Yakobus 3:1-12 | Guru ... Oh Guru ... - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Guru ... Oh Guru ...



PEMBUKAAN

Membaca perikop kita hari ini, mata saya langsung tertuju pada kalimat di ayat yang paling pertama dalam Alkitab kita: Yakobus 3:1
Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

Wah kan ini jadi ribet ya, masak Alkitab melarang seseorang menjadi seorang Guru?
Tentu bukan ini maknanya :)

Berbicara tentang guru, saya jadi ingat tentang sebuah lagu lama:
Oemar Bakrie



Lirik: klik disini

Salah satu baris lirik dalam lagu Oemar Bakrie itu disebutkan begini:
"Umar Bakri Umar Bakri Pegawai negeri. Umar Bakri Umar Bakri Empat puluh tahun mengabdi. Jadi guru jujur berbakti memang makan hati."

Saya mau menggaris bawahi kalimat "jadi guru jujur berbakti memang makan hati". Sebab Rasul Yakobus menuliskan pernyataan bahwa "janganlah banyak orang di antara kamu menjadi guru" sebagai peringatan bahwa menjadi seorang guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah, dan tidak semua orang sanggup melakukannya. Menjadi guru yang jujur dan berbakti, atau dalam bahasa perikop kita hari ini: menjadi seorang guru yang menggunakan lidahnya dengan benar dan baik, ini yang sulit (sebab tidak semua guru bisa melakukan hal itu).


PENJELASAN & PENERAPAN BAHAN 

Perikop kita sendiri kemudian dilanjutkan dengan peringatan akan betapa berbahayanya lidah yang ada dalam tubuh kita ini. Ayat 9:
Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; 
dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, 
Dari sumber yang sama, satu lidah kita ini, bisa keluar kata pujian dan sekaligus juga kata umpatan.

Sejarah pernah mencatat sebuah catatan memilukan:
Dikatakan bahwa Mao Tse Tung dulunya adalah seorang anak sekolah minggu, tetapi karena guru sekolah minggunya suatu kali mengatai dia sebagai ‘anjing kuning’, ia lalu mening­galkan gereja, dan menjadi komunis yang anti kristen, dan membawa ratusan juta, mungkin bahkan bermilyar-milyar, orang Cina menjadi komunis yang anti kristen. 

Dalam perikop kita, lidah sendiri digambarkan sebagai satu hal yang nampak mengerikan (padahal kalau mau dilihatkan mana ada mengerikannya lidah yang kita punya ini?)

(1) ayat 6, Lidah digambarkan sebagai api.
Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. 

Ada yang bisa kasih contoh bila lidah disamakan dengan api?
Gosip. Sama seperti api yang menyebar cepat, lidah pun bisa menyebarkan gosip dengan cepat. (iya kalau gosipnya positif, lah kalau yang negatif dan gak bener gmana?)

(2) ayat 7-8, saking berbahayanya lidah itu, hingga Yakobus mengatakan bahwa lidah tidak mampu dijinakkan.
Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.

Untuk bisa memahami ayat 7 dan 8 di atas, rasanya kita perlu membaca lebih lanjut ayat puncak dari Yakobus 3:1-2 ini, yaitu ayat 10b-12
Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

Seakan Yakobus mengajak jemaat pada waktu itu untuk berpikir:
"Bila seekor ular yang paling berbisa sekalipun bisa dijinakkan, mengapa ada seseorang yang begitu sulit untuk menjinakkan lidahnya supaya tidak mematikan?"
"Bila Kristus sudah menggenapi Hukum Taurat dalam Hukum Kasih-Nya itu, mengapa lidah kita ini masih seperti lidah seorang Farisi atau Ahli Taurat yang sering dikritik Yesus pada waktu itu?"

Pada akhirnya, 
dalam suratnya ini Rasul Yakobus dengan jelas mau mengajak kepada umat, termasuk kita pada hari ini untuk terus menerus mengawasi lidah kita, siapa pun kita hari ini: mau kita hari ini sebagai guru kek, pelajar kek, pendeta atau apapun kita hari ini, doa kita hari ini, seperti yang diungkapkan pemazmur: 

Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku! 
(Mazmur 141:3).

Yakobus 3:1-12 | Guru ... Oh Guru ...

Guru ... Oh Guru ...



PEMBUKAAN

Membaca perikop kita hari ini, mata saya langsung tertuju pada kalimat di ayat yang paling pertama dalam Alkitab kita: Yakobus 3:1
Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

Wah kan ini jadi ribet ya, masak Alkitab melarang seseorang menjadi seorang Guru?
Tentu bukan ini maknanya :)

Berbicara tentang guru, saya jadi ingat tentang sebuah lagu lama:
Oemar Bakrie



Lirik: klik disini

Salah satu baris lirik dalam lagu Oemar Bakrie itu disebutkan begini:
"Umar Bakri Umar Bakri Pegawai negeri. Umar Bakri Umar Bakri Empat puluh tahun mengabdi. Jadi guru jujur berbakti memang makan hati."

Saya mau menggaris bawahi kalimat "jadi guru jujur berbakti memang makan hati". Sebab Rasul Yakobus menuliskan pernyataan bahwa "janganlah banyak orang di antara kamu menjadi guru" sebagai peringatan bahwa menjadi seorang guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah, dan tidak semua orang sanggup melakukannya. Menjadi guru yang jujur dan berbakti, atau dalam bahasa perikop kita hari ini: menjadi seorang guru yang menggunakan lidahnya dengan benar dan baik, ini yang sulit (sebab tidak semua guru bisa melakukan hal itu).


PENJELASAN & PENERAPAN BAHAN 

Perikop kita sendiri kemudian dilanjutkan dengan peringatan akan betapa berbahayanya lidah yang ada dalam tubuh kita ini. Ayat 9:
Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; 
dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, 
Dari sumber yang sama, satu lidah kita ini, bisa keluar kata pujian dan sekaligus juga kata umpatan.

Sejarah pernah mencatat sebuah catatan memilukan:
Dikatakan bahwa Mao Tse Tung dulunya adalah seorang anak sekolah minggu, tetapi karena guru sekolah minggunya suatu kali mengatai dia sebagai ‘anjing kuning’, ia lalu mening­galkan gereja, dan menjadi komunis yang anti kristen, dan membawa ratusan juta, mungkin bahkan bermilyar-milyar, orang Cina menjadi komunis yang anti kristen. 

Dalam perikop kita, lidah sendiri digambarkan sebagai satu hal yang nampak mengerikan (padahal kalau mau dilihatkan mana ada mengerikannya lidah yang kita punya ini?)

(1) ayat 6, Lidah digambarkan sebagai api.
Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. 

Ada yang bisa kasih contoh bila lidah disamakan dengan api?
Gosip. Sama seperti api yang menyebar cepat, lidah pun bisa menyebarkan gosip dengan cepat. (iya kalau gosipnya positif, lah kalau yang negatif dan gak bener gmana?)

(2) ayat 7-8, saking berbahayanya lidah itu, hingga Yakobus mengatakan bahwa lidah tidak mampu dijinakkan.
Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.

Untuk bisa memahami ayat 7 dan 8 di atas, rasanya kita perlu membaca lebih lanjut ayat puncak dari Yakobus 3:1-2 ini, yaitu ayat 10b-12
Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

Seakan Yakobus mengajak jemaat pada waktu itu untuk berpikir:
"Bila seekor ular yang paling berbisa sekalipun bisa dijinakkan, mengapa ada seseorang yang begitu sulit untuk menjinakkan lidahnya supaya tidak mematikan?"
"Bila Kristus sudah menggenapi Hukum Taurat dalam Hukum Kasih-Nya itu, mengapa lidah kita ini masih seperti lidah seorang Farisi atau Ahli Taurat yang sering dikritik Yesus pada waktu itu?"

Pada akhirnya, 
dalam suratnya ini Rasul Yakobus dengan jelas mau mengajak kepada umat, termasuk kita pada hari ini untuk terus menerus mengawasi lidah kita, siapa pun kita hari ini: mau kita hari ini sebagai guru kek, pelajar kek, pendeta atau apapun kita hari ini, doa kita hari ini, seperti yang diungkapkan pemazmur: 

Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku! 
(Mazmur 141:3).

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER