-TIADA-an”, seperti layaknya orang Israel yang tiada berada di Tanah Perjanjian di masa Musa mengucapkan perikop kita ini, tetapi JANJI TUHAN itulah berkat yang utama bagi Israel. Bahwa akan tiba masanya dimana “yang tiada” itu menjadi “ada”. Dari Kitab Ulangan menuju Kitab Yosua, dari “ketiadaan” dan tetap memandang janji-Nya itu sehingga tepat pada waktu-Nya, kaki ini menapak di tanah Perjanjian: Kanaan.

Perjalanan hidup menyusuri “ketiadaan” akan selalu bermakna karena kita tahu bahwa ada JANJI TUHAN yang siap diwujudnyatakan bagi kita tepat pada waktu-Nya. Apakah saya boleh sekali lagi bertanya? Apakah hidup bapak dan ibu diberkati hari ini? “Ke-Tiada-an” yang ada dalam kehidupan kita hari ini sama sekali tidak membuktikan kita tidak diberkati. Pandanglah apa yang telah di Janjikan-Nya dan rangkul itu terus hingga suatu hari nanti, apa yang tiada menjadi hadir dalam hidup kita.

“Tuhan, keluargaku tak harmonis!” 

“Tuhan, hingga kini aku masih jomblo!” 

“Tuhan, kapan aku kerjanya, kok nganggur terus ini?!” 

“Ke-Tiada-an” yang siap diubahkan menjadi “Keber-Ada-an”dengan memandang dan percaya kepada Janji-Nya. Karena berkat Tuhan dimulai dari sebuah Janji (yang artinya “ke-tiada-an, kita belum melihat apa yang dijanjikan-Nya itu mungkin), maka seharusnya kita semua sebagai orang percaya adalah orang yang telah diberkati. Dan ketaatan adalah kaki untuk beralih dari “ke-tiada-an” menuju “keber-ada-an”. Kaki “ketaatan” telah membawa Israel beralih dari padang gurun gersang menuju tanah yang berlimpah susu dan madu itu.

Bukankah seharusnya kita sebagai seorang Kristen, jauh lebih dalam lagi memaknai berkat Tuhan dalam kehidupan kita sekarang. Melalui Yesus, Tuhan telah menunjukkan Janji-Nya bagi kita hari ini: Bukan hidup kekal dalam kebinasaan, melainkan hidup kekal di surga bersama-Nya. Janji keselamatan yang telah di-Ada-kan oleh Dia bagi kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER