-->

Yohanes 11:20-27 | Seandainya!

Yohanes 11:20-27

Semua kalimat pengandaian di kala duka, singkat memang, tapi memiliki daya hambat yang luar biasa.

Seandainya! — Pasti, menghadapi peristiwa duka bukanlah perkara yang mudah. Kita akan kehilangan bukan hanya seseorang yang kita kasihi, tapi lebih dari itu. Kita kehilangan apa yang selama ini menjadi bagian dalam hidup kita - keseharian kita.

Setiap hari kita bisa ngobrol, sekarang tidak ada. Setiap hari kita bisa melihat ia tertidur, bangun, sarapan dan beraktifitas, sekarang? Tidak bisa.

Hal itulah yang biasanya membuat kita jatuh bangun dalam kubangan kesedihan duka kita. Hari ini kita tegar, jam ini detik ini. Detik berikutnya kita bisa sedih lagi.

Baca juga

Saya melihat hal itulah yang diperjuangkan oleh oma. Detik ini oma tegar, tiba-tiba ada saudara yang datang melayat, oma jadi sedih lagi, nangis lagi.

Menangis karena Duka


Kabar baiknya adalah: Yesus tidak pernah meminta kita untuk menghilangkan kesedihan, rasa duka, kehilangan atau bahkan tangis air mata kesedihan sekalipun. Tidak! Yesus pun menangis di depan jenasah Lazarus waktu itu.
Yohanes 11:20-27
Lazarus dibangkitkan
11:20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.
11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.
11:22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya."
11:23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit."
11:24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."
11:25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"
11:27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."
Yang Yesus minta adalah, jangan sampai kesedihan itu menjadi penghambat diri kita untuk tetap melanjutkan kehidupan kita.

Dalam perikop kita hari ini ada satu ciri yang bisa menjadi daya hambat kita untuk melanjutkan hidup kita ke depan.

Semua pertanyaan pengandaian: "Sekiranya Tuhan ... Seandainya Tuhan ... Kalau saja aku ..."

Awal kalimat pengandaian memang singkat. Akan tetapi mempunyai daya hambat luar biasa.

Karena hal itu yang akan membuat kita semakin terbenam dalam kubangan rasa duka kesedihan (seandainya tidak sekarang ...), penyesalan (seandainya kemarin ...) dan penyalahan diri (seandainya aku kemarin ... seandainya Tuhan kemarin ...).


Siap Melanjutkan Kehidupan

Hari ini pertanyaan Tuhan dalam ayat 25-26 kepada Maria adalah pertanyaan Tuhan kepada kita semua juga.

Yohanes 11:25-26
Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"

Apa artinya kekekalan hidup?

Yang kemarin kita tangisi itu jasad! Sedangkan jiwanya kekal ada bersama-sama dengan Tuhan di sorga, sudah bahagia, tak ada lagi kesedihan di Sorga.

Dan ibarat film-film di tv, pemahaman iman kita tentang akhir sebuah kehidupan tidak akan pernah ditulis: Tamat, The End. Akan tetapi yang kita pahami adalah: Bersambung, to be continued.

Ayah tetap ada, hidup, karena Ayah baru saja menjalani kehidupannya yang bersambung di sorga.

Kita? yang masih punya sisa durasi film di dunia ini, bagaimana sikap kita dalam menatap kelanjutan film hidup kita bersama dengan Tuhan?

Harapan kita: baik kesedihan, duka, pergumulan, semua itu tidak akan merebut sukacita kita karena Tuhan telah melakukan segala yang baik dalam hidup kita, bahkan menyediakan yang terbaik apabila nanti film kehidupan kita di dunia ini sudah habis.

All mankind is of one Author, and is one volume; when one man dies, one chapter is not torn out of the book, but translated into a better language; and every chapter must be so translated; God employs several translators; some pieces are translated by age, some by sickness, some by war, some by justice; but God’s hand is in every translation, and his hand shall bind up all our scattered leaves again for that library where every book shall lie open to one another. (John Donne)
Credit: Pixabay (Gambar)

Post a Comment