Lukas 9:28-36 | Memandang Kemuliaan Yesus - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

memandang yesus
Pembukaan

Ada satu acara di TV baru-baru ini yang mengusung judul “Bos Sejati”. Ide dari acara reality show ini adalah mengundang seorang “bos” untuk menyamar menjadi “anak buah” dan menjadi sama dengan mereka dalam hal melakukan pekerjaan keseharian para anak buah / pegawai itu.

Entah kenapa sewaktu kali pertama mendengar ide reality show itu tayang di iklan tv, yang pertama muncul dalam benak saya adalah “Ini Kristen banget”.


Penjelasan dan Penerapan Bahan

Kekristenan berbicara tentang seorang Bos yang sedang datang ke dunia, bukan untuk menjadi Bos, melainkan untuk menjadi seorang hamba yang mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan Bos. Padahal Dia adalah Bos-nya sendiri. Bos Sejati.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini adalah kisah tentang Yesus yang berdoa dan kemudian dijumpai oleh Musa dan Elia di atas gunung … dan dikatakan di sana:
“Keduanya (Musa dan Elia) menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (ayat 31)

Apakah tujuan dan alasan Yesus pergi ke Yerusalem? Bagian Alkitab tepat sebelum perikop kita sudah mengatakan hal itu dengan jelas. Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”. (ayat 22)

Yang menarik adalah, ketika para murid yang dikatakan sempat tertidur lalu kemudian terbangun dan melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya itu dan disertai dengan kehadiran Musa dan Elia waktu itu, Petrus menyatakan dirinya begitu berbahagia berada di atas gunung itu (ayat 33).

“di bawah gunung” yang kita hadapi adalah kesumpekan dalam kehidupan nyata kita: Yesus berhadapan dengan para ahli Taurat dan pemuka agama Yahudi (yang pada akhirnya mendakwa-Nya hingga mati di kayu salib), sedangkan “di atas gunung” Yesus dimuliakan: “inilah Anak-Ku yang Ku pilih, dengarkanlah Dia.” (ayat 35).

Pengalaman berada “di atas gunung” ketika kita semua telah melihat kemuliaan Yesus yang sebenarnya dan mengenal siapa diri-Nya yang sesungguhnya … sama seperti yang dinyatakan oleh Petrus, seringkali membuat kita ingin lebih lama tinggal lagi “di atas gunung” dan mengecap kebaikan dan kebahagiaan dalam memandang kemuliaan-Nya itu.

Mengapa?  Karena sangat berbanding terbalik dengan keadaan “di bawah gunung” … Lihat saja dalam kelanjutan perikop kita, Yesus langsung berhadapan dengan “seorang anak yang diserang roh hingga dia sakit” (Lukas 9:39) dan kemudian oleh Yesus, anak itu disembuhkan (ayat 41).

Dan itulah kehidupan yang sebenarnya. Memandang kemuliaan Tuhan di balik semua kesumpekan – kepenatan dalam kehidupan kita hari ini. Apa yang kita perlukan sehingga kita selalu bisa melihat kemuliaan Yesus dalam setiap aspek kehidupan kita sekarang?

Hadapi kenyataan hari ini dan temukan kemuliaan Yesus dibalik semua yang terjadi dalam kehidupan kita hari ini.

Ketika Yesus benar-benar disalib dan mati, tepat seperti yang sudah diberitakan jauh sebelum peristiwa itu, masih banyak murid yang tidak mengerti akan kemuliaan dari peristiwa penyaliban dan kematian Yesus.

Jika dalam perikop kita hari ini para murid tertidur dalam artian sebenarnya sehingga hampir saja melewatkan peristiwa penting “Yesus dimuliakan di atas gunung” … Hampir saja sekali lagi mereka “tertidur” dan melewatkan kenyataan bahwa setelah mati, Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada mereka.

Apakah kesumpekan kehidupan kita hari ini telah membuat kita tertidur pula? Sehingga tiada kemuliaan-Nya itu tampak dalam kehidupan kita hari ini? (Semoga kita tidak melewatkan melihat bagian terbaik yang sedang Tuhan ingin bukakan, dengan "tertidur", dalam bagian kehidupan yang kita anggap buruk itu).

Lukas 9:28-36 | Memandang Kemuliaan Yesus

memandang yesus
Pembukaan

Ada satu acara di TV baru-baru ini yang mengusung judul “Bos Sejati”. Ide dari acara reality show ini adalah mengundang seorang “bos” untuk menyamar menjadi “anak buah” dan menjadi sama dengan mereka dalam hal melakukan pekerjaan keseharian para anak buah / pegawai itu.

Entah kenapa sewaktu kali pertama mendengar ide reality show itu tayang di iklan tv, yang pertama muncul dalam benak saya adalah “Ini Kristen banget”.


Penjelasan dan Penerapan Bahan

Kekristenan berbicara tentang seorang Bos yang sedang datang ke dunia, bukan untuk menjadi Bos, melainkan untuk menjadi seorang hamba yang mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan Bos. Padahal Dia adalah Bos-nya sendiri. Bos Sejati.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini adalah kisah tentang Yesus yang berdoa dan kemudian dijumpai oleh Musa dan Elia di atas gunung … dan dikatakan di sana:
“Keduanya (Musa dan Elia) menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (ayat 31)

Apakah tujuan dan alasan Yesus pergi ke Yerusalem? Bagian Alkitab tepat sebelum perikop kita sudah mengatakan hal itu dengan jelas. Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”. (ayat 22)

Yang menarik adalah, ketika para murid yang dikatakan sempat tertidur lalu kemudian terbangun dan melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya itu dan disertai dengan kehadiran Musa dan Elia waktu itu, Petrus menyatakan dirinya begitu berbahagia berada di atas gunung itu (ayat 33).

“di bawah gunung” yang kita hadapi adalah kesumpekan dalam kehidupan nyata kita: Yesus berhadapan dengan para ahli Taurat dan pemuka agama Yahudi (yang pada akhirnya mendakwa-Nya hingga mati di kayu salib), sedangkan “di atas gunung” Yesus dimuliakan: “inilah Anak-Ku yang Ku pilih, dengarkanlah Dia.” (ayat 35).

Pengalaman berada “di atas gunung” ketika kita semua telah melihat kemuliaan Yesus yang sebenarnya dan mengenal siapa diri-Nya yang sesungguhnya … sama seperti yang dinyatakan oleh Petrus, seringkali membuat kita ingin lebih lama tinggal lagi “di atas gunung” dan mengecap kebaikan dan kebahagiaan dalam memandang kemuliaan-Nya itu.

Mengapa?  Karena sangat berbanding terbalik dengan keadaan “di bawah gunung” … Lihat saja dalam kelanjutan perikop kita, Yesus langsung berhadapan dengan “seorang anak yang diserang roh hingga dia sakit” (Lukas 9:39) dan kemudian oleh Yesus, anak itu disembuhkan (ayat 41).

Dan itulah kehidupan yang sebenarnya. Memandang kemuliaan Tuhan di balik semua kesumpekan – kepenatan dalam kehidupan kita hari ini. Apa yang kita perlukan sehingga kita selalu bisa melihat kemuliaan Yesus dalam setiap aspek kehidupan kita sekarang?

Hadapi kenyataan hari ini dan temukan kemuliaan Yesus dibalik semua yang terjadi dalam kehidupan kita hari ini.

Ketika Yesus benar-benar disalib dan mati, tepat seperti yang sudah diberitakan jauh sebelum peristiwa itu, masih banyak murid yang tidak mengerti akan kemuliaan dari peristiwa penyaliban dan kematian Yesus.

Jika dalam perikop kita hari ini para murid tertidur dalam artian sebenarnya sehingga hampir saja melewatkan peristiwa penting “Yesus dimuliakan di atas gunung” … Hampir saja sekali lagi mereka “tertidur” dan melewatkan kenyataan bahwa setelah mati, Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada mereka.

Apakah kesumpekan kehidupan kita hari ini telah membuat kita tertidur pula? Sehingga tiada kemuliaan-Nya itu tampak dalam kehidupan kita hari ini? (Semoga kita tidak melewatkan melihat bagian terbaik yang sedang Tuhan ingin bukakan, dengan "tertidur", dalam bagian kehidupan yang kita anggap buruk itu).

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER