Keluaran 13:17-22 | Jalan Terbaik untuk Menjadi - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

jalan memutar
PEMBUKAAN

JALAN TERBAIK UNTUK MENJADI — Di Jakarta, masuk jalan tol dengan harapan akan melenggang tanpa menemui hambatan sebuah kemacetan, tidak jarang berujung pada satu kekecewaan. Sebab hari ini, bahkan jalan yang katanya “bebas hambatan” itu pun ternyata macet juga. Tanyakan saja pada mereka yang tinggal di kota-kota pinggir Jakarta yang pagi-pagi berangkat kerja menuju Jakarta … di tol pun sekarang macet. (Saya orang Bekasi yang berkuliah di Jakarta waktu itu … dan perbedaan menit berangkat kuliah di pagi hari bisa membuat perbedaan ‘jam macet’ waktu itu)

Hari ini memang jalan terbaik untuk menjadi ‘cepat sampai’ di tempat tujuan, entah itu tempat kuliah atau pun tempat bekerja, ke Jakarta … Jalan tol? Kadang tidak menjamin kita lebih cepat sampai ketimbang kita menggunakan ‘jalan biasa’.

PENJELASAN DAN PENERAPAN BAHAN

Tahukah kita bahwa dalam pembacaan Alkitab kita hari ini pun Tuhan tidak memilih “jalan tol” dari Mesir ke Kanaan bagi orang bangsa Israel waktu itu?

Menurut data yang saya temukan, jarak jalan antara Mesir dan tanah Kanaan seharusnya tidaklah sampai harus menempuh 40 tahun perjalanan jauhnya. Sebenarnya ada “jalan tol” yang hanya menempuh waktu perjalanan sebanyak 11 hari.

Bandingkan saja, jarak tempuh yang seharusnya bisa dicapai dalam jangka waktu 11 hari, dulu Israel menempuhnya dengan “jalan memutar” yang menempuh 40 tahun perjalanan sebelum tiba di tanah perjanjian: Kanaan.

"Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir. Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir." (Keluaran 13:17-18)

Apa alasan Tuhan tidak menuntun mereka masuk melalui jalan tol yang lebih cepat sampai tujuan? Macet! Bukan kemacetan di jalan, tetapi kemacetan rohani yang membuat orang Israel tidak mengalami sejarah pertumbuhan kebersamaan perjalanan bersama Tuhan: “jangan-jangan bangsa itu menyesal apabila mereka menghadapi peperangan dan kembali ke Mesir …”

Masuk jalan tol yang sebelas hari itu bagi Israel berarti berhadapan dengan satu bangsa, Filistin, yang sudah mahir sangat dalam berperang … Israel jelas kalah kelas dalam segala hal bila dibandingkan dengan bangsa Filistin waktu itu.

Itulah sebabnya Allah menuntun mereka untuk masuk melalui bukan sekedar ‘jalan biasa’ melainkan masuk “jalan memutar” untuk bisa sampai ke tujuan: Tanah Kanaan.

Allah mempersiapkan Israel dalam banyak hal di tengah “jalan memutar” itu sebelum mereka akhirnya sampai di tempat tujuan yang sebenarnya.

Jalan terbaik untuk menjadi tiba di tempat tujuan memang seringkali bukanlah melalui jalan tol yang katanya lebih cepat itu. Jalan terbaik untuk menjadi tiba ditempat tujuan pun bukan di ukur dari jalan memutar yang harus ditempuh … melainkan kepada ayat 21-22 …

Jalan terbaik untuk menjadi, adalah ketika kita tahu bahwa di dalam setiap jarak tempuh perjalanan kita untuk sampai di tujuan kita … Allah terus menyertai kehidupan kita.

Jika Allah selalu menyertai kehidupan kita untuk bisa sampai kepada tujuan kehidupan sebenar kita, cepat atau lambat … kita akan sampai disana dan berterima kasih kepada-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengalami asam manisnya langkah perjalanan kehidupan ini sebelum tiba di tempat tujuan kita.

Pokok Diskusi
1. Jalan memutar seperti apa yang pernah Anda alami dalam kehidupan bersama dengan Tuhan hingga hari ini?
2. Apa yang perlu kita lakukan agar kita betul-betul sampai pada tujuan ketika kita berhadapan dengan “jalan memutar”?

Keluaran 13:17-22 | Jalan Terbaik untuk Menjadi

jalan memutar
PEMBUKAAN

JALAN TERBAIK UNTUK MENJADI — Di Jakarta, masuk jalan tol dengan harapan akan melenggang tanpa menemui hambatan sebuah kemacetan, tidak jarang berujung pada satu kekecewaan. Sebab hari ini, bahkan jalan yang katanya “bebas hambatan” itu pun ternyata macet juga. Tanyakan saja pada mereka yang tinggal di kota-kota pinggir Jakarta yang pagi-pagi berangkat kerja menuju Jakarta … di tol pun sekarang macet. (Saya orang Bekasi yang berkuliah di Jakarta waktu itu … dan perbedaan menit berangkat kuliah di pagi hari bisa membuat perbedaan ‘jam macet’ waktu itu)

Hari ini memang jalan terbaik untuk menjadi ‘cepat sampai’ di tempat tujuan, entah itu tempat kuliah atau pun tempat bekerja, ke Jakarta … Jalan tol? Kadang tidak menjamin kita lebih cepat sampai ketimbang kita menggunakan ‘jalan biasa’.

PENJELASAN DAN PENERAPAN BAHAN

Tahukah kita bahwa dalam pembacaan Alkitab kita hari ini pun Tuhan tidak memilih “jalan tol” dari Mesir ke Kanaan bagi orang bangsa Israel waktu itu?

Menurut data yang saya temukan, jarak jalan antara Mesir dan tanah Kanaan seharusnya tidaklah sampai harus menempuh 40 tahun perjalanan jauhnya. Sebenarnya ada “jalan tol” yang hanya menempuh waktu perjalanan sebanyak 11 hari.

Bandingkan saja, jarak tempuh yang seharusnya bisa dicapai dalam jangka waktu 11 hari, dulu Israel menempuhnya dengan “jalan memutar” yang menempuh 40 tahun perjalanan sebelum tiba di tanah perjanjian: Kanaan.

"Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir. Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir." (Keluaran 13:17-18)

Apa alasan Tuhan tidak menuntun mereka masuk melalui jalan tol yang lebih cepat sampai tujuan? Macet! Bukan kemacetan di jalan, tetapi kemacetan rohani yang membuat orang Israel tidak mengalami sejarah pertumbuhan kebersamaan perjalanan bersama Tuhan: “jangan-jangan bangsa itu menyesal apabila mereka menghadapi peperangan dan kembali ke Mesir …”

Masuk jalan tol yang sebelas hari itu bagi Israel berarti berhadapan dengan satu bangsa, Filistin, yang sudah mahir sangat dalam berperang … Israel jelas kalah kelas dalam segala hal bila dibandingkan dengan bangsa Filistin waktu itu.

Itulah sebabnya Allah menuntun mereka untuk masuk melalui bukan sekedar ‘jalan biasa’ melainkan masuk “jalan memutar” untuk bisa sampai ke tujuan: Tanah Kanaan.

Allah mempersiapkan Israel dalam banyak hal di tengah “jalan memutar” itu sebelum mereka akhirnya sampai di tempat tujuan yang sebenarnya.

Jalan terbaik untuk menjadi tiba di tempat tujuan memang seringkali bukanlah melalui jalan tol yang katanya lebih cepat itu. Jalan terbaik untuk menjadi tiba ditempat tujuan pun bukan di ukur dari jalan memutar yang harus ditempuh … melainkan kepada ayat 21-22 …

Jalan terbaik untuk menjadi, adalah ketika kita tahu bahwa di dalam setiap jarak tempuh perjalanan kita untuk sampai di tujuan kita … Allah terus menyertai kehidupan kita.

Jika Allah selalu menyertai kehidupan kita untuk bisa sampai kepada tujuan kehidupan sebenar kita, cepat atau lambat … kita akan sampai disana dan berterima kasih kepada-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengalami asam manisnya langkah perjalanan kehidupan ini sebelum tiba di tempat tujuan kita.

Pokok Diskusi
1. Jalan memutar seperti apa yang pernah Anda alami dalam kehidupan bersama dengan Tuhan hingga hari ini?
2. Apa yang perlu kita lakukan agar kita betul-betul sampai pada tujuan ketika kita berhadapan dengan “jalan memutar”?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER