Markus 9:30-32 | Seorang Sahabat Bernama Penderitaan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Seorang Sahabat Bernama Penderitaan
Markus 9:30-32

Ada satu cerita ... bukan kisah nyata memang, hanya candaan orang barat saja sepertinya ... mungkin juga akan terdengar tidak lucu, tapi ada satu kebenaran dalam cerita ini ...

Diceritakanlah bahwa pada suatu hari, Bill Gates, orang paling kaya sedunia, pencipta program Mikrosoft Komputer, meninggal dunia ... ketemulah Bill Gates dengan Tuhan di perbatasan jalan antara surga dan neraka.

"Oke Bill, Saya sebenarnya bingung nih, kamu itu masuk neraka atau surga ... Sebab saya lihat kamu sudah membantu banyak orang dengan komputer mu itu yang sekarang ini semua orang menggunakan penemuan kamu itu ... Jadi, khusus buat kamu, Saya memberikan kebebasan untuk kamu memilih mau masuk neraka atau surga ..." kata Tuhan.

"Baik Tuhan ... nanti saya pilih sendiri, tapi memang apa beda ya antara surga dan neraka??" tanya Bill.

"Makanya sekarang kamu ikutlah ... kita survey 2 tempat itu"

Tempat 1: Neraka.

Dilihatlah oleh Bill bahwa di neraka itu tempatnya sangat indah, ada pantai berpasir putih, airnya jernih ... orang-orang tampak tertawa riang gembira, main pasir, berenang-renang ... Matahari bersinar cerah ... Sempurna sekali!!

Bill: "Wow, indah sekali ... ini neraka nih Tuhan? yang kayak begini indahnya neraka? gimana surga ..."

Tuhan: "mari kita ke surga sekarang".

Tempat 2: Surga.

Dilihatlah surga terletak di tempat tinggi, diliputi awan-awan, ribuan malaikat bernyanyi memuji-muji nama Tuhan.

Bill: "Wah ... kalo kayak gini mah ... enakan di neraka atuh Tuhan ... saya pilih tinggal di neraka aja deh Tuhan"

Tuhan: "Okelah kalau begitu ... tak kirim sampeyan ke neraka sekarang ... "

Dua minggu berlalu, Tuhan kemudian datang ke neraka untuk berkunjung dan menemui Bill Gates: "Apa kabar Bill?"

Bill: "Neraka Tuhan!! Sangat mengerikan!!! Ini sama sekali gak sama dengan apa yang saya lihat kemarin ... apa yang terjadi Tuhan? Ke mana pantai, pasir putih, orang-orang yang riang gembira bermain pasir kemarin itu?? ... kok berubah jadi horror gini sih??"

Tuhan: "Oh ... tentang itu yang kemarin ... yang kamu lihat kemarin itu ... itu cuma SCREEN SAVER-nya doang!... kan mereka juga belajar teknologinya dari kamu".

Mungkin ceritanya gak terlalu lucu, tapi ada satu kebenaran yang mau disampaikan dalam cerita tadi. Kebenarannya adalah bukankah ada banyak orang yang sedapat mungkin menghindari yang namanya penderitaan. Kita gak suka yang namanya penderitaan, apalagi kalau kita melihat ada jalan-jalan lain yang menawarkan kebesaran, kesenangan, kesuksesan, kekayaan ... ditambah lagi, gak perlu nunggu waktu lama ... cukup 1, 2 tahun dan tabungan kita sudah berisi rupiah milyaran banyaknya ... tapi pake jalan korupsi.

Hari ini kita bertemu dengan ketidak mengertian para murid ketika Yesus mulai berbicara tentang jalan penderitaan bahkan jalan kematian yang harus Yesus lalui.

Markus 9:30-32 "Pemberitahuan Kedua tentang Penderitaan Yesus"

Mengapa para murid tidak mengerti? Ya jelaslah mereka tidak mengerti ... Sebab yang mereka lihat dan rasakan pada waktu itu: Yesus sedang tinggi-tingginya, Yesus populer, punya karisma, pengikut banyak ... buat mereka Yesus punya potensi untuk menjadi raja baru Israel kala itu ... Makanya kalo kita lihat perikop selanjutnya ... yang murid-murid ributkan bukan tentang jalan penderitaan melainkan mereka mulai bertengkar masalah "bagi-bagi kekuasaan nantinya".

Dan kalau kita lihat ayat 2-13 dalam perikop kita hari ini, para murid sendiri sudah menyaksikan bagaimana Yesus dimuliakan di atas gunung! Bertemu 'muka dengan muka' dengan dua tokoh besar Israel - Musa dan Elia - Wow, itu luar biasa! Bagi para murid, bisa jadi peristiwa di gunung itu menjadi penegasan bagi mereka bahwa Yesuslah raja baru yang selama ini mereka nantikan.

Hari ini kita mau merenungkan beberapa hal di seputar pengajaran Yesus mengenaiseorang sahabat yang bernama 'Penderitaan'

1. Mengapa Yesus membeberkan masa depan hidup-Nya, tentang jalan penderitaan yang harus Dia lalui??

Supaya sama seperti Dia, ... kita, orang-orang percaya, murid-murid pada waktu itu ... tidak takut dalam menghadapi yang namanya penderitaan.

Seperti ada orang yang bilang: "meskipun nanti kita hidupnya pas-pasan, bingung bayar kreditan tiap akhir bulan, rumah kontrakan pun kecil, abang rela dah hidup menderita ... asalkan ada eneng di samping abang" ... wedew, film jadul banget. Tapi itulah jawabannya: Seseorang bisa menghadapi dan menahan penderitaan seberat apapun ... jika dia tahu alasan untuk apa dia menderita!

Ada orang yang kerja, pergi pagi pulang malam ... apa bukan pengorbanan untuk menghadapi penderitan namanya itu. Apalagi setelah dihitung-hitung, ternyata apa yang dia dapatkan setiap bulan, 50-70 % larinya ke ongkos jalan! Tapi dengan kondisi seperti itupun, dia masih bisa bilang: "ya .. lumayanlah buat nambah-nambah uang jajan anak-anak, bantuin suami biar dapur bisa terus ngebul." Dia punya alasan yang sangat kuat yang membuat dia akhirnya berpikir bahwa apa yang dia lakukan, meskipun 'menderita' tapi hal itu sangat layak untuk dilakukan!

Dia punya alasan: anak-anaknya, suaminya ...Yesus pun punya alasan yang sangat kuat yang membuat Dia tidak takut menghadapi jalan penderitaan yang harus Dia tempuh! Anda, saya ... kita semua adalah alasan-Nya, sehingga Dia rela menempuh jalan penderitaan, bahkan kematian sekalipun Dia mau lakukan itu untuk kita.

2. Yang terakhir, Yesus berbicara bukan hanya supaya kita tidak takut dalam menghadapi yang namanya penderitaan, tapi yang jauh lebih penting adalah Yesus berbicara juga mengenai jangan berhenti, tetap berjalan ... melewati dan melampaui penderitaan itu!

Dalam Perjanjian Lama, Daud dengan tepat merefleksikan hal ini dalam Mazmur 23:4. Daud berkata: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman ... aku tidak takut bahaya ..." Daud tidak mengatakan "Sekalipun aku tinggal dalam lembah kekelaman .. " Tidak! Yang Daud refleksikan pada waktu itu, "dia sedang berjalan melewati masa-masa kelam penuh derita dalam hidupnya".

Kekelaman hidup adalah satu masa dalam hidupnya .. Kekelaman hidup, menurut Daud, sifatnya sementara. Kembali ke perikop kita, ayat 31 ... Yesus tidak berhenti sampai pada kata bahwa Dia akan dibunuh dan selesai. Tidak!Melainkan Dia melanjutkannya dengan mengatakan bahwa setelah kematian-Nya, Dia akan bangkit!

Bila kita memakai bahasa yang digunakan Daud dalam Mazmur 23:4: Yesus berkata bahwa penderitaan, bahkan kematian sekalipun ... bagi-Nya ... juga bagi kita yang percaya kepada-Nya ... bukanlah akhir dari segalanya, itu semua hanya sementara siffatnya.

Beralih kepada para murid yang pada waktu itu sama sekali tidak mengerti (dan sayangnya mereka tidak mau tanya: apa maksud dari) perkataan Yesus tentang jalan penderitaan yang akan ditempuh-Nya itu ... Di suatu masa di kemudian hari ... mereka akhirnya memahami makna jalan penderitaan yang harus Guru mereka lalui itu ...

Sama seperti murid-murid yang terus berjalan bersama-sama dengan Yesus, kita pun pada akhirnya akan bisa melihat, merasakan dan menemukan apa yang menjadi kesaksian para murid tentang seorang sahabat bernama jalan penderitaan.

Petrus, salah satu murid-Nya, di kemudian hari memberikan kesaksian tentang hal itu demikian:
"Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu."
I Petrus 1:10-11

Ada kemuliaan yang bisa kita temukan di balik penderitaan yang kita alami sekarang.

Markus 9:30-32 | Seorang Sahabat Bernama Penderitaan

Seorang Sahabat Bernama Penderitaan
Markus 9:30-32

Ada satu cerita ... bukan kisah nyata memang, hanya candaan orang barat saja sepertinya ... mungkin juga akan terdengar tidak lucu, tapi ada satu kebenaran dalam cerita ini ...

Diceritakanlah bahwa pada suatu hari, Bill Gates, orang paling kaya sedunia, pencipta program Mikrosoft Komputer, meninggal dunia ... ketemulah Bill Gates dengan Tuhan di perbatasan jalan antara surga dan neraka.

"Oke Bill, Saya sebenarnya bingung nih, kamu itu masuk neraka atau surga ... Sebab saya lihat kamu sudah membantu banyak orang dengan komputer mu itu yang sekarang ini semua orang menggunakan penemuan kamu itu ... Jadi, khusus buat kamu, Saya memberikan kebebasan untuk kamu memilih mau masuk neraka atau surga ..." kata Tuhan.

"Baik Tuhan ... nanti saya pilih sendiri, tapi memang apa beda ya antara surga dan neraka??" tanya Bill.

"Makanya sekarang kamu ikutlah ... kita survey 2 tempat itu"

Tempat 1: Neraka.

Dilihatlah oleh Bill bahwa di neraka itu tempatnya sangat indah, ada pantai berpasir putih, airnya jernih ... orang-orang tampak tertawa riang gembira, main pasir, berenang-renang ... Matahari bersinar cerah ... Sempurna sekali!!

Bill: "Wow, indah sekali ... ini neraka nih Tuhan? yang kayak begini indahnya neraka? gimana surga ..."

Tuhan: "mari kita ke surga sekarang".

Tempat 2: Surga.

Dilihatlah surga terletak di tempat tinggi, diliputi awan-awan, ribuan malaikat bernyanyi memuji-muji nama Tuhan.

Bill: "Wah ... kalo kayak gini mah ... enakan di neraka atuh Tuhan ... saya pilih tinggal di neraka aja deh Tuhan"

Tuhan: "Okelah kalau begitu ... tak kirim sampeyan ke neraka sekarang ... "

Dua minggu berlalu, Tuhan kemudian datang ke neraka untuk berkunjung dan menemui Bill Gates: "Apa kabar Bill?"

Bill: "Neraka Tuhan!! Sangat mengerikan!!! Ini sama sekali gak sama dengan apa yang saya lihat kemarin ... apa yang terjadi Tuhan? Ke mana pantai, pasir putih, orang-orang yang riang gembira bermain pasir kemarin itu?? ... kok berubah jadi horror gini sih??"

Tuhan: "Oh ... tentang itu yang kemarin ... yang kamu lihat kemarin itu ... itu cuma SCREEN SAVER-nya doang!... kan mereka juga belajar teknologinya dari kamu".

Mungkin ceritanya gak terlalu lucu, tapi ada satu kebenaran yang mau disampaikan dalam cerita tadi. Kebenarannya adalah bukankah ada banyak orang yang sedapat mungkin menghindari yang namanya penderitaan. Kita gak suka yang namanya penderitaan, apalagi kalau kita melihat ada jalan-jalan lain yang menawarkan kebesaran, kesenangan, kesuksesan, kekayaan ... ditambah lagi, gak perlu nunggu waktu lama ... cukup 1, 2 tahun dan tabungan kita sudah berisi rupiah milyaran banyaknya ... tapi pake jalan korupsi.

Hari ini kita bertemu dengan ketidak mengertian para murid ketika Yesus mulai berbicara tentang jalan penderitaan bahkan jalan kematian yang harus Yesus lalui.

Markus 9:30-32 "Pemberitahuan Kedua tentang Penderitaan Yesus"

Mengapa para murid tidak mengerti? Ya jelaslah mereka tidak mengerti ... Sebab yang mereka lihat dan rasakan pada waktu itu: Yesus sedang tinggi-tingginya, Yesus populer, punya karisma, pengikut banyak ... buat mereka Yesus punya potensi untuk menjadi raja baru Israel kala itu ... Makanya kalo kita lihat perikop selanjutnya ... yang murid-murid ributkan bukan tentang jalan penderitaan melainkan mereka mulai bertengkar masalah "bagi-bagi kekuasaan nantinya".

Dan kalau kita lihat ayat 2-13 dalam perikop kita hari ini, para murid sendiri sudah menyaksikan bagaimana Yesus dimuliakan di atas gunung! Bertemu 'muka dengan muka' dengan dua tokoh besar Israel - Musa dan Elia - Wow, itu luar biasa! Bagi para murid, bisa jadi peristiwa di gunung itu menjadi penegasan bagi mereka bahwa Yesuslah raja baru yang selama ini mereka nantikan.

Hari ini kita mau merenungkan beberapa hal di seputar pengajaran Yesus mengenaiseorang sahabat yang bernama 'Penderitaan'

1. Mengapa Yesus membeberkan masa depan hidup-Nya, tentang jalan penderitaan yang harus Dia lalui??

Supaya sama seperti Dia, ... kita, orang-orang percaya, murid-murid pada waktu itu ... tidak takut dalam menghadapi yang namanya penderitaan.

Seperti ada orang yang bilang: "meskipun nanti kita hidupnya pas-pasan, bingung bayar kreditan tiap akhir bulan, rumah kontrakan pun kecil, abang rela dah hidup menderita ... asalkan ada eneng di samping abang" ... wedew, film jadul banget. Tapi itulah jawabannya: Seseorang bisa menghadapi dan menahan penderitaan seberat apapun ... jika dia tahu alasan untuk apa dia menderita!

Ada orang yang kerja, pergi pagi pulang malam ... apa bukan pengorbanan untuk menghadapi penderitan namanya itu. Apalagi setelah dihitung-hitung, ternyata apa yang dia dapatkan setiap bulan, 50-70 % larinya ke ongkos jalan! Tapi dengan kondisi seperti itupun, dia masih bisa bilang: "ya .. lumayanlah buat nambah-nambah uang jajan anak-anak, bantuin suami biar dapur bisa terus ngebul." Dia punya alasan yang sangat kuat yang membuat dia akhirnya berpikir bahwa apa yang dia lakukan, meskipun 'menderita' tapi hal itu sangat layak untuk dilakukan!

Dia punya alasan: anak-anaknya, suaminya ...Yesus pun punya alasan yang sangat kuat yang membuat Dia tidak takut menghadapi jalan penderitaan yang harus Dia tempuh! Anda, saya ... kita semua adalah alasan-Nya, sehingga Dia rela menempuh jalan penderitaan, bahkan kematian sekalipun Dia mau lakukan itu untuk kita.

2. Yang terakhir, Yesus berbicara bukan hanya supaya kita tidak takut dalam menghadapi yang namanya penderitaan, tapi yang jauh lebih penting adalah Yesus berbicara juga mengenai jangan berhenti, tetap berjalan ... melewati dan melampaui penderitaan itu!

Dalam Perjanjian Lama, Daud dengan tepat merefleksikan hal ini dalam Mazmur 23:4. Daud berkata: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman ... aku tidak takut bahaya ..." Daud tidak mengatakan "Sekalipun aku tinggal dalam lembah kekelaman .. " Tidak! Yang Daud refleksikan pada waktu itu, "dia sedang berjalan melewati masa-masa kelam penuh derita dalam hidupnya".

Kekelaman hidup adalah satu masa dalam hidupnya .. Kekelaman hidup, menurut Daud, sifatnya sementara. Kembali ke perikop kita, ayat 31 ... Yesus tidak berhenti sampai pada kata bahwa Dia akan dibunuh dan selesai. Tidak!Melainkan Dia melanjutkannya dengan mengatakan bahwa setelah kematian-Nya, Dia akan bangkit!

Bila kita memakai bahasa yang digunakan Daud dalam Mazmur 23:4: Yesus berkata bahwa penderitaan, bahkan kematian sekalipun ... bagi-Nya ... juga bagi kita yang percaya kepada-Nya ... bukanlah akhir dari segalanya, itu semua hanya sementara siffatnya.

Beralih kepada para murid yang pada waktu itu sama sekali tidak mengerti (dan sayangnya mereka tidak mau tanya: apa maksud dari) perkataan Yesus tentang jalan penderitaan yang akan ditempuh-Nya itu ... Di suatu masa di kemudian hari ... mereka akhirnya memahami makna jalan penderitaan yang harus Guru mereka lalui itu ...

Sama seperti murid-murid yang terus berjalan bersama-sama dengan Yesus, kita pun pada akhirnya akan bisa melihat, merasakan dan menemukan apa yang menjadi kesaksian para murid tentang seorang sahabat bernama jalan penderitaan.

Petrus, salah satu murid-Nya, di kemudian hari memberikan kesaksian tentang hal itu demikian:
"Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu."
I Petrus 1:10-11

Ada kemuliaan yang bisa kita temukan di balik penderitaan yang kita alami sekarang.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER