I Korintus 12:4-8 | Karunia untuk Berkarya - Pdt. Gerry Atje
Karunia untuk Berkarya
I Korintus 12:4-8

Saya ingin memperkenalkan .. orang ini ...


namanya Wedemeyer .. katanya , dia terkenal di Amerika sebagai seorang pembicara hebat … Banyak pembicara hebat, tapi mungkin Wedemeyer adalah satu-satunya pembicara di Amerika yang justru tidak bisa bicara … karena dia menderita sakit yang membuat dia hanya bisa gerakin matanya dan mulutnya. Menurut ibu/bapak yang mana orangnya? Yang disebelah kiri itu istrinya: Lucy dan orang yang saya maksud adalah suaminya: Charlie Wedemeyer.

Kok bisa ? bisa karena istrinya Lucy yang dengan setia mendampingi suaminya dan selalu siap menerjemahlan perkataan suaminya dengan cara membaca gerak bibir suaminya dan menyampaikan hal itu. Luar biasa ya!!! Arghh, seandainya keluarga-keluarga di dunia ini juga punya semangat seperti keluarga Wedemeyer hhhmmm pasti deh … berkurang tayangan infotainment ..

Dulu sebelum sakit Charlie ini pemain football, Quarterback-nya .. hebat mereka bertahan bahkan bisa berbagi berkat untuk orang lain. Suasana kehidupan seperti ini yang sebenarnya di rindukan dalam pembacaan Alkitab kita hari ini!

Mungkin kita berulangkali sudah mendengar bagaimana kehidupan jemaat di Korintus waktu itu … Jemaat yang kaya!! Kaya akan karunia, talenta, berkat, kesempatan. TAPI SAYANGNYA juga kaya akan perselisihan, perpecahan, kesombongan yang bisa jadi menyebabkan kehancuran keluarga ALLAH di Korintus!!

Hari ini kita mau merenungkan tentang kehidupan bersama kita dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Ayat 7 “… untuk kepentingan bersama

Syarat kebersamaan itu bisa tetap terjaga utuh adalah: Apabila tipa-tiap orang, kita, mau melakukan sesuatu - bertindak untuk kepentingan bersama!!

Bukan cuma untuk AKU saja tapi untuk KITA!! Dan itu hanya bisa dilakukan untuk seseorang yang sadar betul bahwa AKU dan DIA sama pentingnya!! Tanpa AKU dia lemah, tanpa DIA aku lemah!

Saya pernah dengar satu cerita tentang Orgel: Katanya orgel itu kalau di mainkan harus ada dua orang: satu main, satu bantu dibelakang layar (yang nge-goes biar orgelnya bisa bersuara). Lalu kata yang bantu di belakang layar itu: "Hebat yah pertunjukan kita?" Tapi kata pemain itu: "Kita? Sapa loe??" Besoknya .. yang bantuin pemain orgel ini gak mau lagi bantu dia dan akhirnya dia datang ke pemain yang bantu dia di belakang layar itu dan berkata "Bener .. ini pertunjukan kita bersama".

Hal ini yang mau dimotivasi oleh Firman Tuhan bahwa kita ini sama pentingnya. Bapak penting, Ibu juga penting, anak-anak juga penting… semuanya orang penting dalam hidup bersama!! Kenapa penting?? Ayat 7 “karena tiap-tiap orang, kita punya karunia-nya masing-masing!!! diberikan khusus!!"

Masalah Korintus: Mereka tahu mereka punya karunia banyak makanya ribut Masalah kita? Mungkin cuma dua:

(1). Kita ngerasa diri kiya ini gak punya karunia apa-apa … Padahal kita belum coba!!

Kemarin saya pake analogi .. hp … ke anak-anak SMKA …


kita punya banyak karunia (aplikasi nya) .. tapi belum tau,
karena gak pernah mau buka buku panduannya dan berani dicoba!!"

Tapi ada yang lebih disayangkan lagi …

(2) Kita tau punya potensi tapi gak mau digunakan potensi atau karunia itu dan akhirnya terpendam gitu aja …

Saya punya satu cerita juga tentang hal ini ... Kita mulai dari pertanyaan: "Siapakah manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia? Da Vinci? John Stuart Mills? Atau Albert Einstein seperti yang selama ini diperkirakan orang?"

Ketiganya memang dianggap jenus-jenius besar yang telah memberikan banyak pengaruh terhadap bidangnya masing-masing. Tapi gelar manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia rasanya tetap layak diberikan kepada William James Sidis. Pernah dengar? Sepertinya tidak ...


Siapakah dia? Mengapa namanya tenggelam dan kurang dikenal walau angka IQ-nya mencapai kisaran 250 – 300?


Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar: menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Univ. Harvard sebagai murid termuda. Harvard pun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika.
Lebih dasyat lagi: Sidis mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari!!!! Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Siapa yang sangka William Sidis kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun – sebuah saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin.
Sayang sekali ... Kejeniusan yang pada akhirnya terpendam dan tidak dikenali oleh banyak orang dan tidak membangun kehidupan banyak orang melalui anugerah yang telah diberikan Tuhan kepadanya itu ...

Hari ini juga kita ikut bersuka cita karena STT Jakarta tahun ini 75 tahun .
Ada mahasiswanya ?? Nah mereka ini punya kemampuan untuk menggali karunia tapi mereka butuh tempat untuk membantu mereka bekembang – bertumbuh … sehingga kelak bisa dipakai Tuhan luar biasa…

Mudah-mudahan kita bersama-sama dengan STT Jakarta bisa saling mengisi satu dengan yang lain. Karena kia semua saling mengisi satu dengan yang lain. Karena kita semua adalah alat-alat Tuhan yang digunakan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan ditengah-tengah dunia ini.

I Korintus 12:4-8 | Karunia untuk Berkarya

Karunia untuk Berkarya
I Korintus 12:4-8

Saya ingin memperkenalkan .. orang ini ...


namanya Wedemeyer .. katanya , dia terkenal di Amerika sebagai seorang pembicara hebat … Banyak pembicara hebat, tapi mungkin Wedemeyer adalah satu-satunya pembicara di Amerika yang justru tidak bisa bicara … karena dia menderita sakit yang membuat dia hanya bisa gerakin matanya dan mulutnya. Menurut ibu/bapak yang mana orangnya? Yang disebelah kiri itu istrinya: Lucy dan orang yang saya maksud adalah suaminya: Charlie Wedemeyer.

Kok bisa ? bisa karena istrinya Lucy yang dengan setia mendampingi suaminya dan selalu siap menerjemahlan perkataan suaminya dengan cara membaca gerak bibir suaminya dan menyampaikan hal itu. Luar biasa ya!!! Arghh, seandainya keluarga-keluarga di dunia ini juga punya semangat seperti keluarga Wedemeyer hhhmmm pasti deh … berkurang tayangan infotainment ..

Dulu sebelum sakit Charlie ini pemain football, Quarterback-nya .. hebat mereka bertahan bahkan bisa berbagi berkat untuk orang lain. Suasana kehidupan seperti ini yang sebenarnya di rindukan dalam pembacaan Alkitab kita hari ini!

Mungkin kita berulangkali sudah mendengar bagaimana kehidupan jemaat di Korintus waktu itu … Jemaat yang kaya!! Kaya akan karunia, talenta, berkat, kesempatan. TAPI SAYANGNYA juga kaya akan perselisihan, perpecahan, kesombongan yang bisa jadi menyebabkan kehancuran keluarga ALLAH di Korintus!!

Hari ini kita mau merenungkan tentang kehidupan bersama kita dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Ayat 7 “… untuk kepentingan bersama

Syarat kebersamaan itu bisa tetap terjaga utuh adalah: Apabila tipa-tiap orang, kita, mau melakukan sesuatu - bertindak untuk kepentingan bersama!!

Bukan cuma untuk AKU saja tapi untuk KITA!! Dan itu hanya bisa dilakukan untuk seseorang yang sadar betul bahwa AKU dan DIA sama pentingnya!! Tanpa AKU dia lemah, tanpa DIA aku lemah!

Saya pernah dengar satu cerita tentang Orgel: Katanya orgel itu kalau di mainkan harus ada dua orang: satu main, satu bantu dibelakang layar (yang nge-goes biar orgelnya bisa bersuara). Lalu kata yang bantu di belakang layar itu: "Hebat yah pertunjukan kita?" Tapi kata pemain itu: "Kita? Sapa loe??" Besoknya .. yang bantuin pemain orgel ini gak mau lagi bantu dia dan akhirnya dia datang ke pemain yang bantu dia di belakang layar itu dan berkata "Bener .. ini pertunjukan kita bersama".

Hal ini yang mau dimotivasi oleh Firman Tuhan bahwa kita ini sama pentingnya. Bapak penting, Ibu juga penting, anak-anak juga penting… semuanya orang penting dalam hidup bersama!! Kenapa penting?? Ayat 7 “karena tiap-tiap orang, kita punya karunia-nya masing-masing!!! diberikan khusus!!"

Masalah Korintus: Mereka tahu mereka punya karunia banyak makanya ribut Masalah kita? Mungkin cuma dua:

(1). Kita ngerasa diri kiya ini gak punya karunia apa-apa … Padahal kita belum coba!!

Kemarin saya pake analogi .. hp … ke anak-anak SMKA …


kita punya banyak karunia (aplikasi nya) .. tapi belum tau,
karena gak pernah mau buka buku panduannya dan berani dicoba!!"

Tapi ada yang lebih disayangkan lagi …

(2) Kita tau punya potensi tapi gak mau digunakan potensi atau karunia itu dan akhirnya terpendam gitu aja …

Saya punya satu cerita juga tentang hal ini ... Kita mulai dari pertanyaan: "Siapakah manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia? Da Vinci? John Stuart Mills? Atau Albert Einstein seperti yang selama ini diperkirakan orang?"

Ketiganya memang dianggap jenus-jenius besar yang telah memberikan banyak pengaruh terhadap bidangnya masing-masing. Tapi gelar manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia rasanya tetap layak diberikan kepada William James Sidis. Pernah dengar? Sepertinya tidak ...


Siapakah dia? Mengapa namanya tenggelam dan kurang dikenal walau angka IQ-nya mencapai kisaran 250 – 300?


Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar: menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Univ. Harvard sebagai murid termuda. Harvard pun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika.
Lebih dasyat lagi: Sidis mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari!!!! Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Siapa yang sangka William Sidis kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun – sebuah saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin.
Sayang sekali ... Kejeniusan yang pada akhirnya terpendam dan tidak dikenali oleh banyak orang dan tidak membangun kehidupan banyak orang melalui anugerah yang telah diberikan Tuhan kepadanya itu ...

Hari ini juga kita ikut bersuka cita karena STT Jakarta tahun ini 75 tahun .
Ada mahasiswanya ?? Nah mereka ini punya kemampuan untuk menggali karunia tapi mereka butuh tempat untuk membantu mereka bekembang – bertumbuh … sehingga kelak bisa dipakai Tuhan luar biasa…

Mudah-mudahan kita bersama-sama dengan STT Jakarta bisa saling mengisi satu dengan yang lain. Karena kia semua saling mengisi satu dengan yang lain. Karena kita semua adalah alat-alat Tuhan yang digunakan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan ditengah-tengah dunia ini.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email