Yohanes 21:1-14 | Seperti Dahulu Lagi? - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Seperti Dahulu Lagi?
Yohanes 21:1-14


Membaca perikop kita hari ini, tentang para murid yang sedang menjala ikan di danau Tiberias ... Ada satu kejadian yang menarik, dan para murid berhasil melewati ‘ujian’ itu dengan sempurna (menurut saya). Yaitu ketika Yesus memanggil mereka: “Hai anak-anak …” (ayat 5).
Pasti terbayangkan apa jadinya bila zaman sekarang ada seorang bapak-bapak umur 33 tahun yang memanggil bapak yang lainnya (yang mungkin usianya lebih tua), “anak-anak”: “yee … mang sejak kapan emak gue kawin sama loe” atau “emang gue bocah apa di bilang anak-anak”.

Kita tidak tahu alasan Yesus kenapa Dia panggil mereka anak-anak, mungkin karena Yesus merasa dekat dengan mereka. Akan tetapi bukankah pada waktu itu, para murid sama sekali belum mengenali siapa yang memanggil mereka “anak-anak” itu (para murid baru ‘ngeuh itu Yesus di ayat 7)

Bagi saya, respon murid-murid pada waktu itu (yang menjawab Yesus tetap dengan sopan – ayat 5), itu hebat! Sebab ada kesempatan di situ mereka bisa merasa ‘direndahkan’, disepelekan’, ‘di sok kenal – sok deket in’ sama ‘seseorang yang belum mereka kenal’, tapi mereka ternyata sama sekali tidak mempersoalkan hal itu.

Pertanyaannya adalah kenapa murid-murid sama sekali ‘tidak mempermasalahkan hal itu (sapaan ‘anak-anak’ kepada mereka) ??

Biasanya seseorang tidak akan mempermasalahkan ‘masalah-masalah sepele’ macam itu … bila, di dalam diri mereka, ada masalah yang jauh lebih besar, yang mengganggu pikiran mereka. Benerkan. Masalah terbesar yang dialami oleh murid-murid pada waktu itu adalah: Yesus yang sudah tiada, yang kabarnya sekarang sedang simpang siur. Ada yang bilang mayat Yesus dicuri orang, tapi ada juga yang bilang bahwa diantara teman mereka ada yang bertemu dengan ‘penampakan Yesus’. Jadi mumet ruwet semuanya.

Hal yang mau kita cermati bersama hari ini, dan ini menarik, adalah:

PERTAMA, mari kita memerhatikan bagaimana kehidupan mereka setelah tidak lagi bersama-sama dengan Yesus. ‘Bagai anak-anak ayam kehilangan induknya’. Tapi lebih dari itu, mari kita lihat apa yang kembali mereka lakukan: dari yang dahulu sudah meninggalkan menjala ikan untuk ‘menjala manusia’ (Lukas 5:10) … Sekarang, setelah Yesus ‘gak ada, para murid ternyata “kembali kepada ‘kebiasaan’ mereka yang lama” (ayat 3).

Godaan terbesar ketika masalah datang, pergumulan datang, salah satunya adalah tepat seperti apa yang dilakukan oleh para murid! Hari ini: “Tuhan aku mau ikut Tuhan, tinggalin kebiasaan ‘nilep uang kantor mulai sekarang” … Seminggu kemudian: “Tuhan, kok rasanya kurang ya uang saya untuk kebutuhan sehari-hari … hmmm, kalo gini mah mending …

KEDUA, ada seorang anggota jemaat yang menafsirkan ayat 6 dengan sangat menarik. Dia menafsirkan ayat itu dengan satu kalimat. “Kalau tidak dapat ikan dengan menebar jala ke sebelah kiri, [Yesus bilang:] ubah arahnya !

Coba tebarkan jalamu di sebelah kanan!” Apa yang dilakukan Yesus ketika melihat ‘anak-anak-Nya kesusahan’?? Yesus memberikan arahan, Yesus menunjukkan “kemungkinan solusi” di mana mereka pada akhirnya bisa menemukan apa yang menjadi ‘pencarian’ mereka saat itu.

KETIGA, lihat bagaimana bersemangatnya Petrus yang pada akhirnya mengenali bahwa orang yang menyapa mereka ‘anak-anak’ dan yang telah memberikan mereka ‘petunjuk untuk mengubah arah jala mereka’ adalah Yesus.

Ayat 7:
"Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau."

Untungnya para murid yang lain yang melihat Petrus senekat itu tidak ada yang teriak:"hati-hati 'Pet, jangan sampai kamu kelelep lagi seperti waktu dulu itu!" Memang jarak antara kapal mereka dengan pantai tidak sedekat yang kita bayangkan, 200 hasta (60 meter) jauhnya … Tapi, ya itulah bentuk semangatnya Petrus setelah mengetahui Tuhan ada, Tuhan hadir, Tuhan benar-benar bangkit.

Hari ini, setelah sekian lama kita berjalan dengan Dia, mengenal tindak-tanduk-Nya yang rindu untuk membawa kita pada segala sesuatu yang baik menurut-Nya itu (Roma 8:28)… adakah kita juga se-semangat itu dalam menyikapi segala keadaan yang terjadi dalam kehidupan kita?

Ataukah satu persoalan yang datang bisa membuat kita kembali kepada ‘manusia lama’ kita?? Yang bahkan sampai sekarang masih kita perjuangkan untuk melepaskan bagian-bagian dari sifat dan sikap ‘manusia lama’ itu?

Pengalaman para murid, ketika mereka menyadari kehadiran Tuhan, bahwa Dia Ada … Wow … bukan saja mereka akhirnya ‘benar-benar’ meninggalkan ‘kebiasaan lama mereka’, tapi lebih dari itu, mereka rela melakukan apa saja untuk menyampaikan kabar baik tentang Tuhan ‘sampai ke ujung dunia’ …

Makanya kalo kita lihat ‘lembar selanjutnya’ dalam Alkitab kita, kita akan menemukan kitab Kisah Para Rasul.

Bagaimana dengan kelanjutan kitab kisah hidup kita?

Yohanes 21:1-14 | Seperti Dahulu Lagi?

Seperti Dahulu Lagi?
Yohanes 21:1-14


Membaca perikop kita hari ini, tentang para murid yang sedang menjala ikan di danau Tiberias ... Ada satu kejadian yang menarik, dan para murid berhasil melewati ‘ujian’ itu dengan sempurna (menurut saya). Yaitu ketika Yesus memanggil mereka: “Hai anak-anak …” (ayat 5).
Pasti terbayangkan apa jadinya bila zaman sekarang ada seorang bapak-bapak umur 33 tahun yang memanggil bapak yang lainnya (yang mungkin usianya lebih tua), “anak-anak”: “yee … mang sejak kapan emak gue kawin sama loe” atau “emang gue bocah apa di bilang anak-anak”.

Kita tidak tahu alasan Yesus kenapa Dia panggil mereka anak-anak, mungkin karena Yesus merasa dekat dengan mereka. Akan tetapi bukankah pada waktu itu, para murid sama sekali belum mengenali siapa yang memanggil mereka “anak-anak” itu (para murid baru ‘ngeuh itu Yesus di ayat 7)

Bagi saya, respon murid-murid pada waktu itu (yang menjawab Yesus tetap dengan sopan – ayat 5), itu hebat! Sebab ada kesempatan di situ mereka bisa merasa ‘direndahkan’, disepelekan’, ‘di sok kenal – sok deket in’ sama ‘seseorang yang belum mereka kenal’, tapi mereka ternyata sama sekali tidak mempersoalkan hal itu.

Pertanyaannya adalah kenapa murid-murid sama sekali ‘tidak mempermasalahkan hal itu (sapaan ‘anak-anak’ kepada mereka) ??

Biasanya seseorang tidak akan mempermasalahkan ‘masalah-masalah sepele’ macam itu … bila, di dalam diri mereka, ada masalah yang jauh lebih besar, yang mengganggu pikiran mereka. Benerkan. Masalah terbesar yang dialami oleh murid-murid pada waktu itu adalah: Yesus yang sudah tiada, yang kabarnya sekarang sedang simpang siur. Ada yang bilang mayat Yesus dicuri orang, tapi ada juga yang bilang bahwa diantara teman mereka ada yang bertemu dengan ‘penampakan Yesus’. Jadi mumet ruwet semuanya.

Hal yang mau kita cermati bersama hari ini, dan ini menarik, adalah:

PERTAMA, mari kita memerhatikan bagaimana kehidupan mereka setelah tidak lagi bersama-sama dengan Yesus. ‘Bagai anak-anak ayam kehilangan induknya’. Tapi lebih dari itu, mari kita lihat apa yang kembali mereka lakukan: dari yang dahulu sudah meninggalkan menjala ikan untuk ‘menjala manusia’ (Lukas 5:10) … Sekarang, setelah Yesus ‘gak ada, para murid ternyata “kembali kepada ‘kebiasaan’ mereka yang lama” (ayat 3).

Godaan terbesar ketika masalah datang, pergumulan datang, salah satunya adalah tepat seperti apa yang dilakukan oleh para murid! Hari ini: “Tuhan aku mau ikut Tuhan, tinggalin kebiasaan ‘nilep uang kantor mulai sekarang” … Seminggu kemudian: “Tuhan, kok rasanya kurang ya uang saya untuk kebutuhan sehari-hari … hmmm, kalo gini mah mending …

KEDUA, ada seorang anggota jemaat yang menafsirkan ayat 6 dengan sangat menarik. Dia menafsirkan ayat itu dengan satu kalimat. “Kalau tidak dapat ikan dengan menebar jala ke sebelah kiri, [Yesus bilang:] ubah arahnya !

Coba tebarkan jalamu di sebelah kanan!” Apa yang dilakukan Yesus ketika melihat ‘anak-anak-Nya kesusahan’?? Yesus memberikan arahan, Yesus menunjukkan “kemungkinan solusi” di mana mereka pada akhirnya bisa menemukan apa yang menjadi ‘pencarian’ mereka saat itu.

KETIGA, lihat bagaimana bersemangatnya Petrus yang pada akhirnya mengenali bahwa orang yang menyapa mereka ‘anak-anak’ dan yang telah memberikan mereka ‘petunjuk untuk mengubah arah jala mereka’ adalah Yesus.

Ayat 7:
"Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau."

Untungnya para murid yang lain yang melihat Petrus senekat itu tidak ada yang teriak:"hati-hati 'Pet, jangan sampai kamu kelelep lagi seperti waktu dulu itu!" Memang jarak antara kapal mereka dengan pantai tidak sedekat yang kita bayangkan, 200 hasta (60 meter) jauhnya … Tapi, ya itulah bentuk semangatnya Petrus setelah mengetahui Tuhan ada, Tuhan hadir, Tuhan benar-benar bangkit.

Hari ini, setelah sekian lama kita berjalan dengan Dia, mengenal tindak-tanduk-Nya yang rindu untuk membawa kita pada segala sesuatu yang baik menurut-Nya itu (Roma 8:28)… adakah kita juga se-semangat itu dalam menyikapi segala keadaan yang terjadi dalam kehidupan kita?

Ataukah satu persoalan yang datang bisa membuat kita kembali kepada ‘manusia lama’ kita?? Yang bahkan sampai sekarang masih kita perjuangkan untuk melepaskan bagian-bagian dari sifat dan sikap ‘manusia lama’ itu?

Pengalaman para murid, ketika mereka menyadari kehadiran Tuhan, bahwa Dia Ada … Wow … bukan saja mereka akhirnya ‘benar-benar’ meninggalkan ‘kebiasaan lama mereka’, tapi lebih dari itu, mereka rela melakukan apa saja untuk menyampaikan kabar baik tentang Tuhan ‘sampai ke ujung dunia’ …

Makanya kalo kita lihat ‘lembar selanjutnya’ dalam Alkitab kita, kita akan menemukan kitab Kisah Para Rasul.

Bagaimana dengan kelanjutan kitab kisah hidup kita?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER