Yakobus 1:19-27 | Mendengar? Melakukan? - Pdt. Gerry Atje
mendengar lalu melakukan
Pendengar atau pelaku firman
1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
1:20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.
1:23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.
1:24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.
1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.
1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.
Mengawali renungan kita hari ini, ada yang pengen saya tanyain nih pak, bu ... Selama ikut kebaktian-kebaktian, pernah dengar khotbah yang paling cepat itu berapa menit? 15 menit? 10 menit? Atau ada yang pernah dengar khotbah 5 menit?

Saya pernah baca satu khotbah yang cepat sekali, gak ada satu menit kali tuh khotbah. Saya menemukannya disebuah buku ilustrasi dan sepertinya bukan mustahil ini dituliskan berdasarkan kisah nyata. Jadi ceritanya ada seorang pendeta yang membaca renungan di hari minggu dengan tema yang sama dengan tema kita hari ini, "Mendengar, lalu Melakukan", setelah selesai membaca Alkitab, pendeta itu memulai khotbahnya:

"Apakah masih ingat renungan-renungan yang pernah kita dengar di hari yang lalu? Sudahkah kita melakukan apa yang dikatakan firman Tuhan itu dalam hidup kita? Mari kita pulang dan melanjutkan perjuangan kita untuk menjadi pelaku firman Tuhan. Amin."

Kurang dari satu menit! Hanya 3 kalimat dan amin, selesai.
Kebayang gak sih kalau kita duduk jadi anggota jemaat yang mendengarkan khotbahnya dikebaktian itu? Kaget, "Lah, udah? Gitu aja khotbahnya?" Syok!

Seperti yang sudah saya bilang tadi, hari ini pun kita membahas tema itu, "mendengar, melakukan" ... dan kita bisa mengulang apa yang sudah dilakukan oleh pendeta dalam cerita tadi, lalu kita pulang karena khotbahnya secepat kilat kurang dari 1 menit.

Tapi ada sesuatu yang mau saya ajak renungkan hari ini ... sedikit saja ...


Sewaktu saya mempersiapkan renungan ini, pada awalnya saya berpikir bahwa "mendengar", itu jauh lebih mudah ketimbang "melakukan". Setuju ya pak bu, kita akan cenderung berpikir bahwa mendengar itu jauh lebih mudah ketimbang melakukan.

Yakobus menulis surat ini kepada jemaat yang dikatakannya dalam ayat 22: "bukan hanya pendengar saja". Apa artinya? Jemaat di sana sudah menunjukkan semangatnya untuk mendengar firman dan oleh Rasul Yakobus, jemaat di sana di ajak untuk menaikkan tingkatan mereka lebih tinggi lagi: mendengar sudah, tapi jangan berhenti di situ saja, lakukanlah apa yang telah kita dengar."

Sekarang mari kita lihat kenyataan di masa kini. Apakah sama? Beda. Kenapa Beda? Karena di masa kini, bahkan untuk perkara mendengar firman saja, banyak orang di masa kini yang tidak sesemangat itu lagi menunjukkan diri mereka mau mendengarkan firman.
  • Mending mana, denger pendeta khotbah atau denger motivator-motivator di tv-tv kayak Mario Teguh? Biar Harga Tiket Masuk nya gede pun ada banyak yang mau tuh mereka datang, itu bayar ... 
  • Mending nonton konser Lady Gaga, yang konsernya batal lalu semua penggemar di Indonesia kecewa berat semua, bandingkan saja bila di Warta Jemaat ada pengumuman: "Kebaktian KRT dan Kategorial minggu depan ditiadakan" ... kita kecewa gak? "Kok ditiadakan sih, saya kan pengennya kebaktian". 
  • Mending baca novel yang tebel-tebelnya sama kayak Alkitab dibanding baca Alkitab sendiri. Hayo, yang suka baca novel yang tebel-tebel ... tapi kalau liat Alkitab yang setebel itu malah jadi males bacanya ... Jadi tantangan di masa kini bahkan sudah dimulai dari kerinduan untuk mendengar. Bagaimana kita bisa melakukan kalau mendengar saja jarang.

Dan tantangan ini hanya bisa dijawab oleh bapak ibu yang sudah menunjukkan semangatnya, kerinduannya untuk mendengar firman Tuhan (makanya meskipun ini minggu ke empat, minggu pas lagi bokek-bokeknya, bapak ibu tetap setia datang untuk beribadah, hebat).

Mari kita tunjukkan bahwa ketika kita sudah mendengar firman, maka ada sesuatu yang berbeda dari kehidupan kita yang sebelumnya.

Contoh dalam perikop kita:
Cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, lambat untuk marah (ayat 19)

Kita sudah mendengar firman, mari kita lakukan, mari kita tunjukkan bahwa apa yang dikatakan firman Tuhan itu adalah ya dan amin. Firman Tuhan telah mengubah hidup saya menjadi lebih baik.

Yakobus 1:19-27 | Mendengar? Melakukan?

mendengar lalu melakukan
Pendengar atau pelaku firman
1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
1:20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.
1:23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.
1:24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.
1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.
1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.
Mengawali renungan kita hari ini, ada yang pengen saya tanyain nih pak, bu ... Selama ikut kebaktian-kebaktian, pernah dengar khotbah yang paling cepat itu berapa menit? 15 menit? 10 menit? Atau ada yang pernah dengar khotbah 5 menit?

Saya pernah baca satu khotbah yang cepat sekali, gak ada satu menit kali tuh khotbah. Saya menemukannya disebuah buku ilustrasi dan sepertinya bukan mustahil ini dituliskan berdasarkan kisah nyata. Jadi ceritanya ada seorang pendeta yang membaca renungan di hari minggu dengan tema yang sama dengan tema kita hari ini, "Mendengar, lalu Melakukan", setelah selesai membaca Alkitab, pendeta itu memulai khotbahnya:

"Apakah masih ingat renungan-renungan yang pernah kita dengar di hari yang lalu? Sudahkah kita melakukan apa yang dikatakan firman Tuhan itu dalam hidup kita? Mari kita pulang dan melanjutkan perjuangan kita untuk menjadi pelaku firman Tuhan. Amin."

Kurang dari satu menit! Hanya 3 kalimat dan amin, selesai.
Kebayang gak sih kalau kita duduk jadi anggota jemaat yang mendengarkan khotbahnya dikebaktian itu? Kaget, "Lah, udah? Gitu aja khotbahnya?" Syok!

Seperti yang sudah saya bilang tadi, hari ini pun kita membahas tema itu, "mendengar, melakukan" ... dan kita bisa mengulang apa yang sudah dilakukan oleh pendeta dalam cerita tadi, lalu kita pulang karena khotbahnya secepat kilat kurang dari 1 menit.

Tapi ada sesuatu yang mau saya ajak renungkan hari ini ... sedikit saja ...


Sewaktu saya mempersiapkan renungan ini, pada awalnya saya berpikir bahwa "mendengar", itu jauh lebih mudah ketimbang "melakukan". Setuju ya pak bu, kita akan cenderung berpikir bahwa mendengar itu jauh lebih mudah ketimbang melakukan.

Yakobus menulis surat ini kepada jemaat yang dikatakannya dalam ayat 22: "bukan hanya pendengar saja". Apa artinya? Jemaat di sana sudah menunjukkan semangatnya untuk mendengar firman dan oleh Rasul Yakobus, jemaat di sana di ajak untuk menaikkan tingkatan mereka lebih tinggi lagi: mendengar sudah, tapi jangan berhenti di situ saja, lakukanlah apa yang telah kita dengar."

Sekarang mari kita lihat kenyataan di masa kini. Apakah sama? Beda. Kenapa Beda? Karena di masa kini, bahkan untuk perkara mendengar firman saja, banyak orang di masa kini yang tidak sesemangat itu lagi menunjukkan diri mereka mau mendengarkan firman.
  • Mending mana, denger pendeta khotbah atau denger motivator-motivator di tv-tv kayak Mario Teguh? Biar Harga Tiket Masuk nya gede pun ada banyak yang mau tuh mereka datang, itu bayar ... 
  • Mending nonton konser Lady Gaga, yang konsernya batal lalu semua penggemar di Indonesia kecewa berat semua, bandingkan saja bila di Warta Jemaat ada pengumuman: "Kebaktian KRT dan Kategorial minggu depan ditiadakan" ... kita kecewa gak? "Kok ditiadakan sih, saya kan pengennya kebaktian". 
  • Mending baca novel yang tebel-tebelnya sama kayak Alkitab dibanding baca Alkitab sendiri. Hayo, yang suka baca novel yang tebel-tebel ... tapi kalau liat Alkitab yang setebel itu malah jadi males bacanya ... Jadi tantangan di masa kini bahkan sudah dimulai dari kerinduan untuk mendengar. Bagaimana kita bisa melakukan kalau mendengar saja jarang.

Dan tantangan ini hanya bisa dijawab oleh bapak ibu yang sudah menunjukkan semangatnya, kerinduannya untuk mendengar firman Tuhan (makanya meskipun ini minggu ke empat, minggu pas lagi bokek-bokeknya, bapak ibu tetap setia datang untuk beribadah, hebat).

Mari kita tunjukkan bahwa ketika kita sudah mendengar firman, maka ada sesuatu yang berbeda dari kehidupan kita yang sebelumnya.

Contoh dalam perikop kita:
Cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, lambat untuk marah (ayat 19)

Kita sudah mendengar firman, mari kita lakukan, mari kita tunjukkan bahwa apa yang dikatakan firman Tuhan itu adalah ya dan amin. Firman Tuhan telah mengubah hidup saya menjadi lebih baik.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL