Yohanes 5:1-9 | Mencari Kasih di Rumah Belas Kasih - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Mencari Kasih Di Rumah Belas Kasih


Shalom semua, wah ini kali pertamanya saya ada di sini untuk melayani ibadah umum di hari Minggu di GKP Bekasi. Dulu, waktu saya masih kuliah di STT, pernah praktek di GKP Bekasi, 3 bulan. Tetapi memang waktu itu sampai dengan hari kemarin ya belum pernah mimpin di kebaktian umum hari Minggu. Baru sekarang ini.

Beberapa minggu yang lalu, di dalam satu pertemuan MJ di GKP Tanjung Priok (tempat saya melayani sekarang) ada yang nanya tentang di GKP mana saya belum pernah mimpin kebaktian Minggu. Ya saya bilang salah satunya GKP Bekasih. Eh ternyata ... pertukaran PF Sinodal hari ini, dapat jadwalnya di GKP Bekasi. Ibaratnya orang berdoa, jawabannya gak nunggu waktu lama.

Ah, sudahlah ... cuma Cur-Col aja itu tadi, Curhat Colongan.

Saya ingin mengajak kita untuk mulai merenungkan Firman Tuhan yang hari ini kita baca sama-sama. Satu hal yang saya pikirkan sewaktu membaca teks kita hari ini adalah, "Mengapa harus ada seseorang yang sudah 38 tahun lamanya menderita karena sakit ... tetapi sampai dengan hari itu ... belum sembuh juga?" Padahal dalam teks kita dikatakan bahwa seseorang yang sakit itu sudah ada di dekat sebuah kolam yang apabila "air dalam kolam iotu bergoncang dan seorang yang sakit nyebur ke kolam itu, apa pun penyakitnya ... bisa sembuh".

Memang benar kita sama sekali tidak memiliki informasi tentang berapa lama sudah orang yang sakit selama 38 tahun itu sudah menanti di dekat kolam Betesda. Apakah sejak awal dia sakit, 38 tahun yang lalu sampai hari ini? Atau baru setahun yang lalu? Atau baru dua tahun ini dia ada di dekat kolam Betesda untuk mencari kasih yang menyembuhkan itu? Kita tidak tahu.

Kita juga tidak tahu ada berapa banyak orang yang menantikan kesembuhan di dekat kolam Betesda itu, teks Alkitab kita hanya menyebutkan "ada sejumlah besar orang" ... Berapa? 100 orang? 200 orang? Kita tidak tahu. Dan kita juga tidak tahu dalam hitungan waktu, berapa kali air dalam kolam Betesda itu bergoncang: Sekali sebulan? Setahun sekali? Tiga bulan sekali? Bayangkan kalau seminggu sekali, kan artinya orang yang sakit 38 tahun itu disalip melulu kalau mau pake sistem 'budaya antri' ...

Yang kita tahu jelas adalah ada seseorang yang sudah 38 tahun sakit dan dia mencari belas kasih yang menyembuhkan di sebuah kolam yang arti namanya sebenarnya adalah ... Betesda artinya Rumah Belas Kasih. Sayang, tidak da belas kasih yang menyembuhkan bagi dia yang sudah sakit selama 38 tahun itu ... justru di sebuah tempat yang bernama Rumah Belas Kasih.

Apa yang terjadi di sana?
Semua orang sakit yang berkumpul banyak di sana ingin sembuh, sehingga tidak lagi memikirkan orang lain yang mungkin jauh jauh lebih menderita dibandingkan dirinya. Waktu saya persiapan, saya kepikiran begini: Adakah di waktu itu orang yang hanya sakit kepala sedikit saja, dan kebetulan dia sedang lewat di depan kolam Betesda ketika airnya mulai bergolak ... Lalu dia lari dan nyebur ke kolam itu, "Akhirnya hilang juga sakit kepala pengganggu hidupku ini!"

Kasih yang memudar justru terjadi di Rumah Belas Kasih: Betesda. Sewaktu semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri, kesembuhan dirinya sendiri, apa yang menyenangkan dirinya sendiri dan acuh tak peduli terhadap mereka yang mungkin jauh lebih menderita dibandingkan dirinya itu.

Sekali lagi ... entah sudah berapa lama orang yang sakit selama 38 tahun itu menunggu kasih yang menyembuhkan di Rumah Belas Kasih: Betesda ... Hingga di hari itu, Yesus datang dan menawarkan kasih yang menyembuhkan itu kepada dia ... "Maukah engkau sembuh?"

Saya tertarik dengan cara orang yang sudah sakit selama 38 tahun itu menjawab yang tampak sudah sangat putus asa di ayat 7:
Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." 
Dengan kata lain, dia mau mengatakan: "Aku tidak kebagian lagi kasih itu di sini".

Entah ada berapa banyak orang yang memiliki pengalaman yang sama seperti itu: "Berharap menemukan kasih yang menyembuhkan di tempat yang memang seharusnya kasih itu ada ... tetapi ..." Di rumah? Di tempat kita bekerja? Atau bahkan ketika kita bersekutu di Gereja? Seharusnya kita bisa bertemu dengan kasih yang menyembukan itu bukan?

Tetapi bayangkan bila ada seorang yang memiliki pengalaman seperti ini:
Pergi ke kantor, yang dia temui adalah kenyataan bahwa seseorang yang sudah dia kenal bertahun-tahun lamanya ternyata 'menusuk dirinya dari belakang' di depan bos mereka. Pulang ke rumah kepala udah mumer di kantor, apa yang dia temukan ... bapak ibunya berantem tiap hari. Pergi ke gereja ... ternyata kita masih bertemu dengan orang-orang yang bergosip dan merasa lebih tahu tentang hidup kita dan berperilaku seperti seorang hakim terhadap hidup kita. Runyam banget ya kalau sudah begitu ...

Di kala merasa sendirian, tak berdaya ... dan orang di luar sana gak ada yang peduli.

Satu hal yang patut kita syukuri sebagai orang percaya adalah bahwa Kasih yang Menyembuhkan itu bukanlah kita temukan di sebuah tempat. Bukan .. bukan tempatnya yang paling utama. Sebab hari ini kita bisa ada di sebuah tempat yang kita pikir kita bisa menemukan Kasih yang Menyembuhkan itu ... tetapi ternyata ... gak ada sama sekali.

Di rumah? Di kantor? Atau bahkan ... di gereja ...
(Tapi ini khusus untuk pengalaman orang di luar sana ya ... di GKP Bekasi semua orang nya baik-baik, damai, sejahtera ... situasi aman dan terkendali)

Kalau kita berpikir bahwa sebuah tempat bisa membuat kita menemukan kasih yang menyembuhkan, bersiaplah untuk ... mungkin ... selalu kecewa.

Bukan tempatnya yang menentukan kita akan menemukan kasih yang menyembuhkan itu atau tidak. Melainkan apakah kita sudah berjumpa dengan pribadi yang selalu menawarkan kepada kita: "Maukah engkau sembuh?" Kabar baiknya, Dia selalu bisa kita jumpai di mana saja ... Di rumah, di kantor, di gereja ... di mana saja. Bahkan di saat kita merasa di tempat kita ada hari ini ... ternyata sudah kehilangan makna kasih itu sendiri. Dia akan tetap menawarkan kepada kita: "Maukah engkau sembuh?"

Lalu apa jawab kita?
Semoga kita tidak terjatuh dalam sebuah ... saya menyebutnya: Analisis-Paralistis. "Membeberkan sebuah analisa yang kita pikir itu hebat, menyenangkan dan menjelaskan tentang keberadaan kita hari ini, tapi sayang itu sama sekali tidak membuat kita sembuh, malah sebaliknya .. makin 'lumpuh' hidup kita ini.

Tuhan: "Maukah engkau sembuh?"
A: "Tuhan, dia sudah terlalu sering mengecewakan saya!
B: "Tuhan, hati ini sudah terlalu sakit rasanya!
(itulah Analisis-Paralistis ... padahal kan jawabannya sederhana: Mau / Tidak?)

Jika hari ini Tuhan bertanya pada kita,
" ... maukah engkau sembuh?"
Lalu apakah jawab kita?

[Gerry menjawab: "Aku mau sembuh, Tuhan."]

Yohanes 5:1-9 | Mencari Kasih di Rumah Belas Kasih

Mencari Kasih Di Rumah Belas Kasih


Shalom semua, wah ini kali pertamanya saya ada di sini untuk melayani ibadah umum di hari Minggu di GKP Bekasi. Dulu, waktu saya masih kuliah di STT, pernah praktek di GKP Bekasi, 3 bulan. Tetapi memang waktu itu sampai dengan hari kemarin ya belum pernah mimpin di kebaktian umum hari Minggu. Baru sekarang ini.

Beberapa minggu yang lalu, di dalam satu pertemuan MJ di GKP Tanjung Priok (tempat saya melayani sekarang) ada yang nanya tentang di GKP mana saya belum pernah mimpin kebaktian Minggu. Ya saya bilang salah satunya GKP Bekasih. Eh ternyata ... pertukaran PF Sinodal hari ini, dapat jadwalnya di GKP Bekasi. Ibaratnya orang berdoa, jawabannya gak nunggu waktu lama.

Ah, sudahlah ... cuma Cur-Col aja itu tadi, Curhat Colongan.

Saya ingin mengajak kita untuk mulai merenungkan Firman Tuhan yang hari ini kita baca sama-sama. Satu hal yang saya pikirkan sewaktu membaca teks kita hari ini adalah, "Mengapa harus ada seseorang yang sudah 38 tahun lamanya menderita karena sakit ... tetapi sampai dengan hari itu ... belum sembuh juga?" Padahal dalam teks kita dikatakan bahwa seseorang yang sakit itu sudah ada di dekat sebuah kolam yang apabila "air dalam kolam iotu bergoncang dan seorang yang sakit nyebur ke kolam itu, apa pun penyakitnya ... bisa sembuh".

Memang benar kita sama sekali tidak memiliki informasi tentang berapa lama sudah orang yang sakit selama 38 tahun itu sudah menanti di dekat kolam Betesda. Apakah sejak awal dia sakit, 38 tahun yang lalu sampai hari ini? Atau baru setahun yang lalu? Atau baru dua tahun ini dia ada di dekat kolam Betesda untuk mencari kasih yang menyembuhkan itu? Kita tidak tahu.

Kita juga tidak tahu ada berapa banyak orang yang menantikan kesembuhan di dekat kolam Betesda itu, teks Alkitab kita hanya menyebutkan "ada sejumlah besar orang" ... Berapa? 100 orang? 200 orang? Kita tidak tahu. Dan kita juga tidak tahu dalam hitungan waktu, berapa kali air dalam kolam Betesda itu bergoncang: Sekali sebulan? Setahun sekali? Tiga bulan sekali? Bayangkan kalau seminggu sekali, kan artinya orang yang sakit 38 tahun itu disalip melulu kalau mau pake sistem 'budaya antri' ...

Yang kita tahu jelas adalah ada seseorang yang sudah 38 tahun sakit dan dia mencari belas kasih yang menyembuhkan di sebuah kolam yang arti namanya sebenarnya adalah ... Betesda artinya Rumah Belas Kasih. Sayang, tidak da belas kasih yang menyembuhkan bagi dia yang sudah sakit selama 38 tahun itu ... justru di sebuah tempat yang bernama Rumah Belas Kasih.

Apa yang terjadi di sana?
Semua orang sakit yang berkumpul banyak di sana ingin sembuh, sehingga tidak lagi memikirkan orang lain yang mungkin jauh jauh lebih menderita dibandingkan dirinya. Waktu saya persiapan, saya kepikiran begini: Adakah di waktu itu orang yang hanya sakit kepala sedikit saja, dan kebetulan dia sedang lewat di depan kolam Betesda ketika airnya mulai bergolak ... Lalu dia lari dan nyebur ke kolam itu, "Akhirnya hilang juga sakit kepala pengganggu hidupku ini!"

Kasih yang memudar justru terjadi di Rumah Belas Kasih: Betesda. Sewaktu semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri, kesembuhan dirinya sendiri, apa yang menyenangkan dirinya sendiri dan acuh tak peduli terhadap mereka yang mungkin jauh lebih menderita dibandingkan dirinya itu.

Sekali lagi ... entah sudah berapa lama orang yang sakit selama 38 tahun itu menunggu kasih yang menyembuhkan di Rumah Belas Kasih: Betesda ... Hingga di hari itu, Yesus datang dan menawarkan kasih yang menyembuhkan itu kepada dia ... "Maukah engkau sembuh?"

Saya tertarik dengan cara orang yang sudah sakit selama 38 tahun itu menjawab yang tampak sudah sangat putus asa di ayat 7:
Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." 
Dengan kata lain, dia mau mengatakan: "Aku tidak kebagian lagi kasih itu di sini".

Entah ada berapa banyak orang yang memiliki pengalaman yang sama seperti itu: "Berharap menemukan kasih yang menyembuhkan di tempat yang memang seharusnya kasih itu ada ... tetapi ..." Di rumah? Di tempat kita bekerja? Atau bahkan ketika kita bersekutu di Gereja? Seharusnya kita bisa bertemu dengan kasih yang menyembukan itu bukan?

Tetapi bayangkan bila ada seorang yang memiliki pengalaman seperti ini:
Pergi ke kantor, yang dia temui adalah kenyataan bahwa seseorang yang sudah dia kenal bertahun-tahun lamanya ternyata 'menusuk dirinya dari belakang' di depan bos mereka. Pulang ke rumah kepala udah mumer di kantor, apa yang dia temukan ... bapak ibunya berantem tiap hari. Pergi ke gereja ... ternyata kita masih bertemu dengan orang-orang yang bergosip dan merasa lebih tahu tentang hidup kita dan berperilaku seperti seorang hakim terhadap hidup kita. Runyam banget ya kalau sudah begitu ...

Di kala merasa sendirian, tak berdaya ... dan orang di luar sana gak ada yang peduli.

Satu hal yang patut kita syukuri sebagai orang percaya adalah bahwa Kasih yang Menyembuhkan itu bukanlah kita temukan di sebuah tempat. Bukan .. bukan tempatnya yang paling utama. Sebab hari ini kita bisa ada di sebuah tempat yang kita pikir kita bisa menemukan Kasih yang Menyembuhkan itu ... tetapi ternyata ... gak ada sama sekali.

Di rumah? Di kantor? Atau bahkan ... di gereja ...
(Tapi ini khusus untuk pengalaman orang di luar sana ya ... di GKP Bekasi semua orang nya baik-baik, damai, sejahtera ... situasi aman dan terkendali)

Kalau kita berpikir bahwa sebuah tempat bisa membuat kita menemukan kasih yang menyembuhkan, bersiaplah untuk ... mungkin ... selalu kecewa.

Bukan tempatnya yang menentukan kita akan menemukan kasih yang menyembuhkan itu atau tidak. Melainkan apakah kita sudah berjumpa dengan pribadi yang selalu menawarkan kepada kita: "Maukah engkau sembuh?" Kabar baiknya, Dia selalu bisa kita jumpai di mana saja ... Di rumah, di kantor, di gereja ... di mana saja. Bahkan di saat kita merasa di tempat kita ada hari ini ... ternyata sudah kehilangan makna kasih itu sendiri. Dia akan tetap menawarkan kepada kita: "Maukah engkau sembuh?"

Lalu apa jawab kita?
Semoga kita tidak terjatuh dalam sebuah ... saya menyebutnya: Analisis-Paralistis. "Membeberkan sebuah analisa yang kita pikir itu hebat, menyenangkan dan menjelaskan tentang keberadaan kita hari ini, tapi sayang itu sama sekali tidak membuat kita sembuh, malah sebaliknya .. makin 'lumpuh' hidup kita ini.

Tuhan: "Maukah engkau sembuh?"
A: "Tuhan, dia sudah terlalu sering mengecewakan saya!
B: "Tuhan, hati ini sudah terlalu sakit rasanya!
(itulah Analisis-Paralistis ... padahal kan jawabannya sederhana: Mau / Tidak?)

Jika hari ini Tuhan bertanya pada kita,
" ... maukah engkau sembuh?"
Lalu apakah jawab kita?

[Gerry menjawab: "Aku mau sembuh, Tuhan."]

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER