Kolose 1:15-23 | Damai Sejahtera Telah Ku Berikan Padamu - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Tahun 1543, seorang tokoh astronomi ternama meninggal dunia. Kita mengenal Copernicus sebagai penggagas awal sebuah pengetahuan tentang heliosentrisme, bahwa bukan bumi yang menjadi pusat alam semesta melainkan matahari. Empat ratus tahun sebelum Copernicus, seorang tokoh astronomi lainnya sudah dikenal dengan teori geosentrismenya itu (bahwa bumi adalah pusat alam semesta). Ptolemy namanya. Apa yang terjadi ketika Copernicus mulai menyatakan sebuah pengetahuan yang baru yang sangat asing dan tentu saja bertentangan dengan kepercayaan umum yang dunia percayai waktu itu? Dia bukan hanya dibenci, tetapi juga dihujat oleh semua orang.

Yang saya mau share hari ini adalah ketika Copernicus meninggal dunia, sebelum dia mati, dia sempat mengatakan beberapa kalimat ini yang kemudian ditulis di dalam nisannya yang hari ini ada di Gereja St. Yohanes di Thorn, Polandia.
“Tuhan, aku tidak berani meminta anugerah yang telah Engkau berikan kepada Rasul Paulus. Tidak juga aku berani untuk meminta anugerah seperti yang telah Engkau berikan kepada Rasul Paulus. Akan tetapi anugerah pengampunan yang telah Engkau nyatakan dan berikan kepada penjahat yang ada di sebelah salib-Mu itu, anugerah pengampunan seperti itulah ... tunjukkan kepadaku.”

Pertanyaannya bukan lagi tentang apa yang terjadi dalam diri Copernicus pada hari itu. Bayangkan saja ketika seluruh dunia berbalik menghakimimu. Dibenci dan dihujat oleh semua orang. Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan adalah “dengan pernyataan Copernicus tepat sebelum dia meninggal dunia itu, apa yang dia cari?” Menurut bapak dan ibu?

Kedamaian.
Dia mencari sesuatu yang mampu menenangkan dan mendamaikan dirinya ditengah amukan hujat dan benci dari semua orang waktu itu. Dan dia menemukannya dalam karya-Nya melalui Kristus. “Jika anugerah yang telah engkau berikan kepada Paulus dan Petrus itu terlampau tinggi untukku, cukup berikanlah anugerah yang telah Engkau tunjukkan kepada penjahat yang ada di samping salib-Mu itu, Tuhan”.

Perikop yang kita baca hari ini berbicara tentang cara Tuhan yang telah memperjuangkan supaya baik kita hidup di dunia ini, maupun nanti – bila kita mati, kedamaian menjadi satu anugerah yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita. Ayat 20: dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus

Persoalannya hanya satu.
Jika kedamaian itu, yang pastinya dicari oleh semua orang di dunia ini, telah (bukan ‘akan’) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang percaya, mengapa ketidak-damaian masih tetap menjadi satu hal yang sangat mungkin kita hadapi dalam hidup kita hari ini?

Jawabannya bukan “karena kita masih hidup sekarang, makanya kita bisa jadi tidak damai.” Lalu kita mulai membeberkan semua alasan logis kita akan ketidak-damaian yang meliputi diri kita itu:
- Aku dibenci oleh dia. - Aku difitnah.
- Aku disakiti.
- Aku masih jomblo, masih nganggur.
- ... (bagaimana bisa damai?) ...

“Karena kita masih hidup bukanlah jawaban dan alasan bagi kita untuk bertemu dengan ketidakdamaian”. Karena kedamaian “telah” diberikan dan “telah” menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup orang percaya. Mungkin, satu-satunya alasan kita hari ini menjadi tidak damai adalah karena kita memilih untuk membuka pintu hati kita supaya ketidak-damaian itu masuk ke dalam rumah, dan menendang keluar kedamaian dari dalam rumah.

Itu sama seperti seseorang yang sedang sakit, tahu bahwa dirinya sedang sakit tetapi gak mau minum obat penyembuh yang telah diberikan kepadanya itu. Selamat sakit aja terus kalau begitu.

Ada orang yang tipe seperti itu? Sayangnya ada. “Udah tahu sakit batuk, minum es dihajar terus”.
Padahal, kedamaian hanyalah sejauh dan seringan mengulurkan tangan tanda maaf. Kedamaian hanyalah sejauh ucapan hati kepada Dia, “Aku memilih untuk damai berjalan beserta-Mu. Sebab aku tahu, tepat pada waktunya ... semua menjadi indah”. Dengan begitu, kuasa si jahat dalam memaksa diri untuk menerobos masuk pintu hati kita menjadi lemah. Ketidak-damaian yang telah kehilangan kuasa dalam hidup kita.

Saya suka cara ayat 23 menggambarkan kunci kedamaian itu supaya tetap memiliki kuasa dalam hidup kita. Di katakan di sana:
- ... bertekun dalam iman ...
- ... tetap teguh dan tidak bergoncang ...
- ... jangan mau digeser ...

(Sewaktu saya menyampaikan khotbah ini, saya menggunakan visualisasi sebuah gelas dan air yang saya letakkan tepat di pinggir mimbar)
Seperti gelas ini,
Kadang hidup kita ini serasa terisi terus oleh air yang dicurahkan dari botol air. Sewaktu air terus tercurah, kita damai ... Tetapi seringkali kita merasa bahwa air tiba-tiba berhenti ... gelas menjadi tidak penuh. Ada ruang kosong dalam gelas ... Lalu apa yang akan kita lakukan?

Akan selalu ada suara yang berbisik, “Kapan kamu penuhnya?” ... dan ketidak-damaian menggedor pintu kita semakin kuat. Tepat ketika kita tergoda untuk memegang gagang pintu dan kunci rumah, maka gelas itu menjadi semakin bergeser .... dan .... Pryaaannnggg!!! (bagaimana menggambarkan gelas yang jatuh pecah dari atas mimbar ya? Begitulah kira-kira).

Jelas bukan ini yang menjadi tujuan hidup kita. Tujuan hidup kita sebagai orang percaya adalah tetap menjaga damai sejahtera yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita itu ... hingga ... tepat pada waktunya, Tuhan menjelaskan dan membuka jalan paling indah untuk kita menemukan berkat-Nya (bukan hanya sekedar penuh, melainkan berlimpah).
1:15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
1:17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
1:18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
1:19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
1:20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
1:21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,
1:22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

Kolose 1:15-23 | Damai Sejahtera Telah Ku Berikan Padamu


Tahun 1543, seorang tokoh astronomi ternama meninggal dunia. Kita mengenal Copernicus sebagai penggagas awal sebuah pengetahuan tentang heliosentrisme, bahwa bukan bumi yang menjadi pusat alam semesta melainkan matahari. Empat ratus tahun sebelum Copernicus, seorang tokoh astronomi lainnya sudah dikenal dengan teori geosentrismenya itu (bahwa bumi adalah pusat alam semesta). Ptolemy namanya. Apa yang terjadi ketika Copernicus mulai menyatakan sebuah pengetahuan yang baru yang sangat asing dan tentu saja bertentangan dengan kepercayaan umum yang dunia percayai waktu itu? Dia bukan hanya dibenci, tetapi juga dihujat oleh semua orang.

Yang saya mau share hari ini adalah ketika Copernicus meninggal dunia, sebelum dia mati, dia sempat mengatakan beberapa kalimat ini yang kemudian ditulis di dalam nisannya yang hari ini ada di Gereja St. Yohanes di Thorn, Polandia.
“Tuhan, aku tidak berani meminta anugerah yang telah Engkau berikan kepada Rasul Paulus. Tidak juga aku berani untuk meminta anugerah seperti yang telah Engkau berikan kepada Rasul Paulus. Akan tetapi anugerah pengampunan yang telah Engkau nyatakan dan berikan kepada penjahat yang ada di sebelah salib-Mu itu, anugerah pengampunan seperti itulah ... tunjukkan kepadaku.”

Pertanyaannya bukan lagi tentang apa yang terjadi dalam diri Copernicus pada hari itu. Bayangkan saja ketika seluruh dunia berbalik menghakimimu. Dibenci dan dihujat oleh semua orang. Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan adalah “dengan pernyataan Copernicus tepat sebelum dia meninggal dunia itu, apa yang dia cari?” Menurut bapak dan ibu?

Kedamaian.
Dia mencari sesuatu yang mampu menenangkan dan mendamaikan dirinya ditengah amukan hujat dan benci dari semua orang waktu itu. Dan dia menemukannya dalam karya-Nya melalui Kristus. “Jika anugerah yang telah engkau berikan kepada Paulus dan Petrus itu terlampau tinggi untukku, cukup berikanlah anugerah yang telah Engkau tunjukkan kepada penjahat yang ada di samping salib-Mu itu, Tuhan”.

Perikop yang kita baca hari ini berbicara tentang cara Tuhan yang telah memperjuangkan supaya baik kita hidup di dunia ini, maupun nanti – bila kita mati, kedamaian menjadi satu anugerah yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita. Ayat 20: dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus

Persoalannya hanya satu.
Jika kedamaian itu, yang pastinya dicari oleh semua orang di dunia ini, telah (bukan ‘akan’) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang percaya, mengapa ketidak-damaian masih tetap menjadi satu hal yang sangat mungkin kita hadapi dalam hidup kita hari ini?

Jawabannya bukan “karena kita masih hidup sekarang, makanya kita bisa jadi tidak damai.” Lalu kita mulai membeberkan semua alasan logis kita akan ketidak-damaian yang meliputi diri kita itu:
- Aku dibenci oleh dia. - Aku difitnah.
- Aku disakiti.
- Aku masih jomblo, masih nganggur.
- ... (bagaimana bisa damai?) ...

“Karena kita masih hidup bukanlah jawaban dan alasan bagi kita untuk bertemu dengan ketidakdamaian”. Karena kedamaian “telah” diberikan dan “telah” menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup orang percaya. Mungkin, satu-satunya alasan kita hari ini menjadi tidak damai adalah karena kita memilih untuk membuka pintu hati kita supaya ketidak-damaian itu masuk ke dalam rumah, dan menendang keluar kedamaian dari dalam rumah.

Itu sama seperti seseorang yang sedang sakit, tahu bahwa dirinya sedang sakit tetapi gak mau minum obat penyembuh yang telah diberikan kepadanya itu. Selamat sakit aja terus kalau begitu.

Ada orang yang tipe seperti itu? Sayangnya ada. “Udah tahu sakit batuk, minum es dihajar terus”.
Padahal, kedamaian hanyalah sejauh dan seringan mengulurkan tangan tanda maaf. Kedamaian hanyalah sejauh ucapan hati kepada Dia, “Aku memilih untuk damai berjalan beserta-Mu. Sebab aku tahu, tepat pada waktunya ... semua menjadi indah”. Dengan begitu, kuasa si jahat dalam memaksa diri untuk menerobos masuk pintu hati kita menjadi lemah. Ketidak-damaian yang telah kehilangan kuasa dalam hidup kita.

Saya suka cara ayat 23 menggambarkan kunci kedamaian itu supaya tetap memiliki kuasa dalam hidup kita. Di katakan di sana:
- ... bertekun dalam iman ...
- ... tetap teguh dan tidak bergoncang ...
- ... jangan mau digeser ...

(Sewaktu saya menyampaikan khotbah ini, saya menggunakan visualisasi sebuah gelas dan air yang saya letakkan tepat di pinggir mimbar)
Seperti gelas ini,
Kadang hidup kita ini serasa terisi terus oleh air yang dicurahkan dari botol air. Sewaktu air terus tercurah, kita damai ... Tetapi seringkali kita merasa bahwa air tiba-tiba berhenti ... gelas menjadi tidak penuh. Ada ruang kosong dalam gelas ... Lalu apa yang akan kita lakukan?

Akan selalu ada suara yang berbisik, “Kapan kamu penuhnya?” ... dan ketidak-damaian menggedor pintu kita semakin kuat. Tepat ketika kita tergoda untuk memegang gagang pintu dan kunci rumah, maka gelas itu menjadi semakin bergeser .... dan .... Pryaaannnggg!!! (bagaimana menggambarkan gelas yang jatuh pecah dari atas mimbar ya? Begitulah kira-kira).

Jelas bukan ini yang menjadi tujuan hidup kita. Tujuan hidup kita sebagai orang percaya adalah tetap menjaga damai sejahtera yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita itu ... hingga ... tepat pada waktunya, Tuhan menjelaskan dan membuka jalan paling indah untuk kita menemukan berkat-Nya (bukan hanya sekedar penuh, melainkan berlimpah).
1:15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
1:17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
1:18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
1:19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
1:20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
1:21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,
1:22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER