-->

Markus 15:1-15 | Apa yang Menggerakkan Hidupmu?

Markus 15:1-15

Yang terngiang di dalam hati dan pikiran kita dan siap muncul dalam bentuk tindakan nyata.

Apa yang Menggerakkan Hidupmu? — Konon katanya, di Africa Selatan ada satu daerah yang sangat-sangat jarang kejadian tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab: pencurian, perkelahian, segala bentuk tindakan kriminal, katanya di daerah ini jarang terjadi.

Nama daerahnya memang tidak disebutkan di buku yang saya baca. Akan tetapi di buku tersebut dikatakan bahwa di daerah itulah Suku Bambemb tinggal.

Pasti kita bertanya, kenapa kok di daerah suku Bambemb tinggal jarang sekali terjadi tindakan kriminal?

Ternyata ada satu tradisi yang dilakukan oleh suku Bambemb ketika salah satu anggota suku bertindak yang buruk, tidak bertanggung jawab, maka dia dibawa ke kepala suku nya dan kemudian ditempatkan ditengah-tengah kampung.

Semua orang berhenti bekerja, bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak semuanya pada ngumpul kelilingin orang yang jadi terdakwa itu membentuk satu lingkaran besar. Lalu? Nonjok rame-rame? lempar batu rame-rame?

Baca juga

Lalu rame-rame mereka menyebutkan semua hal baik yang telah dilakukan oleh terdakwa itu selama hidupnya. Semua sikap baiknya, kelebihan-kelebihannya , tindakan terpujinya, semuanya diucapkan oleh seluruh penduduk kampung. Tidak ada seorang pun yang boleh berkata secara negatif, kritik, apalagi nyindir nyinyir terhadap terdakwa ini.

Tradisi seperti ini, kegiatan kayak gini, baru selesainya bisa berhari-hari. Dan kalau udah selesai, ada perayaan penyambutan kembali, yang mau bilang ke orang tadi bahwa diterima kembali ke dalam suku itu.

Sewaktu saya dengar tentang suku Bambemb ini, saya jadi kagum oleh sesuatu yang menggerakkan orang-orang suku Bambemb, sehingga melakukan “Pengadilan Kasih“ macam itu.

Mereka digerakan oleh rasa percaya bahwa, bahkan seseorang yang jahat sekali pun sebenarnya dia punya, pada dasarnya, kebaikan-kebaikan yang dia lupakan ketika dia berbuat jahat itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap kita, setiap orang saya rasa juga pasti digerakan oleh sesuatu yang ada di dalam hatiya – pikirannya sehingga mereka melakukan sesuaatu bertindak sesuai dengan apa yang ada didalam hatinya – pikirannya.

Pertanyaan besarnya adalah: Apa yang menggerakan kehidupan seseorang sehingga dia melakukan satu tindakan dalam hidupnya?

Apa yang menggerakan kehidupan bapak, ibu, teman muda dan saya? Apa yang terngiang didalam hati dan pikiran kita dan siap muncul dalam bentuk tindakan-tindakan nyata?

Hari ini, dalam pembacaan Alkitab dari Markus 15:1-15, kita bertemu dengan 3 tipe orang yang masing-masing punya jawaban untuk pertanyaan tadi, "Apa yang menggerakan kehidupan seseorang?"
Markus 15:1-15
Yesus dihadapan Pilatus
15:1 Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.
15:2 Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya."
15:3 Lalu imam-imam kepala mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia.
15:4 Pilatus bertanya pula kepada-Nya, katanya: "Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!"
15:5 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran.
15:6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.
15:7 Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan.
15:8 Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya sekarang kebiasaan itu diikuti juga.
15:9 Pilatus menjawab mereka dan bertanya: "Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja orang Yahudi ini?"
15:10 Ia memang mengetahui, bahwa imam-imam kepala telah menyerahkan Yesus karena dengki.
15:11 Tetapi imam-imam kepala menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka.
15:12 Pilatus sekali lagi menjawab dan bertanya kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?"
15:13 Maka mereka berteriak lagi, katanya: "Salibkanlah Dia!"
15:14 Lalu Pilatus berkata kepada mereka: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Salibkanlah Dia!"
15:15 Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Tipe Imam-imam Yahudi (zaman Yesus)


Markus 15:10
Ia memang mengetahui, bahwa imam-imam kepala telah menyerahkan Yesus karena dengki.

Dan ternyata memang ada, sampai sekarang, orang-orang yang tipe macam ini. Hidup mereka dikuasai oleh rasa dengki, iri hati, kebencian dan pada akhirnya berujung pada rencana-rencana jahat sejahat-jahatnya.

Yang gak ada salah, di cari-cari kesalahannya. Yang sudah berbuat baik, tetap aja gak baik untuk mereka. Bahkan mereka siap menghalalkan segala cara untuk memuaskan kebencian, rasa dengki di hati dan pikiran mereka.

Tipe Pilatus

Markus 15:14-15
Lalu Pilatus berkata kepada mereka: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Salibkanlah Dia! Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Apa yang menggerakan kehidupan Pilatus waktu itu? Asal semua orang senang, dan hidupku tetap aman. Ada orang-orang bahkan sampai zaman sekarang yang hidupnya juga digerakan oleh ketakutan-ketakutan perasaan tidak aman, tidak nyaman.

Pilatus tahu Yesus tidak bersalah? Tahu! Tapi karena takut bahwa kalau dia memilih untuk membebaskan Yesus, maka ada ketidak-amanan – ketidak-nyamanan yang akan dihadapinya, "Bagaimana nanti kalau saya memilih bertindak benar malah Israel jadi berontak, mau ditaruh mana muka saya sebagai petinggi Kerajaan Romawi yang tampatin saya disini? Kalau Israel berontak, kondisi daerah jajahan ini jadi bergolak."

Orang-orang yang tahu tentang satu kebenaran, tapi memilih untuk bertindak – berlaku tidak benar – tidak adil (tema Sinodal kita hari ini), bahkan dengan rela mengorbankan "kebenaran itu" untuk membawa dia pada rasa aman dan nyaman.

Di zaman sekarang, banyak orang terbuai oleh keamanan kenyamanan hidupnya hari ini .. dan untuk melanggengkan rasa itu .. mereka rela melakukan apa saja: Menomor-duakan Tuhan? OK, asal saya nyaman aman ... Mengorbankan orang lain? … gak masalah yang penting gw aman

Sampai disini , ada dua pertanyaan yang terpikirkan oleh saya dan mungkin oleh bapak dan ibu semua.

Jangan-jangan saya jadi salah satu dari 2 tipe orang ini. Apakah saya akan sekuat tipe orang yang ke-3 dalam menghadapi tipe orang pertama dan ke-dua?


Tipe Yesus

Dari sudut pandang manusiawi kita, secara kasat mata, Yesus itu korban. Atau lebih tepat lagi dikorbankan oleh orang tipe pertama dan tipe kedua.

Dalam kehidupan kita, bukankah mentalitas "saya ini korban, saya ini dikorbankan" seringkali muncul ketika kehidupan menjadi tidak masuk akal? Saya ingat satu anggota majelis saya di Kramat, cerita, "Bayangin aja pak, malam ini nama saya masih muncul di list naik jabatan, kok ya paginya udah ilang tuh nama saya?!"

(Dia jadi korban) Yesus tahu dirinya "dikorbankan?" Tahu.

Yang saya heran adalah Yesus punya kekuatan untuk melawan, Yesus punya kesempatan untuk berbalik menyerang, tapi kenapa Yesus tidak melakukan itu? Bahkan Pilatus pun dibuat-Nya heran, bahwa Yesus sama sekali tidak melawan, Markus 15:5 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran.

Apa yang menggerakan hidup Yesus, sehingga Dia kuat dalam menanggung penderitaan macam itu?

Markus 14:36
Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki."

Kita bertemu dengan tipe 3: mereka-mereka yang hidupnya digerakkan oleh kehendak Bapa.

Di dalam Tuhan, kita bukan korban. Meskipun orang-orang dunia bisa melihat bahwa nampaknya kita seperti "korban" yang ter-(aniaya, tindas, menderita).

Tidak! Didalam Tuhan, kita bukan “korban“. Maka keluarlah dari mentalitas "saya ini korban ketidakadilan, korban penindasan, korban penganiayan" – dikantor, (mudah-mudahan gak ada yang berpikir – dirumah).

Mulailah untuk meyakinkan diri bahwa meskipun nampaknya seseorang, "kita seperti jadi korban," – aku akan menenangkan hati dan pikiranku dan percaya bahwa pertolongan Tuhan tak pernah datang terlambat.

Tuhan sedang merencanakan jalan penyelamatan bagi hidup kita – Yang perlu kita lakukan adalah tetap mencari kehendak Bapa dibalik peristiwa - peristiwa yang menyakitkan hati kita di saat ini.

Iman kita berkata, "kita bukan korban!" Allah di dalam Yesus yang telah berkorban untuk menyelamatkan kita. Allah yang menerobos rancangan-rancangan jahat yang bisa orang lain rencanakan untuk hidup kita dan membela kita tepat pada waktunya.

Bukankah itu yang menggerakan Yesus sehingga Dia bertahan? Dia menyerahkan hidup-Nya pada kehendak Bapa-Nya hingga yang tadinya orang melihat "Yesus itu korban," akhirnya mereka bisa melihat bahwa ternyata bahkan melalui jalan penderitaan sekalipun, Tuhan bisa membawa kita untuk melihat sebuah kemenangan iman.

Saya suka cara Mel Gibson menutup film Passion of Christ, meja kubur kosong dan ada Yesus yang duduk dan tersenyum. Senyuman Kemenangan.

Allah menulis dengan pena yang tidak pernah buruk kualitas tintanya. Berbicara dengan lidah yang tidak pernah keseleo. Bertindak dengan tangan yang tidak pernah gagal. (Spurgeon)

Post a Comment