Lukas 7:1-10 | Bukan Hamba Biasa; Bukan Tuan Biasa; Bukan Tuhan Biasa - Pdt. Gerry Atje
Bukan Hamba Biasa; Bukan Tuan Biasa; Bukan Tuhan Biasa


Apa yang pertama kali terpikir oleh kita sewaktu kita membaca firman Tuhan dari perikop kita hari ini? Kalau saya yang ditanya, maka jawaban saya adalah: "Saya kagum" ... Ternyata masih ada ya figur-figur seperti yang diceritakan oleh Rasul Lukas dalam perikop kita hari ini. Dan itu kisah nyata, pernah terjadi waktu itu (Lihat saja bahwa perikop kita juga diceritakan oleh Rasul Matius dan Rasul Yohanes dalam perikop paralelnya).

Hari ini saya mau mengajak kita untuk melihat lebih dekat lagi tiga figur tokoh yang ada dalam perikop kita ... dan mereka layak untuk membuat kita semua kagum.

Figur Pertama dan Figur ke Dua adalah "Hamba" dan "Tuan" dalam perikop kita. Mereka itu bukan hamba biasa dan juga bukan tuan biasa.

Kita semua tahu bahwa hubungan antara hamba dengan tuan seringkali berujung tidak bahagia. Banyak yang punya kasus soalnya. Hamba yang mencuri duit tuannya, nyulik anak majikannya ... membalas air susu dengan air tuba. Atau sebaliknya ... Tuan yang menyiksa hambanya: dipukulin, di siram air keras, di setrika ... gaji yang tidak dibayar berbulan-bulan lamanya ... Tuan yang memperkosa hak-hak dari hambanya.

Akan tetapi tolong buat satu pengecualian untuk hamba dan tuan yang ada dalam kisah teks kita hari ini. Sekali lagi, mereka bukan hamba biasa dan juga bukan tuan biasa.

BUKAN HAMBA BIASA

Mari kita lihat data apa saja yang kita miliki tentang hamba dalam perikop kita hari ini:

(a) Hamba ini sedang sakit keras dan hampir mati (ayat 2). Dari keterangan yang disampaikan oleh Rasul Matius, maka kita bisa tahu sakit apa dia: sakit lumpuh dan membuatnya sangat menderita (Matius 8:6)
(b) Hamba ini bukanlah salah satu prajurit bawahan dari tuannya, yaitu sang Perwira. - Jadi kalau kita melihat secara strata sosial yang berlaku kala itu, jelas hamba itu berada di bawah prajurit - . 
(c) Jika kita sempat melihat bahasa aslinya, Yunani, maka kita akan menemukan bahwa Rasul Lukas menyebutkan kata hamba dalam teks kita hari ini dengan dua kata: pertama, kata doulos (ayat 2) yang arti harafiahnya adalah budak - pembantu, dan satu lagi kata Yunani pais (ayat 7), yang juga diterjemahkan oleh LAI menjadi kata hamba. Bedanya adalah dari kata pais ini, kita jadi tahu bahwa hamba yang dimaksud itu adalah seorang hamba yang masih berusia remaja - masih belum dewasa. - Itu artinya, seharusnya menurut budaya yang berlaku kala itu, hamba yang masih belum dewasa itu, sama sekali dipandang sebelah mata oleh masyarakat waktu itu (ingat saja sewaktu para murid Yesus 'mengusir' anak-anak yang mau datang kepada Yesus untuk mendengar-Nya, di usir kan mereka),
(d) Dunia sosial Romawi waktu itu, melegalkan jual - beli hamba di pasar. Dengan harga 600 dinar, maka kita bisa punya satu hamba yang bisa kita perlakukan dengan seenaknya di rumah (waktu itu, bila mau - udah kayak barang kan di jual beli). Enam ratus dinar setara dengan uang tabungan seorang buruh di zaman itu yang menabung setengah dari penghasilan hariannya selama 4 tahun. Tampak mahal memang, tapi bagi seorang petinggi Romawi seperti tuan Perwira kita dalam perikop hari ini, 600 dinar tentu bukan sesuatu yang mahal. 

Sudah ketemu kah dengan sesuatu yang seharusnya membuat kita kagum dengan hamba dalam perikop kita ini? Jika belum, mari kita lanjutkan data apa yang kita miliki tentang tuan nya:
BUKAN TUAN BIASA

(a) Dia seorang petinggi pemerintahan Romawi, berarti dia pasti bukan seorang Yahudi. Rasul Lukas menyebut dalam bahasa Yunani, pangkat dari perwira itu: hekatontarchos. Seorang hetakontarchos mengepalai 100 orang prajurit untuk menjaga keamanan wilayah jajahan Romawi di Israel. Plus sebagai pelindung bagi para pemungut cukai yang amat di benci oleh orang Yahudi waktu itu.
(b) Yang menarik adalah, pemungut cukainya memang dibenci oleh orang Yahudi, tetapi ternyata perwira ini sangat dikasihi oleh orang Yahudi, ayat 2-4 "dia layak ditolong karena dia memang baik".
(c) Dia sangat menghargai dan memerhatikan hambanya yang saat itu sedang sakit keras. Padahal kalau dia mau gak ribet, gampang ... diantepin aja (dibiarkan saja maksudnya) tuh hambanya yang sedang sakit itu sampai mati ... toh kalau mati satu itu pun cuma hamba yang punya harga pasar, dan bisa dibeli lagi hamba yang baru di pasar. Beres dan gak ribet.

Sampai di sini, kita dapat melihat istimewanya hamba dan tuan itu?

Istimewanya si hamba adalah ...
Bayangkan apa yang menjadi etos kerja dari si hamba itu sehingga dia sangat sangat dikasihi dan diperhatikan oleh tuannya? - Gak mungkin hamba itu adalah hamba yang suka bikin kasus - Jadi apa yang sudah dikerjakannya selama dia mengabdi kepada tuannya sehingga tuannya sangat amat memperjuangkan kehidupannya? Dia pekerja keras? Dia bekerja dengan sepenuh hati? Dia menonjol dibandingkan hamba-hamba tuannya yang lain? Sangat mungkin itu semua yang terjadi dalam keseharian pekerjaan yang dilakukan oleh hamba yang sedang sakit keras itu sekarang.

Istimewanya tuan perwira kita adalah ...
Yang pertama ya itu tadi, dia memperlakukan hambanya yang walau cuma seorang budak yang punya harga pasar, tetapi diperlakukan bak seorang VIP - very important person -. (Padahal, seperti yang sudah kita ulas tadi, dia bisa aja gak ambil pusing dengan sakit kerasnya hambanya itu ... cuekin aja sampai mati sekalian).

Yang ke dua adalah ayat 6-9 ...
Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!"

Istimewa karena iman itu keluar dari seorang bukan Yahudi yang amat memercayai kuasa Yesus. Hingga Yesus pun kagum: "Ada yah orang kayak gini" (ayat 9).

Selama kita hidup di dunia, mungkin banyak orang bisa memilah-milah "saya hamba dan dia bosnya" atau "saya cuma kuli di sini, dia yang bayar saya ada di sini" ...

Apa pun yang kita kerjakan hari ini di dunai yang memilah-milah "tuan dan hamba" itu ... pastikanlah bahwa saya adalah hamba yang persis sama seperti hamba yang ada dalam perikop kita hari ini. "Seorang hamba yang amat dikasihi oleh tuannya, karena kita bekerja dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati kita" ... Jika kita diberikan kesempatan oleh Tuhan menjadi apa yang disebut oleh dunia, 'seorang tuan', maka pastikanlah bahwa ada jiwa dari tuan perwira Romawi dalam perikop kita hari ini di kehidupan kita: "Seorang 'tuan - bos' yang mengasihi dengan sepenuh hati dan memperjuangkan hak-hak hidup 'hamba-hamba'nya"

Abraham Lincoln, presiden Amerika yang memperjuangkan hak-hak hidup orang Amerika kulit hitam waktu itu, ketika Lincoln mati, semua orang kulit hitam menangisi kepergian tuannya itu. Banyak orang Amerika yang bilang kepada anak-anak mereka waktu itu: "Nak, perhatikan benar wajah orang itu, sebab dialah yang telah memperjuangkan kamu hidup".

BUKAN TUHAN BIASA

Lain kata dunia, lain juga menurut pandangan Tuhan bagi kehidupan kita. Bersyukurlah karena kita memiliki dan mengenal Tuhan yang tidak memandang kita itu sebagai "cuma budak - hamba" ... melainkan:

Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. (Yohanes 15:15)

Tuhan sebagai sahabat bagi kita. Bukan cuma sekedar Bos kita, Tuhan itu sahabat kita. Dia memposisikan diri sebagai seorang sahabat agar kita tidak sungkan untuk datang dan mendekat pada-Nya. 

Lihat saja kenyataan bahwa tuan perwira kita dalam perikop itu sangat sungkan bertemu dengan Yesus, karena dia memandang dirinya itu tidak layak untuk bertemu dengan Yesus: ""Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh."

Kabar baiknya bagi kita hari ini adalah ... bayangkan, bagi mereka yang merasa tidak layak saja Tuhan berkenan menolong mereka. ... Apalagi kita yang dipandangnya Bukan sebagai Hamba biasa, melainkan seorang sahabat ... Masak iya Tuhan enggan untuk menolong kehidupan kita sekarang.

Lukas 7:1-10 | Bukan Hamba Biasa; Bukan Tuan Biasa; Bukan Tuhan Biasa

Bukan Hamba Biasa; Bukan Tuan Biasa; Bukan Tuhan Biasa


Apa yang pertama kali terpikir oleh kita sewaktu kita membaca firman Tuhan dari perikop kita hari ini? Kalau saya yang ditanya, maka jawaban saya adalah: "Saya kagum" ... Ternyata masih ada ya figur-figur seperti yang diceritakan oleh Rasul Lukas dalam perikop kita hari ini. Dan itu kisah nyata, pernah terjadi waktu itu (Lihat saja bahwa perikop kita juga diceritakan oleh Rasul Matius dan Rasul Yohanes dalam perikop paralelnya).

Hari ini saya mau mengajak kita untuk melihat lebih dekat lagi tiga figur tokoh yang ada dalam perikop kita ... dan mereka layak untuk membuat kita semua kagum.

Figur Pertama dan Figur ke Dua adalah "Hamba" dan "Tuan" dalam perikop kita. Mereka itu bukan hamba biasa dan juga bukan tuan biasa.

Kita semua tahu bahwa hubungan antara hamba dengan tuan seringkali berujung tidak bahagia. Banyak yang punya kasus soalnya. Hamba yang mencuri duit tuannya, nyulik anak majikannya ... membalas air susu dengan air tuba. Atau sebaliknya ... Tuan yang menyiksa hambanya: dipukulin, di siram air keras, di setrika ... gaji yang tidak dibayar berbulan-bulan lamanya ... Tuan yang memperkosa hak-hak dari hambanya.

Akan tetapi tolong buat satu pengecualian untuk hamba dan tuan yang ada dalam kisah teks kita hari ini. Sekali lagi, mereka bukan hamba biasa dan juga bukan tuan biasa.

BUKAN HAMBA BIASA

Mari kita lihat data apa saja yang kita miliki tentang hamba dalam perikop kita hari ini:

(a) Hamba ini sedang sakit keras dan hampir mati (ayat 2). Dari keterangan yang disampaikan oleh Rasul Matius, maka kita bisa tahu sakit apa dia: sakit lumpuh dan membuatnya sangat menderita (Matius 8:6)
(b) Hamba ini bukanlah salah satu prajurit bawahan dari tuannya, yaitu sang Perwira. - Jadi kalau kita melihat secara strata sosial yang berlaku kala itu, jelas hamba itu berada di bawah prajurit - . 
(c) Jika kita sempat melihat bahasa aslinya, Yunani, maka kita akan menemukan bahwa Rasul Lukas menyebutkan kata hamba dalam teks kita hari ini dengan dua kata: pertama, kata doulos (ayat 2) yang arti harafiahnya adalah budak - pembantu, dan satu lagi kata Yunani pais (ayat 7), yang juga diterjemahkan oleh LAI menjadi kata hamba. Bedanya adalah dari kata pais ini, kita jadi tahu bahwa hamba yang dimaksud itu adalah seorang hamba yang masih berusia remaja - masih belum dewasa. - Itu artinya, seharusnya menurut budaya yang berlaku kala itu, hamba yang masih belum dewasa itu, sama sekali dipandang sebelah mata oleh masyarakat waktu itu (ingat saja sewaktu para murid Yesus 'mengusir' anak-anak yang mau datang kepada Yesus untuk mendengar-Nya, di usir kan mereka),
(d) Dunia sosial Romawi waktu itu, melegalkan jual - beli hamba di pasar. Dengan harga 600 dinar, maka kita bisa punya satu hamba yang bisa kita perlakukan dengan seenaknya di rumah (waktu itu, bila mau - udah kayak barang kan di jual beli). Enam ratus dinar setara dengan uang tabungan seorang buruh di zaman itu yang menabung setengah dari penghasilan hariannya selama 4 tahun. Tampak mahal memang, tapi bagi seorang petinggi Romawi seperti tuan Perwira kita dalam perikop hari ini, 600 dinar tentu bukan sesuatu yang mahal. 

Sudah ketemu kah dengan sesuatu yang seharusnya membuat kita kagum dengan hamba dalam perikop kita ini? Jika belum, mari kita lanjutkan data apa yang kita miliki tentang tuan nya:
BUKAN TUAN BIASA

(a) Dia seorang petinggi pemerintahan Romawi, berarti dia pasti bukan seorang Yahudi. Rasul Lukas menyebut dalam bahasa Yunani, pangkat dari perwira itu: hekatontarchos. Seorang hetakontarchos mengepalai 100 orang prajurit untuk menjaga keamanan wilayah jajahan Romawi di Israel. Plus sebagai pelindung bagi para pemungut cukai yang amat di benci oleh orang Yahudi waktu itu.
(b) Yang menarik adalah, pemungut cukainya memang dibenci oleh orang Yahudi, tetapi ternyata perwira ini sangat dikasihi oleh orang Yahudi, ayat 2-4 "dia layak ditolong karena dia memang baik".
(c) Dia sangat menghargai dan memerhatikan hambanya yang saat itu sedang sakit keras. Padahal kalau dia mau gak ribet, gampang ... diantepin aja (dibiarkan saja maksudnya) tuh hambanya yang sedang sakit itu sampai mati ... toh kalau mati satu itu pun cuma hamba yang punya harga pasar, dan bisa dibeli lagi hamba yang baru di pasar. Beres dan gak ribet.

Sampai di sini, kita dapat melihat istimewanya hamba dan tuan itu?

Istimewanya si hamba adalah ...
Bayangkan apa yang menjadi etos kerja dari si hamba itu sehingga dia sangat sangat dikasihi dan diperhatikan oleh tuannya? - Gak mungkin hamba itu adalah hamba yang suka bikin kasus - Jadi apa yang sudah dikerjakannya selama dia mengabdi kepada tuannya sehingga tuannya sangat amat memperjuangkan kehidupannya? Dia pekerja keras? Dia bekerja dengan sepenuh hati? Dia menonjol dibandingkan hamba-hamba tuannya yang lain? Sangat mungkin itu semua yang terjadi dalam keseharian pekerjaan yang dilakukan oleh hamba yang sedang sakit keras itu sekarang.

Istimewanya tuan perwira kita adalah ...
Yang pertama ya itu tadi, dia memperlakukan hambanya yang walau cuma seorang budak yang punya harga pasar, tetapi diperlakukan bak seorang VIP - very important person -. (Padahal, seperti yang sudah kita ulas tadi, dia bisa aja gak ambil pusing dengan sakit kerasnya hambanya itu ... cuekin aja sampai mati sekalian).

Yang ke dua adalah ayat 6-9 ...
Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!"

Istimewa karena iman itu keluar dari seorang bukan Yahudi yang amat memercayai kuasa Yesus. Hingga Yesus pun kagum: "Ada yah orang kayak gini" (ayat 9).

Selama kita hidup di dunia, mungkin banyak orang bisa memilah-milah "saya hamba dan dia bosnya" atau "saya cuma kuli di sini, dia yang bayar saya ada di sini" ...

Apa pun yang kita kerjakan hari ini di dunai yang memilah-milah "tuan dan hamba" itu ... pastikanlah bahwa saya adalah hamba yang persis sama seperti hamba yang ada dalam perikop kita hari ini. "Seorang hamba yang amat dikasihi oleh tuannya, karena kita bekerja dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati kita" ... Jika kita diberikan kesempatan oleh Tuhan menjadi apa yang disebut oleh dunia, 'seorang tuan', maka pastikanlah bahwa ada jiwa dari tuan perwira Romawi dalam perikop kita hari ini di kehidupan kita: "Seorang 'tuan - bos' yang mengasihi dengan sepenuh hati dan memperjuangkan hak-hak hidup 'hamba-hamba'nya"

Abraham Lincoln, presiden Amerika yang memperjuangkan hak-hak hidup orang Amerika kulit hitam waktu itu, ketika Lincoln mati, semua orang kulit hitam menangisi kepergian tuannya itu. Banyak orang Amerika yang bilang kepada anak-anak mereka waktu itu: "Nak, perhatikan benar wajah orang itu, sebab dialah yang telah memperjuangkan kamu hidup".

BUKAN TUHAN BIASA

Lain kata dunia, lain juga menurut pandangan Tuhan bagi kehidupan kita. Bersyukurlah karena kita memiliki dan mengenal Tuhan yang tidak memandang kita itu sebagai "cuma budak - hamba" ... melainkan:

Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. (Yohanes 15:15)

Tuhan sebagai sahabat bagi kita. Bukan cuma sekedar Bos kita, Tuhan itu sahabat kita. Dia memposisikan diri sebagai seorang sahabat agar kita tidak sungkan untuk datang dan mendekat pada-Nya. 

Lihat saja kenyataan bahwa tuan perwira kita dalam perikop itu sangat sungkan bertemu dengan Yesus, karena dia memandang dirinya itu tidak layak untuk bertemu dengan Yesus: ""Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh."

Kabar baiknya bagi kita hari ini adalah ... bayangkan, bagi mereka yang merasa tidak layak saja Tuhan berkenan menolong mereka. ... Apalagi kita yang dipandangnya Bukan sebagai Hamba biasa, melainkan seorang sahabat ... Masak iya Tuhan enggan untuk menolong kehidupan kita sekarang.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL