Markus 9:42-50 | Belajar Menjadi Murid Yesus yang Setia - Pdt. Gerry Atje
Belajar Menjadi Murid Yesus yang Setia
Markus 9:42-50


Bapak ibu, kalau ditanya tentang lagu favorit sewaktu kita kanak-kaak dlu itu kira-kira bapak dan ibu akan menyebutkan lagu yang mana nih ya?

Kemarin saya sempat melihat ada seorang yang menganalisa dan kemudian menyimpulkan bahwa ternyata kebanyakan lagu-lagu anak-anak tempo dulu yang favorit itu ... ternyata "menyesatkan". Ada 12 lagu menurutnya yang ternyata kalau dipikir-pikir lebih dalem lagi, ternyata sama sekali tidak mendidik, "menyesatkan" ... Saya hanya akan membahas beberapa saja untuk mengawali renungan kita hari ini ...

(1) Balonku
"Balonku ada lima rupa-rupa warnanya ... merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Meletus balon hijau ... Dor! ..."

Itu balon hijau datang dari mana sih? Katanya cuma ada lima, kok tiba-tiba muncul balon warna hijau? Jadi balonnya ada 6! Bukan 5.

(2) Naik Kereta Api
"Naik kereta api tut tut tut ... Siapa hendak turut? Ke Bandung Surabaya, bolehlah naik dengan percuma ... "

Nah ini dia nih, pantesan aja pak Z rugi terus, sejak kecil anak-anak sudah diajarin jadi bonek, maunya naik gratisan mulu ....

(3) Bintang Kecil
"Bintang kecil, di langit yang biru ..."

Lah, bintang kan adanya cuma malem ... Kalau malem, langitnya udah gak biru atuh ... Item!

(4) Burung Kutilang
"Di pucuk pohon cemara, burung Kutilang berbunyi ... Bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu. Mengangguk-angguk sambil bernyanyi ... Trilili lili lili li ..."

Kapan pernah burung bersiul "trilili lililili"??? Bukannya burung di pohon itu bersiulnya cicit cicit cuit cit cicit cicit cuit kayak lagunya Joshua??

(5) Bangun Tidur
"Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi ... Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku."

Itu anak kapan pake bajunya? Baru keluar dari mandi kok ya langsung nolong ibu membersihkan tempat tidurnya sendiri???

Hal-hal yang sederhana dan tampak sepele, yang mungkin diabaikan oleh banyak orang karena berpikir, "Ah, anak kecil ini ... gak usah ribet-ribetlah!" ... Akan tetapi kenyataannya tokh tetap ada saja orang yang di masa sekarang yang "se-kritis" itu menyikapi "penyesatan" (dalam tanda petik ya) yang ada dalam lagu favorit anak-anak tempo dulu itu ...

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita diingatkan dengan keras untuk tidak menyesatkan. Ada empat kali kta "menyesatkan" dalam perikop kita hari ini disebut. Saya sempat men-cek bahasa asli Yunani yang kemudian diterjemahkan oleh LAI menjadi "menyesatkan" adalah ... σκανδαλίσῃ (skan-dal-id'-zo) ... yang arti harafiahnya adalah .. membuat seseorang menjadi tersandung dan jatuh dan menjadi sakit (lihat di sini). Tapi bukan hanya sekedar itu saja, kata dasarnya, skandalon, berarti sebuah metode, perencanaan untuk membuat seseorang menjadi tersandung dan jatuh dan menjadi sakit (lihat di sini)

Bayangkan tentang seseorang yang merencanakan dan membuat metode untuk melaksanakan "skan-dal-id'-zo" itu ... Mengerikan! Dia bukan sekedar menunjukkan sesuatu, tetapi lebih dari itu ... Dia merencanakan sesuatu! ....

Makanya Yesus dalam perikop kita hari ini sangat teramat keras dalam mengingatkan kita .. "kalau menyesatkan, potong! Buang!" Gambaran yang sangat ekstrim untuk sebuah bahaya yang juga menimbulkan efek yang ekstrim juga.

Tuhan Yesus kemudaian beralih kepada kehidupan seseorang yang memiliki garam - yang akan dan telah di garami. Dalam bahasa Yunani-nya, kata "digarami" merupakan terjemahan dari kata dasar, ἁλίζω (hal-id'-zo, lihat di sini) yang juga amat kental dalam tradisi Perjanjian Lama tentang penerimaan kurban kepada Tuhan dan sekaligus tanda sebuah perjanjian kekal (lihat saja dalam 2 Tawarikh 13:5 dan Bilangan 18:19, tertulis di sana: Perjanjian Garam).

Tuhan telah menaruh satu perjanjian kekal-Nya bagi kita di dalam Kristus. Di mana? Yang tadi kita lakukan bersama-sama: melalui Perjamuan Kudus-Nya kita diajak untuk selalu mengingat bahwa, "Oh ... sampai segitunya rupanya Tuhan telah memperjuangkan hidup kita da membuktikan betapa kasih-Nya kepada kita semua."

Supaya apa?
Supaya kita semua tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Supaya kita hari ini memiliki garam da menaburkan garam yang sudah diberikan untuk hidup kita itu agar dunia yang kian berlalu ini menjadi memiliki rasa dan makna kembali karena kehadiran kita.

Tugas kita hari ini bukanlah menjadi seorang σκανδαλίσῃ (skan-dal-id'-zo) yang bisanya hanya membuat orang lain tersandung, jatuh dan menjadi sakit. Bukan ini tugas orang percaya. Tugas orang percaya adalah menjadi seorang ἁλίζω (hal-id'-zo), seseorang yang bisa menggarami dan memberikan rasa, makna yang berarti dalam kehidupan orang lain.

Saya suka cara Santo Fransiskus dari Azizi ketika menggambarkan bagaimana menjadi seorang murid Kristus yang sejati (yang "hal-id'-zo"), yang mampu menebarkan rasa ditengah dunia yang sudah semakin hambar ini:

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur,
memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai,
sebab
dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
Amin.

Markus 9:42-50 | Belajar Menjadi Murid Yesus yang Setia

Belajar Menjadi Murid Yesus yang Setia
Markus 9:42-50


Bapak ibu, kalau ditanya tentang lagu favorit sewaktu kita kanak-kaak dlu itu kira-kira bapak dan ibu akan menyebutkan lagu yang mana nih ya?

Kemarin saya sempat melihat ada seorang yang menganalisa dan kemudian menyimpulkan bahwa ternyata kebanyakan lagu-lagu anak-anak tempo dulu yang favorit itu ... ternyata "menyesatkan". Ada 12 lagu menurutnya yang ternyata kalau dipikir-pikir lebih dalem lagi, ternyata sama sekali tidak mendidik, "menyesatkan" ... Saya hanya akan membahas beberapa saja untuk mengawali renungan kita hari ini ...

(1) Balonku
"Balonku ada lima rupa-rupa warnanya ... merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Meletus balon hijau ... Dor! ..."

Itu balon hijau datang dari mana sih? Katanya cuma ada lima, kok tiba-tiba muncul balon warna hijau? Jadi balonnya ada 6! Bukan 5.

(2) Naik Kereta Api
"Naik kereta api tut tut tut ... Siapa hendak turut? Ke Bandung Surabaya, bolehlah naik dengan percuma ... "

Nah ini dia nih, pantesan aja pak Z rugi terus, sejak kecil anak-anak sudah diajarin jadi bonek, maunya naik gratisan mulu ....

(3) Bintang Kecil
"Bintang kecil, di langit yang biru ..."

Lah, bintang kan adanya cuma malem ... Kalau malem, langitnya udah gak biru atuh ... Item!

(4) Burung Kutilang
"Di pucuk pohon cemara, burung Kutilang berbunyi ... Bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu. Mengangguk-angguk sambil bernyanyi ... Trilili lili lili li ..."

Kapan pernah burung bersiul "trilili lililili"??? Bukannya burung di pohon itu bersiulnya cicit cicit cuit cit cicit cicit cuit kayak lagunya Joshua??

(5) Bangun Tidur
"Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi ... Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku."

Itu anak kapan pake bajunya? Baru keluar dari mandi kok ya langsung nolong ibu membersihkan tempat tidurnya sendiri???

Hal-hal yang sederhana dan tampak sepele, yang mungkin diabaikan oleh banyak orang karena berpikir, "Ah, anak kecil ini ... gak usah ribet-ribetlah!" ... Akan tetapi kenyataannya tokh tetap ada saja orang yang di masa sekarang yang "se-kritis" itu menyikapi "penyesatan" (dalam tanda petik ya) yang ada dalam lagu favorit anak-anak tempo dulu itu ...

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita diingatkan dengan keras untuk tidak menyesatkan. Ada empat kali kta "menyesatkan" dalam perikop kita hari ini disebut. Saya sempat men-cek bahasa asli Yunani yang kemudian diterjemahkan oleh LAI menjadi "menyesatkan" adalah ... σκανδαλίσῃ (skan-dal-id'-zo) ... yang arti harafiahnya adalah .. membuat seseorang menjadi tersandung dan jatuh dan menjadi sakit (lihat di sini). Tapi bukan hanya sekedar itu saja, kata dasarnya, skandalon, berarti sebuah metode, perencanaan untuk membuat seseorang menjadi tersandung dan jatuh dan menjadi sakit (lihat di sini)

Bayangkan tentang seseorang yang merencanakan dan membuat metode untuk melaksanakan "skan-dal-id'-zo" itu ... Mengerikan! Dia bukan sekedar menunjukkan sesuatu, tetapi lebih dari itu ... Dia merencanakan sesuatu! ....

Makanya Yesus dalam perikop kita hari ini sangat teramat keras dalam mengingatkan kita .. "kalau menyesatkan, potong! Buang!" Gambaran yang sangat ekstrim untuk sebuah bahaya yang juga menimbulkan efek yang ekstrim juga.

Tuhan Yesus kemudaian beralih kepada kehidupan seseorang yang memiliki garam - yang akan dan telah di garami. Dalam bahasa Yunani-nya, kata "digarami" merupakan terjemahan dari kata dasar, ἁλίζω (hal-id'-zo, lihat di sini) yang juga amat kental dalam tradisi Perjanjian Lama tentang penerimaan kurban kepada Tuhan dan sekaligus tanda sebuah perjanjian kekal (lihat saja dalam 2 Tawarikh 13:5 dan Bilangan 18:19, tertulis di sana: Perjanjian Garam).

Tuhan telah menaruh satu perjanjian kekal-Nya bagi kita di dalam Kristus. Di mana? Yang tadi kita lakukan bersama-sama: melalui Perjamuan Kudus-Nya kita diajak untuk selalu mengingat bahwa, "Oh ... sampai segitunya rupanya Tuhan telah memperjuangkan hidup kita da membuktikan betapa kasih-Nya kepada kita semua."

Supaya apa?
Supaya kita semua tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Supaya kita hari ini memiliki garam da menaburkan garam yang sudah diberikan untuk hidup kita itu agar dunia yang kian berlalu ini menjadi memiliki rasa dan makna kembali karena kehadiran kita.

Tugas kita hari ini bukanlah menjadi seorang σκανδαλίσῃ (skan-dal-id'-zo) yang bisanya hanya membuat orang lain tersandung, jatuh dan menjadi sakit. Bukan ini tugas orang percaya. Tugas orang percaya adalah menjadi seorang ἁλίζω (hal-id'-zo), seseorang yang bisa menggarami dan memberikan rasa, makna yang berarti dalam kehidupan orang lain.

Saya suka cara Santo Fransiskus dari Azizi ketika menggambarkan bagaimana menjadi seorang murid Kristus yang sejati (yang "hal-id'-zo"), yang mampu menebarkan rasa ditengah dunia yang sudah semakin hambar ini:

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur,
memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai,
sebab
dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
Amin.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email