I Petrus 1:18-19 | Terlalu Baik? Terlalu Mahal? - Pdt. Gerry Atje

Terlalu Baik? Terlalu Mahal? 
1 Petrus 1:18-19





Ada sebuah novel yang ditulis oleh seorang bernama Victor Hugo, yang sudah diangkat juga dalam layar kaca - beberapa kali sudah tayang di TV, judulnya “Les Miserables”. Ceritanya sederhana namun bermakna dalam. Di mulai dari seorang Narapidana yang dihukum selama 19 tahun karena mencuri roti supaya keluarganya tak kelaparan lagi. Jean Valjean, nama orang itu, menjadi begitu sakit hati karena telah diperlakukan semena-mena oleh hukum yang membuat dirinya itu dipenjara 19 tahun lamanya hanya karena mencuri sepotong roti.

Sekeluarnya dari penjara, masih dengan dendam dan rasa sakit hati karena diperlakukan tidak adil pada waktu itu, Jean Valjean mulai mencari kehidupan yang baru nya. Tetapi apa daya, dari dulu sampai sekarang yang namanya alumni hotel pro deo itu memang sulit diterima oleh masyarakat. Semua orang menolak kehadirannya pada waktu itu. Kecuali satu orang, Myriel namanya, seorang Uskup yang tidak hanya sekedar menerima dirinya, tetapi memperlakukannya sebagai layaknya manusia, bukan mantan narapidana. Diberi tempat tinggal, diberi makan - minum, semuanya untuk Jean.

Akan tetapi apa yang terjadi?
Pada waktu malam, Valjean bangun untuk mencuri sendok dan piring perak kepunyaan sang pendeta. Sang Uskup yang terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ribut itu, dipukulnya hingga pingsan, dan kemudian Valjean melarikan diri.

Tak disangka tak diduga, Valjean ditangkap keesokan harinya, oleh aparat polisi yang curiga akan gerak geriknya, dan ia pun dibawa lagi ke Uskup Myriel.  Akan tetapi betapa terkejutnya si polisi ketika Uskup Myriel mengatakan bahwa piring-piring dan sendok-sendok perak itu adalah pemberian darinya untuk Valjean.

Valjean yang bingung bertanya kepada sang Uskup:
“Mengapa engkau melakukan semua ini kepadaku?”. 

Uskup Myriel kemudian berkata:
“Jean Valjean, saudaraku, jangan pernah engkau lupakan … sekalipun kemarin engkau lupa… bahwa engkau berjanji kepadaku pada waktu makan malam kemarin bahwa engkau akan menjadi manusia yang baru. Engkau bukan lagi milik si jahat, dengan perak-perak ini aku membeli hidupmu. Aku menebusmu dari ketakutan masa lampau, dan dari kebencian. Sekarang aku kembalikan kamu kepada Tuhan.” 

Singkat cerita, akhirnya Jean Valjean benar-benar menjalani kehidupan yang sama sekali lain dengan masa lalunya itu. Ia membangun hidupnya menjadi pengusaha sukses dan akhirnya menjadi walikota yang dihormati oleh warganya.

Membaca bahan renungan kita hari ini tentang karya yang sudah Yesus lakukan untuk hidup kita hari ini,
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
I Petrus 1:18-19

Bukan hanya dengan perak seperti yang dilakukan oleh Pastor Myriel, melainkan dengan darah ... Bukankah kita selayaknya bertanya jauh lebih dalam lagi sebagaimana Valjean termangu dan bertanya pernah bertanya:

"Mengapa Engkau, Tuhan, melakukan semua ini kepadaku?"

Siapa sih diri kita ini sehingga Dia mau melakukan? Seorang yang pantas untuk menerima hukuman, tetapi sebegitu rupa dibela dan dibebaskan dari hukuman.

Saya kemarin sempat menemukan catatan lama tentang data seberapa berharganya diri setiap manusia itu menurut kajian seorang biolog. Seorang biolog dari Hongkong pernah meneliti tubuh manusia dan mengatakan bahwa dalam diri seorang manusia terdapat berbagai unsur bahan kimia seperti lemak, zat besi, fosfor, kapur, air, dengan jumlah yang nilainya dalam rupiah kira-kira sebesar data berikut:

Lemak, yang hanya dapat dibuat sebatang lilin = Rp 500,00
Zat besi, yang hanya dapat dibuat 1 ons paku = Rp 300,00
Fosfor, yang hanya dapat dibuat sekotak korek api = Rp 500,00
Kapur, yang hanya untuk melabur sebuah kandang anjing = Rp 1.000,00
Air, yang dapat diperoleh secara gratis = Rp 0,00

Jika perhitungan ini benar, maka nilai seorang manusia hanya sekitar Rp2.300,00. Wah, betapa murahnya! Apalagi jika mengingat fakta bahwa manusia diciptakan dari debu tanah, maka semakin dihitung sebenarnya kita -- manusia ini -- makin tidak ada harganya.

Ah, mengejutkan sekali bukan?!
Saya dan bapak ibu semua ini ternyata "harganya" tidak lebih dari uang senilai Rp. 2.500 saja, bila mau dirupiahkan. Lalu di mana letak "berharganya" hidup seorang manusia ini? Cuma "noceng gopek".

Bagi orang Kristen mula-mula pada waktu itu, mereka tahu betul rasanya bagaimana dianggap hidup mereka itu tidak berharga oleh masyarakat yang tidak mengenal Kristus Tuhan, waktu itu. Bukan rahasia lagi bahwa kehidupan jemaat mula-mula pada waktu itu dianggap sama sekali tidak berharga di mata masyarakat. Orang Kristen bukan saja diperlakukan tidak adil, tetapi juga dianiaya dan dibunuh, dijadikan pakan binatang buas ... wah, teraniaya bener-bener deh kehidupan orang percaya waktu itu.

Ini yang menarik,
Darimana kita bisa mengetahui bahwa sesuatu itu dianggap sangat berharga atau sebaliknya, dianggap tidak berharga sama sekali, dari mana? Dari cara nya memperlakukan sesuatu itu.

Di mata "dunia", mungkin dunia akan mengganggap diri kita ini "tidak berharga" dengan caranya memperlakukan kita. Dunia punya ukuran sendiri:

Apa pakaian yang kau gunakan? Merek apa?
Apa sepatu yang kau pakai? Semahal apa?
Apa rumah mu besar? Tingkatnya berapa?
Punya mobil? Mobilmu apa?
Handphone mu merek keren - model terbaru atau HP ecek-ecek?

Lihat saja bagaimana beberapa motivator dunia pun menyatakan hal itu.
"Pakaianmu, jam tanganmu, sepatumu, handphonemu ... menunjukkan nilai mu ..."

Akan tetapi, cara Tuhan menyatakan keberhargaan diri semua manusia, jelas amat berbeda sangat dengan apa yang biasa dunia lakukan. Lihatlah bagaimana cara Tuhan memperlakukan hidup kita. Apa yang Dia telah lakukan bagi hidup kita?

"... kamu telah ditebus ... dengan darah yang mahal, ..." 

Apa yang membuat kita bisa yakin bahwa hidup kita memang benar berharga di mata Tuhan hari ini sampai selamanya? Kalau hidup kita tidak seberharga itu bagi Tuhan, Dia tidak akan memperjuangkan kita sebegitunya.


Inilah yang akan selalu kita hadapi sepanjang kita hidup. 
Kita akan selalu berjumpa dengan mereka mereka yang menganggap diri kita, hidup kita "tidak seberharga itu".

Kalau hari ini adalah hari dimana kita akan membuka Pekan Keluarga GKP, bukankah ini kesempatan yang baik bagi kita sebagai keluarga untuk saling mengingatkan tentang apa yang sudah Tuhan lakukan untuk hidup kita? 

Ada berapa banyak sih keluarga-keluarga Kristen hari ini yang masih punya kesempatan untuk berkumpul, 'guyub' setiap harinya? Masih ada? Yang setiap hari punya waktu bersama untuk berdoa dan membaca Alkitab sama-sama? Atau bahkan yang setiap hari punya waktu bersama untuk duduk makan bareng?

Ini pengalaman beberapa hari yang lalu, saya sedang makan di satu warung makan, ada satu keluarga juga saya perhatikan sedang duduk bersama dan menanti makanan yang sudah mereka pesan. Tetapi apa yang terjadi .... masing-masing sibuk dengan HP, Notebook, BB ... semua gadjet yang ada di tangan mereka masing-masing. Ironis! Duduk bersama, tetapi 'tidak berada di sana bersama-sama sebagai satu keluarga' ... mereka tetap masing-masing.

Pekan Keluarga ini menjadi satu kesempatan yang baik bagi kita untuk menemukan kembali makna keluarga yang saling mengingatkan dan menguatkan di dalam Tuhan. Siapa tahu, kebiasaan ini akan terus berlanjut dalam kehidupan keluarga kita. Mengingatkan dan menguatkan bahwa ... Tuhan sudah terlalu baik, dan terlalu mahal membayar harga untuk kita. Dan Tuhan sudah melakukan itu untuk kita. Bersyukurlah. 

I Petrus 1:18-19 | Terlalu Baik? Terlalu Mahal?


Terlalu Baik? Terlalu Mahal? 
1 Petrus 1:18-19





Ada sebuah novel yang ditulis oleh seorang bernama Victor Hugo, yang sudah diangkat juga dalam layar kaca - beberapa kali sudah tayang di TV, judulnya “Les Miserables”. Ceritanya sederhana namun bermakna dalam. Di mulai dari seorang Narapidana yang dihukum selama 19 tahun karena mencuri roti supaya keluarganya tak kelaparan lagi. Jean Valjean, nama orang itu, menjadi begitu sakit hati karena telah diperlakukan semena-mena oleh hukum yang membuat dirinya itu dipenjara 19 tahun lamanya hanya karena mencuri sepotong roti.

Sekeluarnya dari penjara, masih dengan dendam dan rasa sakit hati karena diperlakukan tidak adil pada waktu itu, Jean Valjean mulai mencari kehidupan yang baru nya. Tetapi apa daya, dari dulu sampai sekarang yang namanya alumni hotel pro deo itu memang sulit diterima oleh masyarakat. Semua orang menolak kehadirannya pada waktu itu. Kecuali satu orang, Myriel namanya, seorang Uskup yang tidak hanya sekedar menerima dirinya, tetapi memperlakukannya sebagai layaknya manusia, bukan mantan narapidana. Diberi tempat tinggal, diberi makan - minum, semuanya untuk Jean.

Akan tetapi apa yang terjadi?
Pada waktu malam, Valjean bangun untuk mencuri sendok dan piring perak kepunyaan sang pendeta. Sang Uskup yang terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ribut itu, dipukulnya hingga pingsan, dan kemudian Valjean melarikan diri.

Tak disangka tak diduga, Valjean ditangkap keesokan harinya, oleh aparat polisi yang curiga akan gerak geriknya, dan ia pun dibawa lagi ke Uskup Myriel.  Akan tetapi betapa terkejutnya si polisi ketika Uskup Myriel mengatakan bahwa piring-piring dan sendok-sendok perak itu adalah pemberian darinya untuk Valjean.

Valjean yang bingung bertanya kepada sang Uskup:
“Mengapa engkau melakukan semua ini kepadaku?”. 

Uskup Myriel kemudian berkata:
“Jean Valjean, saudaraku, jangan pernah engkau lupakan … sekalipun kemarin engkau lupa… bahwa engkau berjanji kepadaku pada waktu makan malam kemarin bahwa engkau akan menjadi manusia yang baru. Engkau bukan lagi milik si jahat, dengan perak-perak ini aku membeli hidupmu. Aku menebusmu dari ketakutan masa lampau, dan dari kebencian. Sekarang aku kembalikan kamu kepada Tuhan.” 

Singkat cerita, akhirnya Jean Valjean benar-benar menjalani kehidupan yang sama sekali lain dengan masa lalunya itu. Ia membangun hidupnya menjadi pengusaha sukses dan akhirnya menjadi walikota yang dihormati oleh warganya.

Membaca bahan renungan kita hari ini tentang karya yang sudah Yesus lakukan untuk hidup kita hari ini,
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
I Petrus 1:18-19

Bukan hanya dengan perak seperti yang dilakukan oleh Pastor Myriel, melainkan dengan darah ... Bukankah kita selayaknya bertanya jauh lebih dalam lagi sebagaimana Valjean termangu dan bertanya pernah bertanya:

"Mengapa Engkau, Tuhan, melakukan semua ini kepadaku?"

Siapa sih diri kita ini sehingga Dia mau melakukan? Seorang yang pantas untuk menerima hukuman, tetapi sebegitu rupa dibela dan dibebaskan dari hukuman.

Saya kemarin sempat menemukan catatan lama tentang data seberapa berharganya diri setiap manusia itu menurut kajian seorang biolog. Seorang biolog dari Hongkong pernah meneliti tubuh manusia dan mengatakan bahwa dalam diri seorang manusia terdapat berbagai unsur bahan kimia seperti lemak, zat besi, fosfor, kapur, air, dengan jumlah yang nilainya dalam rupiah kira-kira sebesar data berikut:

Lemak, yang hanya dapat dibuat sebatang lilin = Rp 500,00
Zat besi, yang hanya dapat dibuat 1 ons paku = Rp 300,00
Fosfor, yang hanya dapat dibuat sekotak korek api = Rp 500,00
Kapur, yang hanya untuk melabur sebuah kandang anjing = Rp 1.000,00
Air, yang dapat diperoleh secara gratis = Rp 0,00

Jika perhitungan ini benar, maka nilai seorang manusia hanya sekitar Rp2.300,00. Wah, betapa murahnya! Apalagi jika mengingat fakta bahwa manusia diciptakan dari debu tanah, maka semakin dihitung sebenarnya kita -- manusia ini -- makin tidak ada harganya.

Ah, mengejutkan sekali bukan?!
Saya dan bapak ibu semua ini ternyata "harganya" tidak lebih dari uang senilai Rp. 2.500 saja, bila mau dirupiahkan. Lalu di mana letak "berharganya" hidup seorang manusia ini? Cuma "noceng gopek".

Bagi orang Kristen mula-mula pada waktu itu, mereka tahu betul rasanya bagaimana dianggap hidup mereka itu tidak berharga oleh masyarakat yang tidak mengenal Kristus Tuhan, waktu itu. Bukan rahasia lagi bahwa kehidupan jemaat mula-mula pada waktu itu dianggap sama sekali tidak berharga di mata masyarakat. Orang Kristen bukan saja diperlakukan tidak adil, tetapi juga dianiaya dan dibunuh, dijadikan pakan binatang buas ... wah, teraniaya bener-bener deh kehidupan orang percaya waktu itu.

Ini yang menarik,
Darimana kita bisa mengetahui bahwa sesuatu itu dianggap sangat berharga atau sebaliknya, dianggap tidak berharga sama sekali, dari mana? Dari cara nya memperlakukan sesuatu itu.

Di mata "dunia", mungkin dunia akan mengganggap diri kita ini "tidak berharga" dengan caranya memperlakukan kita. Dunia punya ukuran sendiri:

Apa pakaian yang kau gunakan? Merek apa?
Apa sepatu yang kau pakai? Semahal apa?
Apa rumah mu besar? Tingkatnya berapa?
Punya mobil? Mobilmu apa?
Handphone mu merek keren - model terbaru atau HP ecek-ecek?

Lihat saja bagaimana beberapa motivator dunia pun menyatakan hal itu.
"Pakaianmu, jam tanganmu, sepatumu, handphonemu ... menunjukkan nilai mu ..."

Akan tetapi, cara Tuhan menyatakan keberhargaan diri semua manusia, jelas amat berbeda sangat dengan apa yang biasa dunia lakukan. Lihatlah bagaimana cara Tuhan memperlakukan hidup kita. Apa yang Dia telah lakukan bagi hidup kita?

"... kamu telah ditebus ... dengan darah yang mahal, ..." 

Apa yang membuat kita bisa yakin bahwa hidup kita memang benar berharga di mata Tuhan hari ini sampai selamanya? Kalau hidup kita tidak seberharga itu bagi Tuhan, Dia tidak akan memperjuangkan kita sebegitunya.


Inilah yang akan selalu kita hadapi sepanjang kita hidup. 
Kita akan selalu berjumpa dengan mereka mereka yang menganggap diri kita, hidup kita "tidak seberharga itu".

Kalau hari ini adalah hari dimana kita akan membuka Pekan Keluarga GKP, bukankah ini kesempatan yang baik bagi kita sebagai keluarga untuk saling mengingatkan tentang apa yang sudah Tuhan lakukan untuk hidup kita? 

Ada berapa banyak sih keluarga-keluarga Kristen hari ini yang masih punya kesempatan untuk berkumpul, 'guyub' setiap harinya? Masih ada? Yang setiap hari punya waktu bersama untuk berdoa dan membaca Alkitab sama-sama? Atau bahkan yang setiap hari punya waktu bersama untuk duduk makan bareng?

Ini pengalaman beberapa hari yang lalu, saya sedang makan di satu warung makan, ada satu keluarga juga saya perhatikan sedang duduk bersama dan menanti makanan yang sudah mereka pesan. Tetapi apa yang terjadi .... masing-masing sibuk dengan HP, Notebook, BB ... semua gadjet yang ada di tangan mereka masing-masing. Ironis! Duduk bersama, tetapi 'tidak berada di sana bersama-sama sebagai satu keluarga' ... mereka tetap masing-masing.

Pekan Keluarga ini menjadi satu kesempatan yang baik bagi kita untuk menemukan kembali makna keluarga yang saling mengingatkan dan menguatkan di dalam Tuhan. Siapa tahu, kebiasaan ini akan terus berlanjut dalam kehidupan keluarga kita. Mengingatkan dan menguatkan bahwa ... Tuhan sudah terlalu baik, dan terlalu mahal membayar harga untuk kita. Dan Tuhan sudah melakukan itu untuk kita. Bersyukurlah. 

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL