Roma 5:1-5 | Jawaban - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Jawaban 
Roma 5:1-5


Seorang guru membawa satu soal untuk diberikan kepada para muridnya. Guru berkata, “Soal ini memang sulit, tetapi jalan dan penyelesaian jawabannya ada. Silahkan dikerjakan.” Semua murid mengambil soal itu, dan benar saja ... hampir satu jam mereka semua mengerjakan soal itu, hasilnya tetap nihil.

Satu persatu dari murid itu mulai ‘angkat tangan’. Tetapi ada satu murid yang masih saja tetap mengerjakan soal itu dengan bersemangat. Semua kawannya heran melihat dia yang tak jauh beda dengan mereka: “berkali-kali gagal menemukan jawaban”. Seorang bertanya padanya: “Mengapa kamu masih terus saja semangat mengerjakan soal yang susah itu? Gak bakalan dapatlah kita menjawab soal itu!”

Lalu si murid yang tetap bersemangat itu kemudian menjawab: “Kalau kita belum menemukan jawabannya, itu bukan berarti tak ada jawaban. Guru sudah mengatakan bahwa jawabannya ada, makanya aku masih mencari dan terus berusaha menemukan jalan menuju jawaban dari soal yang sulit ini”.

Menyerah karena sulitnya perkara yang kita hadapi dalam hidup ini adalah satu pilihan yang paling mudah kita ambil. Apalagi setelah mengetahui kita telah berjuang berkali-kali banyaknya untuk terus mencoba dan tetap mencoba ... tetapi, nihil. Dengan menyerah, maka kita tidak akan bertemu lagi dengan kesulitan yang sejak dulu telah mengeluarkan seluruh daya pikir kita dan kekuatan kita untuk berjuang dan membawa kita kepada jalan sengsara.

Rasul Paulus menggunakan kata Yunani, “thlipis”, untuk menyebutkan kesengsaraan, yang artinya secara harafiah adalah tekanan. Dari dulu hingga sekarang, rupanya “tekanan atau kesengsaraan” memang dekat dengan orang percaya dalam memperjuangkan iman mereka. Kini di Indonesia, kita pun seringkali di tekan hingga sengsara sangat untuk dapat menyatakan diri kita sebagai pengikut Kristus (tidak perlu di kasih contoh kan ya?). Dahulu, orang percaya di Roma pun kurang lebih mengalami hal yang sama, tekanan dari orang-orang di Roma, terlebih Kekaisaran Romawi, yang dahulu menganiaya orang percaya karena iman yang berbeda itu.

Tetapi yang aneh adalah karena Rasul Paulus menyatakan justru bahkan dengan situasi sesulit itu, kita sebagai orang percaya harus tetap bermegah – bersukacita (ayat 3). Sama seperti seorang murid dalam cerita di awal tadi, yang tetap bersemangat menjalani tugasnya mencari jawaban karena sang Guru sudah menyatakan bahwa jawabannya ada.

Jawaban yang disediakan oleh Tuhan melalui Rasul Paulus kepada kita dalam menghadapi segala kesengsaraan kita terdapat pada satu alur yang sangat menarik untuk kita lihat bersama, ayat 3-5:

Kesengsaraan -> Ketekunan -> Tahan Uji -> Pengharapan -> Tidak Kecewa (karena Allah mengasihi kita) 

Menurut bapak dan ibu, dari antara 5 hal itu, apa yang paling penting untuk kita lakukan hari ini? Buat saya ... ketekunan. Rasul Paulus kembali menggunakan kata yang baik sekali untuk menggambarkan hal itu, ketekunan: hupomone (Yunani) yang arti harafiahnya lebih dari sekedar bersabar. Hupomone berarti tetap memiliki semangat untuk melakukan sesuatu yang bisa kita perbuat untuk mengalahkan kesengsaraan hidup ini. Ketika kita menghadapi satu kesengsaraan, maka tetap memiliki hupomone - ketekunan adalah pilihan yang realistis sekaligus imani, bahwa di depan sana, kita tidak akan kecewa.

Saya suka dengan ilustrasi seekor keledai yang terperosok ke dalam lubang dan dia tidak bisa keluar dari sana. Lalu ada orang yang mulai menyekop dan memasukkan tanah ke dalam lubang. Si keledai bisa berpikir: “ini orang mau membunuhku lebih cepat!” Atau ... si keledai bisa menggerakkan seluruh kakinya untuk menimbun tanah yang masuk ke dalam lubang itu sehingga pada akhirnya dia bisa naik dan keluar dari lubang (karena tanah yang dibuang oleh orang tadi ke dalam lubang).

Itulah hupomone, itulah jawabannya. Jawaban akan datang kepada setiap kita yang tidak pernah berhenti (tekun -> tahan uji -> berpengharapan) untuk mencari dan menemukannya. Cepat atau lambat.

Pokok Diskusi:
Ada yang mau sharing tentang pengalaman pola yang diungkapkan dalam firman Tuhan kita hari ini (yang lima point itu, ayat 3-5)?

Lihat Juga:
Roma 5:1-5 "Berjumpa dengan Dia di Suatu Jalan"

Roma 5:1-5 | Jawaban

Jawaban 
Roma 5:1-5


Seorang guru membawa satu soal untuk diberikan kepada para muridnya. Guru berkata, “Soal ini memang sulit, tetapi jalan dan penyelesaian jawabannya ada. Silahkan dikerjakan.” Semua murid mengambil soal itu, dan benar saja ... hampir satu jam mereka semua mengerjakan soal itu, hasilnya tetap nihil.

Satu persatu dari murid itu mulai ‘angkat tangan’. Tetapi ada satu murid yang masih saja tetap mengerjakan soal itu dengan bersemangat. Semua kawannya heran melihat dia yang tak jauh beda dengan mereka: “berkali-kali gagal menemukan jawaban”. Seorang bertanya padanya: “Mengapa kamu masih terus saja semangat mengerjakan soal yang susah itu? Gak bakalan dapatlah kita menjawab soal itu!”

Lalu si murid yang tetap bersemangat itu kemudian menjawab: “Kalau kita belum menemukan jawabannya, itu bukan berarti tak ada jawaban. Guru sudah mengatakan bahwa jawabannya ada, makanya aku masih mencari dan terus berusaha menemukan jalan menuju jawaban dari soal yang sulit ini”.

Menyerah karena sulitnya perkara yang kita hadapi dalam hidup ini adalah satu pilihan yang paling mudah kita ambil. Apalagi setelah mengetahui kita telah berjuang berkali-kali banyaknya untuk terus mencoba dan tetap mencoba ... tetapi, nihil. Dengan menyerah, maka kita tidak akan bertemu lagi dengan kesulitan yang sejak dulu telah mengeluarkan seluruh daya pikir kita dan kekuatan kita untuk berjuang dan membawa kita kepada jalan sengsara.

Rasul Paulus menggunakan kata Yunani, “thlipis”, untuk menyebutkan kesengsaraan, yang artinya secara harafiah adalah tekanan. Dari dulu hingga sekarang, rupanya “tekanan atau kesengsaraan” memang dekat dengan orang percaya dalam memperjuangkan iman mereka. Kini di Indonesia, kita pun seringkali di tekan hingga sengsara sangat untuk dapat menyatakan diri kita sebagai pengikut Kristus (tidak perlu di kasih contoh kan ya?). Dahulu, orang percaya di Roma pun kurang lebih mengalami hal yang sama, tekanan dari orang-orang di Roma, terlebih Kekaisaran Romawi, yang dahulu menganiaya orang percaya karena iman yang berbeda itu.

Tetapi yang aneh adalah karena Rasul Paulus menyatakan justru bahkan dengan situasi sesulit itu, kita sebagai orang percaya harus tetap bermegah – bersukacita (ayat 3). Sama seperti seorang murid dalam cerita di awal tadi, yang tetap bersemangat menjalani tugasnya mencari jawaban karena sang Guru sudah menyatakan bahwa jawabannya ada.

Jawaban yang disediakan oleh Tuhan melalui Rasul Paulus kepada kita dalam menghadapi segala kesengsaraan kita terdapat pada satu alur yang sangat menarik untuk kita lihat bersama, ayat 3-5:

Kesengsaraan -> Ketekunan -> Tahan Uji -> Pengharapan -> Tidak Kecewa (karena Allah mengasihi kita) 

Menurut bapak dan ibu, dari antara 5 hal itu, apa yang paling penting untuk kita lakukan hari ini? Buat saya ... ketekunan. Rasul Paulus kembali menggunakan kata yang baik sekali untuk menggambarkan hal itu, ketekunan: hupomone (Yunani) yang arti harafiahnya lebih dari sekedar bersabar. Hupomone berarti tetap memiliki semangat untuk melakukan sesuatu yang bisa kita perbuat untuk mengalahkan kesengsaraan hidup ini. Ketika kita menghadapi satu kesengsaraan, maka tetap memiliki hupomone - ketekunan adalah pilihan yang realistis sekaligus imani, bahwa di depan sana, kita tidak akan kecewa.

Saya suka dengan ilustrasi seekor keledai yang terperosok ke dalam lubang dan dia tidak bisa keluar dari sana. Lalu ada orang yang mulai menyekop dan memasukkan tanah ke dalam lubang. Si keledai bisa berpikir: “ini orang mau membunuhku lebih cepat!” Atau ... si keledai bisa menggerakkan seluruh kakinya untuk menimbun tanah yang masuk ke dalam lubang itu sehingga pada akhirnya dia bisa naik dan keluar dari lubang (karena tanah yang dibuang oleh orang tadi ke dalam lubang).

Itulah hupomone, itulah jawabannya. Jawaban akan datang kepada setiap kita yang tidak pernah berhenti (tekun -> tahan uji -> berpengharapan) untuk mencari dan menemukannya. Cepat atau lambat.

Pokok Diskusi:
Ada yang mau sharing tentang pengalaman pola yang diungkapkan dalam firman Tuhan kita hari ini (yang lima point itu, ayat 3-5)?

Lihat Juga:
Roma 5:1-5 "Berjumpa dengan Dia di Suatu Jalan"

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER