Kisah Rasul 2:1-12 & Filipi 4:2-9 | Melampaui Akal - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Melampaui Akal
Kisah Rasul 2:1-12 & Filipi 4:2-9

Saya pernah mendengar satu cerita tentang seorang nenek di Inggris yang terkenal akan kesalehan hidupnya sebagai orang Kristen. Ternyata .... ada juga beberapa orang tetangganya yang mungkin ngiri atau entah jengkel karena nenek ini terlalu saleh hidupnya ...

Suatu hari, Ratu Elisabeth mendenganr kesalehan nenek itu dan ingin berkunjung datang ke rumahnya. Dan tibalah hari kunjungan besar itu ... semua orang berkumpul di rumah nenek itu dan melihat Ratu Elisabeth yang datang ke sana; Tak terkecuali mereka yang ngiri dan jengkel itu, kata mereka: ”Nah, ini dia kesempatan besar buat kita ngeliat aslinya nenek bagaimana!”

Setelah kunjungan Ratu usai, mereka datang ke nenek dan bertanya hal ini: ”Nek, siapa sih menurut nenek, tamu paling agung, paling terhormat yang pernah datang ke sini .. ke rumahmu?” Jawab nenek, ”Tamu paling agung? Oh ya jelas Ratu Elisabeth dong tamu yang paling agung dan paling terhormat yang pernah datang ke rumahku di sini.”

Mendengar jawaban si nenek, mereka yang bertanya pada senyum-senyum nyindir, ”Ah nenek ini ... tiap hari bicara rohani ... tiap hari bicara tentang Yesus, tapi kok pas ditanya siapa tamu paling agung dan terhormat jawabnya duniawi juga sih? Ke mana tuh Yesus mu? Bukannya Yesus adalah tamu paling agung dan paling terhormat yang pernah datang ke rumahmu ini? Kok malah nyebut Ratu Elisabeth …

Mendengar perkataan itu nenek pun terdiam … tak lama kemudian, nenek pun berkata begini: “ Yesus? Oh Yesus bukan tamu di sini … Yesus tinggal di sini. Yesus selalu ada bersamaku di rumah ini, di dalam kehidupanku setiap hari.”

Bapak ibu saudara, selamat hari Pentakosta!

Hari Pentakosta dijanjikan oleh Dia, Tuhan yang datang ke dunia dalam rupa seorang manusia, supaya apa? Supaya kita ... atau kalau mau dilihat dalam kisah Alkitab yang kita baca hari ini ... supaya mereka, orang-orang yang menjadi saksi mata kehadiran Tuhan di dunia itu ... TIDAK BERPIKIR bahwa Tuhan itu hanya sekedar ”bertamu” saja – datang ke dunia ini – lalu pergi meninggalkan mereka begitu saja!

Dalam satu –isme (pemahaman, kepercayaan) ... ada yang dikenal dengan istilah Deisme. Orang-orang yang menganut paham Deisme ini mempercayai bahwa ada Tuhan yang menciptakan dunia, akan tetapi setelah Tuhan selesai berkarya … Tuhan menghilang. Dia pergi meninggalkan ciptaan-Nya sendirian. Tuhan tak lagi peduli dengan buah karya-Nya. Kata mereka, ibarat pembuat jam ... habis jam selesai di buat, bisa berdetak detik sendiri ... Pencipta jam itu kemudian lepas tangan: ”hanya datang bertamu untuk membuat jam, setelah selesai jam di buat, Tuhan pergi begitu saja tanpa jejak”.

Nah ... Tuhan yang kita kenal dalam Kritus Yesus bukanlah yang seperti itu. Dia tidak hanya sekedar hadir dan berkarya dalam dunia sebagai “tamu”, melainkan yang karya-Nya terus berlanjut di dalam pekerjaan Roh-Nya yang Kudus. Itulah sebabnya hari ini kita memperingati hari Pentakosta (bukan Pantekosta ya ... tetapi Pentakosta) ... Hari ke Limapuluh. Hari di mana Dia menepati janji-Nya bahwa Dia akan selalu hadir dan menyertai kehidupan kita. Dia tidak hanya sekedar datang untuk bertamu, tetapi Dia tetap tinggal beserta kita.

Persoalannya adalah … apakah memang benar ada perbedaan yang sangat mencolok antara orang-orang yang memahami bahwa Tuhan itu hadir dan berkarya terus menerus dalam hidupnya … dengan mereka yang mungkin hari ini berpikir: “Ya … Tuhan udah gak peduli lagi dengan hidup saja … Sebab kalau Tuhan peduli dengan hidup saya, saya gak akan mungkin kehilangan pekerjaan saya kemarin!” misalnya.

Apakah memang benar ada perbedaan yang mencolok antara hidup orang percaya dengan mereka yang belum mengenal Kristus Tuhan? Seharusnya, idealnya ... Ada perbedaan.

”Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata:
”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu adalah orang Galilea? 
Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri ...”

”Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal,
akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”

Ada seorang yang pernah menulis tentang kehidupan orang
Kristen itu seperti ini: ”Orang Kristen adalah orang yang aneh. Ia merasakan kasih tertinggi kepada Dia yg tak pernah dilihatnya, berbicara akrab setiap hari kepada Seseorang yang tak dapat dilihatnya; berharap pergi ke sorga atas kebajikan Orang Lain (maksud: Kasih Yesus); mengosongkan dirinya agar menjadi penuh; mengakui bahwa ia salah supaya ia dapat dinyatakan benar; turun untuk naik; paling kuat ketika ia paling lemah; paling kayak ketika ia paling miskin dan paling bahagia ketika ia merasa paling sedih. Ia mati supaya ia dapat hidup; meninggalkan untuk memiliki; memberikan supaya ia dapat menyimpan; melihat yang tidak kelihatan; mendengar yang tidak terdengar; dan mengetahui apa yang melampaui pengetahuan”.

Bila dipikir-pikir ada benarnya juga bila si penulis kalimat yang panjang tadi itu mengatakan bahwa ”Orang Kristen itu adalah Orang Yang Aneh”. Lihat saja bagaimana orang Kristen bisa mengampuni walaupun nyatanya orang itu sudah berbuat jahat kepadanya; lihat saja bagaimana kidung pujian dan sukacita masih tetap bisa dirasakan oleh seorang Kristen ketika seharusnya mereka berduka karena ditinggalkan oleh seorang yang mereka kasihi ketika peristiwa kematian; dan masih banyak contoh lainnya tentang keanehan seorang Kristen itu.

Dalam pembacaan Alkitab kita, kita menemukan sebuah alasan yang menjadikan semua keanehan” itu menjadi ”bisa terjadi”, Rasul Paulus mengatakan tentang: ”DAMAI SEJAHTERA ALLAH, YANG MELAMPAUI SEGALA AKAL ... ”. Melampaui akal. Bagaimana kita memahami kalimat singkat itu? Semua manusia tentu memiliki akal – pikiran. Akan tetapi kalimat ”melampaui akal”?

Inilah Kebenaran Firman Tuhan, bahwa faktanya AKAL kita sangat terbatas. Itulah sebabnya orang-orang ketika melihat jemaat Kristen yang menerima kuasa Roh Kudus dan mampu berbicara bahasa-bahasa lain dalam Kisah Para Rasul 2, berkata: ”Bagaimana mungkin???” ... Dengan kata lain mereka hendak mengatakan bahwa ”Itu tidak masuk akal dan tak mungkin bisa terjadi!” (padahal itu sudah terjadi di depan mata mereka).

Kalimat ”Melampaui Akal” adalah tandingan dan sekaligus jawaban dari kalimat ”Bagaimana Mungkin?”

Dalam kehidupan keseharian kita, entah itu di keluarga, jemaat bahkan dalam kehidupan bermasyarakat sekalipun ... rasanya kita akan sering berjumpa dengan kalimat: ”Bagaimana mungkin?” MILIKILAH DAMAI SEJAHTERA YANG MELAMPAUI SEGALA AKAL untuk menemukan karya Tuhan yang bisa mengubah sebuah kemustahilan menjadi kemungkinan yang bisa dihadirkan dalam kehidupan kita.

Kisah Rasul 2:1-12 & Filipi 4:2-9 | Melampaui Akal

Melampaui Akal
Kisah Rasul 2:1-12 & Filipi 4:2-9

Saya pernah mendengar satu cerita tentang seorang nenek di Inggris yang terkenal akan kesalehan hidupnya sebagai orang Kristen. Ternyata .... ada juga beberapa orang tetangganya yang mungkin ngiri atau entah jengkel karena nenek ini terlalu saleh hidupnya ...

Suatu hari, Ratu Elisabeth mendenganr kesalehan nenek itu dan ingin berkunjung datang ke rumahnya. Dan tibalah hari kunjungan besar itu ... semua orang berkumpul di rumah nenek itu dan melihat Ratu Elisabeth yang datang ke sana; Tak terkecuali mereka yang ngiri dan jengkel itu, kata mereka: ”Nah, ini dia kesempatan besar buat kita ngeliat aslinya nenek bagaimana!”

Setelah kunjungan Ratu usai, mereka datang ke nenek dan bertanya hal ini: ”Nek, siapa sih menurut nenek, tamu paling agung, paling terhormat yang pernah datang ke sini .. ke rumahmu?” Jawab nenek, ”Tamu paling agung? Oh ya jelas Ratu Elisabeth dong tamu yang paling agung dan paling terhormat yang pernah datang ke rumahku di sini.”

Mendengar jawaban si nenek, mereka yang bertanya pada senyum-senyum nyindir, ”Ah nenek ini ... tiap hari bicara rohani ... tiap hari bicara tentang Yesus, tapi kok pas ditanya siapa tamu paling agung dan terhormat jawabnya duniawi juga sih? Ke mana tuh Yesus mu? Bukannya Yesus adalah tamu paling agung dan paling terhormat yang pernah datang ke rumahmu ini? Kok malah nyebut Ratu Elisabeth …

Mendengar perkataan itu nenek pun terdiam … tak lama kemudian, nenek pun berkata begini: “ Yesus? Oh Yesus bukan tamu di sini … Yesus tinggal di sini. Yesus selalu ada bersamaku di rumah ini, di dalam kehidupanku setiap hari.”

Bapak ibu saudara, selamat hari Pentakosta!

Hari Pentakosta dijanjikan oleh Dia, Tuhan yang datang ke dunia dalam rupa seorang manusia, supaya apa? Supaya kita ... atau kalau mau dilihat dalam kisah Alkitab yang kita baca hari ini ... supaya mereka, orang-orang yang menjadi saksi mata kehadiran Tuhan di dunia itu ... TIDAK BERPIKIR bahwa Tuhan itu hanya sekedar ”bertamu” saja – datang ke dunia ini – lalu pergi meninggalkan mereka begitu saja!

Dalam satu –isme (pemahaman, kepercayaan) ... ada yang dikenal dengan istilah Deisme. Orang-orang yang menganut paham Deisme ini mempercayai bahwa ada Tuhan yang menciptakan dunia, akan tetapi setelah Tuhan selesai berkarya … Tuhan menghilang. Dia pergi meninggalkan ciptaan-Nya sendirian. Tuhan tak lagi peduli dengan buah karya-Nya. Kata mereka, ibarat pembuat jam ... habis jam selesai di buat, bisa berdetak detik sendiri ... Pencipta jam itu kemudian lepas tangan: ”hanya datang bertamu untuk membuat jam, setelah selesai jam di buat, Tuhan pergi begitu saja tanpa jejak”.

Nah ... Tuhan yang kita kenal dalam Kritus Yesus bukanlah yang seperti itu. Dia tidak hanya sekedar hadir dan berkarya dalam dunia sebagai “tamu”, melainkan yang karya-Nya terus berlanjut di dalam pekerjaan Roh-Nya yang Kudus. Itulah sebabnya hari ini kita memperingati hari Pentakosta (bukan Pantekosta ya ... tetapi Pentakosta) ... Hari ke Limapuluh. Hari di mana Dia menepati janji-Nya bahwa Dia akan selalu hadir dan menyertai kehidupan kita. Dia tidak hanya sekedar datang untuk bertamu, tetapi Dia tetap tinggal beserta kita.

Persoalannya adalah … apakah memang benar ada perbedaan yang sangat mencolok antara orang-orang yang memahami bahwa Tuhan itu hadir dan berkarya terus menerus dalam hidupnya … dengan mereka yang mungkin hari ini berpikir: “Ya … Tuhan udah gak peduli lagi dengan hidup saja … Sebab kalau Tuhan peduli dengan hidup saya, saya gak akan mungkin kehilangan pekerjaan saya kemarin!” misalnya.

Apakah memang benar ada perbedaan yang mencolok antara hidup orang percaya dengan mereka yang belum mengenal Kristus Tuhan? Seharusnya, idealnya ... Ada perbedaan.

”Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata:
”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu adalah orang Galilea? 
Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri ...”

”Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal,
akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”

Ada seorang yang pernah menulis tentang kehidupan orang
Kristen itu seperti ini: ”Orang Kristen adalah orang yang aneh. Ia merasakan kasih tertinggi kepada Dia yg tak pernah dilihatnya, berbicara akrab setiap hari kepada Seseorang yang tak dapat dilihatnya; berharap pergi ke sorga atas kebajikan Orang Lain (maksud: Kasih Yesus); mengosongkan dirinya agar menjadi penuh; mengakui bahwa ia salah supaya ia dapat dinyatakan benar; turun untuk naik; paling kuat ketika ia paling lemah; paling kayak ketika ia paling miskin dan paling bahagia ketika ia merasa paling sedih. Ia mati supaya ia dapat hidup; meninggalkan untuk memiliki; memberikan supaya ia dapat menyimpan; melihat yang tidak kelihatan; mendengar yang tidak terdengar; dan mengetahui apa yang melampaui pengetahuan”.

Bila dipikir-pikir ada benarnya juga bila si penulis kalimat yang panjang tadi itu mengatakan bahwa ”Orang Kristen itu adalah Orang Yang Aneh”. Lihat saja bagaimana orang Kristen bisa mengampuni walaupun nyatanya orang itu sudah berbuat jahat kepadanya; lihat saja bagaimana kidung pujian dan sukacita masih tetap bisa dirasakan oleh seorang Kristen ketika seharusnya mereka berduka karena ditinggalkan oleh seorang yang mereka kasihi ketika peristiwa kematian; dan masih banyak contoh lainnya tentang keanehan seorang Kristen itu.

Dalam pembacaan Alkitab kita, kita menemukan sebuah alasan yang menjadikan semua keanehan” itu menjadi ”bisa terjadi”, Rasul Paulus mengatakan tentang: ”DAMAI SEJAHTERA ALLAH, YANG MELAMPAUI SEGALA AKAL ... ”. Melampaui akal. Bagaimana kita memahami kalimat singkat itu? Semua manusia tentu memiliki akal – pikiran. Akan tetapi kalimat ”melampaui akal”?

Inilah Kebenaran Firman Tuhan, bahwa faktanya AKAL kita sangat terbatas. Itulah sebabnya orang-orang ketika melihat jemaat Kristen yang menerima kuasa Roh Kudus dan mampu berbicara bahasa-bahasa lain dalam Kisah Para Rasul 2, berkata: ”Bagaimana mungkin???” ... Dengan kata lain mereka hendak mengatakan bahwa ”Itu tidak masuk akal dan tak mungkin bisa terjadi!” (padahal itu sudah terjadi di depan mata mereka).

Kalimat ”Melampaui Akal” adalah tandingan dan sekaligus jawaban dari kalimat ”Bagaimana Mungkin?”

Dalam kehidupan keseharian kita, entah itu di keluarga, jemaat bahkan dalam kehidupan bermasyarakat sekalipun ... rasanya kita akan sering berjumpa dengan kalimat: ”Bagaimana mungkin?” MILIKILAH DAMAI SEJAHTERA YANG MELAMPAUI SEGALA AKAL untuk menemukan karya Tuhan yang bisa mengubah sebuah kemustahilan menjadi kemungkinan yang bisa dihadirkan dalam kehidupan kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER