Kisah Rasul 9:1-20 | Transformasi Diri - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Transformasi Diri
Kisah Rasul 9:1-20


Ini hanya guyonan lama yang sering kita dengar. Tentang seorang pak Haji yang mendengar satu laporan dari seseorang tentang anaknya. “Pak haji, anak pak haji main judi!” ... Lalu pak haji pun berkata: “Astagfirallah Aladzimm ...” Kemudian si pelapornya tadi melanjutkan, “Anak pak haji menang banyak tuh dari hasil judi sampe bisa beli motor baru!” ... Mendengar hal itupun pak haji tak sengaja terucap: “Alhamdullilah ...” J

Aneh memang tapi kadang itu nyata. Sesuatu yang dianggap jelek dalam agama atau bahkan gak usah bawa-bawa agama pun itu bisa dinilai jelek, tetapi bila itu “menguntungkan” diri kita ... entah kenapa yang jelek itu bisa jadi “baik” (dalam tanda petik ya) juga.

Judi jelas tidak boleh, minimal di Indonesialah ya ... tetapi kalau menang ... nanti dulu tidak bolehnya.
Mari kita coba contoh yang lebih besar lagi. Membunuh, apapun alasannya, agama apapun pasti akan melarang seseorang untuk melakukan hal itu. Tetapi ....

Tetapi lihatlah apa yang terjadi dalam pembacaan Alkitab kita hari ini. Saulus, seorang petinggi agama Yahudi yang sangat membenci pengikut Kristus ... dan menggebu-gebu menangkap ... dan bukan hanya menangkap saja, melainkan membunuh para pengikut Kristus itu (ayat 1). Dan yang lebih “gila” nya lagi adalah, hal itu “direstui” oleh Majelis Yahudi di Pusat, di Damsyik (ayat 2).

Agama mana yang melegalkan seseorang untuk dapat menghabisi nyawa orang lain di dunia? Menurut saya tidak ada, kecuali penyimpangan terhadap apa yang dipahaminya tentang ajaran agama itu sendiri.

Yang menarik adalah dalam perikop kita dalam upaya yang menggebu-gebunya itu dan kerinduan yang amat besar untuk memusnahkan orang Kristen waktu itu, justru di saat itu lah Saulus ditangkap oleh Kristus dan diperbaharui oleh Kristus. Dari seseorang yang sangat jahat (di ayat 1-2), berubah drastis menjadi seorang yang bisa kita baca dalam ayatnya yang ke 20.

Sebenarnya ada dua orang yang luar biasa dalam perikop kita (selain Tuhan yang kita kenal di dalam Kristus pun adalah Tuhan yang luar biasa tentunya). Yang pertama Saulus tadi, yang kedua adalah Ananias.

Ketika Tuhan memberitahukan kepada Ananias untuk menjumpai Saulus di Tarsus, apa reaksi awal Ananias? Penolakan! (Ayat 13). Dari seseorang yang menolak luar biasa kehadiran Saulus dan menolak juga untuk datang menghampiri Saulus di Tarsus, berubah drastis pula menjadi seorang yang datang menghampiri dan bisa mengatakan kepada si penjahat itu di Tarsus: “Saulus, saudaraku ...” (Ayat 17).

Hari ini kita melihat dua orang yang keras menjadi lembut karena Tuhan, sang Sutradara Agung. Tuhan mengubah karakter dua orang itu untuk menciptakan episode yang sama sekali baru bagi kedua orang itu. Yang satu dari si pembenci Injil menjadi penyiar Injil. Yang lain lagi dari si “penolak” menjadi si “penyaksi” kuasa Allah dalam Kristus yang sanggup mengubahkan kehidupan.

Jika kita bertemu dengan” Saulus-Saulus modern” hari ini ... Allah sanggup mengubahkan episode kehidupan di hari yang lalu menjadi sama sekali baru ... Jika kita hari ini sedang berhadapan dengan seorang “Saulus modern yang membutuhkan penerimaan diri dari kita” ... sanggupkah kita menjadi seorang Ananias yang modern pula di hari ini?

Seperti ada perkataan seseorang:
“Setiap orang suci punya masa lalu, 
dan setiap pendosa punya masa depan.”

Pokok Diskusi:
Tuhan sanggup mengubahkan arah kehidupan seseorang yang jahat menjadi sama sekali baru. Ya dan amin. Apa kesulitan kita untuk menerima seseorang yang dahulu dikenal sebagai seorang jahat untuk menjadi seorang manusia baru?

Kisah Rasul 9:1-20 | Transformasi Diri

Transformasi Diri
Kisah Rasul 9:1-20


Ini hanya guyonan lama yang sering kita dengar. Tentang seorang pak Haji yang mendengar satu laporan dari seseorang tentang anaknya. “Pak haji, anak pak haji main judi!” ... Lalu pak haji pun berkata: “Astagfirallah Aladzimm ...” Kemudian si pelapornya tadi melanjutkan, “Anak pak haji menang banyak tuh dari hasil judi sampe bisa beli motor baru!” ... Mendengar hal itupun pak haji tak sengaja terucap: “Alhamdullilah ...” J

Aneh memang tapi kadang itu nyata. Sesuatu yang dianggap jelek dalam agama atau bahkan gak usah bawa-bawa agama pun itu bisa dinilai jelek, tetapi bila itu “menguntungkan” diri kita ... entah kenapa yang jelek itu bisa jadi “baik” (dalam tanda petik ya) juga.

Judi jelas tidak boleh, minimal di Indonesialah ya ... tetapi kalau menang ... nanti dulu tidak bolehnya.
Mari kita coba contoh yang lebih besar lagi. Membunuh, apapun alasannya, agama apapun pasti akan melarang seseorang untuk melakukan hal itu. Tetapi ....

Tetapi lihatlah apa yang terjadi dalam pembacaan Alkitab kita hari ini. Saulus, seorang petinggi agama Yahudi yang sangat membenci pengikut Kristus ... dan menggebu-gebu menangkap ... dan bukan hanya menangkap saja, melainkan membunuh para pengikut Kristus itu (ayat 1). Dan yang lebih “gila” nya lagi adalah, hal itu “direstui” oleh Majelis Yahudi di Pusat, di Damsyik (ayat 2).

Agama mana yang melegalkan seseorang untuk dapat menghabisi nyawa orang lain di dunia? Menurut saya tidak ada, kecuali penyimpangan terhadap apa yang dipahaminya tentang ajaran agama itu sendiri.

Yang menarik adalah dalam perikop kita dalam upaya yang menggebu-gebunya itu dan kerinduan yang amat besar untuk memusnahkan orang Kristen waktu itu, justru di saat itu lah Saulus ditangkap oleh Kristus dan diperbaharui oleh Kristus. Dari seseorang yang sangat jahat (di ayat 1-2), berubah drastis menjadi seorang yang bisa kita baca dalam ayatnya yang ke 20.

Sebenarnya ada dua orang yang luar biasa dalam perikop kita (selain Tuhan yang kita kenal di dalam Kristus pun adalah Tuhan yang luar biasa tentunya). Yang pertama Saulus tadi, yang kedua adalah Ananias.

Ketika Tuhan memberitahukan kepada Ananias untuk menjumpai Saulus di Tarsus, apa reaksi awal Ananias? Penolakan! (Ayat 13). Dari seseorang yang menolak luar biasa kehadiran Saulus dan menolak juga untuk datang menghampiri Saulus di Tarsus, berubah drastis pula menjadi seorang yang datang menghampiri dan bisa mengatakan kepada si penjahat itu di Tarsus: “Saulus, saudaraku ...” (Ayat 17).

Hari ini kita melihat dua orang yang keras menjadi lembut karena Tuhan, sang Sutradara Agung. Tuhan mengubah karakter dua orang itu untuk menciptakan episode yang sama sekali baru bagi kedua orang itu. Yang satu dari si pembenci Injil menjadi penyiar Injil. Yang lain lagi dari si “penolak” menjadi si “penyaksi” kuasa Allah dalam Kristus yang sanggup mengubahkan kehidupan.

Jika kita bertemu dengan” Saulus-Saulus modern” hari ini ... Allah sanggup mengubahkan episode kehidupan di hari yang lalu menjadi sama sekali baru ... Jika kita hari ini sedang berhadapan dengan seorang “Saulus modern yang membutuhkan penerimaan diri dari kita” ... sanggupkah kita menjadi seorang Ananias yang modern pula di hari ini?

Seperti ada perkataan seseorang:
“Setiap orang suci punya masa lalu, 
dan setiap pendosa punya masa depan.”

Pokok Diskusi:
Tuhan sanggup mengubahkan arah kehidupan seseorang yang jahat menjadi sama sekali baru. Ya dan amin. Apa kesulitan kita untuk menerima seseorang yang dahulu dikenal sebagai seorang jahat untuk menjadi seorang manusia baru?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER