Roma 10:1-15 | Membeli Surga - Pdt. Gerry Atje
membeli surga
Ada cerita tentang seorang bapak yang meninggal dunia, kemudian disambut oleh seorang malaikat .. tepat di depan pintu gerbang menuju surga. “Tolong buka pintu gerbang surganya, saya ini orang baik.” kata bapak itu. Malaikat yang mendengar hal itu pun kemudian berkata, “Eitsss … tunggu dulu, kalau mau masuk surga, kamu butuh 1000 point sebagai tiket masuknya. Coba bapak sebutkan semua perbuatan baik yang sudah pernah kamu lakukan selama kamu hidup di dunia dan mari kita hitung nilainya ada berapa point total … dan kita lihat nanti apakah kamu layak masuk surga atau tidak.”

Kata bapak itu, “Baiklah … yang paling pertama saya ini adalah seorang suami dan ayah yang baik dan sayang sama anak istri saya.” Kata malaikat, “Oke, itu pointnya lima.” Si bapak kaget, “Apa??? Cuma 5 point? Pelit amat? … “Memang begitu cara penilaiannya mau bagaimana lagi?” sambut sang malaikat.

“Baiklah, saya selama sepanjang hidup ini gak pernah absen ibadah. Dapat berapa point untuk itu?” Tanya si bapak. “Untuk yang itu, nilai bapak bertambah tiga point.” Kata malaikat. “Waduh, dikit amat mas”.

Akhirnya si bapak pun menyebutkan semua perbuatan baik yang pernah dilakukannya di sepanjang kehidupannya itu … Sang malaikat pun menghitung, lalu berkata: “Untuk semua yang pernah bapak lakukan itu, total nilainya hanya 200 point saja …”

Lalu si bapak pun berkata: “Wah, kalau begini mah caranya saya gak akan bisa masuk surge tanpa anugerah dan belaskasihan dari Tuhan sendiri.”

Malaikat pun tersenyum dan berkata: “Betul itu. Anugerah dan belaskasih Tuhan lah point yang bernilai 1000 nya.”

Itu memang cuma cerita saja, tetapi bayangkan bila memang Tuhan memakai system penilaian seperti itu untuk kita bisa masuk ke dalam rumah-Nya di surga? Berapa total nilai kita untuk perbuatan baiknya … Ini pun kita belum berbicara tentang perbuatan kita yang buruk-buruknya itu.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, mirip sekali intinya seperti percakapan antara malaikat dan si bapak yang berpikir bahwa dengan perbuatannya itu dia bisa “membeli surga”. Hanya kurang satu saja dalam pembacaan cerita itu bila dibandingkan dengan pembacaan Alkitab kita hari ini, yaitu: satu tokoh lagi yang mendengar percakapan mereka dan gak ngerti apa-apa tentang itu.

Jadi pas kan ya:
Gambaran malaikat = Rasul Paulus, yang mau menyatakan bahwa “bukan perbuatan yang penting, melainkan anugerah”. Gambaran bapak = orang Yahudi, yang seperti tadi sudah dikatakan … berpikir bahwa dengan perbuatan mereka bisa membeli surga.

Dan terakhir, orang Yunani …


Mari kita melihat satu persatu gambaran dan kisah dari 3 tokoh dalam perikop kita hari ini.

(1) Tentang si bapak “Yahudi”

Ayat 1-3
Inti permasalah yang dihadapi oleh orang Yahudi, baik yang tetap menolak Yesus maupuan mereka yang pada akhirnya menjadi seorang yang percaya … ya ini dia: “mereka (dikatakan …) berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri (ayat 3)” dan “mereka giat mencari Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar (ayat 2).”

Ini berkaitan tentang Perjanjian yang Baru yang dilaksanakan oleh Allah melalui diri-Nya yang mewujud dalam rupa manusia: Yesus … darah perjanjian yang menebus dosa umat manusia yang percaya.

Makanya para rasul, bukan hanya Paulus ya, hamper selalu bentrok dengan orang Yahudi yang sudah menjadi seorang pengikut Kristus pada waktu itu karena mereka masih selalu beranggapan bahwa: “Semua orang Kristen itu harus menjadi seperti orang Yahudi dahulu sebelum bisa menerima ‘kunci surga – tiket masuk surga’ … sunat, haram – halal … dan lain-lain, dan lain-lain”.

Perjanjian Lama yang didasarkan kepada “mengerjakan hukum supaya memiliki hidup” (ayat 5) yang sejak jaman Yesus Kristus sudah digenapi-Nya melalui kurban darah kematian dan kebangkitan Kristus (ayat 6).

(2) Tentang Rasul Paulus

Kita bisa melihat bahwa dalam peristiwa Kristus, Allah telah menggenapi seluruh Hukum Taurat supaya semua orang yang percaya bisa selamat.

Hukum Taurat itu intinya ini:
a) Hukum tertulis yang harus dikerjakan untuk memiliki hidup. 100% harus dikerjakan, sebab bila tidak, maka itulah cacatnya seorang manusia yang tidak mentaati hukum.
b) Dan memang tidak pernah ada seorang manusia pun di dunia ini yang sanggup melakukan hal itu semua tanpa cacat cela. Semua manusia akhirnya cacat hukum di mata Tuhan.
c) Hasilnya adalah setiap orang otomatis tidak memiliki hidup yang sejati di mata Tuhan karena memiliki ‘cacat hukum’ itu.

Paulus selalu bilang: “Justru melalui Hukum Tauratlah kita mengenal dosa … ya karena tiga hal inti dari Hukum Taurat itu: Pelaksanaan 100% yang ternyata gagal dilaksanakan oleh semua manusia”.

Oleh sebab itulah dalam perikop kita hari ini dinyatakan dalam ayat 4: “Sebab Kristus adalah kegenapan Hukum Taurat …” Dalam bahasa aslinya, kata yang digunakan untuk menerjemahkan nya menjadi ‘kegenapan’ adalah kata Yunani: telos. Arti harafiah dari telos adalah tujuan, perwujudan dan penyempurnaan.

Jadi melalui peristiwa Kristuslah Hukum Taurat itu menjadi sempurna dan diwujudnyatakan kepada manusia untuk mengembalikan tujuan utama dari Hukum Taurat itu sendiri, yaitu: Hukum Kasih – Kasihi Tuhan – Kasihi sesamamu – seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.

(3) Tentang orang Yunani

Tinggallah satu kelompok yang hampir selalu diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran dan akhirnya menjadi kebingungan sendiri untuk menjadi seorang yang diselamatkan. Yahudi mengatakan untuk menjadi selamat, mereka (orang-orang Yunani) harus mengerjakan semua apa yang telah mereka (orang-orang Yahudi) kerjakan untuk Tuhan. Padahal iman Kristen kita tidak pernah mengatakan hal itu …

Ayat 9: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan."

Saya kira ini lah keunikan dari cara Allah menyatakan diri-Nya dalam Kristus yang tidak akan kita temukan dalam iman-iman yang lain.

Iman yang lain mengatakan bahwa untuk mencapai surga, manusia perlu “membelinya” dengan nilai perbuatan yang baik dan benar. Kalau gak baik dan benar? Ya point belinya menjadi berkurang. Sedangkan iman kita berkata bahwa Allah di dalam Kristus sudah membayat “ongkos masuk surga” itu sejak awal … bayar di muka (sejak peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus itu).

Tugas orang percaya tidak lagi dalam hal mengkuatirkan “tak kebagian tiket masuk surga” melainkan mempertahankan “tiket keselamatan” yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita secara gratis.

Tetapi mungkin ini yang menjadi godaan terbesar kita sebagai orang percaya:
karena itu (keselamatan) bukanlah hasil dari usaha perbuatan kita, melainkan anugerah yang diberikan secara cuma-cuma untuk kita, maka karena gratisan seringkali dipandang “murahan” (Seperti kata Dietrich Bonhoffer, Anugerah yang murahan). Menjadi anugerah yang murahan karena beberapa orang yang telah diberikan anugerah keselamatan itu secara cuma-cuma, menjadi tidak menghargai sepenuhnya apa yang telah diberikan Tuhan kepada mereka itu. Gratisan kan beda bila kita mendapatkan nya dengan perjuangan berat.

Tiket keselamatan yang dengan mudah dibuang ke tempat sampah untuk mengejar sesuatu di dunia ini: kedudukan, harta, masa depan … Kita yang baca renungan ini masih pada pegang tiket keselamatan itu kan ya?

Roma 10:1-15 | Membeli Surga

membeli surga
Ada cerita tentang seorang bapak yang meninggal dunia, kemudian disambut oleh seorang malaikat .. tepat di depan pintu gerbang menuju surga. “Tolong buka pintu gerbang surganya, saya ini orang baik.” kata bapak itu. Malaikat yang mendengar hal itu pun kemudian berkata, “Eitsss … tunggu dulu, kalau mau masuk surga, kamu butuh 1000 point sebagai tiket masuknya. Coba bapak sebutkan semua perbuatan baik yang sudah pernah kamu lakukan selama kamu hidup di dunia dan mari kita hitung nilainya ada berapa point total … dan kita lihat nanti apakah kamu layak masuk surga atau tidak.”

Kata bapak itu, “Baiklah … yang paling pertama saya ini adalah seorang suami dan ayah yang baik dan sayang sama anak istri saya.” Kata malaikat, “Oke, itu pointnya lima.” Si bapak kaget, “Apa??? Cuma 5 point? Pelit amat? … “Memang begitu cara penilaiannya mau bagaimana lagi?” sambut sang malaikat.

“Baiklah, saya selama sepanjang hidup ini gak pernah absen ibadah. Dapat berapa point untuk itu?” Tanya si bapak. “Untuk yang itu, nilai bapak bertambah tiga point.” Kata malaikat. “Waduh, dikit amat mas”.

Akhirnya si bapak pun menyebutkan semua perbuatan baik yang pernah dilakukannya di sepanjang kehidupannya itu … Sang malaikat pun menghitung, lalu berkata: “Untuk semua yang pernah bapak lakukan itu, total nilainya hanya 200 point saja …”

Lalu si bapak pun berkata: “Wah, kalau begini mah caranya saya gak akan bisa masuk surge tanpa anugerah dan belaskasihan dari Tuhan sendiri.”

Malaikat pun tersenyum dan berkata: “Betul itu. Anugerah dan belaskasih Tuhan lah point yang bernilai 1000 nya.”

Itu memang cuma cerita saja, tetapi bayangkan bila memang Tuhan memakai system penilaian seperti itu untuk kita bisa masuk ke dalam rumah-Nya di surga? Berapa total nilai kita untuk perbuatan baiknya … Ini pun kita belum berbicara tentang perbuatan kita yang buruk-buruknya itu.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, mirip sekali intinya seperti percakapan antara malaikat dan si bapak yang berpikir bahwa dengan perbuatannya itu dia bisa “membeli surga”. Hanya kurang satu saja dalam pembacaan cerita itu bila dibandingkan dengan pembacaan Alkitab kita hari ini, yaitu: satu tokoh lagi yang mendengar percakapan mereka dan gak ngerti apa-apa tentang itu.

Jadi pas kan ya:
Gambaran malaikat = Rasul Paulus, yang mau menyatakan bahwa “bukan perbuatan yang penting, melainkan anugerah”. Gambaran bapak = orang Yahudi, yang seperti tadi sudah dikatakan … berpikir bahwa dengan perbuatan mereka bisa membeli surga.

Dan terakhir, orang Yunani …


Mari kita melihat satu persatu gambaran dan kisah dari 3 tokoh dalam perikop kita hari ini.

(1) Tentang si bapak “Yahudi”

Ayat 1-3
Inti permasalah yang dihadapi oleh orang Yahudi, baik yang tetap menolak Yesus maupuan mereka yang pada akhirnya menjadi seorang yang percaya … ya ini dia: “mereka (dikatakan …) berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri (ayat 3)” dan “mereka giat mencari Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar (ayat 2).”

Ini berkaitan tentang Perjanjian yang Baru yang dilaksanakan oleh Allah melalui diri-Nya yang mewujud dalam rupa manusia: Yesus … darah perjanjian yang menebus dosa umat manusia yang percaya.

Makanya para rasul, bukan hanya Paulus ya, hamper selalu bentrok dengan orang Yahudi yang sudah menjadi seorang pengikut Kristus pada waktu itu karena mereka masih selalu beranggapan bahwa: “Semua orang Kristen itu harus menjadi seperti orang Yahudi dahulu sebelum bisa menerima ‘kunci surga – tiket masuk surga’ … sunat, haram – halal … dan lain-lain, dan lain-lain”.

Perjanjian Lama yang didasarkan kepada “mengerjakan hukum supaya memiliki hidup” (ayat 5) yang sejak jaman Yesus Kristus sudah digenapi-Nya melalui kurban darah kematian dan kebangkitan Kristus (ayat 6).

(2) Tentang Rasul Paulus

Kita bisa melihat bahwa dalam peristiwa Kristus, Allah telah menggenapi seluruh Hukum Taurat supaya semua orang yang percaya bisa selamat.

Hukum Taurat itu intinya ini:
a) Hukum tertulis yang harus dikerjakan untuk memiliki hidup. 100% harus dikerjakan, sebab bila tidak, maka itulah cacatnya seorang manusia yang tidak mentaati hukum.
b) Dan memang tidak pernah ada seorang manusia pun di dunia ini yang sanggup melakukan hal itu semua tanpa cacat cela. Semua manusia akhirnya cacat hukum di mata Tuhan.
c) Hasilnya adalah setiap orang otomatis tidak memiliki hidup yang sejati di mata Tuhan karena memiliki ‘cacat hukum’ itu.

Paulus selalu bilang: “Justru melalui Hukum Tauratlah kita mengenal dosa … ya karena tiga hal inti dari Hukum Taurat itu: Pelaksanaan 100% yang ternyata gagal dilaksanakan oleh semua manusia”.

Oleh sebab itulah dalam perikop kita hari ini dinyatakan dalam ayat 4: “Sebab Kristus adalah kegenapan Hukum Taurat …” Dalam bahasa aslinya, kata yang digunakan untuk menerjemahkan nya menjadi ‘kegenapan’ adalah kata Yunani: telos. Arti harafiah dari telos adalah tujuan, perwujudan dan penyempurnaan.

Jadi melalui peristiwa Kristuslah Hukum Taurat itu menjadi sempurna dan diwujudnyatakan kepada manusia untuk mengembalikan tujuan utama dari Hukum Taurat itu sendiri, yaitu: Hukum Kasih – Kasihi Tuhan – Kasihi sesamamu – seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.

(3) Tentang orang Yunani

Tinggallah satu kelompok yang hampir selalu diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran dan akhirnya menjadi kebingungan sendiri untuk menjadi seorang yang diselamatkan. Yahudi mengatakan untuk menjadi selamat, mereka (orang-orang Yunani) harus mengerjakan semua apa yang telah mereka (orang-orang Yahudi) kerjakan untuk Tuhan. Padahal iman Kristen kita tidak pernah mengatakan hal itu …

Ayat 9: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan."

Saya kira ini lah keunikan dari cara Allah menyatakan diri-Nya dalam Kristus yang tidak akan kita temukan dalam iman-iman yang lain.

Iman yang lain mengatakan bahwa untuk mencapai surga, manusia perlu “membelinya” dengan nilai perbuatan yang baik dan benar. Kalau gak baik dan benar? Ya point belinya menjadi berkurang. Sedangkan iman kita berkata bahwa Allah di dalam Kristus sudah membayat “ongkos masuk surga” itu sejak awal … bayar di muka (sejak peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus itu).

Tugas orang percaya tidak lagi dalam hal mengkuatirkan “tak kebagian tiket masuk surga” melainkan mempertahankan “tiket keselamatan” yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita secara gratis.

Tetapi mungkin ini yang menjadi godaan terbesar kita sebagai orang percaya:
karena itu (keselamatan) bukanlah hasil dari usaha perbuatan kita, melainkan anugerah yang diberikan secara cuma-cuma untuk kita, maka karena gratisan seringkali dipandang “murahan” (Seperti kata Dietrich Bonhoffer, Anugerah yang murahan). Menjadi anugerah yang murahan karena beberapa orang yang telah diberikan anugerah keselamatan itu secara cuma-cuma, menjadi tidak menghargai sepenuhnya apa yang telah diberikan Tuhan kepada mereka itu. Gratisan kan beda bila kita mendapatkan nya dengan perjuangan berat.

Tiket keselamatan yang dengan mudah dibuang ke tempat sampah untuk mengejar sesuatu di dunia ini: kedudukan, harta, masa depan … Kita yang baca renungan ini masih pada pegang tiket keselamatan itu kan ya?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email