II Samuel 9:1-13 | Menebar Kasih, Menyingkirkan Sakit Hati - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

sakit hati
Adakah di dunia ini orang-orang yang berperilaku seperti tema kita hari ini, “Menebar kasih dan menyingkirkan sakit hati”? Mari kita hitung sudah berapa banyak dia, entah seseorang ataupun mereka, pernah menyakiti hati kita ... Sudah? Berapa kali jumlahnya? Buannyaaakkk? Ok, katakanlah banyak ... sekarang mari kita tanya diri kita masing-masing ... apakah dengan kondisi yang seperti itu, kita masih tetap sanggung untuk ... menebarkan kasih kepada dia atau mereka itu?

Ah, bolehkah saya memilih Tuhan? Kalau boleh, saya mau membalaskan rasa sakit hati saya itu supaya dia atau mereka pun merasakan apa yang saya rasakan sekarang!

Akan tetapi, ada beberapa orang ... Kristen .... yang tidak tawar menawar dengan Tuhan seperti itu. Dia atau mereka menyakiti saya? Saya akan tetap menunjukkan kasih saya kepadanya. Sebutlah perlakuan Nelson Mandela dan Corrie ten Boom yang bisa memeluk dan sanggup memaafkan dan mengasihi mereka yang telah menganiaya mereka di penjara. Luar biasa sekali.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita pun menemukan satu kisah luar biasa tentang seseorang yang sanggup mengasihi “musuh” mereka.

Daud.
Kita tahu semua bahwa antara Daud dengan Saul sangat tidak akur. Bukan Daud yang bermasalah, melainkan Saul yang berniat untuk membunuh Daud. Ketika Saul mati dalam peperangan dengan orang Amalek (II Samuel 1:4), Daud memiliki kesempatan besar untuk membalaskan dendam kepada keturunan Saul. Jangan lupa, bahwa hukum perang zaman dulu itu ada istilah “pemberantasan sampai ke akar-akarnya” – genoside, pembunuhan kepada satu keturunan atau suku. Tujuannya? Supaya tidak ada kesempatan untuk “musuh” membalas dendam dan memberontak di kemudian hari. Daud punya kesempatan untuk memberantas habis keturunan Saul di saat itu.

Daud punya kesempatan emas untuk melakukan hal itu. Tetapi tengoklah apa yang dilakukan Daud dalam perikop kita hari ini: Ayat 7-10 (bacakan sekali lagi).

Apakah Daud melupakan perseteruan Saul dengannya? Tidak. Daud tahu Saul membencinya. Lalu kenapa Daud mau melakukan hal yang baik kepada keluarga Saul itu?

Dalam teks kita, karena Yonatan? Sahabat karib Daud itu? Ya. Tetapi bukan karena itu saja. Sebab dahulu, Daud pun punya kesempatan untuk membunuh Saul, dua kali, tetapi itu tidak pernah dia lakukan kepada Saul (I Samuel 26).

Mungkin kita bisa mencari jawabannya dengan berkata: “Itu karena Daud memang baik orangnya, murah hati dan tidak pernah sombong dan mau membalas perbuatan jahat dengan perbuatan jahat kembali” ... Okelah, itu pun bisa kita jadikan jawaban.

Bolehkah saya menyimpulkan dalam satu kalimat dan berpikir tentang apa yang menjadi motivasi Daud ketika dia menerima Mefiboset untuk tinggal bersamanya?
Karena satu atau bahkan banyak perbuatan jahat yang dilakukan oleh seseorang atau mereka tidaklah layak untuk menjadikan kita sebagai orang jahat juga.

Ini sama sekali bukan tentang mereka yang telah berbuat jahat atau menyakiti hati kita. Tetapi ini tentang kita: Apakah kita menjadi sama seperti mereka yang telah berbuat jahat dan menyakiti hati kita dengan membalas perbuatan mereka “dengan setimpal menurut kita”?

Seperti kata Tuhan Yesus: “Bila kamu berbuat baik kepada sesamamu yang telah berbuat baik, apa kelebihanmu? Orang yang tidak mengenal Allah pun melakukan hal itu.” (Matius 5:43-48)

Pokok Diskusi:
Apa yang akan bapak dan ibu lakukan terhadap mereka yang mungkin hari ini telah menyakiti hati bapak dan ibu?

II Samuel 9:1-13 | Menebar Kasih, Menyingkirkan Sakit Hati

sakit hati
Adakah di dunia ini orang-orang yang berperilaku seperti tema kita hari ini, “Menebar kasih dan menyingkirkan sakit hati”? Mari kita hitung sudah berapa banyak dia, entah seseorang ataupun mereka, pernah menyakiti hati kita ... Sudah? Berapa kali jumlahnya? Buannyaaakkk? Ok, katakanlah banyak ... sekarang mari kita tanya diri kita masing-masing ... apakah dengan kondisi yang seperti itu, kita masih tetap sanggung untuk ... menebarkan kasih kepada dia atau mereka itu?

Ah, bolehkah saya memilih Tuhan? Kalau boleh, saya mau membalaskan rasa sakit hati saya itu supaya dia atau mereka pun merasakan apa yang saya rasakan sekarang!

Akan tetapi, ada beberapa orang ... Kristen .... yang tidak tawar menawar dengan Tuhan seperti itu. Dia atau mereka menyakiti saya? Saya akan tetap menunjukkan kasih saya kepadanya. Sebutlah perlakuan Nelson Mandela dan Corrie ten Boom yang bisa memeluk dan sanggup memaafkan dan mengasihi mereka yang telah menganiaya mereka di penjara. Luar biasa sekali.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita pun menemukan satu kisah luar biasa tentang seseorang yang sanggup mengasihi “musuh” mereka.

Daud.
Kita tahu semua bahwa antara Daud dengan Saul sangat tidak akur. Bukan Daud yang bermasalah, melainkan Saul yang berniat untuk membunuh Daud. Ketika Saul mati dalam peperangan dengan orang Amalek (II Samuel 1:4), Daud memiliki kesempatan besar untuk membalaskan dendam kepada keturunan Saul. Jangan lupa, bahwa hukum perang zaman dulu itu ada istilah “pemberantasan sampai ke akar-akarnya” – genoside, pembunuhan kepada satu keturunan atau suku. Tujuannya? Supaya tidak ada kesempatan untuk “musuh” membalas dendam dan memberontak di kemudian hari. Daud punya kesempatan untuk memberantas habis keturunan Saul di saat itu.

Daud punya kesempatan emas untuk melakukan hal itu. Tetapi tengoklah apa yang dilakukan Daud dalam perikop kita hari ini: Ayat 7-10 (bacakan sekali lagi).

Apakah Daud melupakan perseteruan Saul dengannya? Tidak. Daud tahu Saul membencinya. Lalu kenapa Daud mau melakukan hal yang baik kepada keluarga Saul itu?

Dalam teks kita, karena Yonatan? Sahabat karib Daud itu? Ya. Tetapi bukan karena itu saja. Sebab dahulu, Daud pun punya kesempatan untuk membunuh Saul, dua kali, tetapi itu tidak pernah dia lakukan kepada Saul (I Samuel 26).

Mungkin kita bisa mencari jawabannya dengan berkata: “Itu karena Daud memang baik orangnya, murah hati dan tidak pernah sombong dan mau membalas perbuatan jahat dengan perbuatan jahat kembali” ... Okelah, itu pun bisa kita jadikan jawaban.

Bolehkah saya menyimpulkan dalam satu kalimat dan berpikir tentang apa yang menjadi motivasi Daud ketika dia menerima Mefiboset untuk tinggal bersamanya?
Karena satu atau bahkan banyak perbuatan jahat yang dilakukan oleh seseorang atau mereka tidaklah layak untuk menjadikan kita sebagai orang jahat juga.

Ini sama sekali bukan tentang mereka yang telah berbuat jahat atau menyakiti hati kita. Tetapi ini tentang kita: Apakah kita menjadi sama seperti mereka yang telah berbuat jahat dan menyakiti hati kita dengan membalas perbuatan mereka “dengan setimpal menurut kita”?

Seperti kata Tuhan Yesus: “Bila kamu berbuat baik kepada sesamamu yang telah berbuat baik, apa kelebihanmu? Orang yang tidak mengenal Allah pun melakukan hal itu.” (Matius 5:43-48)

Pokok Diskusi:
Apa yang akan bapak dan ibu lakukan terhadap mereka yang mungkin hari ini telah menyakiti hati bapak dan ibu?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER