Wahyu 2:1-7 | Tak Bergairah! - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

tak bergairah
Kepada jemaat di Efesus
2:1 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2:2 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
2:3 Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
2:4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
2:5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
2:6 Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.
2:7 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."
TAK BERGAIRAH — Beberapa hari yang lalu, tepat 3 tahun sudah usia pernikahan keluarga kita, pak Vensa dan bu Dameria. Ada beberapa hal yang saya perhatikan dari keluarga kita ini, dan jujur saya suka.

(1) Telefon
Pak Vensa ini selalu menyempatkan diri untuk bertelefon dengan bu Dame. Malem-malem teleponan, setelah selesai rapat MJ, teleponan. Bahkan ini baru kemarin, kami sama-sama kebaktian di wilayah satu, bawa motor masing-masing, setelah pulang kebaktian saya lihat pak Vensa berteleponan dengan ibu sambil bawa motor dan HPnya itu diselipkan di helmnya. Hebat!

(2) Bajunya sering kompakan.
Ini sering lho, baju keluarga pak Vensa itu kompakan. Keren banget.

(3) Duduk di tengah kebaktian Minggu sering berduaan.
Padahal seharusnya pak Vensa itu duduknya di bangku Majelis Jemaat di depan sebagai bagian dari anggota MJ. Di satu sisi saya salut karena memang kalau ada kebaktian apapun juga, ya yang paling enak itu duduk di dekat keluarga kita, biar gampang nyoleknya: “Tuh dengar apa kata Firman Tuhan!” Katanya mah begitu.

Hal-hal yang banyak orang pikir itu adalah sesuatu yang sederhana dan karena saking sederhananya itu maka sering juga dilupakan dan ditinggalkan. Akan tetapi toh keluarga pak Vensa masih menunjukkan kasih itu melalui hal-hal yang sering dianggap sederhana oleh yang lain.

Mungkin kita bisa bilang, “Ah, itu kan karena usia pernikahannya baru aja 3 tahun (+pacaran ½ tahun).” Tapi coba aja lihat apakah kita memang di usia pernikahan yang sudah menginjak 3 tahun masih aja kayak orang pacaran macam gitu? Bila masih, itu luar biasa.

Saya mau ngecek nih, kegiatan yang dulu dilakukan sewaktu pacaran, tetapi sekarang setelah menikah kayaknya udah gak pernah lagi dilakukan deh.

- Kirim bunga? (sekarang kirim bunga deposito pak! Hahahah)
- Bikin surat cinta?
- Bilang “aku sayang kamu” pake ratusan bahasa? (wo ai ni, ich liebe dich, i love you ... atau apa itu kata orang Ambon ... )
- Kalau ibu kesandung batu hari ini, masih sama gak respon bapak? (Mata lu itu di taruh mana?)
- Masih kah kreatif kayak dulu? (kan katanya orang jatuh cinta itu jadi kreatif ya)

Satu hal yang paling sulit dalam membina sebuah hubungan, apapun itu: keluarga, persahabatan, dengan Tuhan dan lain-lain adalah ... ini bahasa sok tahu nya saya, “mempertahankan gairah!”

Sulitnya luar biasa.

Kita bisa saja masih tetap ada bersama-sama dengan keluarga kita hari ini, tetapi apakah gairah yang kita rasakan hari ini sama seperti gairah yang kita rasakan di kali pertama kita berjumpa dengan pujaan hati kita itu?

Hari ini kita masih ke gereja, cukup rajin. Tetapi bagaimana dengan gairah yang ada dalam hati kita, masihkah sesemangat itu?

Pergi ke kantor hari ini dengan pergi ke kantor untuk kali pertamanya kita diterima kerja di sana. Masih samakah gairahnya?

Saya rasa itu yang akan selalu menjadi lawan kita selamanya.
Kita akan berhadapan dengan musuh yang bernama “kehilangan gairah”. Atau dalam bahasa Alkitab kita hari ini, “melawan keinginan untuk meninggalkan kasih yang semula”.

Awalnya saya pikir, apa yang terjadi dalam kehidupan jemaat di Efesus dalam teks kita hari ini adalah mereka sudah berpaling dari Tuhan, “meninggalkan kasih yang semula”. Akan tetapi, lihatlah ayat 2, 3 dan 6 ... ternyata mereka masih menjadi seorang pengikut Kristus.

Tetapi ini dia masalahnya, pengikut Kristus yang sudah mulai hambar, kehilangan gairah di hari ini bila dibandingkan dengan dahulu, ketika kali pertamanya mereka memutuskan untuk mengikut Kristus.

Hasilnya?
Mungkin satu nama yang sangat populer di telinga kita menjadi hasil langsung untuk mereka-mereka yang sudah mulai kehilangan gairah mereka, kehilangan kasih mula-mula yang dahulu ada ... yaitu, rutinitas. Saya ke gereja hari ini, ya memang karena orang Kristen harus ke gereja. Saya ke kantor hari ini, ya karena kalau gak ke kantor, gaji saya di potong. Tak ada lagi gairah sama sekali, semua hanya rutinitas saja.

Apa enaknya hidup macam itu? Memandang semua hanya rutinitas belaka.

Kita harus menemukan cara supaya kita tidak kehilangan gairah atau kasih kita yang mula-mula itu.

Mari kita sharingkan apa yang bisa kita lakukan supaya kita semua hari ini tidak kehilangan gairah, kasih kita yang mula-mula terhadap segala sesuatu itu. Ada yang mau mengawali diskusi? [Ini saya share salah satu pendapat dari anggota jemaat yang ikutan diskusi waktu itu. Menurut beliau, kita harus beralih dari sekedar rasa cinta menjadi komitmen untuk setia. Cinta itu bisa “kadaluarsa”. Tetapi kalau kita berbicara setia, tak ada kadaluarsanya. – kira-kira intinya seperti itu, menurut beliau]
Sumber gambar: Google - Dilabeli untuk digunakan ulang dengan modifikasi

Wahyu 2:1-7 | Tak Bergairah!

tak bergairah
Kepada jemaat di Efesus
2:1 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2:2 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
2:3 Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
2:4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
2:5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
2:6 Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.
2:7 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."
TAK BERGAIRAH — Beberapa hari yang lalu, tepat 3 tahun sudah usia pernikahan keluarga kita, pak Vensa dan bu Dameria. Ada beberapa hal yang saya perhatikan dari keluarga kita ini, dan jujur saya suka.

(1) Telefon
Pak Vensa ini selalu menyempatkan diri untuk bertelefon dengan bu Dame. Malem-malem teleponan, setelah selesai rapat MJ, teleponan. Bahkan ini baru kemarin, kami sama-sama kebaktian di wilayah satu, bawa motor masing-masing, setelah pulang kebaktian saya lihat pak Vensa berteleponan dengan ibu sambil bawa motor dan HPnya itu diselipkan di helmnya. Hebat!

(2) Bajunya sering kompakan.
Ini sering lho, baju keluarga pak Vensa itu kompakan. Keren banget.

(3) Duduk di tengah kebaktian Minggu sering berduaan.
Padahal seharusnya pak Vensa itu duduknya di bangku Majelis Jemaat di depan sebagai bagian dari anggota MJ. Di satu sisi saya salut karena memang kalau ada kebaktian apapun juga, ya yang paling enak itu duduk di dekat keluarga kita, biar gampang nyoleknya: “Tuh dengar apa kata Firman Tuhan!” Katanya mah begitu.

Hal-hal yang banyak orang pikir itu adalah sesuatu yang sederhana dan karena saking sederhananya itu maka sering juga dilupakan dan ditinggalkan. Akan tetapi toh keluarga pak Vensa masih menunjukkan kasih itu melalui hal-hal yang sering dianggap sederhana oleh yang lain.

Mungkin kita bisa bilang, “Ah, itu kan karena usia pernikahannya baru aja 3 tahun (+pacaran ½ tahun).” Tapi coba aja lihat apakah kita memang di usia pernikahan yang sudah menginjak 3 tahun masih aja kayak orang pacaran macam gitu? Bila masih, itu luar biasa.

Saya mau ngecek nih, kegiatan yang dulu dilakukan sewaktu pacaran, tetapi sekarang setelah menikah kayaknya udah gak pernah lagi dilakukan deh.

- Kirim bunga? (sekarang kirim bunga deposito pak! Hahahah)
- Bikin surat cinta?
- Bilang “aku sayang kamu” pake ratusan bahasa? (wo ai ni, ich liebe dich, i love you ... atau apa itu kata orang Ambon ... )
- Kalau ibu kesandung batu hari ini, masih sama gak respon bapak? (Mata lu itu di taruh mana?)
- Masih kah kreatif kayak dulu? (kan katanya orang jatuh cinta itu jadi kreatif ya)

Satu hal yang paling sulit dalam membina sebuah hubungan, apapun itu: keluarga, persahabatan, dengan Tuhan dan lain-lain adalah ... ini bahasa sok tahu nya saya, “mempertahankan gairah!”

Sulitnya luar biasa.

Kita bisa saja masih tetap ada bersama-sama dengan keluarga kita hari ini, tetapi apakah gairah yang kita rasakan hari ini sama seperti gairah yang kita rasakan di kali pertama kita berjumpa dengan pujaan hati kita itu?

Hari ini kita masih ke gereja, cukup rajin. Tetapi bagaimana dengan gairah yang ada dalam hati kita, masihkah sesemangat itu?

Pergi ke kantor hari ini dengan pergi ke kantor untuk kali pertamanya kita diterima kerja di sana. Masih samakah gairahnya?

Saya rasa itu yang akan selalu menjadi lawan kita selamanya.
Kita akan berhadapan dengan musuh yang bernama “kehilangan gairah”. Atau dalam bahasa Alkitab kita hari ini, “melawan keinginan untuk meninggalkan kasih yang semula”.

Awalnya saya pikir, apa yang terjadi dalam kehidupan jemaat di Efesus dalam teks kita hari ini adalah mereka sudah berpaling dari Tuhan, “meninggalkan kasih yang semula”. Akan tetapi, lihatlah ayat 2, 3 dan 6 ... ternyata mereka masih menjadi seorang pengikut Kristus.

Tetapi ini dia masalahnya, pengikut Kristus yang sudah mulai hambar, kehilangan gairah di hari ini bila dibandingkan dengan dahulu, ketika kali pertamanya mereka memutuskan untuk mengikut Kristus.

Hasilnya?
Mungkin satu nama yang sangat populer di telinga kita menjadi hasil langsung untuk mereka-mereka yang sudah mulai kehilangan gairah mereka, kehilangan kasih mula-mula yang dahulu ada ... yaitu, rutinitas. Saya ke gereja hari ini, ya memang karena orang Kristen harus ke gereja. Saya ke kantor hari ini, ya karena kalau gak ke kantor, gaji saya di potong. Tak ada lagi gairah sama sekali, semua hanya rutinitas saja.

Apa enaknya hidup macam itu? Memandang semua hanya rutinitas belaka.

Kita harus menemukan cara supaya kita tidak kehilangan gairah atau kasih kita yang mula-mula itu.

Mari kita sharingkan apa yang bisa kita lakukan supaya kita semua hari ini tidak kehilangan gairah, kasih kita yang mula-mula terhadap segala sesuatu itu. Ada yang mau mengawali diskusi? [Ini saya share salah satu pendapat dari anggota jemaat yang ikutan diskusi waktu itu. Menurut beliau, kita harus beralih dari sekedar rasa cinta menjadi komitmen untuk setia. Cinta itu bisa “kadaluarsa”. Tetapi kalau kita berbicara setia, tak ada kadaluarsanya. – kira-kira intinya seperti itu, menurut beliau]
Sumber gambar: Google - Dilabeli untuk digunakan ulang dengan modifikasi

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER