Yudas 1:17-25 | Apakah Aku Mengancam Kesatuan Gerejaku? - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

perpecahan
Apakah Aku Mengancam Kesatuan Gerejaku?
Yudas 1:17-25

Memang ada ya orang yang berperilaku seperti itu? Mengancam kesatuan, kebersamaan, sukacita yang terjadi ketika kita bergereja? Rasanya di gereja kita damai sejahtera saja, tak ada tuh orang yang seperti itu!

Akan tetapi, dalam sejarah gereja ternyata ada saja orang yang berbuat seperti itu! Mari kita lihat satu contoh dari Alkitab: namanya Diotrefes (buka: III Yohanes 1:9-10 – kemudian baca kisahnya)

Apa yang terjadi dengan Diotrefes waktu itu? Dia mengancam kebersatuan hidup jemaat Tuhan waktu itu! Dengan cara apa dia melakukan hal itu? Dikatakan di sana: Diotrefes yang ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka, tidak mau mengakui kami. Karena itu, apabila aku datang, aku akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami; dan belum merasa puas dengan itu, ia sendiri bukan saja tidak mau menerima saudara-saudara yang datang, tetapi juga mencegah orang-orang, yang mau menerima mereka dan mengucilkan orang-orang itu dari jemaat.

Apa jadinya bila seorang seperti Diotrefes hadir dalam kebersamaan jemaat Tuhan? Ngeri!

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Yudas menyadari bahwa di dalam kehidupan persekutuan jemaat Tuhan pada waktu itu, ada banyak orang yang ber-tipe seperti Diotrefes ini! Yudas menyebut mereka sebagai ‘pengejek-pengejek’ dan ‘pemecah belah’.

Para ‘pemecah belah’ jemaat ini membuat pengelompokan-pengelompokan dalam kehidupan jemaat. Yang menganggap diri mereka adalah umat yang lebih sempurna, lebih kuat, lebih beriman di bandingkan dengan kelompok yang lain!

Untuk melawan pemahaman ‘para pemecah belah ini’ Yudas melukiskan tentang kehidupan orang beriman yang sebenarnya:

(a) bahwa kehidupan beriman haruslah di bangun di atas dasar iman yang paling suci;
(b) bahwa kehidupan beriman haruslah di landasi dengan doa;
(c) kehidupan yang beriman adalah kehidupan yang senantiasa menyadari bahwa kita sudah diberikan belaskasihan Allah untuk bisa menikmati hidup yang kekal!

Keberadaan 3 hal tentang hidup beriman inilah yang memungkinkan orang percaya pada waktu itu bertahan dalam situasi ‘digerogoti’ oleh kelompok pemecah itu. Dan bukan saja untuk bertahan, melainkan memberikan kesadaran baru bagi kelompok pemecah itu agar mereka menyadari kesalahan yang mereka lakukan dan bisa kembali lagi pada pemahaman iman yang sebenar (ayat 22-23).

Apakah aku mengancam kesatuan gerejaku? Pertanyaan ini sama sekali tidak bermaksud menghakimi. Hanya mengajak berefleksi. Merenungkan kembali arti hadirku di Jemaat. Sebab, setiap orang punya peran. Bukan besar-kecilnya peran yang jadi soal. Tapi seberapa tekun dan setiakah kita memainkan peran itu?

Dan, apakah dalam berperan, kesatuan jemaat kian diperkuat, atau cenderung diperlemah? Apakah aku mengancam kesatuan gerejaku? Baiklah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Mempertanyakan diri sendiri itu perlu. Supaya kita awas. Tidak terjebak dalam rutinisme. Tidak juga menjadi sombong dan arogan. Merasa menjadi pusat. Berpikir telah menjadi orang yang begitu penting. Yang menentukan ini dan itu. Lalu, akhirnya merasa bahwa ia yang punya gereja.

Bahwa setiap kita penting, ia. Setiap orang itu memang penting. Tetapi yang terpenting adalah bahwa “pentingnya” dia adalah untuk menghadirkan keutuhan dan manfaat bagi persekutuan. Arti kehadirannya adalah untuk membangun sesuai perannya; untuk menguatkan bukan melemahkan; untuk menyatukan bukan membuat tembok pemisah.

Tuhan kiranya memberikan pertolongan kepada kita untuk menjadi pemersatu, bukan pemecah kehidupan berjemaat. Amin.

Yudas 1:17-25 | Apakah Aku Mengancam Kesatuan Gerejaku?

perpecahan
Apakah Aku Mengancam Kesatuan Gerejaku?
Yudas 1:17-25

Memang ada ya orang yang berperilaku seperti itu? Mengancam kesatuan, kebersamaan, sukacita yang terjadi ketika kita bergereja? Rasanya di gereja kita damai sejahtera saja, tak ada tuh orang yang seperti itu!

Akan tetapi, dalam sejarah gereja ternyata ada saja orang yang berbuat seperti itu! Mari kita lihat satu contoh dari Alkitab: namanya Diotrefes (buka: III Yohanes 1:9-10 – kemudian baca kisahnya)

Apa yang terjadi dengan Diotrefes waktu itu? Dia mengancam kebersatuan hidup jemaat Tuhan waktu itu! Dengan cara apa dia melakukan hal itu? Dikatakan di sana: Diotrefes yang ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka, tidak mau mengakui kami. Karena itu, apabila aku datang, aku akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami; dan belum merasa puas dengan itu, ia sendiri bukan saja tidak mau menerima saudara-saudara yang datang, tetapi juga mencegah orang-orang, yang mau menerima mereka dan mengucilkan orang-orang itu dari jemaat.

Apa jadinya bila seorang seperti Diotrefes hadir dalam kebersamaan jemaat Tuhan? Ngeri!

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Yudas menyadari bahwa di dalam kehidupan persekutuan jemaat Tuhan pada waktu itu, ada banyak orang yang ber-tipe seperti Diotrefes ini! Yudas menyebut mereka sebagai ‘pengejek-pengejek’ dan ‘pemecah belah’.

Para ‘pemecah belah’ jemaat ini membuat pengelompokan-pengelompokan dalam kehidupan jemaat. Yang menganggap diri mereka adalah umat yang lebih sempurna, lebih kuat, lebih beriman di bandingkan dengan kelompok yang lain!

Untuk melawan pemahaman ‘para pemecah belah ini’ Yudas melukiskan tentang kehidupan orang beriman yang sebenarnya:

(a) bahwa kehidupan beriman haruslah di bangun di atas dasar iman yang paling suci;
(b) bahwa kehidupan beriman haruslah di landasi dengan doa;
(c) kehidupan yang beriman adalah kehidupan yang senantiasa menyadari bahwa kita sudah diberikan belaskasihan Allah untuk bisa menikmati hidup yang kekal!

Keberadaan 3 hal tentang hidup beriman inilah yang memungkinkan orang percaya pada waktu itu bertahan dalam situasi ‘digerogoti’ oleh kelompok pemecah itu. Dan bukan saja untuk bertahan, melainkan memberikan kesadaran baru bagi kelompok pemecah itu agar mereka menyadari kesalahan yang mereka lakukan dan bisa kembali lagi pada pemahaman iman yang sebenar (ayat 22-23).

Apakah aku mengancam kesatuan gerejaku? Pertanyaan ini sama sekali tidak bermaksud menghakimi. Hanya mengajak berefleksi. Merenungkan kembali arti hadirku di Jemaat. Sebab, setiap orang punya peran. Bukan besar-kecilnya peran yang jadi soal. Tapi seberapa tekun dan setiakah kita memainkan peran itu?

Dan, apakah dalam berperan, kesatuan jemaat kian diperkuat, atau cenderung diperlemah? Apakah aku mengancam kesatuan gerejaku? Baiklah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Mempertanyakan diri sendiri itu perlu. Supaya kita awas. Tidak terjebak dalam rutinisme. Tidak juga menjadi sombong dan arogan. Merasa menjadi pusat. Berpikir telah menjadi orang yang begitu penting. Yang menentukan ini dan itu. Lalu, akhirnya merasa bahwa ia yang punya gereja.

Bahwa setiap kita penting, ia. Setiap orang itu memang penting. Tetapi yang terpenting adalah bahwa “pentingnya” dia adalah untuk menghadirkan keutuhan dan manfaat bagi persekutuan. Arti kehadirannya adalah untuk membangun sesuai perannya; untuk menguatkan bukan melemahkan; untuk menyatukan bukan membuat tembok pemisah.

Tuhan kiranya memberikan pertolongan kepada kita untuk menjadi pemersatu, bukan pemecah kehidupan berjemaat. Amin.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER