Mazmur 8 | Aku Berharga! - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Aku Berharga!
Mazmur 8


Saya ingin mengajak kita untuk kembali membaca ayat 4-7 sekali lagi ... sudah? Kalau sudah, boleh gak saya minta baca sekali lagi, yang terakhir ... ayat 4-7 ... tapi ada caranya kali ini ...

Kalau kita ketemu dengan kata: Aku, Manusia, Anak Manusia, Dia, -Nya ... gantilah kata-kata itu dengan nama kita sendiri ... Coba sekali lagi yah ...

Ada dua masalah mendasar yang tersirat dari 'simulasi' baca Alkitab dengan cara seperti itu tadi ...

1) Ada berapa banyak orang yang lupa dan gak sadar bahwa sewaktu kita baca Alkitab, Tuhan itu betul-betul berbicara kepada kita ... tentang hidup kita ... tentang diri kita ... tentang masa depan hidup kita!

Coba saja cek apa yang jadi respon kita sewaktu kita baca Alkitab:
"Yah ... itukan dulu .. itukan catatan kesaksian Alkitab yang bilang bahwa Tuhan berkarya bagi Israel ... bagi orang percaya ... dahulu! Tapi sekarang? Kayaknya Tuhan diam saja melihat hidupku yang ancur berantakan kayak gini!"

Padahal, Tuhan tidak berbicara hanya tentang masa lalu, perbuatan-perbuatan-Nya di masa lalu, tapi juga Dia selalu tertarik untuk berbicara tentang hidup kita sekarang dan untuk masa depan hidup kita bersama-Nya!

Buktinya? Punya ayat emas dari Alkitab? Ingat ayat itu? Kenapa kita ingat? Karena Firman itu menguatkan dan menentramkan hati kita (misalnya).

Seharusnya, sewaktu kita baca Alkitab, kita akan selalu dapat menemukan cara Tuhan melibatkan diri untuk menolong semua orang yang percaya ... dalam menjawab pergumulan-pergumulan yang kita hadapi.

2) Kembali ke ayat 4-7 ... apa yang akan kita temukan di sana tentang diri kita? bagaimana Tuhan memandang kehidupan kita?

diingat diindahkan dibuat mirip dengan diri-Nya diberi kuasa dimahkotai diberi kemuliaan

Kesimpulannya:
Ternyata aku ini seberharga itu lho di mata Tuhan (teriak sama-sama: aku berharga)

Tapi sayangnya, tidak semua orang bisa menyadari keberhargaan dirinya itu!

Ada cerita ...

Sebuah surat kabat St. Louis memberikan judul salah satu tulisannya: “Inferiority Complex” yang disebabkan oleh Hidung Panjang mengakibatkan mahasiswa bunuh diri. Artikel ini melaporkan kasus bunuh dirnya seorang mahasiswa berusia 24 tahun dari Washington University, bernama Theodore Hofman. Ironisnya, artikel ini melaporkan bahwa mereka-mereka yang mengenalnya, menganggap Hofman adalah seorang mahasiswa yang popular. Berikut adalah tulisan dari permuda ini:
Kepada dunia:

Ketika aku masih kecil, anak-anak lainnya melecehkan dan memperlakukan aku dengan tidak baik sebab aku lebih lemah dan lebih buruk rupa daripada mereka. Aku peka, pemalu dan sering digoda karena wajahku dan hidungku yang panjang. Semakin mereka menyinggungku, semakin mereka menggodaku. Aku menjadi takut kepada orang-orang.

Aku tahu bahwa banyak di antara mereka yang membenciku karena hal-hal yang bikan menjadi tanggung jawabku – sifatku yang sentimental dan penampilanku. Aku tak dapat berbicara kepada siapapun. Kepercayaan diriku lenyap.

Seorang guruku mengeja namaku dengan dua huruf “F” padahal seharusnya satu, tetapi aku sedemikian terbelakangnya sehingga aku tak dapat mengoreksinya dan oleh karenanya aku malah ikut-ikutan mengeja namaku sendiri dengan dua huruf “F” selama sekolah. Semoga Allah mengampuni semuanya.

Aku takut kepada dunia tetapi aku tidak takut mati.
Binggo!! Kita menemukan penyebabnya!
Hadirnya satu pergumulan, permasalahan, persoalan dan tekanan dari luar diri kita = Aku tidak berharga lagi!

Pernahkah kita memerhatikan bagaimana pendapat orang lain tentang kehidupan kita ketika kita berada dalam segala situasi sekarang ini? Misalkan: gagal, di phk, diputusin, dll.

Perhatikan apa yang dikatakan oleh mereka: negatif atau tetap positif?
Survey membuktikan bahwa setiap harinya itu seseorang menerima kata-kata negatif tentang hidupnya itu lebih banyak dibandingkan kata-kata positif yang menguatkan, membangun, memotivasi. Perbandingannya 1:6 untuk kemenangan kata-kata negatif. Satu kata positif kita terima hari ini, ternyata ada 6 kata negatif juga yang kita terima di hari itu.

Hasilnya jelas: Rasa keberhargaan diri kita di goncang habis!

Itu kalau kita mengandalkan kata-kata dan omongan-omongan orang tentang hidup kita ... bukannya mengandalkan apa kata Tuhan sendiri tentang hidup kita di masa depan!

Cara pandang Tuhan tentang hidup kita itu seringkali tidak dipahami oleh kita sebagai manusia, apalagi oleh mereka yang merasa sok tahu tentang hidup kita ...

Visual: Uang


Saya punya uang nih ... 100 ribu ... mau kalau saya kasih nih duit? Mau! Kalau saya lecek-lecek dulu nih duit masih mau terima itu duit yang udah lecek? Mau! Yakin? Sekarang kalau duit yang udah lecek ini ternyata jatuh di jalanan, keinjek-injek sama orang, kena air hujan ... sekarang duit itu bukan cuma lecek tapi dah jadi kotor ... dan suatu kali sahabat lewat di jalan itu dan menyadari bahwa di sana ada duit 100 ribuan yang jatuh ... Apa yang sahabat akan lakukan? Ambil tu duit atau lewatin aja tuh rejeki nomplok?

Kenapa tetap diambil? Kenapa tetap dibawa pulang tuh duit?
Karena letak keberhargaan uang itu bukan terletak pada fisik luarnya ... tapi uang itu tetap berharga karena nilainya tidak akan hilang karena lecek atau kotor fisiknya sekarang.

Mazmur 8 | Aku Berharga!

Aku Berharga!
Mazmur 8


Saya ingin mengajak kita untuk kembali membaca ayat 4-7 sekali lagi ... sudah? Kalau sudah, boleh gak saya minta baca sekali lagi, yang terakhir ... ayat 4-7 ... tapi ada caranya kali ini ...

Kalau kita ketemu dengan kata: Aku, Manusia, Anak Manusia, Dia, -Nya ... gantilah kata-kata itu dengan nama kita sendiri ... Coba sekali lagi yah ...

Ada dua masalah mendasar yang tersirat dari 'simulasi' baca Alkitab dengan cara seperti itu tadi ...

1) Ada berapa banyak orang yang lupa dan gak sadar bahwa sewaktu kita baca Alkitab, Tuhan itu betul-betul berbicara kepada kita ... tentang hidup kita ... tentang diri kita ... tentang masa depan hidup kita!

Coba saja cek apa yang jadi respon kita sewaktu kita baca Alkitab:
"Yah ... itukan dulu .. itukan catatan kesaksian Alkitab yang bilang bahwa Tuhan berkarya bagi Israel ... bagi orang percaya ... dahulu! Tapi sekarang? Kayaknya Tuhan diam saja melihat hidupku yang ancur berantakan kayak gini!"

Padahal, Tuhan tidak berbicara hanya tentang masa lalu, perbuatan-perbuatan-Nya di masa lalu, tapi juga Dia selalu tertarik untuk berbicara tentang hidup kita sekarang dan untuk masa depan hidup kita bersama-Nya!

Buktinya? Punya ayat emas dari Alkitab? Ingat ayat itu? Kenapa kita ingat? Karena Firman itu menguatkan dan menentramkan hati kita (misalnya).

Seharusnya, sewaktu kita baca Alkitab, kita akan selalu dapat menemukan cara Tuhan melibatkan diri untuk menolong semua orang yang percaya ... dalam menjawab pergumulan-pergumulan yang kita hadapi.

2) Kembali ke ayat 4-7 ... apa yang akan kita temukan di sana tentang diri kita? bagaimana Tuhan memandang kehidupan kita?

diingat diindahkan dibuat mirip dengan diri-Nya diberi kuasa dimahkotai diberi kemuliaan

Kesimpulannya:
Ternyata aku ini seberharga itu lho di mata Tuhan (teriak sama-sama: aku berharga)

Tapi sayangnya, tidak semua orang bisa menyadari keberhargaan dirinya itu!

Ada cerita ...

Sebuah surat kabat St. Louis memberikan judul salah satu tulisannya: “Inferiority Complex” yang disebabkan oleh Hidung Panjang mengakibatkan mahasiswa bunuh diri. Artikel ini melaporkan kasus bunuh dirnya seorang mahasiswa berusia 24 tahun dari Washington University, bernama Theodore Hofman. Ironisnya, artikel ini melaporkan bahwa mereka-mereka yang mengenalnya, menganggap Hofman adalah seorang mahasiswa yang popular. Berikut adalah tulisan dari permuda ini:
Kepada dunia:

Ketika aku masih kecil, anak-anak lainnya melecehkan dan memperlakukan aku dengan tidak baik sebab aku lebih lemah dan lebih buruk rupa daripada mereka. Aku peka, pemalu dan sering digoda karena wajahku dan hidungku yang panjang. Semakin mereka menyinggungku, semakin mereka menggodaku. Aku menjadi takut kepada orang-orang.

Aku tahu bahwa banyak di antara mereka yang membenciku karena hal-hal yang bikan menjadi tanggung jawabku – sifatku yang sentimental dan penampilanku. Aku tak dapat berbicara kepada siapapun. Kepercayaan diriku lenyap.

Seorang guruku mengeja namaku dengan dua huruf “F” padahal seharusnya satu, tetapi aku sedemikian terbelakangnya sehingga aku tak dapat mengoreksinya dan oleh karenanya aku malah ikut-ikutan mengeja namaku sendiri dengan dua huruf “F” selama sekolah. Semoga Allah mengampuni semuanya.

Aku takut kepada dunia tetapi aku tidak takut mati.
Binggo!! Kita menemukan penyebabnya!
Hadirnya satu pergumulan, permasalahan, persoalan dan tekanan dari luar diri kita = Aku tidak berharga lagi!

Pernahkah kita memerhatikan bagaimana pendapat orang lain tentang kehidupan kita ketika kita berada dalam segala situasi sekarang ini? Misalkan: gagal, di phk, diputusin, dll.

Perhatikan apa yang dikatakan oleh mereka: negatif atau tetap positif?
Survey membuktikan bahwa setiap harinya itu seseorang menerima kata-kata negatif tentang hidupnya itu lebih banyak dibandingkan kata-kata positif yang menguatkan, membangun, memotivasi. Perbandingannya 1:6 untuk kemenangan kata-kata negatif. Satu kata positif kita terima hari ini, ternyata ada 6 kata negatif juga yang kita terima di hari itu.

Hasilnya jelas: Rasa keberhargaan diri kita di goncang habis!

Itu kalau kita mengandalkan kata-kata dan omongan-omongan orang tentang hidup kita ... bukannya mengandalkan apa kata Tuhan sendiri tentang hidup kita di masa depan!

Cara pandang Tuhan tentang hidup kita itu seringkali tidak dipahami oleh kita sebagai manusia, apalagi oleh mereka yang merasa sok tahu tentang hidup kita ...

Visual: Uang


Saya punya uang nih ... 100 ribu ... mau kalau saya kasih nih duit? Mau! Kalau saya lecek-lecek dulu nih duit masih mau terima itu duit yang udah lecek? Mau! Yakin? Sekarang kalau duit yang udah lecek ini ternyata jatuh di jalanan, keinjek-injek sama orang, kena air hujan ... sekarang duit itu bukan cuma lecek tapi dah jadi kotor ... dan suatu kali sahabat lewat di jalan itu dan menyadari bahwa di sana ada duit 100 ribuan yang jatuh ... Apa yang sahabat akan lakukan? Ambil tu duit atau lewatin aja tuh rejeki nomplok?

Kenapa tetap diambil? Kenapa tetap dibawa pulang tuh duit?
Karena letak keberhargaan uang itu bukan terletak pada fisik luarnya ... tapi uang itu tetap berharga karena nilainya tidak akan hilang karena lecek atau kotor fisiknya sekarang.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER