Mazmur 131:1-3 | Love Story - Pdt. Gerry Atje
Love Story
Mazmur 131:1-3


Hari ini dan beberapa hari ke depan pastilah menjadi hari yang paling membahagiakan buat Anggi dan mas nya ya ... Sebab ada dua peristiwa penting terjadi: Ulang tahun dan persiapan pernikahan. Wow, yang terakhir itu tuh yang paling keren, sekali untuk seumur hidup soalnya ... keren abis!

Ngomong-ngomong tentang persiapan pernikahan, jadi penasaran .. gmana sih kisah cintanya Anggi dan mas nya .. boleh dong share sedikit :)
Kapan .. di mana ketemunya?
Gmana cara menyatakan cintanya?
Pernah berantem gak?
atau apa ajalah yang mau di share kan ke kita-kita ...

Saya jadi inget cerita tentang kisah cintanya satu pasangan muda yang ini ... Jadi ceritanya ada seorang cewek yang nanya sama cowoknya ...
Girl : Apakah aku pernah terlintas dalam pikiranmu?
Boy : Tidak
Girl : Apakah kamu benar-benar menyukaiku?
Boy : Tidak
Girl : Apakah kamu menginginkanku?
Boy : Tidak
Girl : Akankah kamu menangis jika aku pergi?
Boy : Tidak
Girl : Maukah kamu hidup untukku?
Boy : Tidak
Girl : Maukah kamu berbuat apa saja untukku?
Boy : Tidak
Girl : Pilih aku atau hidupmu?
Boy : Hidupku
Gadis itu berlari pergi dan merasakan sakit,
dan laki-laki itu berlari segera menyusulnya dan berkata ….

Sayangku, tahukah kamu ...

Alasan mengapa aku tidak pernah memikirkanmu adalah
karena kamu selalu ada dalam dipikiranku.

Alasan mengapa aku tidak menyukaimu adalah
karena aku mencintaimu.

Alasan mengapa aku tidak menginginkanmu adalah
karena aku membutuhkanmu.

Alasan mengapa aku tidak akan menangis jika kamu pergi adalah
karena aku bisa mati jika kamu pergi.

Alasan mengapa aku tidak ingin hidup untukmu adalah
karena aku akan mati untukmu.

Alasan mengapa aku tidak akan berbuat apapun untukmu adalah
karena aku akan berbuat segalanya untukmu.

Alasan mengapa aku memilih hidupku adalah
karena KAMU HIDUPKU.

... yang saya mau katakan adalah pastilah dalam membangun sebuah hubungan kisah kasih kita dengan seseorang yang kita sayangi, misalnya, pasti ada saja hal-hal yang bisa saja membuat kita jadi kesal atau bahkan sampai marah .. kenapa? Karena banyak hal lah ya: miss-komunikasi, berantem, gak perhatian, gak pengertian, atau bahkan sempet kepikiran "Oh ternyata dia gak sesayang itu sama saya" ... (inget kalimat itu kan ya ... dari lagunya P")

Cewek dalam cerita tadi pun sempat merasakan hal yang seperti itu ... sebelum akhirnya dia mengerti maksud dan apa alasan cowoknya itu ...

Seringkali gambaran tentang jatuh bangunnya kisah kasih kita kepada seseorang yang kita kasihi merupakan gambaran yang paling nyata juga ketika kita berhadapan dengan cerita kisah kasih kita bersama dengan Tuhan.

Mari kita buka Alkitab kita, Mazmur 131:1-3 ...

Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Apa yang terjadi?
Daud menyadari betul bahwa kisah kasihnya bersama dengan Tuhan adalah sebuah proses .... Proses yang di dalamnya di penuhi oleh lika-liku jalan yang tak terpahami ... "Menangis, tak mengerti, kesal atau malah mungkin sampai marah sama Tuhan karena kita menganggap Dia diam dan tidak berbuat apa-apa dengan keadaan kita sekarang: "Kalau memang Tuhan sayang sama saya ... Kenapa Dia diam?"

Daud kemudian merefleksikan semua perasaan itu di dalam sebuah penggambaran yang dahsyat! "SEPERTI SEORANG ANAK YANG DI SAPIH!"

DI SAPIH?
Kalau ada anak bayi, biasanya yang sudah berumur 3 atau 4 tahun, kemudian sang ibu ingin mengajari anak bayi ini untuk bisa menerima "makanan yang lebih keras" dari pada sekadar air susu ... maka si ibu akan menyapih anaknya.
  • Dihentikan kebiasaan minum susu nya ... "biarin aja dah .. nangis-nangis aja kalau dia mau nangis mah"
  • Seakan-akan di antepin (hahaha diantepin .. itu bahasa bekasi kayaknya: diabaikan maksudnya) sama ibunya padahal ibunya memerhatikan selalu keadaan buah hati kesayangannya itu ...
  • dan apabila waktunya sudah tepat, sang ibu mulai membiasakan memberikan makanan yang 'lebih keras' untuk pertumbuhan buah hati kesayangannya itu.
Tapi yang anehnya adalah ... Daud pada akhirnya mampu berkata: "Aku telah menenangkan diri dan mendiamkan jiwaku" ... bahkan kalimat itu Daud taruh sebelum kalimat "Seperti ibu menyapih anaknya" di ayat 2.

Apa yang terjadi? Kenapa di saat-saat seharusnya dia menangis, marah atau kesal sama Sang Ibu karena sedang di sapih ... tapi kok dia malah bisa bilang: "Aku tenang, aku mendiamkan jiwaku"?

Karena Daud menyadari maksud-maksud Tuhan di balik peristiwa tangisnya waktu itu karena sedang di sapih oleh-Nya ...

Saya gak tahu bagaimana cara Tuhan menyapih hidup bapak atau ibu atau teman-teman muda sekarang ini ...
Mungkin lewat kegagalan-kegagalan masa lalu
Mungkin lewat kekecewaan-kekecewaan kemarin
atau bahkan mungkin lewat kepahitan-kepahitan sejarah hidup kita ...
Tapi yang jelas adalah .. kenapa Tuhan berani mengambil resiko ... Resiko? Oh ya ... Dia mengambil resiko untuk disalahpahami oleh kita tentang maksud baik-Nya itu ketika sedang menyapih hidup kita .... dan kenapa Tuhan berani tetap mengambil resiko untuk mengizinkan peristiwa itu terjadi dalam kehidupan kita ...

Supaya kita semakin bertumbuh dewasa
di dalam segala aspek kehidupan kita.
Supaya kita semakin mengenali cara-cara Tuhan
dalam membangun kehidupan masa depan kita.
Supaya kita semakin menyadari juga bahwa ternyata
Tuhan sesayang itu kepada kita.

Mazmur 131:1-3 | Love Story

Love Story
Mazmur 131:1-3


Hari ini dan beberapa hari ke depan pastilah menjadi hari yang paling membahagiakan buat Anggi dan mas nya ya ... Sebab ada dua peristiwa penting terjadi: Ulang tahun dan persiapan pernikahan. Wow, yang terakhir itu tuh yang paling keren, sekali untuk seumur hidup soalnya ... keren abis!

Ngomong-ngomong tentang persiapan pernikahan, jadi penasaran .. gmana sih kisah cintanya Anggi dan mas nya .. boleh dong share sedikit :)
Kapan .. di mana ketemunya?
Gmana cara menyatakan cintanya?
Pernah berantem gak?
atau apa ajalah yang mau di share kan ke kita-kita ...

Saya jadi inget cerita tentang kisah cintanya satu pasangan muda yang ini ... Jadi ceritanya ada seorang cewek yang nanya sama cowoknya ...
Girl : Apakah aku pernah terlintas dalam pikiranmu?
Boy : Tidak
Girl : Apakah kamu benar-benar menyukaiku?
Boy : Tidak
Girl : Apakah kamu menginginkanku?
Boy : Tidak
Girl : Akankah kamu menangis jika aku pergi?
Boy : Tidak
Girl : Maukah kamu hidup untukku?
Boy : Tidak
Girl : Maukah kamu berbuat apa saja untukku?
Boy : Tidak
Girl : Pilih aku atau hidupmu?
Boy : Hidupku
Gadis itu berlari pergi dan merasakan sakit,
dan laki-laki itu berlari segera menyusulnya dan berkata ….

Sayangku, tahukah kamu ...

Alasan mengapa aku tidak pernah memikirkanmu adalah
karena kamu selalu ada dalam dipikiranku.

Alasan mengapa aku tidak menyukaimu adalah
karena aku mencintaimu.

Alasan mengapa aku tidak menginginkanmu adalah
karena aku membutuhkanmu.

Alasan mengapa aku tidak akan menangis jika kamu pergi adalah
karena aku bisa mati jika kamu pergi.

Alasan mengapa aku tidak ingin hidup untukmu adalah
karena aku akan mati untukmu.

Alasan mengapa aku tidak akan berbuat apapun untukmu adalah
karena aku akan berbuat segalanya untukmu.

Alasan mengapa aku memilih hidupku adalah
karena KAMU HIDUPKU.

... yang saya mau katakan adalah pastilah dalam membangun sebuah hubungan kisah kasih kita dengan seseorang yang kita sayangi, misalnya, pasti ada saja hal-hal yang bisa saja membuat kita jadi kesal atau bahkan sampai marah .. kenapa? Karena banyak hal lah ya: miss-komunikasi, berantem, gak perhatian, gak pengertian, atau bahkan sempet kepikiran "Oh ternyata dia gak sesayang itu sama saya" ... (inget kalimat itu kan ya ... dari lagunya P")

Cewek dalam cerita tadi pun sempat merasakan hal yang seperti itu ... sebelum akhirnya dia mengerti maksud dan apa alasan cowoknya itu ...

Seringkali gambaran tentang jatuh bangunnya kisah kasih kita kepada seseorang yang kita kasihi merupakan gambaran yang paling nyata juga ketika kita berhadapan dengan cerita kisah kasih kita bersama dengan Tuhan.

Mari kita buka Alkitab kita, Mazmur 131:1-3 ...

Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Apa yang terjadi?
Daud menyadari betul bahwa kisah kasihnya bersama dengan Tuhan adalah sebuah proses .... Proses yang di dalamnya di penuhi oleh lika-liku jalan yang tak terpahami ... "Menangis, tak mengerti, kesal atau malah mungkin sampai marah sama Tuhan karena kita menganggap Dia diam dan tidak berbuat apa-apa dengan keadaan kita sekarang: "Kalau memang Tuhan sayang sama saya ... Kenapa Dia diam?"

Daud kemudian merefleksikan semua perasaan itu di dalam sebuah penggambaran yang dahsyat! "SEPERTI SEORANG ANAK YANG DI SAPIH!"

DI SAPIH?
Kalau ada anak bayi, biasanya yang sudah berumur 3 atau 4 tahun, kemudian sang ibu ingin mengajari anak bayi ini untuk bisa menerima "makanan yang lebih keras" dari pada sekadar air susu ... maka si ibu akan menyapih anaknya.
  • Dihentikan kebiasaan minum susu nya ... "biarin aja dah .. nangis-nangis aja kalau dia mau nangis mah"
  • Seakan-akan di antepin (hahaha diantepin .. itu bahasa bekasi kayaknya: diabaikan maksudnya) sama ibunya padahal ibunya memerhatikan selalu keadaan buah hati kesayangannya itu ...
  • dan apabila waktunya sudah tepat, sang ibu mulai membiasakan memberikan makanan yang 'lebih keras' untuk pertumbuhan buah hati kesayangannya itu.
Tapi yang anehnya adalah ... Daud pada akhirnya mampu berkata: "Aku telah menenangkan diri dan mendiamkan jiwaku" ... bahkan kalimat itu Daud taruh sebelum kalimat "Seperti ibu menyapih anaknya" di ayat 2.

Apa yang terjadi? Kenapa di saat-saat seharusnya dia menangis, marah atau kesal sama Sang Ibu karena sedang di sapih ... tapi kok dia malah bisa bilang: "Aku tenang, aku mendiamkan jiwaku"?

Karena Daud menyadari maksud-maksud Tuhan di balik peristiwa tangisnya waktu itu karena sedang di sapih oleh-Nya ...

Saya gak tahu bagaimana cara Tuhan menyapih hidup bapak atau ibu atau teman-teman muda sekarang ini ...
Mungkin lewat kegagalan-kegagalan masa lalu
Mungkin lewat kekecewaan-kekecewaan kemarin
atau bahkan mungkin lewat kepahitan-kepahitan sejarah hidup kita ...
Tapi yang jelas adalah .. kenapa Tuhan berani mengambil resiko ... Resiko? Oh ya ... Dia mengambil resiko untuk disalahpahami oleh kita tentang maksud baik-Nya itu ketika sedang menyapih hidup kita .... dan kenapa Tuhan berani tetap mengambil resiko untuk mengizinkan peristiwa itu terjadi dalam kehidupan kita ...

Supaya kita semakin bertumbuh dewasa
di dalam segala aspek kehidupan kita.
Supaya kita semakin mengenali cara-cara Tuhan
dalam membangun kehidupan masa depan kita.
Supaya kita semakin menyadari juga bahwa ternyata
Tuhan sesayang itu kepada kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email