Titus 2:1-15 | Menjadi Orang Baik - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Menjadi Orang Baik 
Titus 2:1-15

Ini kisah nyata, pernah terjadi di dalam kehidupan seorang pekabar Injil yang terkenal ketika memberitakan Kabar Baik itu di suatu daerah terpencil. Jadi ceritanya suatu hari si Pekabar Injil ini datang ke suatu tempat terpencil untuk mengadakan Pekabaran Injil. Namun, dia terserang penyakit, sehingga harus mencari tempat berobat. Maka pergilah dia mencari tempat berobat.

Di perjalanan, dia bertemu dengan seorang penduduk lokal, lalu dia pun bertanya, “Tahukah kamu jalan supaya aku bisa sampai di Rumah Sakit?” ... lalu kata penduduk lokal itu, “Bapak lurus saja, lalu belok kiri ... di ujung jalan ada Rumah Sakit”.

Pendeta itu pun tersenyum, lalu berkata “Bapak baik sekali ... Datanglah ke tempat saya nanti, saya akan memberitahukan kepada bapak tentang jalan menuju keselamatan yang abadi.”

Penduduk lokal itu pun dengan polos berkata, “Ah, bapak ... Jalan ke Rumah Sakit aja gak tahu, mau pake ngasih tahu saya jalan menuju Keselamatan ...”

Firman Tuhan yang disampaikan melalui Rasul Paulus yang kita baca hari ini di tutup dengan satu seruan untuk memberitakan Kabar Baik dari Allah untuk semua umat manusia. Dalam ayat 2-10 ... kita menjadi tahu tentang apa yang dinasihatkan oleh Rasul Paulus kepada Titus dan orang-orang percaya pada waktu itu. Puanjang kan ya ... tetapi intinya satu: Berusahalah untuk menjadi orang baik (ayat 7).

Mengapa kita harus menjadi orang baik? Tanpa harus membawa apa yang dinamakan oleh orang, “agama” ... menjadi orang baik pun seharusnya adalah kewajiban setiap orang.

Apalagi kita, yang mengaku diri ini sebagai orang percaya. Orang yang telah melihat, merasakan dan menyadari bahwa Allah terlebih dahulu melakukan hal-hal baik, bahkan terbaik untuk kehidupan kita ini (ayat 14).

Berbuat baik bagi iman kita bukanlah suatu keharusan, melainkan sebuah implikasi logis dari apa yang kita rasakan dan nikmati yang telah Tuhan berikan kepada kita. Sebab Tuhan telah berbuat baik, maka kita pun berbuat baik.

Ini bukan perkara tentang manusia yang ada di sekitar kita nya. Bukan. Sebab kalau itu menjadi salah satu dasarnya, kita harusnya menemukan pernyataan bahwa “Kita harus berbuat baik kepada orang percaya saja, yang lain gak usah”.

Jika si A itu berbuat jahat kepada saya, maka saya tidak mungkin berbuat baik kepada dia. Itu bukan iman kita. Tuhan Yesus telah mengajarkan kepada kita, bahwa bahkan seorang musuh pun kita harus mengasihi mereka.

Apa yang menjadi tujuan iman kita adalah sesuatu yang sangat mulia. Jika kita bertemu dengan seseorang yang jelas berbuat jahat dalam hidup kita, maka dengan perbuatan baik kita kepada nya ... kita berharap dan percaya bahwa orang yang jahat itu bisa diubahkan oleh Tuhan menjadi seorang yang baik pula.

Dan prinsip itu telah berlaku berkali-kali dan berhasil. Mau contoh? Tengok saja siapa yang menuliskan firman Tuhan kita hari ini kepada Titus. Itu contoh yang paling keren tentang seorang yang telah berbuat jahat, tetapi diberikan terus kebaikan oleh Tuhan sehingga tepat di waktu Tuhan, dia berubah total dari seorang yang jahat, menjadi orang baik.

"Adalah baik menjadi orang penting, 
tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik."
Ebed Kadarusman
(kutipan kang Ebed ini saya tahu dari seorang anggota MJ di waktu persiapan MJ lho ... )

Pokok Diskusi

1. Apa kesulitan kita untuk bisa menjadi seorang yang baik?
2. Adakah pengalaman kita yang sudah menyaksikan bahwa dengan kebaikan yang kita berikan perubahan besar bisa terjadi dalam kehidupan orang lain?

Titus 2:1-15 | Menjadi Orang Baik


Menjadi Orang Baik 
Titus 2:1-15

Ini kisah nyata, pernah terjadi di dalam kehidupan seorang pekabar Injil yang terkenal ketika memberitakan Kabar Baik itu di suatu daerah terpencil. Jadi ceritanya suatu hari si Pekabar Injil ini datang ke suatu tempat terpencil untuk mengadakan Pekabaran Injil. Namun, dia terserang penyakit, sehingga harus mencari tempat berobat. Maka pergilah dia mencari tempat berobat.

Di perjalanan, dia bertemu dengan seorang penduduk lokal, lalu dia pun bertanya, “Tahukah kamu jalan supaya aku bisa sampai di Rumah Sakit?” ... lalu kata penduduk lokal itu, “Bapak lurus saja, lalu belok kiri ... di ujung jalan ada Rumah Sakit”.

Pendeta itu pun tersenyum, lalu berkata “Bapak baik sekali ... Datanglah ke tempat saya nanti, saya akan memberitahukan kepada bapak tentang jalan menuju keselamatan yang abadi.”

Penduduk lokal itu pun dengan polos berkata, “Ah, bapak ... Jalan ke Rumah Sakit aja gak tahu, mau pake ngasih tahu saya jalan menuju Keselamatan ...”

Firman Tuhan yang disampaikan melalui Rasul Paulus yang kita baca hari ini di tutup dengan satu seruan untuk memberitakan Kabar Baik dari Allah untuk semua umat manusia. Dalam ayat 2-10 ... kita menjadi tahu tentang apa yang dinasihatkan oleh Rasul Paulus kepada Titus dan orang-orang percaya pada waktu itu. Puanjang kan ya ... tetapi intinya satu: Berusahalah untuk menjadi orang baik (ayat 7).

Mengapa kita harus menjadi orang baik? Tanpa harus membawa apa yang dinamakan oleh orang, “agama” ... menjadi orang baik pun seharusnya adalah kewajiban setiap orang.

Apalagi kita, yang mengaku diri ini sebagai orang percaya. Orang yang telah melihat, merasakan dan menyadari bahwa Allah terlebih dahulu melakukan hal-hal baik, bahkan terbaik untuk kehidupan kita ini (ayat 14).

Berbuat baik bagi iman kita bukanlah suatu keharusan, melainkan sebuah implikasi logis dari apa yang kita rasakan dan nikmati yang telah Tuhan berikan kepada kita. Sebab Tuhan telah berbuat baik, maka kita pun berbuat baik.

Ini bukan perkara tentang manusia yang ada di sekitar kita nya. Bukan. Sebab kalau itu menjadi salah satu dasarnya, kita harusnya menemukan pernyataan bahwa “Kita harus berbuat baik kepada orang percaya saja, yang lain gak usah”.

Jika si A itu berbuat jahat kepada saya, maka saya tidak mungkin berbuat baik kepada dia. Itu bukan iman kita. Tuhan Yesus telah mengajarkan kepada kita, bahwa bahkan seorang musuh pun kita harus mengasihi mereka.

Apa yang menjadi tujuan iman kita adalah sesuatu yang sangat mulia. Jika kita bertemu dengan seseorang yang jelas berbuat jahat dalam hidup kita, maka dengan perbuatan baik kita kepada nya ... kita berharap dan percaya bahwa orang yang jahat itu bisa diubahkan oleh Tuhan menjadi seorang yang baik pula.

Dan prinsip itu telah berlaku berkali-kali dan berhasil. Mau contoh? Tengok saja siapa yang menuliskan firman Tuhan kita hari ini kepada Titus. Itu contoh yang paling keren tentang seorang yang telah berbuat jahat, tetapi diberikan terus kebaikan oleh Tuhan sehingga tepat di waktu Tuhan, dia berubah total dari seorang yang jahat, menjadi orang baik.

"Adalah baik menjadi orang penting, 
tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik."
Ebed Kadarusman
(kutipan kang Ebed ini saya tahu dari seorang anggota MJ di waktu persiapan MJ lho ... )

Pokok Diskusi

1. Apa kesulitan kita untuk bisa menjadi seorang yang baik?
2. Adakah pengalaman kita yang sudah menyaksikan bahwa dengan kebaikan yang kita berikan perubahan besar bisa terjadi dalam kehidupan orang lain?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER