Mazmur 126:1-6 | Sengsara Membawa Nikmat - Pdt. Gerry Atje
Sengsara Membawa Nikmat
Mazmur 126:1-6

Pembukaan

Banjir di Jakarta bisa hilang? Mustahil!
Dari tahun ke tahun rasanya kita yang hidup di Jakarta sudah bosan dengan kesengsaraan yang diakibatkan oleh banjir. Tak perlu tunggu lama, setengah jam saja hujan deras turun tak berhenti, maka air naik dan menggenangi lingkungan sekitar kita. Tengok saja peristiwa kemarin, itu bukan kali pertamanya kita kebanjiran.

Akan tetapi toh kita tak boleh juga menutup kemungkinan bahwa suatu hari nanti kita di Jakarta bisa hidup bebas dari banjir.  [Katanya, DKI di bawah pimpinan Jokowi saat ini juga sudah memikirkan langkah-langkah mengantisipasi banjir di kemudian hari: Mulai dari pengerukan sungai dangkal, pembuatan sumur resapan dan setu, pembuatan tanggul dan waduk serta pembuatan terowongan air raksasa atau deep tunel. Ide hebat. Semoga itu bukan sekedar ide dalam tataran wacana tanpa aksi.]

Penjelasan & Penerapan Bahan

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kisah kesengsaraan yang dialami oleh bangsa Israel, ketika dibuang ke negeri asing, berakhir.  Mereka yang pastinya hidup menderita di tanah pembuangan, sekarang boleh pulang ke rumah mereka sendiri di Tanah Perjanjian.  Kata mereka: “Ini seperti orang yang sedang bermimpi” (ayat 1). Ibaratnya orang Jakarta yang saban harinya melihat banjir bila hujan deras turun, sekarang banjir itu hilang. Kata mereka lagi: “ .. kita tertawa .. bersorak-sorai .. bersukacita .. karena Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita” (ayat 2-3).

Akan tetapi, ayat 4 menjelaskan bahwa ketika mereka berjalan pulang hingga sampai di Tanah Perjanjian itu, mereka sekarang berjumpa dengan ‘kesengsaraan yang lain lagi’. Perjalanan pulang ke Israel dari Babel waktu itu sungguh tidak mudah (ini pernah kita bahas beberapa minggu yang lalu). Dan sesampainya di ‘rumah’, apa yang mereka lihat? Kondisi ‘rumah’ yang sudah hancur berantakan.
Dan itulah arti sesungguhnya dari kehidupan kita: Berjalan melewati kesengsaraan demi kesengsaraan sambil terus berseru dan berjuang: “memulihkan keadaan: Tuhan pulihkanlah keadaan kami”.

Ayat 5-6 merupakan kunci bagi kita untuk terus menemukan nikmatnya sebuah kesengsaraan yang kita hadapi hari ini. Kata orang mah “ada hikmahnya lah di balik semua penderitaan kita hari ini”. Beberapa prinsip yang bisa kita gunakan untuk mengaminkan tema kita hari ini, “sengsara yang membawa nikmat” adalah …

(1)    Prinsip tetap menabur (ayat 5).

Tahun yang lalu saya pernah bertemu dengan para petani di Teluk Lada yang mengalami kehancuran karena benih yang mereka tabur di sawah, tersapu bersih oleh banjir yang melanda waktu itu. Mereka jelas bersedih, bermuka muram waktu itu … Tetapi saya tahu pasti bahwa satu peristiwa pahit itu tidak akan membuat mereka berhenti menaburkan benih di kemudian hari. Mari kita diskusikan, dalam menghadapi kesengsaraan kehidupan kita hari ini, apa saja yang perlu kita tetap tabur? Saran: Tetaplah menaburkan benih-benih pengharapan (Buanglah hama-hama kemustahilan).

(2)    Prinsip tetap berjalan maju (ayat 6).

Tak ada untungnya kita menengok ke belakang bila yang kita dapati hanyalah terus menyesali diri. Tetap berjalan maju sambil melakukan sesuatu untuk memulihkan kondisi kehidupan kita, walaupun hari ini kita menjalaninya dengan menangis. Suatu hari nanti, cepat atau lambat, bila kita tetap berjalan maju, tidak diam di tempat saja, maka kita “pasti pulang sambil membawa berkas-berkasnya”. Itulah kenikmatan di balik kesengsaraan yang kita tangisi hari ini.

Pokok Diskusi:
Hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan supaya kesengsaraan hari ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang?

Mazmur 126:1-6 | Sengsara Membawa Nikmat

Sengsara Membawa Nikmat
Mazmur 126:1-6

Pembukaan

Banjir di Jakarta bisa hilang? Mustahil!
Dari tahun ke tahun rasanya kita yang hidup di Jakarta sudah bosan dengan kesengsaraan yang diakibatkan oleh banjir. Tak perlu tunggu lama, setengah jam saja hujan deras turun tak berhenti, maka air naik dan menggenangi lingkungan sekitar kita. Tengok saja peristiwa kemarin, itu bukan kali pertamanya kita kebanjiran.

Akan tetapi toh kita tak boleh juga menutup kemungkinan bahwa suatu hari nanti kita di Jakarta bisa hidup bebas dari banjir.  [Katanya, DKI di bawah pimpinan Jokowi saat ini juga sudah memikirkan langkah-langkah mengantisipasi banjir di kemudian hari: Mulai dari pengerukan sungai dangkal, pembuatan sumur resapan dan setu, pembuatan tanggul dan waduk serta pembuatan terowongan air raksasa atau deep tunel. Ide hebat. Semoga itu bukan sekedar ide dalam tataran wacana tanpa aksi.]

Penjelasan & Penerapan Bahan

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kisah kesengsaraan yang dialami oleh bangsa Israel, ketika dibuang ke negeri asing, berakhir.  Mereka yang pastinya hidup menderita di tanah pembuangan, sekarang boleh pulang ke rumah mereka sendiri di Tanah Perjanjian.  Kata mereka: “Ini seperti orang yang sedang bermimpi” (ayat 1). Ibaratnya orang Jakarta yang saban harinya melihat banjir bila hujan deras turun, sekarang banjir itu hilang. Kata mereka lagi: “ .. kita tertawa .. bersorak-sorai .. bersukacita .. karena Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita” (ayat 2-3).

Akan tetapi, ayat 4 menjelaskan bahwa ketika mereka berjalan pulang hingga sampai di Tanah Perjanjian itu, mereka sekarang berjumpa dengan ‘kesengsaraan yang lain lagi’. Perjalanan pulang ke Israel dari Babel waktu itu sungguh tidak mudah (ini pernah kita bahas beberapa minggu yang lalu). Dan sesampainya di ‘rumah’, apa yang mereka lihat? Kondisi ‘rumah’ yang sudah hancur berantakan.
Dan itulah arti sesungguhnya dari kehidupan kita: Berjalan melewati kesengsaraan demi kesengsaraan sambil terus berseru dan berjuang: “memulihkan keadaan: Tuhan pulihkanlah keadaan kami”.

Ayat 5-6 merupakan kunci bagi kita untuk terus menemukan nikmatnya sebuah kesengsaraan yang kita hadapi hari ini. Kata orang mah “ada hikmahnya lah di balik semua penderitaan kita hari ini”. Beberapa prinsip yang bisa kita gunakan untuk mengaminkan tema kita hari ini, “sengsara yang membawa nikmat” adalah …

(1)    Prinsip tetap menabur (ayat 5).

Tahun yang lalu saya pernah bertemu dengan para petani di Teluk Lada yang mengalami kehancuran karena benih yang mereka tabur di sawah, tersapu bersih oleh banjir yang melanda waktu itu. Mereka jelas bersedih, bermuka muram waktu itu … Tetapi saya tahu pasti bahwa satu peristiwa pahit itu tidak akan membuat mereka berhenti menaburkan benih di kemudian hari. Mari kita diskusikan, dalam menghadapi kesengsaraan kehidupan kita hari ini, apa saja yang perlu kita tetap tabur? Saran: Tetaplah menaburkan benih-benih pengharapan (Buanglah hama-hama kemustahilan).

(2)    Prinsip tetap berjalan maju (ayat 6).

Tak ada untungnya kita menengok ke belakang bila yang kita dapati hanyalah terus menyesali diri. Tetap berjalan maju sambil melakukan sesuatu untuk memulihkan kondisi kehidupan kita, walaupun hari ini kita menjalaninya dengan menangis. Suatu hari nanti, cepat atau lambat, bila kita tetap berjalan maju, tidak diam di tempat saja, maka kita “pasti pulang sambil membawa berkas-berkasnya”. Itulah kenikmatan di balik kesengsaraan yang kita tangisi hari ini.

Pokok Diskusi:
Hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan supaya kesengsaraan hari ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL