-->

Ulangan 8:1-10 | Iman, Pengharapan dan Pengorbanan

Ulangan 8:1-10

Pengharapan adalah ranting-ranting iman yang akan membuat pohon iman melihat buah-buahnya kelak.

Iman, Pengharapan dan Pengorbanan — Membaca kisah Musa dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, saya teringat dengan sebuah cerita tentang seorang kakek tua yang sedang menanam benih atau biji mangga di depan halaman rumahnya.

Bapak ibu ada yang punya pohon mangga di depan rumah? Butuh berapa lama satu benih atau biji mangga bisa bertumbuh menjadi sebuah pohon dan kemudian berbuah? Lama lah ya waktunya. Gak cukup 1 atau 2 tahun saja waktunya.

Kembali ke cerita tentang kakek tua ini, setiap hari dia merawat benih biji pohon mangga yang ditanamnya itu. Nah, kebetulan ada seorang bapak yang memerhatikan apa yang sedang dilakukan oleh kakek tua ini. Kemudian bapak itu pun bertanya.

"Opa, sedang apa?"

"Saya sedang merawat benih biji pohon mangga yang saya tanam ini supaya jadi pohon yang berbuah banyak nanti."

Baca juga

"Aduh opa ini, pake repot-repot segala sih nanem biji mangga? Lagi pula nanti juga kalau pohon ini sudah tumbuh besar dan berbuah, belum tentu kan opa bisa menikmati buah mangga dari pohon ini."

"Yah walaupun nanti saya mungkin tidak bisa melihat dan menikmati buah dari pohon mangga yang sedang saya tanam ini, mudah-mudahan anak – cucu saya nanti yang bisa menikmati apa yang sudah saya mulai hari ini."

Hidup di dalam Iman, Pengharapan dan Pengorbanan.

Itulah yang dilakukan oleh seorang kakek tua yang sedang menanam benih pohon mangga tadi.

Ketika kakek tua ini mulai menanam satu benih pohon mangga yang diyakininya akan bertumbuh dan berbuah suatu saat nanti – itulah iman.

Dan kalau nanti pohon mangga ini besar dan berbuah manis dan lebat – itulah pengharapan

Dan pengorbanan itu hadir ketika kakek tua itu menyadari betul bahwa belum tentu dia bisa melihat dan menikmati apa yang sudah ia mulai hari itu, di masa yang akan datang.

Musa dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Ulangan 8:1-10, pun hidup di dalam iman, pengharapan dan pengorbanan.
Ulangan 8:1-10
Bersyukur kepada Allah karena kebaikan-Nya
8:1 "Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu.
8:2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.
8:3 Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.
8:4 Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.
8:5 Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.
8:6 Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia.
8:7 Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung;
8:8 suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya;
8:9 suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga.
8:10 Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.

Iman


Kalau kita mau melihat bagaimana Musa mulai menaburkan benih-benih iman – kita bisa memulainya dari karya pembebasan Israel keluar dari tanah perbudakan di Mesir. Bagaimana Musa dengan sekuat tenaga menaburkan benih keyakinan bahwa “Kita harus keluar dari tanah Mesir! Sebab ada janji Tuhan bagi kita!”

Ulangan 7-10
Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.

Yang menarik adalah, fakta bahwa Israel di dalam kitab Ulangan sama sekali mereka itu belum masuk dan melihat, apalagi menikmati Janji Tuhan itu.

Ulangan 1:1
Inilah perkataan-perkataan yang diucapkan Musa kepada seluruh orang Israel di seberang sungai Yordan, di padang gurun, di Araba-Yordan, di tentangan Suf, antara Paran dengan Tofel, Laban, Hazerot dan Di-Zahab.

Lihat kalimat "... diseberang sungai Yordan ..."

(Lihat Peta yang berjudul "Dunia Zaman Purba" di belakang Alkitab kita)

Artinya apa? Imannya sudah di tanam selama kurang lebih 40 tahun, akan tetapi buahnya belum kelihatan sama sekali!

Dan apa yang membuat benih iman itu tetap bertahan selama 40 tahun walaupun buahnya belum terlihat?

Pengharapan

Ulangan 8:1
"Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu."

"... supaya ..."

Pengharapan bahwa iman tidak akan berakhir sia-sia. Pengharapan bahwa Tuhan selalu punya alasan yang baik ketika Tuhan izinkan satu pergumulan terjadi di dalam hidup kita.

Jarak Mesir menuju Kanaan itu sebenarnya gak jauh lho. Saya pernah baca tafsiran yang mengatakan bahwa sebenarnya dari Mesir ke Kanaan itu bisa di capai dengan hanya 11 hari perjalanan berjalan kaki dan nyampe.

Tapi kenapa kok Tuhan membaca Israel muter-muter 40 tahun dulu di padang gurun pasir itu?

Ulangan 8:2
Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

Pengharapan adalah ranting-ranting iman yang akan membuat pohon iman melihat buah-buah nya kelak. Buat apa beriman tapi tak punya pengharapan? Buat apa berpengharapan tapi gak ada imannya? Dua-duanya percuma, dua-duanya sama juga bodong.


Pengorbanan

Dan yang paling berat buat Musa adalah sisi pengorbanan nya.

Berapa kali Musa dihujat, dihina sama Israel? Bahkan pengorbanan terbesar Musa adalah karena akhirnya Musa sendiri tidak bisa masuk ke tanah Kanaan – negeri yang selama ini di yakini Musa sebagai penggenapan janji Tuhan bagi Israel.

Bilangan 20:12
Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.

Bagian Kita

Hari ini saya ingin mengajak kita untuk melihat keluarga kita, dengan beragam macam pergumulan yang darang di tengah kehidupan kita: Cari kerjaan susahnya minta ampun, bingung mikir biaya ini dan itu, kita juga bergumul dengan hubungan orang tua dengan anak-anaknya atau bahkan di antara papa dan mama sendiri ada pergumulan berat yang sedang terjadi saat ini.

Jangan biarkan iman dan pengharapan dan pengorbanan itu pergi meninggalkan rumah kita, hati kita.

"Aduh, saya udah kesel banget itu sama orang ini!"
"Saya udah capek hati, makan hati nyari gmana lagi tu kerjaan!"

Oh tidak, mungkin itulah sisi pengorbanan kita untuk melihat karya Tuhan nyata dalam kehidupan kita.

Atau lihatlah kehidupan jemaat kita di sini, di GKP Jemaat Sukabumi. 134 tahun yang lalu, sewaktu Pdt. Gijsman mulai menabur benih iman – dari yang hanya kumpulan kecil orang percaya waktu itu.

Mulai dari 3 orang, kemudian 12 orang dan sekarang menjadi 600an orang percaya yang berkumpul dan bersekutu di GKP Sukabumi. Bukankah itu karya Tuhan yang nyata sangat bagi kita di sini, di tanah Sukabumi.

Apakah itu berarti GKP Jemaat Sukabumi bertumbuh tanpa menghadapi persoalan dan pergumulan? Kata siapa? Pergumulan mah pasti ada aja selalu, di mana saja, kapan saja, dan bisa terjadi kepada siapa saja.

Tinggal, apakah iman pengharapan dan pengorbanan itu akan selalu kita pertahankan dan perjuangkan untuk tetap ada, sehingga kita pada akhirnya nanti bisa melihat karya Allah yang sudah begitu nyata di dalam sejarah dan juga di dalam masa depan jemaat GKP Sukabumi, masa depan kita.

Jangan biarkan iman dan pengharapan dan pengorbanan itu pergi meninggalkan rumah kita, hati kita.

Kata harapan aku tafsirkan sebagai iman, dan memang harapan tidak lain adalah keteguhan iman. (John Calvin)

Post a Comment