Mazmur 43:1-5 | Berharap kepada Allah - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

berharap kepada allah
Berharap kepada Allah
Mazmur 43:1-5

Membaca Mazmur 43 ini apakah kita bisa menemukan diri kita dalam seruan sang pemazmur ini? Mari kita lihat yang dirasakan oleh pemazmur dalam perikop kita hari ini:

Ketika berada dalam satu perjuangan hidup, berhadapan dengan mereka yang berlaku tidak adil, mereka yang curang dan suka menipu (ayat 1)

Sama seperti pemazmur, situasi seperti ini tentu seringkali membawa kita pada pernyataan-pernyataan yang mampu menggoyang iman kita. Meskipun kita mengetahui bahwa Allah adalah tempat pengungsian kita: tempat di mana kita akan menemukan keamanan dan ketenangan, mungkin akan tetap muncul perasaan “Mengapa Engkau membuang aku?” (ayat 2).

Tapi lihat kemudian apa yang dilakukan oleh sang pemazmur.

Pemazmur mengungkapkan keyakinannya bahwa Allah adalah sumber kegembiraan dan sukacita yang mampu mengirimkan terang dan kesetiaan-Nya datang untuk menuntunnya kepada ungkapan syukur atas apa yang terjadi waktu itu (ayat 3-4).

Akan tetapi, sekali lagi sang pemazmur mengecek keadaan jiwanya “mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” Mengapa dia melakukan hal itu? Bukankah dia telah meyakinkan diri dan memohon agar Allah menuntun dirinya itu?

Ternyata jawabannya terletak pada ayat 5c “Berharaplah kepada Allah”.

Dalam bahasa Ibrani, kata berharap yang digunakan adalah kata יחל (yachal) yang memiliki arti – sabar menanti, tetap bertahan, tetap percaya meskipun terluka oleh penderitaan itu – ... kepada Allah! Bahwa Allah tidak akan menutup mata terhadap apa yang kita alami, bahwa Allah tidak akan berdiam diri tanpa tindakan penyelamatan, melainkan Allah memastikan bahwa dalam setiap peristiwa yang kita alami itu kita akan bisa selalu “bersyukur lagi kepada-Nya, kepada Allah yang telah menolong diri kita”.

Tantangannya adalah, proses “yachal” – berharap tadi .. yang bisa-bisa membuat kita berhenti di tengah jalan, tanpa tahu tindakan Allah untuk hidup kita karena kita sudah keburu tidak tahan dalam penantian, tidak tahan akan luka yang telah tergores dan membuat kita mengambil keputusan, cukup sampai di sini!

Pertanyaan besar bagi kita semua di awal tahun baru ini adalah dengan semua peristiwa yang telah terjadi dalam hidup kita ... masihkah kita tetap menaruh pengharapan kita di dalam Tuhan?

Pokok Diskusi
  1. Apa arti “Berharap kepada Allah” bagi kehidupan Anda sekarang?
  2. Seseorang bisa hilang pengharapan ketika di kecewakan, hal-hal apa saja yang mungkin bisa membuat kita hilang pengharapan kepada Allah sehingga berujung bukan pada ungkapan syukur kepada-Nya?
  3. Apa yang harus kita lakukan agar ketika kita berharap kepada Allah, kita akan selalu mampu pada akhirnya mengungkapkan syukur kita lagi kepada-Nya (tidak berhenti di tengah jalan) karena pertolongan-Nya itu nyata bagi kita?

Mazmur 43:1-5 | Berharap kepada Allah

berharap kepada allah
Berharap kepada Allah
Mazmur 43:1-5

Membaca Mazmur 43 ini apakah kita bisa menemukan diri kita dalam seruan sang pemazmur ini? Mari kita lihat yang dirasakan oleh pemazmur dalam perikop kita hari ini:

Ketika berada dalam satu perjuangan hidup, berhadapan dengan mereka yang berlaku tidak adil, mereka yang curang dan suka menipu (ayat 1)

Sama seperti pemazmur, situasi seperti ini tentu seringkali membawa kita pada pernyataan-pernyataan yang mampu menggoyang iman kita. Meskipun kita mengetahui bahwa Allah adalah tempat pengungsian kita: tempat di mana kita akan menemukan keamanan dan ketenangan, mungkin akan tetap muncul perasaan “Mengapa Engkau membuang aku?” (ayat 2).

Tapi lihat kemudian apa yang dilakukan oleh sang pemazmur.

Pemazmur mengungkapkan keyakinannya bahwa Allah adalah sumber kegembiraan dan sukacita yang mampu mengirimkan terang dan kesetiaan-Nya datang untuk menuntunnya kepada ungkapan syukur atas apa yang terjadi waktu itu (ayat 3-4).

Akan tetapi, sekali lagi sang pemazmur mengecek keadaan jiwanya “mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” Mengapa dia melakukan hal itu? Bukankah dia telah meyakinkan diri dan memohon agar Allah menuntun dirinya itu?

Ternyata jawabannya terletak pada ayat 5c “Berharaplah kepada Allah”.

Dalam bahasa Ibrani, kata berharap yang digunakan adalah kata יחל (yachal) yang memiliki arti – sabar menanti, tetap bertahan, tetap percaya meskipun terluka oleh penderitaan itu – ... kepada Allah! Bahwa Allah tidak akan menutup mata terhadap apa yang kita alami, bahwa Allah tidak akan berdiam diri tanpa tindakan penyelamatan, melainkan Allah memastikan bahwa dalam setiap peristiwa yang kita alami itu kita akan bisa selalu “bersyukur lagi kepada-Nya, kepada Allah yang telah menolong diri kita”.

Tantangannya adalah, proses “yachal” – berharap tadi .. yang bisa-bisa membuat kita berhenti di tengah jalan, tanpa tahu tindakan Allah untuk hidup kita karena kita sudah keburu tidak tahan dalam penantian, tidak tahan akan luka yang telah tergores dan membuat kita mengambil keputusan, cukup sampai di sini!

Pertanyaan besar bagi kita semua di awal tahun baru ini adalah dengan semua peristiwa yang telah terjadi dalam hidup kita ... masihkah kita tetap menaruh pengharapan kita di dalam Tuhan?

Pokok Diskusi
  1. Apa arti “Berharap kepada Allah” bagi kehidupan Anda sekarang?
  2. Seseorang bisa hilang pengharapan ketika di kecewakan, hal-hal apa saja yang mungkin bisa membuat kita hilang pengharapan kepada Allah sehingga berujung bukan pada ungkapan syukur kepada-Nya?
  3. Apa yang harus kita lakukan agar ketika kita berharap kepada Allah, kita akan selalu mampu pada akhirnya mengungkapkan syukur kita lagi kepada-Nya (tidak berhenti di tengah jalan) karena pertolongan-Nya itu nyata bagi kita?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER