Nehemia 2:17-20 | Mari (Bersama) Membangun Kehidupan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

membangun kehidupan
Mari (Bersama) Membangun Kehidupan
Nehemia 2:17-20

Mengawali renungan kita hari ini
saya mau memperkenalkan seorang gadis kecil ...


Namanya Hattie May Wiatt.
Dia tinggal di kota Philadelphia - Amerika sekitar tahun 1880-an. Ada yang istimewa dari kehidupan gadis kecil ini ...

Ceritanya di mulai sewaktu Hattie suatu hari pergi ke Sekolah Minggu, dan belum sampai dia ke gereja ... dari kejauhan dia melihat betapa penuh sesaknya anak-anak yang datang memadati ruang Sekolah Minggu di gerejanya itu. Saking padatnya itu anak-anak ... mereka samai ada yang duduk di luar. Hattie kemudian menghentikan langkahnya ... dia tampak bingung ... ragu: mau pulang atau tetap melanjutkan pergi ke Sekolah Minggu.

Pendetanya melihat Hattie dari kejauhan dan langsung menghampiri Hattie. Dia memeluk Hattie dan menggendongnya masuk ke dalam Sekolah Minggu. Keesokan harinya pendeta itu datang berkunjung ke rumah Hattie kecil dan berbicara kepadanya: "Hattie ... kita akan segera memiliki ruang Sekolah Minggu yang lebih besar". Hattie kecil pun menjawab: "Aku berharap hal itu benar-benar terjadi pak Pendeta ... kemarin itu Sekolah Minggu begitu sesak .. sampai-sampai aku takut untuk pergi ke sana sendirian."

Beberapa bulan kemudian terdengar kabar mengejutkan bahwa Hattie meninggal dunia karena sakit. Setelah pemakaman, ibunda Hattie menghampiri pendetanya dan memberikan sebuah bungkusan:
"Ini dari Hattie ..."

Ketika di buka isinya ternyata uang sejumlah 57 sent dan ada secarik kertas yang tertulis begini:
"Uang ini untuk pembangunan gedung gereja supaya lebih besar lagi dan anak-anak bisa pergi Sekolah Minggu dengan nyaman".

Pada hari Minggu berikutnya, sang pendeta bercerita tentang impian Hattie itu dalam khotbahnya. Dan luar biasa ... banyak orang yang kemudian tergerak untuk melanjutkan dan mewujudkan apa yang sudah di mulai oleh Hattie. Hasilnya ... sungguh mengagumkan ...


Di mulai dari suatu keadaan, kondisi yang kemudian memunculkan satu keprihatinan, kesedihan dan dilanjutkan dengan keinginan untuk melakukan sesuatu agar keadaan bisa berubah ...

Rasanya hal itu juga yang menghubungkan kisah Hattie kecil ini dengan kisah Nehemia dan mungkin juga ... kisah kita sekarang ...

"Kapan lagi kita bisa bersekutu dan beribadah bersama-sama dengan saudara-saudara kita sebanyak ini? Minggu depan? Ya udah pulang atuh bentar lagi .. Mingu depan ya di jemaat masing-masing ..."

Tapi coba sekali lagi membayangkan jika suatu hari Minggu, selain Natal, total jemaat kita itu hadir semua ... apa gak penuh sesak gereja kita?

Makanya ada beberapa orang yang betapa senangnya dia ketika ingat "tempoe doeloe" ...
"ah dulu mah biar duit pas-pas an juga datang kebaktian mah hayu aja ... jalan rame-rame ... dari Kramat ke Kampung Sawah balik lagi ke Kramat jalan kaki juga mangga ..."

Nehemia ... sewaktu mengingat "tempoe doeloe" dan kemudian mendengar dan melihat sendiri apa yang terjadi dengan bangsanya, Israel, waktu itu ... apa yang dia lakukan? Dia nangis - dia sedih .. dia prihatin dengan kondisi sekarang ...

"Bukankah dulu itu Israel bangsa yang hebat biar kecil juga??"
"Bukankah dulu Tuhan juga yang bebaskan Israel dengan cara-Nya yang ajaib??"
"Tapi sekarang ... ???"
Seperti tinggal kenangan! Mendengar tebol Yerusalem yang hancur .... itu sama saja dengan membiarkan perampok dan orang jahat bebas keluar-masuk .. menginjak-injak Israel!!
Itu yang jadi kekuatiran dan keprihatinan Nehemia!

Hari ini mari kita lihat kehidupan kita ...
adakah sesuatu yang menjadi bagian dari keprihatikan kita?
Melihat kondisi keluarga?
Melihat kondisi bangsa?
Melihat kondisi jemaat?
Jika ada, maka Nehemia menantang kita semua untuk mengubah perasaan kuatir dan prihatin itu menjadi tindakan-tindakan nyata yang bisa membuat kehidupan kita menjadi lebih baik lagi.

Satu hal yang menjadi pertanyaan saya sewaktu membaca perikop kita hari ini ... Kok malah Nehemia yang jauh di negeri seberang sana ya .. yang duluan bilang: "Mari kita bangun kembali!" ... kok bukan orang-orang Israel di Yerusalem yang sehari-hari lihat dan ketemu itu hancurnya tembok mereka dan merasakan penderitaan di sana ... kenapa mereka diam??

Apakah mereka merasa tidak mampu berbuat apa-apa? ... percuma? kata siapa percuma? Itu kata Sanbalat, Tobia dan Gesyem!! Mereka yang bilang itu semua percuma!

Ketemu dengan orang yang kerjaannya cuma ngancurin semangat sih gak usah didengerin!

Salah satu kunci keberhasilan Nehemia ya itu tadi, mari kita lihat ayat 20:

Dan kunci keberhasilan Nehemia yang ke dua adalah ... Kebersamaan!



Seberapa optimis kita dalam upaya kita membangun kehidupan yang lebih baik ke depan?
Jika kita mau berjalan bersama-sama dengan Tuhan ... Jika kita mau bergandengan tangan dengan keluarga, jemaat ... tidak berjalan sendiri-sendiri ... maka angin sekencang apapun takkan bisa menggoyahkan perjuangan kita dalam membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan!

Nehemia 2:17-20 | Mari (Bersama) Membangun Kehidupan

membangun kehidupan
Mari (Bersama) Membangun Kehidupan
Nehemia 2:17-20

Mengawali renungan kita hari ini
saya mau memperkenalkan seorang gadis kecil ...


Namanya Hattie May Wiatt.
Dia tinggal di kota Philadelphia - Amerika sekitar tahun 1880-an. Ada yang istimewa dari kehidupan gadis kecil ini ...

Ceritanya di mulai sewaktu Hattie suatu hari pergi ke Sekolah Minggu, dan belum sampai dia ke gereja ... dari kejauhan dia melihat betapa penuh sesaknya anak-anak yang datang memadati ruang Sekolah Minggu di gerejanya itu. Saking padatnya itu anak-anak ... mereka samai ada yang duduk di luar. Hattie kemudian menghentikan langkahnya ... dia tampak bingung ... ragu: mau pulang atau tetap melanjutkan pergi ke Sekolah Minggu.

Pendetanya melihat Hattie dari kejauhan dan langsung menghampiri Hattie. Dia memeluk Hattie dan menggendongnya masuk ke dalam Sekolah Minggu. Keesokan harinya pendeta itu datang berkunjung ke rumah Hattie kecil dan berbicara kepadanya: "Hattie ... kita akan segera memiliki ruang Sekolah Minggu yang lebih besar". Hattie kecil pun menjawab: "Aku berharap hal itu benar-benar terjadi pak Pendeta ... kemarin itu Sekolah Minggu begitu sesak .. sampai-sampai aku takut untuk pergi ke sana sendirian."

Beberapa bulan kemudian terdengar kabar mengejutkan bahwa Hattie meninggal dunia karena sakit. Setelah pemakaman, ibunda Hattie menghampiri pendetanya dan memberikan sebuah bungkusan:
"Ini dari Hattie ..."

Ketika di buka isinya ternyata uang sejumlah 57 sent dan ada secarik kertas yang tertulis begini:
"Uang ini untuk pembangunan gedung gereja supaya lebih besar lagi dan anak-anak bisa pergi Sekolah Minggu dengan nyaman".

Pada hari Minggu berikutnya, sang pendeta bercerita tentang impian Hattie itu dalam khotbahnya. Dan luar biasa ... banyak orang yang kemudian tergerak untuk melanjutkan dan mewujudkan apa yang sudah di mulai oleh Hattie. Hasilnya ... sungguh mengagumkan ...


Di mulai dari suatu keadaan, kondisi yang kemudian memunculkan satu keprihatinan, kesedihan dan dilanjutkan dengan keinginan untuk melakukan sesuatu agar keadaan bisa berubah ...

Rasanya hal itu juga yang menghubungkan kisah Hattie kecil ini dengan kisah Nehemia dan mungkin juga ... kisah kita sekarang ...

"Kapan lagi kita bisa bersekutu dan beribadah bersama-sama dengan saudara-saudara kita sebanyak ini? Minggu depan? Ya udah pulang atuh bentar lagi .. Mingu depan ya di jemaat masing-masing ..."

Tapi coba sekali lagi membayangkan jika suatu hari Minggu, selain Natal, total jemaat kita itu hadir semua ... apa gak penuh sesak gereja kita?

Makanya ada beberapa orang yang betapa senangnya dia ketika ingat "tempoe doeloe" ...
"ah dulu mah biar duit pas-pas an juga datang kebaktian mah hayu aja ... jalan rame-rame ... dari Kramat ke Kampung Sawah balik lagi ke Kramat jalan kaki juga mangga ..."

Nehemia ... sewaktu mengingat "tempoe doeloe" dan kemudian mendengar dan melihat sendiri apa yang terjadi dengan bangsanya, Israel, waktu itu ... apa yang dia lakukan? Dia nangis - dia sedih .. dia prihatin dengan kondisi sekarang ...

"Bukankah dulu itu Israel bangsa yang hebat biar kecil juga??"
"Bukankah dulu Tuhan juga yang bebaskan Israel dengan cara-Nya yang ajaib??"
"Tapi sekarang ... ???"
Seperti tinggal kenangan! Mendengar tebol Yerusalem yang hancur .... itu sama saja dengan membiarkan perampok dan orang jahat bebas keluar-masuk .. menginjak-injak Israel!!
Itu yang jadi kekuatiran dan keprihatinan Nehemia!

Hari ini mari kita lihat kehidupan kita ...
adakah sesuatu yang menjadi bagian dari keprihatikan kita?
Melihat kondisi keluarga?
Melihat kondisi bangsa?
Melihat kondisi jemaat?
Jika ada, maka Nehemia menantang kita semua untuk mengubah perasaan kuatir dan prihatin itu menjadi tindakan-tindakan nyata yang bisa membuat kehidupan kita menjadi lebih baik lagi.

Satu hal yang menjadi pertanyaan saya sewaktu membaca perikop kita hari ini ... Kok malah Nehemia yang jauh di negeri seberang sana ya .. yang duluan bilang: "Mari kita bangun kembali!" ... kok bukan orang-orang Israel di Yerusalem yang sehari-hari lihat dan ketemu itu hancurnya tembok mereka dan merasakan penderitaan di sana ... kenapa mereka diam??

Apakah mereka merasa tidak mampu berbuat apa-apa? ... percuma? kata siapa percuma? Itu kata Sanbalat, Tobia dan Gesyem!! Mereka yang bilang itu semua percuma!

Ketemu dengan orang yang kerjaannya cuma ngancurin semangat sih gak usah didengerin!

Salah satu kunci keberhasilan Nehemia ya itu tadi, mari kita lihat ayat 20:

Dan kunci keberhasilan Nehemia yang ke dua adalah ... Kebersamaan!



Seberapa optimis kita dalam upaya kita membangun kehidupan yang lebih baik ke depan?
Jika kita mau berjalan bersama-sama dengan Tuhan ... Jika kita mau bergandengan tangan dengan keluarga, jemaat ... tidak berjalan sendiri-sendiri ... maka angin sekencang apapun takkan bisa menggoyahkan perjuangan kita dalam membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan!

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER