Pengkhotbah 3:16-22 | Ujian Iman - Pdt. Gerry Atje
Ujian Iman
Pengkhotbah 3:16-22

Nepal, sebuah Negara kecil di utara India. Berpenduduk 22 juta jiwa – 90% Hindu, 5% Budha, 5% lagi gabungan agama-agama lain … termasuk di dalam kelompok-kelompok kecil ini adalah orang-orang percaya – pengikut Kristus.

Bagi orang-orang percaya di Nepal, mereka memahami betul apa artinya ujian bagi iman mereka. Mengapa? Karena di Nepal ada peraturan yang mengatakan “Barang siapa yang menjadi pengikut Kristus … ia harus di penjara minimal 1 tahun.“

Jadi pilihannya jelas: kalau mau ikut Kristus di Nepal: 

1. Coba Pikirin lagi deh! ... atau
2. Masuk penjara!


Pada satu hari Minggu, ada 6 orang yang telah menyatakan diri untuk ikut Kristus dan mereka kepengen di Babtis. Hari Sabtunya … menjelang Babtisan, rumah ke-6 orang ini didatangi polisi: tetap ikut kristus = penjara, jadi pikirin lagi. Sabtu malam mereka di beri waktu untuk berfikir.

Apa yang terjadi keesokan harinya? Mereka mundur? Tidak. 
Mereka tetap menjalani Babtisan – menyatakan iman percaya mereka kepada Kristus. Mereka tahu resikonya: penjara dan dengan senang hati mereka menjalani hukuman penjara 1 tahun.

Wow luar biasa sekali dan yang lebih luar biasa adalah …

Pada suatu hari ada seorang Pendeta Australia yang berkunjung ke penjara itu … Ke-6 orang ini berkata kepada Pendeta: "Pak, kalau Bapak mau berdoa untuk kami, jangan doakan kami supaya kami ini cepat-cepat keluar dari penjara … tapi, tolong doakan kami agar kami dapat tetap tekun dan setia dalam penderitaan ini ampai akhir.“

… Dalam hidup kita sebagai orang percaya – kita pun mengalami pergumulan-pergumulan – yang dalam Pengkhotbah dikatakan penyebabnya adalah: ketidakadilan yang berujung pada penindasan. Mereka menganggap diri mereka berkuasa kepada mereka-mereka yang dianggap lemah.

… Hari ini kita mau merenungkan 2 pertanyaan penting:

(1) Apa yang perlu kita sadari? 
(2) Apa yang perlu kita lakukan jika kita menghadapi situasi-situasi dimana kita mengalami pergumulan yang berat.


(1) Apa yang perlu kita sadari?

Ayat 17
…karena untuk segala hal … ada waktunya

… boleh saya minta .. ingat-ingat satu peristiwa – pengalaman dulu dimana kita dihadapi satu pergumulan dan hal itu cukup untuk menekan jiwa kita … membuat kita tidak berdaya ... [tahun kemarin dll …]

Boleh saya tanya satu hal? Jika kita melihat kembali peristiwa itu – saat ini apa yang kita rasakan? Tetap tertekan – tidak berdaya? Kemungkinan besar tidak. 
“ … Ooo ternyata maksud Allah waktu itu supaya aku jadi orang yang lebih kuat lagi … “

… pergumulan dan setiap masalah yang kita hadapi itu pasti memiliki tentang waktu tertentu. Pergumulan akan selalu sifatnya itu temporal [sementara] bukan permanent [kekal].

Allah pasti memiliki tujuan tertentu, pertimbangan tertentu, kepercayaan kepada kita ketika kita menghadapi satu pergumulan. Allah percaya, Allah tahu kita bisa hadapi dan mengalahkan pergumulan kita.

Saya percaya ketika kita bergumul, kita punya kesempatan basar untuk menjadi seseorang yang baru – seseorang yang lebih kuat lebih teguh, lebih menaruh pengharapan kepada Allah saja.

Sama seperti waktu sekolah kita hadapi masa-masa ujian untuk naik kelas – pergumulan juga memiliki satu masa tertentu yang bisa kita menangkan untuk “kenaikan kelas – promosi” kita.



(2) Apa yang perlu kita lakukan?

Ayat 22 
“ … tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada bergembira dalam pekerjaannya, … “

Tetap melakukan pekerjaan kita sebagai pengikut Kristus.
Tetap melakukan apa yang baik,
Tetap melakukan apa yang adil,
Tetap melakukan apa yang berkenan dihadapan Allah.

Dua Godaan terbesar ketika berhadapan dengan pergumulan adalah …
- Diam … Tak melakukan apa-apa – Putus asa ...
- Lari … meninggalkan masalah – sambil gerutu – menyesali diri.

Kabar buruknya masalah kita tidak akan pernah selesai jika kita melakukan salah satu dari dua hal itu. Hadapi masalahnya, sambil tetap melakukan apa yang baik apa yang bisa kita lakukan untuk mengalahkan pergumulan itu .

Pengkhotbah Itu kitab yang terkenal nada pesimisnya, “segala sesuatu sia-sia". Akan tetapi yang paling penting pesan yang mau diangkat oleh Pengkhotbah adalah sikap takut akan Allah. Pengkhotbah 12:13, "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang."

Tahun yang lalu, saya pernah mengalami satu peristiwa yang hampir saja menghancurkan hidup saya sekaligus keluarga. Suatu hari saya terima SMS dari seorang teman, yang isinya bilang:

“ … Jangan berkata kepada Tuhan tentang betapa besarnya masalah yang kamu hadapi … tetapi katakanlah pada masalah … “ Hey masalah! Lihatlah … aku punya Allah yang hebat dan lebih besar daripada kamu.“

Selamat berjuang mengalahkan pergumulan kita dalam menjalani hidup sebagai orang percaya. Dengan kekuatan dari Tuhan … kita pasti bisa memenangkan dan melalui setiap permasalahan yang kita hadapi.

Pengkhotbah 3:16-22 | Ujian Iman

Ujian Iman
Pengkhotbah 3:16-22

Nepal, sebuah Negara kecil di utara India. Berpenduduk 22 juta jiwa – 90% Hindu, 5% Budha, 5% lagi gabungan agama-agama lain … termasuk di dalam kelompok-kelompok kecil ini adalah orang-orang percaya – pengikut Kristus.

Bagi orang-orang percaya di Nepal, mereka memahami betul apa artinya ujian bagi iman mereka. Mengapa? Karena di Nepal ada peraturan yang mengatakan “Barang siapa yang menjadi pengikut Kristus … ia harus di penjara minimal 1 tahun.“

Jadi pilihannya jelas: kalau mau ikut Kristus di Nepal: 

1. Coba Pikirin lagi deh! ... atau
2. Masuk penjara!


Pada satu hari Minggu, ada 6 orang yang telah menyatakan diri untuk ikut Kristus dan mereka kepengen di Babtis. Hari Sabtunya … menjelang Babtisan, rumah ke-6 orang ini didatangi polisi: tetap ikut kristus = penjara, jadi pikirin lagi. Sabtu malam mereka di beri waktu untuk berfikir.

Apa yang terjadi keesokan harinya? Mereka mundur? Tidak. 
Mereka tetap menjalani Babtisan – menyatakan iman percaya mereka kepada Kristus. Mereka tahu resikonya: penjara dan dengan senang hati mereka menjalani hukuman penjara 1 tahun.

Wow luar biasa sekali dan yang lebih luar biasa adalah …

Pada suatu hari ada seorang Pendeta Australia yang berkunjung ke penjara itu … Ke-6 orang ini berkata kepada Pendeta: "Pak, kalau Bapak mau berdoa untuk kami, jangan doakan kami supaya kami ini cepat-cepat keluar dari penjara … tapi, tolong doakan kami agar kami dapat tetap tekun dan setia dalam penderitaan ini ampai akhir.“

… Dalam hidup kita sebagai orang percaya – kita pun mengalami pergumulan-pergumulan – yang dalam Pengkhotbah dikatakan penyebabnya adalah: ketidakadilan yang berujung pada penindasan. Mereka menganggap diri mereka berkuasa kepada mereka-mereka yang dianggap lemah.

… Hari ini kita mau merenungkan 2 pertanyaan penting:

(1) Apa yang perlu kita sadari? 
(2) Apa yang perlu kita lakukan jika kita menghadapi situasi-situasi dimana kita mengalami pergumulan yang berat.


(1) Apa yang perlu kita sadari?

Ayat 17
…karena untuk segala hal … ada waktunya

… boleh saya minta .. ingat-ingat satu peristiwa – pengalaman dulu dimana kita dihadapi satu pergumulan dan hal itu cukup untuk menekan jiwa kita … membuat kita tidak berdaya ... [tahun kemarin dll …]

Boleh saya tanya satu hal? Jika kita melihat kembali peristiwa itu – saat ini apa yang kita rasakan? Tetap tertekan – tidak berdaya? Kemungkinan besar tidak. 
“ … Ooo ternyata maksud Allah waktu itu supaya aku jadi orang yang lebih kuat lagi … “

… pergumulan dan setiap masalah yang kita hadapi itu pasti memiliki tentang waktu tertentu. Pergumulan akan selalu sifatnya itu temporal [sementara] bukan permanent [kekal].

Allah pasti memiliki tujuan tertentu, pertimbangan tertentu, kepercayaan kepada kita ketika kita menghadapi satu pergumulan. Allah percaya, Allah tahu kita bisa hadapi dan mengalahkan pergumulan kita.

Saya percaya ketika kita bergumul, kita punya kesempatan basar untuk menjadi seseorang yang baru – seseorang yang lebih kuat lebih teguh, lebih menaruh pengharapan kepada Allah saja.

Sama seperti waktu sekolah kita hadapi masa-masa ujian untuk naik kelas – pergumulan juga memiliki satu masa tertentu yang bisa kita menangkan untuk “kenaikan kelas – promosi” kita.



(2) Apa yang perlu kita lakukan?

Ayat 22 
“ … tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada bergembira dalam pekerjaannya, … “

Tetap melakukan pekerjaan kita sebagai pengikut Kristus.
Tetap melakukan apa yang baik,
Tetap melakukan apa yang adil,
Tetap melakukan apa yang berkenan dihadapan Allah.

Dua Godaan terbesar ketika berhadapan dengan pergumulan adalah …
- Diam … Tak melakukan apa-apa – Putus asa ...
- Lari … meninggalkan masalah – sambil gerutu – menyesali diri.

Kabar buruknya masalah kita tidak akan pernah selesai jika kita melakukan salah satu dari dua hal itu. Hadapi masalahnya, sambil tetap melakukan apa yang baik apa yang bisa kita lakukan untuk mengalahkan pergumulan itu .

Pengkhotbah Itu kitab yang terkenal nada pesimisnya, “segala sesuatu sia-sia". Akan tetapi yang paling penting pesan yang mau diangkat oleh Pengkhotbah adalah sikap takut akan Allah. Pengkhotbah 12:13, "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang."

Tahun yang lalu, saya pernah mengalami satu peristiwa yang hampir saja menghancurkan hidup saya sekaligus keluarga. Suatu hari saya terima SMS dari seorang teman, yang isinya bilang:

“ … Jangan berkata kepada Tuhan tentang betapa besarnya masalah yang kamu hadapi … tetapi katakanlah pada masalah … “ Hey masalah! Lihatlah … aku punya Allah yang hebat dan lebih besar daripada kamu.“

Selamat berjuang mengalahkan pergumulan kita dalam menjalani hidup sebagai orang percaya. Dengan kekuatan dari Tuhan … kita pasti bisa memenangkan dan melalui setiap permasalahan yang kita hadapi.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL