Mazmur 17:1-15 | Mereka Menganggap Aku Musuh - Pdt. Gerry Atje
Mereka Menganggap Aku Musuh
Mazmur 17:1-15

Cara terbaik yang kedua untuk menghadapi seseorang yang menganggap kita sebagai musuh adalah dengan menjadikan mereka sebagai seorang sahabat. Cara terbaik yang pertama yang merupakan kesinambungan dari yang ke dua adalah dengan selalu membawa mereka yang menganggap kita sebagai musuh di dalam doa kita. Cara terbaik yang terakhir adalah dengan tetap menunjukkan sikap bersahabat.

Daud dalam salah satu perjalanan sejarah hidupnya pernah menghadapi seorang yang menganggap dirinya sebagai musuh. Saul.  Kalau kita masih ingat cerita tentang bagaiman Saul berusaha untuk mengejar dan membunuh Daud pada waktu itu (1 Samuel 19), ... kejar-kejarannya kayak preman mau nangkap copet.

Mungkinkah Mazmur 17 ini adalah salah satu dari hasil perefleksian Daud ketika dia berada dalam kejaran Saul waktu itu? Mungkin saja.

Lihat saja bagaimana cara Daud menceritakan perkaranya ini di dalam doa kepada Tuhan dalam Mazmur 17:

Ayat 1-8
Daud sedang menceritakan tentang apa yang dirasakan mengenai dirinya sendiri.
" ... Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan ..."
" ... aku telah menjaga diriku ..."
"... langkahku tetap mengikut jejak-Mu ..."

Kemudian, lebih jauh lagi, Daud menceritakan tentang mereka yang menganggap dia sebagai musuh itu:
Ayat 9-12
" ... tidak menunjukkan belas kasihan ..."
" ... membual ..."
" ... ingin menghempaskan ..."

(Menyikapi dua hal itu, seakan-akan Daud sedang berteriak: "Tuhan, salahku itu di mana sih???!!!???")

Yang paling akhir adalah Daud benar-benar mempercayakan sepenuhnya dirinya pada pembelaan yang datang dari Allah. Allah cukup bagi Daud. Ayat 13-15.

Dan Daud melakukan hal itu dalam perjumpaannya dengan seseorang yang menganggap dirinya sebagai musuh, yaitu Saul. Mari kita baca 1 Samuel 24:5-23 .... agak panjang, tapi ini kunci yang dilakukan oleh Daud.

Apa yang terjadi?
Saul mulai luluh hatinya. "Musuh" yang mulai menjadi bersikap bersahabat. Ah ... andai Saul tidak mati di tangan orang Filistin waktu itu, 1 Samuel 31, mungkin kita akan bisa membaca kisah pergantian pemimpin (raja) Israel yang damai dan tentram, seperti pergantian Gubernur DKI yang sekarang ini tampaknya aman, damai dan tenteram itu.

Itu pengalaman Daud: dengan sikapnya, doanya dan imannya, Daud meluluhkan hari mereka yang pada awalnya memusuhi Daud. 

Bagaimana dengan kita sekarang?


Sesungguhnya musuh itu tidak ada. 
Yang ada hanyalah saudara yang berlainan pendapat. 
Mahatma Gandhi 

Mazmur 17:1-15 | Mereka Menganggap Aku Musuh

Mereka Menganggap Aku Musuh
Mazmur 17:1-15

Cara terbaik yang kedua untuk menghadapi seseorang yang menganggap kita sebagai musuh adalah dengan menjadikan mereka sebagai seorang sahabat. Cara terbaik yang pertama yang merupakan kesinambungan dari yang ke dua adalah dengan selalu membawa mereka yang menganggap kita sebagai musuh di dalam doa kita. Cara terbaik yang terakhir adalah dengan tetap menunjukkan sikap bersahabat.

Daud dalam salah satu perjalanan sejarah hidupnya pernah menghadapi seorang yang menganggap dirinya sebagai musuh. Saul.  Kalau kita masih ingat cerita tentang bagaiman Saul berusaha untuk mengejar dan membunuh Daud pada waktu itu (1 Samuel 19), ... kejar-kejarannya kayak preman mau nangkap copet.

Mungkinkah Mazmur 17 ini adalah salah satu dari hasil perefleksian Daud ketika dia berada dalam kejaran Saul waktu itu? Mungkin saja.

Lihat saja bagaimana cara Daud menceritakan perkaranya ini di dalam doa kepada Tuhan dalam Mazmur 17:

Ayat 1-8
Daud sedang menceritakan tentang apa yang dirasakan mengenai dirinya sendiri.
" ... Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan ..."
" ... aku telah menjaga diriku ..."
"... langkahku tetap mengikut jejak-Mu ..."

Kemudian, lebih jauh lagi, Daud menceritakan tentang mereka yang menganggap dia sebagai musuh itu:
Ayat 9-12
" ... tidak menunjukkan belas kasihan ..."
" ... membual ..."
" ... ingin menghempaskan ..."

(Menyikapi dua hal itu, seakan-akan Daud sedang berteriak: "Tuhan, salahku itu di mana sih???!!!???")

Yang paling akhir adalah Daud benar-benar mempercayakan sepenuhnya dirinya pada pembelaan yang datang dari Allah. Allah cukup bagi Daud. Ayat 13-15.

Dan Daud melakukan hal itu dalam perjumpaannya dengan seseorang yang menganggap dirinya sebagai musuh, yaitu Saul. Mari kita baca 1 Samuel 24:5-23 .... agak panjang, tapi ini kunci yang dilakukan oleh Daud.

Apa yang terjadi?
Saul mulai luluh hatinya. "Musuh" yang mulai menjadi bersikap bersahabat. Ah ... andai Saul tidak mati di tangan orang Filistin waktu itu, 1 Samuel 31, mungkin kita akan bisa membaca kisah pergantian pemimpin (raja) Israel yang damai dan tentram, seperti pergantian Gubernur DKI yang sekarang ini tampaknya aman, damai dan tenteram itu.

Itu pengalaman Daud: dengan sikapnya, doanya dan imannya, Daud meluluhkan hari mereka yang pada awalnya memusuhi Daud. 

Bagaimana dengan kita sekarang?


Sesungguhnya musuh itu tidak ada. 
Yang ada hanyalah saudara yang berlainan pendapat. 
Mahatma Gandhi 

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email