Filipi 3:17 - 4:1 | Model - Pdt. Gerry Atje
model teladan
Model
Filipi 3:17 - 4:1

Pembukaan

Seorang ibu membawa anaknya mendatangi Mahatma Gandhi. Ibu ini bercerita bahwa anaknya suka sekali makan permen. Untuk itu, dia minta bantuan Bapak bangsa India ini supaya menasihati anak ini agar menghentikan kebiasaannya yang buruk itu. “Tunggulah dua minggu lagi. Datanglah ke sini lagi sambil membawa anak ibu," pinta Gandhi.

Ibu ini heran, mengapa harus menunggu dua minggu lagi. Bukankah Gandhi bias saja langsung memberi nasihat? Meski heran, ibu ini menuruti saja.

Dua minggu kemudian, ibu dan anaknya datang. Gandhi langsung menasihati anak itu. Sang ibu mengucapkan terimakasih. Sebelum pamit, ibu itu masih penasaran mengapa dia harus menunggu dua minggu. "Selama dua minggu ini, saya berusaha menghilangkan kebiasaan buruk saya. Soalnya, saya juga gemar makan permen," jawab Gandhi.

Penjelasan dan Penerapan Bahan

Menjadi teladan itu memang susah ya …
(bandingkan saja dengan kisah Gandhi yang berjuang untuk bisa menjadi seorang teladan: “Jangan makan permen ya, tetapi sendirinya malah makan permen juga …”)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘teladan’ artinya: sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (perbuatan, kelakuan, sifat, dsb).

Persoalan yang dihadapi oleh jemaat di Filipi waktu itu cukup pelik. Ada banyak orang di masa itu yang dikatakan sebagai seteru Salib Kristus di hadapi oleh jemaat di Filipi.

Ayat 18-19
Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.
Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi

Siapakah mereka yang dikatakan sebagai “seteru salib” itu? Pada awal mulanya, mereka pastilah bukan orang percaya, tetapi apa yang dilakukan oleh mereka ‘si seteru salib’ itu kemudian berdampak pada kehidupan jemaat yang akhirnya mengikuti “teladan buruk” yang diberikan oleh ‘seteru salib’ itu.

Model. Kita semua membutuhkan model sebagai anutan dalam kehidupan kita. Bahasa acara talent show-nya mah, kita butuh “idola / idol” yang bisa menginspirasi kehidupan kita.

Banyak ahli psikologi perkembangan mengatakan begini,
“untuk hidup sukses, carilah beberapa orang yang bisa kita jadikan model bagi hidup kita … dan kemudian ikutilah langkah-langkah kehidupan mereka untuk mencapai sukses”.

Tetapi apa jadinya bila kita menjadikan model / idola dalam kehidupan kita itu adalah yang seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam ayat 18-19 tadi? Bencana.

Itu yang Paulus cegah terjadi dalam kehidupan jemaat di Filipi: mengikuti teladan / model yang salah, yang menuju pada kebinasaan mereka sendiri.

Dalam kehidupan keseharian kita, jangan dilupakan juga bahwa kita sendirilah yang menjadi model itu … Bila kita sudah menjadi orang tua, maka kehidupan kita akan menjadi model yang paling pertama di lihat oleh anak-anak kita. Benarkan ya. (atau ada yang mau kasih contoh yang lainnya? Silahkan … )

Apakah kita sudah memberikan model yang baik seturut dengan firman Tuhan bagi orang-orang yang ada di sekitar kehidupan kita?

Pokok Diskusi
Apa yang perlu kita lakukan agar hidup kita ini bisa menjadi model yang baik bagi orang yang ada di sekitar kita? 

Filipi 3:17 - 4:1 | Model

model teladan
Model
Filipi 3:17 - 4:1

Pembukaan

Seorang ibu membawa anaknya mendatangi Mahatma Gandhi. Ibu ini bercerita bahwa anaknya suka sekali makan permen. Untuk itu, dia minta bantuan Bapak bangsa India ini supaya menasihati anak ini agar menghentikan kebiasaannya yang buruk itu. “Tunggulah dua minggu lagi. Datanglah ke sini lagi sambil membawa anak ibu," pinta Gandhi.

Ibu ini heran, mengapa harus menunggu dua minggu lagi. Bukankah Gandhi bias saja langsung memberi nasihat? Meski heran, ibu ini menuruti saja.

Dua minggu kemudian, ibu dan anaknya datang. Gandhi langsung menasihati anak itu. Sang ibu mengucapkan terimakasih. Sebelum pamit, ibu itu masih penasaran mengapa dia harus menunggu dua minggu. "Selama dua minggu ini, saya berusaha menghilangkan kebiasaan buruk saya. Soalnya, saya juga gemar makan permen," jawab Gandhi.

Penjelasan dan Penerapan Bahan

Menjadi teladan itu memang susah ya …
(bandingkan saja dengan kisah Gandhi yang berjuang untuk bisa menjadi seorang teladan: “Jangan makan permen ya, tetapi sendirinya malah makan permen juga …”)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘teladan’ artinya: sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (perbuatan, kelakuan, sifat, dsb).

Persoalan yang dihadapi oleh jemaat di Filipi waktu itu cukup pelik. Ada banyak orang di masa itu yang dikatakan sebagai seteru Salib Kristus di hadapi oleh jemaat di Filipi.

Ayat 18-19
Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.
Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi

Siapakah mereka yang dikatakan sebagai “seteru salib” itu? Pada awal mulanya, mereka pastilah bukan orang percaya, tetapi apa yang dilakukan oleh mereka ‘si seteru salib’ itu kemudian berdampak pada kehidupan jemaat yang akhirnya mengikuti “teladan buruk” yang diberikan oleh ‘seteru salib’ itu.

Model. Kita semua membutuhkan model sebagai anutan dalam kehidupan kita. Bahasa acara talent show-nya mah, kita butuh “idola / idol” yang bisa menginspirasi kehidupan kita.

Banyak ahli psikologi perkembangan mengatakan begini,
“untuk hidup sukses, carilah beberapa orang yang bisa kita jadikan model bagi hidup kita … dan kemudian ikutilah langkah-langkah kehidupan mereka untuk mencapai sukses”.

Tetapi apa jadinya bila kita menjadikan model / idola dalam kehidupan kita itu adalah yang seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam ayat 18-19 tadi? Bencana.

Itu yang Paulus cegah terjadi dalam kehidupan jemaat di Filipi: mengikuti teladan / model yang salah, yang menuju pada kebinasaan mereka sendiri.

Dalam kehidupan keseharian kita, jangan dilupakan juga bahwa kita sendirilah yang menjadi model itu … Bila kita sudah menjadi orang tua, maka kehidupan kita akan menjadi model yang paling pertama di lihat oleh anak-anak kita. Benarkan ya. (atau ada yang mau kasih contoh yang lainnya? Silahkan … )

Apakah kita sudah memberikan model yang baik seturut dengan firman Tuhan bagi orang-orang yang ada di sekitar kehidupan kita?

Pokok Diskusi
Apa yang perlu kita lakukan agar hidup kita ini bisa menjadi model yang baik bagi orang yang ada di sekitar kita? 

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL