Kisah Para Rasul 2:1-13 | Menembus Batas

Kisah Para Rasul 2:1-13

Roh Allah akan selalu bekerja di dalam diri setiap orang yang tidak pernah membatasi karya-Nya.

Menembus Batas — Ini hanya cerita saja, bukan kisah nyata sepertinya. Seorang pendeta mempersiapkan khotbahnya di hari Pentakosta dengan sangat menggebu-gebu, bersemangat.

Saking bersemangatnya, pendeta itu pun mempersiapkan satu peragaan visual tentang turunnya Roh Kudus. Kan biasanya dalam Alkitab, Roh Kudus digambarkan juga dengan burung Merpati, maka ia mempersiapkan seekor burung merpati yang ia titipkan ke seorang pemuda.

Pesannya kepada pemuda itu, “Besok hari minggu pas saya khotbah, kalau kamu dengar saya berkata, "Maka turunlah Roh Kudus," kamu jangan lupa ya! Lepasin ini burung merpati ke arah mimbar."

Keesokan harinya, ketika pendeta itu mulai berkhotbah, dia pun berkata, "Maka turunlah Roh Kudus!"

Baca juga

Tetapi apa nyana yang terjadi? Ternyata si pemuda ini malah teriak, "Pak Pendeta, Roh Kudusnya kabur ke arah jendela atas." Jadi bukannya terbang ke arah mimbar, eh malah tu burung merpati kabur ke arah jendela dan terbang entah ke mana.

Apa yang kita persiapkan memang kadang tidak berjalan sesuai rencana, bukan? Tetapi bersyukurlah karena kalau Tuhan yang punya rencana dan persiapan, maka Dia tidak akan pernah gagal.

Apa yang kita baca hari ini dalam Kisah Para Rasul 2:1-13 sebenarnya sudah dinyatakan oleh Tuhan Yesus, sejak kenaikan-Nya ke Surga. Tuhan Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan turun ke atasmu dan kamu akan menjadi saksi bagi-Ku (Kisah Rasul 1:8).

Kisah Rasul 2:1-13
Pentakosta
2:1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
2:2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
2:3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
2:5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.
2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.
2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?
2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:
2:9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,
2:10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,
2:11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."
2:12 Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?"
2:13 Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis."
Sepuluh hari kemudian setelah Yesus terangkat ke surga, apa yang sudah dinyatakan-Nya itu benar terjadi.

Kejadiannya pun istimewa. Ketika orang berkerumun, Roh Kudus dalam bentuk lidah-lidah api turun dan hinggap dalam diri mereka masing masing.

Hasilnya istimewa, dikatakan di sana, semua orang pada bingung karena orang-orang percaya pada waktu itu mampu berbicara menggunakan bahasa-bahasa asing, yaitu bahasa dari tempat mereka berasal (Kisah Para Rasul 2:8). Mereka memberikan kesaksian tentang apa yang telah Allah perbuat bagi mereka (Kisah Para Rasul 2:11).


Kalau kita pikir-pikir, siapa sih orang percaya di waktu itu? Apakah mereka termasuk dalam “golongan orang-orang pintar”? Tidak, para murid bukanlah orang-orang yang pintar (bila mau menilik dalam hal "akademis"). Kebanyakan dari mereka kan cuma nelayan.

Menembus Batas

Tetapi ketika Roh Allah menaungi diri mereka, apa yang mereka tidak mampu lakukan dengan diri mereka sendiri, kini bersama Tuhan, mereka bisa melakukan perkara-perkara besar yang sebetulnya itu benar-benar jauh diluar jangkauan daya yang mereka miliki.

Roh Allah membuat mereka mampu menembus batasan-batasan logika. Sebab gak ada logikanya para orang percaya waktu itu mampu berbicara menggunakan bahasa-bahasa asing sekilat itu.

Hari ini, Roh Allah pun memimpin kehidupan kita.

Apa yang kita pikir pada awalnya "hal itu tidak mungkin," tetapi ternyata bersama pimpinan Roh Kudus-Nya, kita sanggup melakukan hal itu.

Kadang, yang memberikan batasan terhadap karya Allah berlaku dalam kehidupan kita itu, bukan Dia. Melainkan diri kita sendiri.
"Tuhan, aku tak mampu untuk mengampuni dan memaafkannya!”
“Tuhan, umur 30 tahun gini, kerjaan masih belum jelas, gmana cewek ada yang mau sama saya?!”
“Tuhan, semua sudah kulakukan, tetapi hasilnya masih nihil!” 

Jangan berhenti sampai di situ.
Roh Allah akan selalu bekerja di dalam diri setiap orang yang tidak pernah membatasi karya-Nya.

Sharing: Adakah pengalaman dipimpin oleh Roh Kudus sehingga kita mampu menembus batas dalam kehidupan kita?

Allah dapat menjadikan Anda apa saja yang Anda inginkkan, tetapi Anda harus menaruh segala sesuatunya di tangan-Nya. (Mahalia Jackson)

Post a Comment