Kisah Para Rasul 4:5-12 | Pengakuan Iman - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

aku percaya
Ini pengalaman beberapa bulan yang lalu sewaktu saya pulang dari Bandung menuju ke Jakarta, naik bis. Waktu itu bisnya cukup penuh ... bangku kosongnya hanya tinggal beberapa saja. Saya naik bis dan akhirnya memilih untuk duduk di samping mba-mba, karena saya liat mba itu memakai salib ... kalung salib.

Di dalam perjalanan ... saya ngajak ngobrol mba itu ... akhirnya saya tahu bahwa mba itu masih SMA, tinggalnya di Tanjung Priok ... namanya Widia. Yang paling menarik dan paling membuat sya terkejut adalah ketika saya tanya: "Mba ... di Priok gereja di mana?" Lalu dia menjawab: "Oh, saya bukan orang Kristen."

Lah .. ini hebat bener ... bukan orang Kristen tapi pake kalung salib!

Mulailah mba itu cerita ..
Dari ceritanya saya jadi tahu bahwa Alm. Papanya adalah seorang Kristen dan mamanya Muslim, dia juga punya dua orang kakak yang semuanya juga Muslim. Dia pun bercerita kalau dia pake kalung salib di rumah, mamanya selalu marah-marah ... Akhirnya kalau di rumah, kalung salibnya tidak di pake, dan baru di pake kalau ada di luar rumah.

"Lah, kamu sendirian mba dari Bandung ke Jakarta?" Tanya saya kemudian.
"Ah, enggak sendirian .. tuh mama ku ada di bangku paling depan sana." 

Saya kagum campur heran dengan mba ini: "Bukan orang Kristen tetapi pake kalung salib" ... Apa yang terjadi dalam hati mba ini? Itu yang saya gak dapat informasi lebih dalam lagi ... Yang saya tahu jelas adalah di rumahnya sekarang ini dia punya tekanan ketika mau menyatakan pengakuan imannya ... dan yang paling hebat adalah mba ini mampu bertahan di dalam iman kepada Dia yang disalib itu.

Saya mengingat pengalaman dengan mba Widia ini ketika membaca perikop kita hari ini. Petrus dan Yohanes pun memiliki tekanan berat ketika dia .. ketika mereka menyatakan iman mereka dan bersaksi melalui tindakan nyata.

Siapa tekanan bagi mereka? Bukan orang sembarangan. Ayat 5-6:
Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar.

Dalam situasi tekanan seperti itu, tidak banyak orang yang berani bertahan dan mempertahankan pengakuan imannya. 

Bukan lagi rahasia bahwa hidup orang Kristen ... gak usah jauh-jauhlah .. di Indonesia aja ...punya tekanan.
Di dunia kerja:
"saya gak naik-naik jabatan nih karena saya orang kristen" (Oh ya saya ketemu dengan mereka yang berkata seperti itu).
Di dunia ibadah:
GKI Yasmin ... HKBP Ciketing ... GKP Dayeuhkolot ... dan entah berapa banyak lagi jemaat Tuhan yang memiliki pergumulan menghadapi tekanan karena pengakuan iman mereka itu.

Pertanyaan yang mau kita renungkan hari ini adalah ... Apa yang membuat kita mampu bertahan dalam menyatakan pengakuan iman kita meskipun berada dalam tekanan? Kalau gak mau tertekan lagi kan solusinya sederhana: ganti aja iman mu, beres.

Ayat 10-12

maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati--bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--,namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Hal itulah yang membuat Yohanes dan Petrus mampu bertahan.
Bagi Petrus dan Yohanes, ucapan mereka itu bukan "katanya ... atau kata orang lain". Tetapi merekalah saksi mata, mereka menyaksikan sendiri ... mereka mengalami sendiri Yesus yang berkuasa ... Yesus yang adalah Juruselamat itu.

Bapak ... Ibu ... Bagaimana dengan kehidupan kita?
Sudahkah kita beralih dari "Kristen Katanya" menjadi "Kristen Saksi Mata"?

Kekristenan itu bukan agama.
Kekristenan adalah perjumpaan pribadi dengan Kristus sang Juruselamat itu.

Jumpailah Kristus yang bangkit ketika kita terkubur dalam pergumulan kita.
Jumpailah Kristus yang berkenan menghampiri diri kita dan menyatakan Kehidupan yang Baru.
Jumpailah Dia di sepanjang jalan kehidupan kita.

Kisah Para Rasul 4:5-12 | Pengakuan Iman

aku percaya
Ini pengalaman beberapa bulan yang lalu sewaktu saya pulang dari Bandung menuju ke Jakarta, naik bis. Waktu itu bisnya cukup penuh ... bangku kosongnya hanya tinggal beberapa saja. Saya naik bis dan akhirnya memilih untuk duduk di samping mba-mba, karena saya liat mba itu memakai salib ... kalung salib.

Di dalam perjalanan ... saya ngajak ngobrol mba itu ... akhirnya saya tahu bahwa mba itu masih SMA, tinggalnya di Tanjung Priok ... namanya Widia. Yang paling menarik dan paling membuat sya terkejut adalah ketika saya tanya: "Mba ... di Priok gereja di mana?" Lalu dia menjawab: "Oh, saya bukan orang Kristen."

Lah .. ini hebat bener ... bukan orang Kristen tapi pake kalung salib!

Mulailah mba itu cerita ..
Dari ceritanya saya jadi tahu bahwa Alm. Papanya adalah seorang Kristen dan mamanya Muslim, dia juga punya dua orang kakak yang semuanya juga Muslim. Dia pun bercerita kalau dia pake kalung salib di rumah, mamanya selalu marah-marah ... Akhirnya kalau di rumah, kalung salibnya tidak di pake, dan baru di pake kalau ada di luar rumah.

"Lah, kamu sendirian mba dari Bandung ke Jakarta?" Tanya saya kemudian.
"Ah, enggak sendirian .. tuh mama ku ada di bangku paling depan sana." 

Saya kagum campur heran dengan mba ini: "Bukan orang Kristen tetapi pake kalung salib" ... Apa yang terjadi dalam hati mba ini? Itu yang saya gak dapat informasi lebih dalam lagi ... Yang saya tahu jelas adalah di rumahnya sekarang ini dia punya tekanan ketika mau menyatakan pengakuan imannya ... dan yang paling hebat adalah mba ini mampu bertahan di dalam iman kepada Dia yang disalib itu.

Saya mengingat pengalaman dengan mba Widia ini ketika membaca perikop kita hari ini. Petrus dan Yohanes pun memiliki tekanan berat ketika dia .. ketika mereka menyatakan iman mereka dan bersaksi melalui tindakan nyata.

Siapa tekanan bagi mereka? Bukan orang sembarangan. Ayat 5-6:
Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar.

Dalam situasi tekanan seperti itu, tidak banyak orang yang berani bertahan dan mempertahankan pengakuan imannya. 

Bukan lagi rahasia bahwa hidup orang Kristen ... gak usah jauh-jauhlah .. di Indonesia aja ...punya tekanan.
Di dunia kerja:
"saya gak naik-naik jabatan nih karena saya orang kristen" (Oh ya saya ketemu dengan mereka yang berkata seperti itu).
Di dunia ibadah:
GKI Yasmin ... HKBP Ciketing ... GKP Dayeuhkolot ... dan entah berapa banyak lagi jemaat Tuhan yang memiliki pergumulan menghadapi tekanan karena pengakuan iman mereka itu.

Pertanyaan yang mau kita renungkan hari ini adalah ... Apa yang membuat kita mampu bertahan dalam menyatakan pengakuan iman kita meskipun berada dalam tekanan? Kalau gak mau tertekan lagi kan solusinya sederhana: ganti aja iman mu, beres.

Ayat 10-12

maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati--bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--,namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Hal itulah yang membuat Yohanes dan Petrus mampu bertahan.
Bagi Petrus dan Yohanes, ucapan mereka itu bukan "katanya ... atau kata orang lain". Tetapi merekalah saksi mata, mereka menyaksikan sendiri ... mereka mengalami sendiri Yesus yang berkuasa ... Yesus yang adalah Juruselamat itu.

Bapak ... Ibu ... Bagaimana dengan kehidupan kita?
Sudahkah kita beralih dari "Kristen Katanya" menjadi "Kristen Saksi Mata"?

Kekristenan itu bukan agama.
Kekristenan adalah perjumpaan pribadi dengan Kristus sang Juruselamat itu.

Jumpailah Kristus yang bangkit ketika kita terkubur dalam pergumulan kita.
Jumpailah Kristus yang berkenan menghampiri diri kita dan menyatakan Kehidupan yang Baru.
Jumpailah Dia di sepanjang jalan kehidupan kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER