Amsal 31:1-9 | Orang Tua ... Anak - Pdt. Gerry Atje
Orang Tua .... Anak
Amsal 31:1-9

Hari ini kita ingin merenungkan sebuah tema, yaitu tentang seputar hubungan anak dengan orang tua. Wah ini sih tema abadi. Ada mantan pacar, ada mantan teman, atau bahkan di luar sana ada yang bisa bilang mantan suami atau mantan istri ... Tetapi siapapun dia orangnya, yang namanya orang tua itu tak akan ada yang bisa berkata: "itu mantan anak saya." (mana ada istilah "mantan anak" atau "mantan orang tua").

Namun ada satu hal yang tak mungkin kita sangkal bersama adalah bahwa membina hubungan yang harmonis di antara orang tua dengan anak atau sebaliknya .... mudah atau susah? Tak semudah yang kita bayangkan.

Apalagi anak zaman sekarang, sudah makin canggih mereka kan. Canggih ngomongnya, canggih bikin dalih untuk melawan. Ada cerita tentang seorang ayah yang berbicara ke anaknya yang duduk di kelas 3 SMA itu begini:

Ayah: "Nak, ya mbok kamu itu segera ikutan katekisasi. Sudah mau lulus SMA kamu itu, nanti kalau sudah kuliah ... kamu sendiri yang nanti kesulitan cari waktunya."
Anak: "Beliin motor dulu atuh pah, baru aku mau katekisasi"
Ayah: "Ikut katek, potong rambut kamu tuh sekalian ... gondrong amat, baru nanti kita cari motor."
Beberapa minggu kemudian ...
Anak: "Papa, mana motornya ... aku udah ikut katekisasi nih."
Ayah: "kamu udah katek? Bagus. Tapi kenapa tuh rambut masih gondrong??"
Anak: "Iya pah, habis kalau aku lihat Tuhan Yesus juga gondrong tuh pah, makanya aku juga kayaknya pengen tetep gondrong."
Ayah: "Eh, nyama-nyamain sama Tuhan Yesus lagi. Yesus itu gondrong dan gak pernah bawa motor dan naik motor waktu pergi ke mana-mana waktu itu. Kamu mau nyama-nyamain sama Tuhan Yesus? Gak usah beli motor, jalan kaki aja ya."

Kan jadinya gak enak ya ..
Akan jauh lebih enak kalau ceritanya kan begini:

Ayah: "Kamu ikut katekisasi ya."
Anak: "Oke papa"
Ayah: "Jangan lupa cukur tuh rambut dah gondrong"
Anak: "Siap papa"

Nah, hari ini mau ada games sedikit nih ...

Anak .... Orang Tua
Orang Tua .... Anak 

Isilah titik-titik itu supaya bisa jadi satu kalimat. 
Contoh:
Sayang, VS, Tidak sama dengan, Sama dengan, Sahabat, Bos, dll,

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kira-kira ini adalah gambaran hubungan antara anak dan orang tua yang seperti apa ya?

Saya membayangkan bahwa ketika Lemuel kali pertamanya mendengar nasihat itu dari mamanya (sewaktu Lemuel masih muda dulu), tanggapannya mungkin gak akan langsung positif:

- Jangan minum minuman keras. (Lemuel: Apaan sih sok ngatur-ngatur segala)
- Jangan deket-deket dengan perempuan yang gak bener (Lemuel: Gak usah ikut campur)

Amsal 31 akan menjadi masuk akal kalau kita membayangkan bahwa Lemuel menulis kesaksiaannya itu di masa-masa tuanya, ketika dia sudah melewati semuanya itu dan Lemuel berkata: "Ah, apa yang mama bilang memang benar ya".

Pokok Diskusi:

1. Pernah ada cerita yang mengesankan waktu dulu ketika kita masih kanak-kanak dalam hubungan kita dengan orang tua kita?
2. Apa yang perlu kita lakukan supaya hubungan kita dengan anak / orang tua kita itu bisa tetap harmonis?

Amsal 31:1-9 | Orang Tua ... Anak

Orang Tua .... Anak
Amsal 31:1-9

Hari ini kita ingin merenungkan sebuah tema, yaitu tentang seputar hubungan anak dengan orang tua. Wah ini sih tema abadi. Ada mantan pacar, ada mantan teman, atau bahkan di luar sana ada yang bisa bilang mantan suami atau mantan istri ... Tetapi siapapun dia orangnya, yang namanya orang tua itu tak akan ada yang bisa berkata: "itu mantan anak saya." (mana ada istilah "mantan anak" atau "mantan orang tua").

Namun ada satu hal yang tak mungkin kita sangkal bersama adalah bahwa membina hubungan yang harmonis di antara orang tua dengan anak atau sebaliknya .... mudah atau susah? Tak semudah yang kita bayangkan.

Apalagi anak zaman sekarang, sudah makin canggih mereka kan. Canggih ngomongnya, canggih bikin dalih untuk melawan. Ada cerita tentang seorang ayah yang berbicara ke anaknya yang duduk di kelas 3 SMA itu begini:

Ayah: "Nak, ya mbok kamu itu segera ikutan katekisasi. Sudah mau lulus SMA kamu itu, nanti kalau sudah kuliah ... kamu sendiri yang nanti kesulitan cari waktunya."
Anak: "Beliin motor dulu atuh pah, baru aku mau katekisasi"
Ayah: "Ikut katek, potong rambut kamu tuh sekalian ... gondrong amat, baru nanti kita cari motor."
Beberapa minggu kemudian ...
Anak: "Papa, mana motornya ... aku udah ikut katekisasi nih."
Ayah: "kamu udah katek? Bagus. Tapi kenapa tuh rambut masih gondrong??"
Anak: "Iya pah, habis kalau aku lihat Tuhan Yesus juga gondrong tuh pah, makanya aku juga kayaknya pengen tetep gondrong."
Ayah: "Eh, nyama-nyamain sama Tuhan Yesus lagi. Yesus itu gondrong dan gak pernah bawa motor dan naik motor waktu pergi ke mana-mana waktu itu. Kamu mau nyama-nyamain sama Tuhan Yesus? Gak usah beli motor, jalan kaki aja ya."

Kan jadinya gak enak ya ..
Akan jauh lebih enak kalau ceritanya kan begini:

Ayah: "Kamu ikut katekisasi ya."
Anak: "Oke papa"
Ayah: "Jangan lupa cukur tuh rambut dah gondrong"
Anak: "Siap papa"

Nah, hari ini mau ada games sedikit nih ...

Anak .... Orang Tua
Orang Tua .... Anak 

Isilah titik-titik itu supaya bisa jadi satu kalimat. 
Contoh:
Sayang, VS, Tidak sama dengan, Sama dengan, Sahabat, Bos, dll,

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kira-kira ini adalah gambaran hubungan antara anak dan orang tua yang seperti apa ya?

Saya membayangkan bahwa ketika Lemuel kali pertamanya mendengar nasihat itu dari mamanya (sewaktu Lemuel masih muda dulu), tanggapannya mungkin gak akan langsung positif:

- Jangan minum minuman keras. (Lemuel: Apaan sih sok ngatur-ngatur segala)
- Jangan deket-deket dengan perempuan yang gak bener (Lemuel: Gak usah ikut campur)

Amsal 31 akan menjadi masuk akal kalau kita membayangkan bahwa Lemuel menulis kesaksiaannya itu di masa-masa tuanya, ketika dia sudah melewati semuanya itu dan Lemuel berkata: "Ah, apa yang mama bilang memang benar ya".

Pokok Diskusi:

1. Pernah ada cerita yang mengesankan waktu dulu ketika kita masih kanak-kanak dalam hubungan kita dengan orang tua kita?
2. Apa yang perlu kita lakukan supaya hubungan kita dengan anak / orang tua kita itu bisa tetap harmonis?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL