Galatia 2:11-14 | Berani Menyuarakan Kebenaran - Pdt. Gerry Atje
Berani Menyuarakan Kebenaran




Pada satu hari Minggu, tepat setelah kebaktian baru selesai dan semua anggota jemaat bersamalan dengan para pelayan ibadah hari itu ... Tiba-tiba ada seorang pemuda, setelah bersalaman dengan pendeta yang baru khotbah tadi, pemuda itu menampar pipi kanan sang pendeta itu. 

Pendetanya kaget bukan main, tapi dia langsung inget khotbahnya tadi ... "bila ada seorang yang menampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu" ... Makanya pendeta itu gak jadi marah, malah memberikan juga pipi kirinya pada si pemuda itu.

Pemuda tadi melihat sang pendeta gak marah dan malah memberikan pipi kirinya lagi, kontan saja langsung menampar sekali lagi pipi sang pendeta itu. Dua kali, kanan dan kiri.

Setelah pemuda itu menampar juga pipi kiri pendeta, pendeta pun tersenyum ... dan tak berapa lama: "Plaaakkkk!!!!" Pendeta itu menampar pipi si pemuda yang tadi sudah dua kali menamparnya itu.

Pemuda itu pun marah: "Pendeta gimana sih? Kenapa Pendeta nampar saya? Gak sesuai banget kayak khotbahnya tadi nih pak Pendeta, malah nampar saya sekarang."

Pendeta itu pun kemudian berkata,
"Emang bener sih ada firman Tuhan yang bilang tampar pipi kanan kasih pipi kiri, itu kan tadi kita dengar khotbahnya ... Tapi kan gak ada firman Tuhan yang mengatakan bagaimana dan apa yang harus kita lakukan selanjutnya kalau sudah pipi kanan dan kiri kita ini ditampar. Makanya saya pikir kelanjutanya adalah setelah ditampar pipi kanan dan kiri saya, ya saya baleslah nampar pipimu itu, kan firman Tuhan nya sudah dilakukan: ada yang nampar, kasih pipi sebelah juga biar ditampar sekalian ... Setelah itu? Ya di sini sih saya bilang ... ku tampar kau balik."

Itu memang cuma sekedar cerita saja sih.
Akan tetapi apa yang menjadi inti dari cerita tadi mudah sekali kita jumpai dalam keseharian hidup kita. Seringkali kita melihat bahkan menyadari bahwa antara ucapan dan perbuatan itu gak sejalan. Apa yang dikatakan berbeda jalan dengan apa yang kita lakukan. Seseorang yang berkata "Aku ini pengikut Kristus", tapi sayang kehidupannya tak mencerminkan "Ke-Kristus-an".

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Paulus menceritakan pengalamannya ketika ia bertemu dengan Kefas (Petrus) yang ia katakan "laku tindakan mereka itu tidak sesuai dengan Kebenaran Injil" (ayat 12-14).

Hari ini kita sama-sama mau belajar tentang bagaimana dan apa yang harus kita lakukan ketika, seperti Paulus, kita berjumpa dengan seseorang yang "laku tindakannya itu tak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan" ... padahal mereka itu berkata "aku ini pengikut Kristus".

Ada dua hal yang mau kita renungkan bersama:

(1) 
Ayat 11:
Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.

BERANILAH MENYUARAKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN

Banyak orang yang takut menyuarakan kebenaran Firman Tuhan, kenapa? Karena beresiko.
Paulus, resikonya? "Kamu memang siapa berani menyatakan hal seperti itu kepada saya? Kamu itu bukannya mantan penjahat? Siapa kamu?" Coba aja bayangkan kalau Petrus sampai berkata seperti itu kepada Paulus ... 

Pertanyaan pentingnya adalah, jadi kenapa Paulus menyuarakan kebenaran itu dan tetap mengambil resiko terhadap apa yang disampaikannya itu?

Jawab:
Karena tindakan kita, apa lagi yang salah, akan sangat mempengaruhi kehidupan orang lain, ayat 13: "Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka."

Sedikit banyak, hidup kita ini pasti mempengaruhi kehidupan orang lain ... bapak ... ibu ... anak-anak ... orang yang ada di sekitar kehidupan kita ...

Pernah terjadi seorang bapak menjadi sangat stresss karena dia di fitnah di sana sini di tempat kerjanya hingga akhirnya dia di pecat ... dan setiap kali bapak itu pulang ke rumah ... seluruh anggota rumah menjadi kena dampratnya ...

Kalau ibu menghadapi situasi yang seperti itu ... kalau saya adalah anak dari bapak itu ... Apa yang akan kita lakukan?

Beranilah menyuarakan Kebenaran Firman Tuhan. 
Kuatkan dia, tenangkan hatinya ... berikan semangat untuk bangkit dari keterpurukan akibat PHK nya itu.


(2)
TEMUKANLAH CARA YANG PALING TEPAT 
DALAM MENYAMPAIKAN KEBENARAN ITU

Semua orang gak suka dikritik, gak suka dibanding-bandingkan, gak suka digurui ... meskipun maksudnya sebenarnya adalah baik.

Jadi di mana masalahnya? Masalahnya adalah, kritik - menyampaikan kebenaran - maksudnya baik ... tapi CARA MENYAMPAIKANNYA yang tidak tepat ... entah itu waktunya yang tidak tepat, atau pilihan kalimat yang kemudian terucap itu tidak tepat ...

"Yah ... mana ... katanya Petrus itu pemimpin umat ... tapi sikapnya kayak bunglon ... plenta-plente"

Paulus bisa saja menyatakan kebenaran kepada Petrus dengan cara seperti itu. Akan tetapi Paulus tidak melakukan hal itu. Yang Paulus lakukan justru ini:

Ayat 14b
"Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"

Apa yang sedang Paulus lakukan?
Paulus memilih cara yang tepat untuk membuka kesadaran dalam diri Petrus atas perilakunya yang salah itu. 

Galatia 2:11-14 | Berani Menyuarakan Kebenaran

Berani Menyuarakan Kebenaran




Pada satu hari Minggu, tepat setelah kebaktian baru selesai dan semua anggota jemaat bersamalan dengan para pelayan ibadah hari itu ... Tiba-tiba ada seorang pemuda, setelah bersalaman dengan pendeta yang baru khotbah tadi, pemuda itu menampar pipi kanan sang pendeta itu. 

Pendetanya kaget bukan main, tapi dia langsung inget khotbahnya tadi ... "bila ada seorang yang menampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu" ... Makanya pendeta itu gak jadi marah, malah memberikan juga pipi kirinya pada si pemuda itu.

Pemuda tadi melihat sang pendeta gak marah dan malah memberikan pipi kirinya lagi, kontan saja langsung menampar sekali lagi pipi sang pendeta itu. Dua kali, kanan dan kiri.

Setelah pemuda itu menampar juga pipi kiri pendeta, pendeta pun tersenyum ... dan tak berapa lama: "Plaaakkkk!!!!" Pendeta itu menampar pipi si pemuda yang tadi sudah dua kali menamparnya itu.

Pemuda itu pun marah: "Pendeta gimana sih? Kenapa Pendeta nampar saya? Gak sesuai banget kayak khotbahnya tadi nih pak Pendeta, malah nampar saya sekarang."

Pendeta itu pun kemudian berkata,
"Emang bener sih ada firman Tuhan yang bilang tampar pipi kanan kasih pipi kiri, itu kan tadi kita dengar khotbahnya ... Tapi kan gak ada firman Tuhan yang mengatakan bagaimana dan apa yang harus kita lakukan selanjutnya kalau sudah pipi kanan dan kiri kita ini ditampar. Makanya saya pikir kelanjutanya adalah setelah ditampar pipi kanan dan kiri saya, ya saya baleslah nampar pipimu itu, kan firman Tuhan nya sudah dilakukan: ada yang nampar, kasih pipi sebelah juga biar ditampar sekalian ... Setelah itu? Ya di sini sih saya bilang ... ku tampar kau balik."

Itu memang cuma sekedar cerita saja sih.
Akan tetapi apa yang menjadi inti dari cerita tadi mudah sekali kita jumpai dalam keseharian hidup kita. Seringkali kita melihat bahkan menyadari bahwa antara ucapan dan perbuatan itu gak sejalan. Apa yang dikatakan berbeda jalan dengan apa yang kita lakukan. Seseorang yang berkata "Aku ini pengikut Kristus", tapi sayang kehidupannya tak mencerminkan "Ke-Kristus-an".

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Paulus menceritakan pengalamannya ketika ia bertemu dengan Kefas (Petrus) yang ia katakan "laku tindakan mereka itu tidak sesuai dengan Kebenaran Injil" (ayat 12-14).

Hari ini kita sama-sama mau belajar tentang bagaimana dan apa yang harus kita lakukan ketika, seperti Paulus, kita berjumpa dengan seseorang yang "laku tindakannya itu tak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan" ... padahal mereka itu berkata "aku ini pengikut Kristus".

Ada dua hal yang mau kita renungkan bersama:

(1) 
Ayat 11:
Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.

BERANILAH MENYUARAKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN

Banyak orang yang takut menyuarakan kebenaran Firman Tuhan, kenapa? Karena beresiko.
Paulus, resikonya? "Kamu memang siapa berani menyatakan hal seperti itu kepada saya? Kamu itu bukannya mantan penjahat? Siapa kamu?" Coba aja bayangkan kalau Petrus sampai berkata seperti itu kepada Paulus ... 

Pertanyaan pentingnya adalah, jadi kenapa Paulus menyuarakan kebenaran itu dan tetap mengambil resiko terhadap apa yang disampaikannya itu?

Jawab:
Karena tindakan kita, apa lagi yang salah, akan sangat mempengaruhi kehidupan orang lain, ayat 13: "Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka."

Sedikit banyak, hidup kita ini pasti mempengaruhi kehidupan orang lain ... bapak ... ibu ... anak-anak ... orang yang ada di sekitar kehidupan kita ...

Pernah terjadi seorang bapak menjadi sangat stresss karena dia di fitnah di sana sini di tempat kerjanya hingga akhirnya dia di pecat ... dan setiap kali bapak itu pulang ke rumah ... seluruh anggota rumah menjadi kena dampratnya ...

Kalau ibu menghadapi situasi yang seperti itu ... kalau saya adalah anak dari bapak itu ... Apa yang akan kita lakukan?

Beranilah menyuarakan Kebenaran Firman Tuhan. 
Kuatkan dia, tenangkan hatinya ... berikan semangat untuk bangkit dari keterpurukan akibat PHK nya itu.


(2)
TEMUKANLAH CARA YANG PALING TEPAT 
DALAM MENYAMPAIKAN KEBENARAN ITU

Semua orang gak suka dikritik, gak suka dibanding-bandingkan, gak suka digurui ... meskipun maksudnya sebenarnya adalah baik.

Jadi di mana masalahnya? Masalahnya adalah, kritik - menyampaikan kebenaran - maksudnya baik ... tapi CARA MENYAMPAIKANNYA yang tidak tepat ... entah itu waktunya yang tidak tepat, atau pilihan kalimat yang kemudian terucap itu tidak tepat ...

"Yah ... mana ... katanya Petrus itu pemimpin umat ... tapi sikapnya kayak bunglon ... plenta-plente"

Paulus bisa saja menyatakan kebenaran kepada Petrus dengan cara seperti itu. Akan tetapi Paulus tidak melakukan hal itu. Yang Paulus lakukan justru ini:

Ayat 14b
"Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"

Apa yang sedang Paulus lakukan?
Paulus memilih cara yang tepat untuk membuka kesadaran dalam diri Petrus atas perilakunya yang salah itu. 

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL