II Korintus 5:1-10 | Hidup di Dunia, Cuma Mampir

II Korintus 5:1-10

Ketika kita melupakan bahwa hidup kita ini hanya sementara makanya kita bisa berkeluh keberatan, merintih, mengerang, iri hati, dendam, dukacita dan kesedihan.

Hidup di Dunia, Cuma Mampir — Saya pernah mendengar satu ilustrasi menarik dari Aa Gym tentang menyikapi kehidupan di dunia ini bak seorang penjaga Parkir. Penjaga Parkir itu hidupnya gak ribet.

Sewaktu ada seseorang yang datang dan mengambil mobil atau motor yang diparkirnya dia akan dengan senang hati memberikan apa yang ada di parkirannya itu karena tahu benar bahwa apa yang ada di parkirannya itu bukanlah miliknya, hanya mampir saja. (kira-kira intinya ke arah sana).

Gak akan ada seorang yang bekerja sebagai penjaga parkir menghalang-halangi pemilik mobil atau motornya untuk mengambil kembali apa yang dia titipkan kepada penjaga parkir itu, karena dia tahu bahwa itu semua cuma titipan saja.

Baca juga

Pernah juga saya mendengar cerita tentang seorang turis yang datang ke rumah seorang guru bijak. Turis itu heran karena rumah sang guru bijak itu hanya berisi buku buku saja.

"Kok barang-barangmu di rumah ini cuma buku buku saja, guru? Ke manakah barang-barangmu yang lainnya itu?" tanya si turis itu. Lalu sang guru bijak berkata: "Kamu pun tak membawa semua barang-barangmu ke sini kan."

Turis menjawab, "Saya tidak membawa semua barang saya ke sini karena saya di sini cuma mampir saja untuk jalan-jalan". Kata sang guru bijak, "Begitu pula denganku, aku pun hanya mampir saja di dunia ini."
2 Korintus 5:1-10
Jangan tawar hati, juga waktu menghadapi maut
5:1 Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.
5:2 Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini,
5:3 sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.
5:4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.
5:5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.
5:6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,
5:7 --sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat--
5:8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.
5:9 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya.
5:10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

Hidup di Dunia, Cuma Mampir


Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus dalam perikop kita hari, 2 Korintus 5:1-10, pun mengingatkan hal yang sama.

2 Korintus 5:1
Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

Apa yang ada dalam kehidupan kita yang sekarang ini tidak kekal, hanya sementara saja.

Lupa, Cuma Mampir

Saya tertarik ketika Rasul Paulus menyatakan bahwa salah satu "godaan" kita sebagai manusia dalam penyadaran bahwa "kita semua di sini itu hanya sementara" adalah "kita (menjadi) mengeluh oleh beratnya tekanan" (ayat 4).

2 Korintus 5:4
Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.

Siapa yang tidak?

Kata mengeluh dalam bahasa aslinya, Yunani: stenazomen, yang artinya juga digunakan untuk menggambarkan rintihan mengerang seperti orang melahirkan, kesedihan, duka bahkan kemarahan.

Sewaktu kita mengalami kehidupan yang sementara di dunia, bukankah berkeluh keberatan, merintih, mengerang, dukacita dan kesedihan bahkan kemarahan akan selalu menjadi "lawan" kita? Karena kita melupakan bahwa hidup kita ini hanya sementara.

Kita akan mengeluh apabila ada hal yang kita anggap buruk sedang terjadi dalam kehidupan kita: kehilangan handphone, dompet,  kita ngeluh (siapa yang tidak?); Kita akan berduka ketika ada seseorang yang meninggalkan kita hari ini (siapa yang tidak?) ....


Tabah Melangkah

Oleh sebab itulah Firman Tuhan mengingatkan kepada kita hari ini untuk memiliki sebuah kehidupan yang tabah.

2 Korintus 5:6
Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,

Dalam arti harafiah Yunaninya, tabah adalah percaya diri, berani (tharrountes).

2 Korintus 5:6 Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari
Karena itu hati kami selalu merasa kuat (TB LAI: tabah). Kami tahu bahwa selama kami masih tinggal di dalam tubuh kami ini, kami jauh dari rumah yang akan kami diami bersama Tuhan.

Memiliki hati yang tabah - kuat - berani untuk melawan kecenderungan seseorang ketika lupa menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Melawan untuk hidup berkeluh keberatan, merintih, mengerang, iri hati, dendam, dukacita dan kesedihan; Inilah ketabahan dalam kehidupan.

Tugas kita selama masih hidup di dunia yang sementara ini jelas dalam ayat 9:
" ... tetaplah memiliki kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan ... " Walaupun jalan hidup tidak selalu ...

Syair: Love’s Rainbow; Flora Kirkland,
Terjemahan: E. L. Pohan,
Lagu: I. H. Meredith
  1. Jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat,
    namun kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat.
    Mungkin langit tak terlihat oleh awan yang tebal,
    di atasnyalah membusur p’langi kasih yang kekal.

  2. Refrein:
    Habis hujan tampak p’langi bagai janji yang teguh,
    di balik duka menanti p’langi kasih Tuhanmu.

  3. Jika badai menyerangmu, awan turun menggelap,
    carilah di atas awan p’langi kasih yang tetap.
    Lihatlah warna-warninya, lambang cinta yang besar,
    Tuhan sudah b’ri janjiNya, jangan lagi ‘kau gentar.

  4. Jauhkan takut, putus asa, walau jalanmu gelap,
    perteguh kepercayaan dan langkahmu pertegap.
    “Tuhan itu ada kasih”, itulah penghiburmu,
    di atas duka bercahaya p’langi kasih Tuhanmu.

Bagi manusia yang penting bukannya berapa lama ia hidup, tetapi bagaimana ia akan (menjalani) hidup. (Lao Tse)

Post a Comment