Yohanes 20:11-18 | Melawan Rasa Kecewa - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

kecewa
Hari ini saya punya dua cerita untuk mengawali renungan kita. Cerita yang pertama datang dari seorang aktor Hollywood, Denzel Washington. Menurut cerita yang saya baca, sewaktu Denzel masuk salah satu nominasi Piala Oscar, tepat sebelum keluarga Denzel berangkat ke acara pengumuman pemenang Oscar, Denzel bilang begini ke keluarganya:
"Mama, anak-anak, apapun hasilnya nanti, mau papa menang kek, atau kalah, pokoknya pulang acara ini, kita rayakan hari ini".

Cerita yang ke dua, tentang satu pasangan muda, sang suami sudah lama cari kerja sana-sini tapi belum juga dapat. Setelah lama menunggu, akhirnya datang juga, panggilan wawancara, dan hari ini adalah pengumumannya. Sang suami pun berkata kepada istrinya:
"Honey, apapun hasilnya nanti, mau diterima kek, atau memang harus berjuang lagi, sepulang nanti dari kantor itu, mari kita rayakan hari ini".

Pertanyaan saya, dengan dua pernyataan sikap yang mirip diantara cerita tadi, mana yang akan lebih mudah dilakukan, apabila dua keluarga tadi mengalami hasil yang berbeda?? Denzel akhirnya dapat Piala Oscar, dan sang suami pasangan muda itu ... lagi-lagi harus menunggu, lagi-lagi dia kecewa ...

Jawab: Pasti yang keluarga Denzel kan? Ya jelaslah lebih enak, semua berjalan dengan kemungkinan paling baik yang bisa mereka harapkan ... Sedangkan buat sang suami yang sekali lagi belum dapat pekerjaan yang dia harap-harapkan ... tetap merayakan malam itu dengan istrinya (yang juga pasti punya harapan sama) ... dan mereka bisa tetap bersukacita merayakan hari itu meski mereka sekali lagi kecewa ... rasanya itu luar biasa.

Bagi beberapa orang ... tetap bersukacita melawan rasa kecewa, pastilah bukan satu perkara yang mudah untuk dilakukan. Sebab ketika rasa kecewa datang dalam hidup kita, kekecewaan pasti membawa perubahan. Seperti ada seseorang yang sedang mengalami masa-masa sulit kemudian berdoa begini:
"Tuhan, Engkau tahu keberadaan saya, uang saya sudah menipis, tapi pekerjaan belum kunjung ada ... Sahabat saya sudah lama tidak peduli kepada saya ... bahkan gadis yang selama ini saya dekati, menolak saya. Alkitab mengatakan bahwa Engkau baik, Engkau memperhatikan, Engkau punya kuasa ... Sayangnya, kesaksian Alkitab itu tidak punya makna berarti untuk hidup saya sekarang!"
Rasa Kecewa datang dan membawa perubahan. Bangsa Israel pun di zaman Yesus pasti punya kekecewaan yang besar ketika mereka melihat Yesus disalib, mati dan dikuburkan. Padahal, 'beberapa minggu yang lalu', lihat bagaimana orang menyanjung Yesus dan mengelu-elukan Dia dan menganggap Dia adalah Sang Pembebas, Mesias, bagi kemerdekaan bangsa Israel dari penjajah Romawi. Tapi sekarang, ketika mereka melihat Yesus diam dan kalah, buat beberapa orang, hal itu menghancurkan bangunan iman dan pengharapan yang selama ini terbentuk dalam pikiran mereka ketika melihat Yesus.

Tapi ada sesuatu yang menarik dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Yohanes 20:11-18 (Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena) Sewaktu Maria menjawab pertanyaan: "Ibu, mengapa engkau menangis?" (ayat 13) dan Maria pun menjawab: "TUHAN-ku telah diambil orang ..."

Anehkan ya? Aneh, kalo menurut saya. Sebab sebagai orang Israel, rasanya pengharapan Maria tidak beda jauh dengan pengharapan Mesianis - "Yesus sebagai pemberontak yang akhirnya menang melawan penjajah Romawi" - ... Tapi sekarang, yang ada hanyalah kesedihan melihat apa yang diharapkan, dipercaya ternyata kenyataan bicara lain. Mulailah kekecewaan menyelimuti sejak itu. Tapi, inilah keanehan Maria ... ternyata dengan semua rasa kesedihan, kekecewaan yang berkecamuk dalam hati Maria saat itu, ternyata apa yang dipercaya oleh Maria tentang siapa itu Yesus ... Tidak berubah!
"TUHAN-ku telah diambil orang ..."

Tuhan kok mati, Tuhan kok kalah, Tuhan kok mayatnya bisa hilang???
Hari ini, kita mau belajar 2 hal dari figur seorang Maria Magdalena.

(1) Kita mau menjawab pertanyaan
"Kenapa bangunan iman Maria tetap kokoh meskipun hati hancur??"

Lukas 8:2
"dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat ..."

Akhirnya kita tahu salah satu alasan Maria untuk tetap bertahan. Maria mengalami apa yang pernah saya dengar dari seseorang tentang apa itu iman:
"faith its not about religion, its all about relationship!"

Kenapa Maria tetap kokoh memandang Yesus, yang sampai hari itu masih diyakininya sebagai Tuhan? Meskipun bagi beberapa orang di zaman itu Yesus tidak lebih dari 'seorang pemberontak yang gagal'? Karena semenjak Maria berjumpa dengan Tuhan, berjalan bersama-sama dengan Tuhan, Maria tahu bahwa Yesus punya kuasa, dan melalui kuasa Yesus, Maria telah mengalami kebaikan-kebaikan Tuhan di hidupnya.

Kekecewaan yang menguasai pikiran banyak orang Israel waktu itu ternyata tidak bisa menggoyahkan'pengakuan iman' Maria! Bagi Maria, Yesus terlanjur menunjukkan kebaikan-Nya, kuasa-Nya, kasih-Nya dan mujizat-Nya.

Pertanyaan mendasar bagi kita hari ini: Adakah kita hari ini, ketika satu rasa kecewa dan kesedihan itu muncul ... adakah hal itu menghancurkan, meruntuhkan dan menghilangkan jejak-jejak kasih Tuhan yang sudah kita alami dan jumpai hingga hari ini?

Bagi Maria, jawabannya akan selalu: 'Tidak!'
Rasa kecewa tidak membuat dia kehilangan Tuhan'

(2) Yang terakhir ... Saya tertarik dengan ayat 14 dan 15:
"Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?"

Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya:
"Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."

Bukankah hal itu menggambarkan sekali pengalaman-pengalaman ketika kita bersedih dan kecewa.

Seringkali kesedihan dan kekecewaan membuat kita kehilangan pengenalan akan Dia! Maria melihat Yesus, tapi kenapa Maria tidak menyadari, tidak 'ngeuh bahwa itu Yesus?? Terlalu dalam kesedihan itu sehingga Maria seakan-akan tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang lain yang bisa Tuhan tunjukkan kepada Maria, kepada kita yang percaya Dia.

Seperti kata Hellen Keller:
“Ketika satu jendela kebahagiaan tertutup, jendela lainnya akan terbuka. Tetapi, kita sering melihat terlalu lama jendela yang telah tertutup dan kita tidak melihat jendela lain yang terbuka untuk kita.”
Yesus memang tidak memenuhi pengharapan banyak orang Israel untuk menjadi Pembebas dari penjajah Romawi. Akan tetapi, Dia punya alasan yang sangat kuat, alasan yang jauh lebih besar dari hanya sekadar membebaskan bangsa Israel.

Itulah sebabnya semua orang yang percaya kepada-Nya sampai hari ini dan selamanya akan memanggil Dia: Tuhanku, Juruselamatku. Yesus melawan rasa kecewa orang-orang Israel pada waktu itu dengan menunjukkan jalan yang lebih baik, Jalan Kebangkitan, Jalan Keselamatan.

Dia tidak kalah, Dia tidak mati, Dia bangkit! Sudahkah hari ini kita melawan rasa kesedihan, kecewa, segala sesuatu yang membebanidan menghancurkan hati dengan bangkit bersama Dia?

Aku yang meratap telah Kau ubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kau buka, pinggangku Kau ikat dengan sukacita.
(Mazmur 30:11)

Yohanes 20:11-18 | Melawan Rasa Kecewa

kecewa
Hari ini saya punya dua cerita untuk mengawali renungan kita. Cerita yang pertama datang dari seorang aktor Hollywood, Denzel Washington. Menurut cerita yang saya baca, sewaktu Denzel masuk salah satu nominasi Piala Oscar, tepat sebelum keluarga Denzel berangkat ke acara pengumuman pemenang Oscar, Denzel bilang begini ke keluarganya:
"Mama, anak-anak, apapun hasilnya nanti, mau papa menang kek, atau kalah, pokoknya pulang acara ini, kita rayakan hari ini".

Cerita yang ke dua, tentang satu pasangan muda, sang suami sudah lama cari kerja sana-sini tapi belum juga dapat. Setelah lama menunggu, akhirnya datang juga, panggilan wawancara, dan hari ini adalah pengumumannya. Sang suami pun berkata kepada istrinya:
"Honey, apapun hasilnya nanti, mau diterima kek, atau memang harus berjuang lagi, sepulang nanti dari kantor itu, mari kita rayakan hari ini".

Pertanyaan saya, dengan dua pernyataan sikap yang mirip diantara cerita tadi, mana yang akan lebih mudah dilakukan, apabila dua keluarga tadi mengalami hasil yang berbeda?? Denzel akhirnya dapat Piala Oscar, dan sang suami pasangan muda itu ... lagi-lagi harus menunggu, lagi-lagi dia kecewa ...

Jawab: Pasti yang keluarga Denzel kan? Ya jelaslah lebih enak, semua berjalan dengan kemungkinan paling baik yang bisa mereka harapkan ... Sedangkan buat sang suami yang sekali lagi belum dapat pekerjaan yang dia harap-harapkan ... tetap merayakan malam itu dengan istrinya (yang juga pasti punya harapan sama) ... dan mereka bisa tetap bersukacita merayakan hari itu meski mereka sekali lagi kecewa ... rasanya itu luar biasa.

Bagi beberapa orang ... tetap bersukacita melawan rasa kecewa, pastilah bukan satu perkara yang mudah untuk dilakukan. Sebab ketika rasa kecewa datang dalam hidup kita, kekecewaan pasti membawa perubahan. Seperti ada seseorang yang sedang mengalami masa-masa sulit kemudian berdoa begini:
"Tuhan, Engkau tahu keberadaan saya, uang saya sudah menipis, tapi pekerjaan belum kunjung ada ... Sahabat saya sudah lama tidak peduli kepada saya ... bahkan gadis yang selama ini saya dekati, menolak saya. Alkitab mengatakan bahwa Engkau baik, Engkau memperhatikan, Engkau punya kuasa ... Sayangnya, kesaksian Alkitab itu tidak punya makna berarti untuk hidup saya sekarang!"
Rasa Kecewa datang dan membawa perubahan. Bangsa Israel pun di zaman Yesus pasti punya kekecewaan yang besar ketika mereka melihat Yesus disalib, mati dan dikuburkan. Padahal, 'beberapa minggu yang lalu', lihat bagaimana orang menyanjung Yesus dan mengelu-elukan Dia dan menganggap Dia adalah Sang Pembebas, Mesias, bagi kemerdekaan bangsa Israel dari penjajah Romawi. Tapi sekarang, ketika mereka melihat Yesus diam dan kalah, buat beberapa orang, hal itu menghancurkan bangunan iman dan pengharapan yang selama ini terbentuk dalam pikiran mereka ketika melihat Yesus.

Tapi ada sesuatu yang menarik dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Yohanes 20:11-18 (Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena) Sewaktu Maria menjawab pertanyaan: "Ibu, mengapa engkau menangis?" (ayat 13) dan Maria pun menjawab: "TUHAN-ku telah diambil orang ..."

Anehkan ya? Aneh, kalo menurut saya. Sebab sebagai orang Israel, rasanya pengharapan Maria tidak beda jauh dengan pengharapan Mesianis - "Yesus sebagai pemberontak yang akhirnya menang melawan penjajah Romawi" - ... Tapi sekarang, yang ada hanyalah kesedihan melihat apa yang diharapkan, dipercaya ternyata kenyataan bicara lain. Mulailah kekecewaan menyelimuti sejak itu. Tapi, inilah keanehan Maria ... ternyata dengan semua rasa kesedihan, kekecewaan yang berkecamuk dalam hati Maria saat itu, ternyata apa yang dipercaya oleh Maria tentang siapa itu Yesus ... Tidak berubah!
"TUHAN-ku telah diambil orang ..."

Tuhan kok mati, Tuhan kok kalah, Tuhan kok mayatnya bisa hilang???
Hari ini, kita mau belajar 2 hal dari figur seorang Maria Magdalena.

(1) Kita mau menjawab pertanyaan
"Kenapa bangunan iman Maria tetap kokoh meskipun hati hancur??"

Lukas 8:2
"dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat ..."

Akhirnya kita tahu salah satu alasan Maria untuk tetap bertahan. Maria mengalami apa yang pernah saya dengar dari seseorang tentang apa itu iman:
"faith its not about religion, its all about relationship!"

Kenapa Maria tetap kokoh memandang Yesus, yang sampai hari itu masih diyakininya sebagai Tuhan? Meskipun bagi beberapa orang di zaman itu Yesus tidak lebih dari 'seorang pemberontak yang gagal'? Karena semenjak Maria berjumpa dengan Tuhan, berjalan bersama-sama dengan Tuhan, Maria tahu bahwa Yesus punya kuasa, dan melalui kuasa Yesus, Maria telah mengalami kebaikan-kebaikan Tuhan di hidupnya.

Kekecewaan yang menguasai pikiran banyak orang Israel waktu itu ternyata tidak bisa menggoyahkan'pengakuan iman' Maria! Bagi Maria, Yesus terlanjur menunjukkan kebaikan-Nya, kuasa-Nya, kasih-Nya dan mujizat-Nya.

Pertanyaan mendasar bagi kita hari ini: Adakah kita hari ini, ketika satu rasa kecewa dan kesedihan itu muncul ... adakah hal itu menghancurkan, meruntuhkan dan menghilangkan jejak-jejak kasih Tuhan yang sudah kita alami dan jumpai hingga hari ini?

Bagi Maria, jawabannya akan selalu: 'Tidak!'
Rasa kecewa tidak membuat dia kehilangan Tuhan'

(2) Yang terakhir ... Saya tertarik dengan ayat 14 dan 15:
"Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?"

Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya:
"Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."

Bukankah hal itu menggambarkan sekali pengalaman-pengalaman ketika kita bersedih dan kecewa.

Seringkali kesedihan dan kekecewaan membuat kita kehilangan pengenalan akan Dia! Maria melihat Yesus, tapi kenapa Maria tidak menyadari, tidak 'ngeuh bahwa itu Yesus?? Terlalu dalam kesedihan itu sehingga Maria seakan-akan tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang lain yang bisa Tuhan tunjukkan kepada Maria, kepada kita yang percaya Dia.

Seperti kata Hellen Keller:
“Ketika satu jendela kebahagiaan tertutup, jendela lainnya akan terbuka. Tetapi, kita sering melihat terlalu lama jendela yang telah tertutup dan kita tidak melihat jendela lain yang terbuka untuk kita.”
Yesus memang tidak memenuhi pengharapan banyak orang Israel untuk menjadi Pembebas dari penjajah Romawi. Akan tetapi, Dia punya alasan yang sangat kuat, alasan yang jauh lebih besar dari hanya sekadar membebaskan bangsa Israel.

Itulah sebabnya semua orang yang percaya kepada-Nya sampai hari ini dan selamanya akan memanggil Dia: Tuhanku, Juruselamatku. Yesus melawan rasa kecewa orang-orang Israel pada waktu itu dengan menunjukkan jalan yang lebih baik, Jalan Kebangkitan, Jalan Keselamatan.

Dia tidak kalah, Dia tidak mati, Dia bangkit! Sudahkah hari ini kita melawan rasa kesedihan, kecewa, segala sesuatu yang membebanidan menghancurkan hati dengan bangkit bersama Dia?

Aku yang meratap telah Kau ubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kau buka, pinggangku Kau ikat dengan sukacita.
(Mazmur 30:11)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER