Kisah Para Rasul 19:13-20 | Iman Sebatas Bibir - Pdt. Gerry Atje
Iman Sebatas Bibir


Ini kisah nyata tentang seorang ahli filsafat yang mendapatkan tugas untuk melayani pemberitaan firman Tuhan di sebuah kebaktian (saya agak lupa nama filsufnya siapa, tapi ini benar-benar kisah nyata ...   David Hume, nama filsufnya David Hume, diambil dari buku R. Kent Hughes, 1001 Kisah Inspirasi & Kutipan (Penerbit Interaksa, hlm. 344). ). Selesai dia berkhotbah, seorang temannya datang menghampirinya dan bertanya: “hey, bukankah kamu tidak percaya akan siapa itu Yesus dan karya-Nya bagi manusia?” sang filsuf itu menyambut pertanyaan temannya dengan sebuah senyuman dan berkata: “Aku memang tidak percaya, tapi mereka kan percaya”.

Agak aneh memang, tapi hal-hal yang seperti ini masih tetap ada hingga sekarang … seseorang yang mengucapkan sesuatu, meskipun dia tidak percaya akan hal yang dia ucapkan, tapi karena melihat hal-hal yang, bisa jadi menguntungkan dirinya misalnya, maka dia bisa objekin dah tuh -- prinsip dukun kan begitu ya ...

Latar belakang pembacaan Alkitab kita hari ini tentang “Anak-anak Skewa” adalah karya pekerjaan Paulus di Efesus dalam memberitakan Yesus Kristus kepada orang-orang Efesus (Kisah 19:1-12). Masyarakat di kota Efesus sendiri terkenal akan pemahamannya tentang kuasa roh-roh jahat yang sering hadir dalam hidup keseharian mereka. Dan berita Injil menjadi begitu tersebar luas dengan hebat karena Allah berkarya dalam diri Paulus untuk ‘melawan dan mengusir’ kuasa roh-roh jahat itu (19:11-12).

Apakah karena ‘kesuksesan karya dan pelayanan Paulus’ dalam mengusir roh-roh jahat itu, maka tertariklah anak-anak bapak Skewa untuk mencoba melakukan hal yang sama? Padahal …

Padahal … apakah mereka juga mengimani apa yang mereka ucapkan tentang Yesus? Siapa Yesus? … Alkitab mencatat mereka dengan sebutan “tukang jampi keliling” (ayat 13) … Beberapa penafsir Alkitab menyoroti sebutan Skewa sebagai salah seorang imam Yahudi namun tidak menemukan nama Skewa sebagai salah satu imam Yahudi dalam catatan sejarah Israel (McArthur’s New Testament Commentary). Alhasil, para penafsir kemudian mengaitkan peletakan nama Skewa, terlebih title ‘Imam Kepala Yahudi’ sebagai salah satu trik ‘anak-anak Skewa’ untuk menarik “pasar”: calon “pengguna jasa” mereka untuk mengusir roh-roh jahat!

Luar biasa!!! Demi menembus persaingan ‘pasar’ kala itu, anak-anak Skewa rela melakukan apa saja, termasuk mengucapkan sesuatu yang sebenarnya belum menjadi (bila tidak mau mengatakan bukan menjadi) bagian hidup dalam hatinya. “Akhir kisah anak-anak Skewa” dalam perikop kita hari ini pun bisa dikatakan mengagetkan … maksud hati mengusir setan dengan nama Yesus, eh … malah mereka yang ‘dikerjain habis’ sama setan (ayat 15-16).

“Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus”. Lalu Roh jahat itu pun balik berkata: “Yesus aku kenal, Paulus aku tahu, tapi kamu … siapa kamu?” Dan orang yang dirasuk roh jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka

Bila kitab suci berkata iman tanpa perbuatan adalah mati, maka hari ini kita bisa melihat satu hal lain tentang iman: tanpa penghayatan, iman juga mudah dikalahkan! Bibir memang mudah berkata-kata tentang iman, tapi apakah hati akan juga mengaminkan apa yang dikatakan bibir ini tentang iman?

Dalam kehidupan kita sehari-hari, bukankah kita akan dengan mudah menghadapi situasi seperti yang dialami oleh anak-anak Skewa? Di bibir kita berkata-kata dengan hebat tentang iman, “ada jalan keluar di dalam Tuhan, ada kesembuhan di dalam Yesus”, tapi ketika “si jahat” menyerang balik tentang iman kita di bibir, “emang lo percaya sejauh apa tentang kuasa Yesus? Nih g kasih beban lebih berat lagi buat hidup lo! Rasakno!”

Perjanjian Lama punya kesaksian iman seorang yang bernama Ayub. Ayub pun mengalami apa yang kita sebut “dikerjain iblis habis-habisan”. Akan tetapi, Ayub bukan hanya beriman melalui mulutnya, melainkan juga pada akhirnya memperjuangkan agar iman itu memiliki akar kuat di dalam hatinya!

Ayub tidak hanya ingin “ikut arus pasar” pada waktu itu saja (yang bilang kalau sakit berarti ada dosa, makanya harus tobat), melainkan tetap percaya dalam hatinya bahwa Allah akan memulihkannya & membenarkannya.

Bagaimana dengan kita hari ini?
Apakah iman di bibir kita sejalan dengan apa yang ada dalam hati kita?

Kisah Para Rasul 19:13-20 | Iman Sebatas Bibir

Iman Sebatas Bibir


Ini kisah nyata tentang seorang ahli filsafat yang mendapatkan tugas untuk melayani pemberitaan firman Tuhan di sebuah kebaktian (saya agak lupa nama filsufnya siapa, tapi ini benar-benar kisah nyata ...   David Hume, nama filsufnya David Hume, diambil dari buku R. Kent Hughes, 1001 Kisah Inspirasi & Kutipan (Penerbit Interaksa, hlm. 344). ). Selesai dia berkhotbah, seorang temannya datang menghampirinya dan bertanya: “hey, bukankah kamu tidak percaya akan siapa itu Yesus dan karya-Nya bagi manusia?” sang filsuf itu menyambut pertanyaan temannya dengan sebuah senyuman dan berkata: “Aku memang tidak percaya, tapi mereka kan percaya”.

Agak aneh memang, tapi hal-hal yang seperti ini masih tetap ada hingga sekarang … seseorang yang mengucapkan sesuatu, meskipun dia tidak percaya akan hal yang dia ucapkan, tapi karena melihat hal-hal yang, bisa jadi menguntungkan dirinya misalnya, maka dia bisa objekin dah tuh -- prinsip dukun kan begitu ya ...

Latar belakang pembacaan Alkitab kita hari ini tentang “Anak-anak Skewa” adalah karya pekerjaan Paulus di Efesus dalam memberitakan Yesus Kristus kepada orang-orang Efesus (Kisah 19:1-12). Masyarakat di kota Efesus sendiri terkenal akan pemahamannya tentang kuasa roh-roh jahat yang sering hadir dalam hidup keseharian mereka. Dan berita Injil menjadi begitu tersebar luas dengan hebat karena Allah berkarya dalam diri Paulus untuk ‘melawan dan mengusir’ kuasa roh-roh jahat itu (19:11-12).

Apakah karena ‘kesuksesan karya dan pelayanan Paulus’ dalam mengusir roh-roh jahat itu, maka tertariklah anak-anak bapak Skewa untuk mencoba melakukan hal yang sama? Padahal …

Padahal … apakah mereka juga mengimani apa yang mereka ucapkan tentang Yesus? Siapa Yesus? … Alkitab mencatat mereka dengan sebutan “tukang jampi keliling” (ayat 13) … Beberapa penafsir Alkitab menyoroti sebutan Skewa sebagai salah seorang imam Yahudi namun tidak menemukan nama Skewa sebagai salah satu imam Yahudi dalam catatan sejarah Israel (McArthur’s New Testament Commentary). Alhasil, para penafsir kemudian mengaitkan peletakan nama Skewa, terlebih title ‘Imam Kepala Yahudi’ sebagai salah satu trik ‘anak-anak Skewa’ untuk menarik “pasar”: calon “pengguna jasa” mereka untuk mengusir roh-roh jahat!

Luar biasa!!! Demi menembus persaingan ‘pasar’ kala itu, anak-anak Skewa rela melakukan apa saja, termasuk mengucapkan sesuatu yang sebenarnya belum menjadi (bila tidak mau mengatakan bukan menjadi) bagian hidup dalam hatinya. “Akhir kisah anak-anak Skewa” dalam perikop kita hari ini pun bisa dikatakan mengagetkan … maksud hati mengusir setan dengan nama Yesus, eh … malah mereka yang ‘dikerjain habis’ sama setan (ayat 15-16).

“Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus”. Lalu Roh jahat itu pun balik berkata: “Yesus aku kenal, Paulus aku tahu, tapi kamu … siapa kamu?” Dan orang yang dirasuk roh jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka

Bila kitab suci berkata iman tanpa perbuatan adalah mati, maka hari ini kita bisa melihat satu hal lain tentang iman: tanpa penghayatan, iman juga mudah dikalahkan! Bibir memang mudah berkata-kata tentang iman, tapi apakah hati akan juga mengaminkan apa yang dikatakan bibir ini tentang iman?

Dalam kehidupan kita sehari-hari, bukankah kita akan dengan mudah menghadapi situasi seperti yang dialami oleh anak-anak Skewa? Di bibir kita berkata-kata dengan hebat tentang iman, “ada jalan keluar di dalam Tuhan, ada kesembuhan di dalam Yesus”, tapi ketika “si jahat” menyerang balik tentang iman kita di bibir, “emang lo percaya sejauh apa tentang kuasa Yesus? Nih g kasih beban lebih berat lagi buat hidup lo! Rasakno!”

Perjanjian Lama punya kesaksian iman seorang yang bernama Ayub. Ayub pun mengalami apa yang kita sebut “dikerjain iblis habis-habisan”. Akan tetapi, Ayub bukan hanya beriman melalui mulutnya, melainkan juga pada akhirnya memperjuangkan agar iman itu memiliki akar kuat di dalam hatinya!

Ayub tidak hanya ingin “ikut arus pasar” pada waktu itu saja (yang bilang kalau sakit berarti ada dosa, makanya harus tobat), melainkan tetap percaya dalam hatinya bahwa Allah akan memulihkannya & membenarkannya.

Bagaimana dengan kita hari ini?
Apakah iman di bibir kita sejalan dengan apa yang ada dalam hati kita?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email