Kejadian 32:1-32 | Berdamai dengan Masa Lalu - Pdt. Gerry Atje
Berdamai dengan Masa Lalu
Kejadian 32:1-32


Masih ingat dengan tokoh ini? Dulu dia adalah anak kesayangan ibunya. Berbeda dengan kakaknya yang suka berburu ke hutan, tokoh kita ini lebih suka membantu mama di dapur. Peristiwa yang terjadi kira-kira dua puluh tahun yang lampau telah menjadi bayang-bayang dalam hidup tokoh kita ini.

Mari kita membaca kisah hidupnya dalam kitab Kejadian 32:1-21 (baca Alkitab). Yakub namanya. Karakter Yakub disimpulkan sebagai seorang penipu atau perampas apa yang bukan menjadi miliknya. Kita tentu masih ingat peristiwa sup kacang merah di mana dia ‘merebut’ hak kesulungan dari kakaknya atau peristiwa ‘pura-pura berbulu’ di mana dia juga ‘merebut’ berkat yang seharusnya diberikan kepada Esau kakaknya. Atau peristiwa ‘memperdaya mertua saya’ ketika Yakub ‘mengakali’ hewan ternak milik Laban.

Hari ini, tokoh kita ‘menuai’ apa yang telah ditaburnya di masa lalu. “Yakub takut bertemu dengan Esau” begitu judul yang ada dalam perikop kita. Mari bayangkan sejenak bagaimana rasanya hidup selama dua puluh tahun lebih dengan beban rasa ketakutan, tertekan karena ‘luka masa lalunya itu’. Yakub sekarang dipenuhi oleh roh ketakutan dan bukan mustahil ia membenci dirinya sendiri jika ia melihat sejarah hidupnya yang kelam itu.

Kabar baik bagi kehidupan Yakub dimulai waktu ia berjumpa dengan ‘malaikat-malaikat Allah’ ... Dalam perjalanan pulang ke negeri nenek moyangnya, Yakub mulai berani menghadapi ‘beban masa lalunya’: ketakutan terhadap Esau.

Tapi memang melepaskan rasa bersalah, tekanan jiwa, roh ketakukan dalam diri Yakub sungguh tidak mudah! Lihat saja bagaimana dia mengatur seluruh iring-iringan keluarganya dan membaginya menjadi 2 pasukan (ayat 7, 16). Ketakutan dan rasa bersalah masih kuat merasuk dalam diri Yakub waktu itu: ‘jika Esau menyerang, yang kalah pasti pasukan di depan, sedangkan aku dan keluargaku ada di belakang punya kesempatan untuk melarikan diri (ayat 8)’

Titik terang mulai mengubah beban masa lalu Yakub menjadi lebih ringan ketika Yakub ‘bergelut dengan Allah’. Beban yang teramat berat Yakub itu mulai terangkat ketika Tuhan mengingatkan Yakub dengan berkata: “namamu tidak akan lagi disebut Yakub (yang artinya penipu), tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul dengan Allah dan manusia, dan engkau menang!”

Dari sanalah perubahan besar terjadi dalam hidup Yakub. Dia tidak lagi dikuasai oleh beban masa lalunya, melainkan ia sanggup menghadapi sumber ketakutan dan beban masa lalunya itu untuk meraih pemulihan diri yang utuh.

Kabar buruknya bagi kita hari ini adalah apa yang dialami oleh Yakub ketika dia menyadari tentang kehidupan masa lalunya dan kemudian hal itu membuat dia merasakan beban yang teramat dalam, bisa saja dialami oleh setiap kita hari ini. Seperti yang dialami oleh Yakub, kita pun seringkali memilih untuk ‘lari’ dan tidak mau mencari pemulihan diri dari semua rasa ketakutan dan beban-beban yang kita tanggung!

Kabar baiknya adalah pengalaman Yakub hari ini menjadikan bukti bagi kita yang mungkin juga mengalami dan merasakan apa yang menjadi ketakutan dan beban Yakub waktu itu, bahwa: Kita Bisa Menang! Kita bisa Dipulihkan!

Baca: Kejadian 33:8-10

Nah, mari kita hari ini sama-sama share tentang beberapa hal:
  1. Banyak orang di masa kini yang juga merasakan beban oleh karena masa lalunya. Tindakan-tindakan apa yang bisa mereka lakukan untuk bisa bebas dari beban masa lalu nya itu? Dan tindakan-tindakan apa yang membuat mereka tidak bisa lepas dari beban masa lalunya itu?
  2. Berkaca dari pengalaman Yakub, apa yang dapat kita renungkan ketika kita pun hari ini mengalami beban-beban masa lalu?

Kejadian 32:1-32 | Berdamai dengan Masa Lalu

Berdamai dengan Masa Lalu
Kejadian 32:1-32


Masih ingat dengan tokoh ini? Dulu dia adalah anak kesayangan ibunya. Berbeda dengan kakaknya yang suka berburu ke hutan, tokoh kita ini lebih suka membantu mama di dapur. Peristiwa yang terjadi kira-kira dua puluh tahun yang lampau telah menjadi bayang-bayang dalam hidup tokoh kita ini.

Mari kita membaca kisah hidupnya dalam kitab Kejadian 32:1-21 (baca Alkitab). Yakub namanya. Karakter Yakub disimpulkan sebagai seorang penipu atau perampas apa yang bukan menjadi miliknya. Kita tentu masih ingat peristiwa sup kacang merah di mana dia ‘merebut’ hak kesulungan dari kakaknya atau peristiwa ‘pura-pura berbulu’ di mana dia juga ‘merebut’ berkat yang seharusnya diberikan kepada Esau kakaknya. Atau peristiwa ‘memperdaya mertua saya’ ketika Yakub ‘mengakali’ hewan ternak milik Laban.

Hari ini, tokoh kita ‘menuai’ apa yang telah ditaburnya di masa lalu. “Yakub takut bertemu dengan Esau” begitu judul yang ada dalam perikop kita. Mari bayangkan sejenak bagaimana rasanya hidup selama dua puluh tahun lebih dengan beban rasa ketakutan, tertekan karena ‘luka masa lalunya itu’. Yakub sekarang dipenuhi oleh roh ketakutan dan bukan mustahil ia membenci dirinya sendiri jika ia melihat sejarah hidupnya yang kelam itu.

Kabar baik bagi kehidupan Yakub dimulai waktu ia berjumpa dengan ‘malaikat-malaikat Allah’ ... Dalam perjalanan pulang ke negeri nenek moyangnya, Yakub mulai berani menghadapi ‘beban masa lalunya’: ketakutan terhadap Esau.

Tapi memang melepaskan rasa bersalah, tekanan jiwa, roh ketakukan dalam diri Yakub sungguh tidak mudah! Lihat saja bagaimana dia mengatur seluruh iring-iringan keluarganya dan membaginya menjadi 2 pasukan (ayat 7, 16). Ketakutan dan rasa bersalah masih kuat merasuk dalam diri Yakub waktu itu: ‘jika Esau menyerang, yang kalah pasti pasukan di depan, sedangkan aku dan keluargaku ada di belakang punya kesempatan untuk melarikan diri (ayat 8)’

Titik terang mulai mengubah beban masa lalu Yakub menjadi lebih ringan ketika Yakub ‘bergelut dengan Allah’. Beban yang teramat berat Yakub itu mulai terangkat ketika Tuhan mengingatkan Yakub dengan berkata: “namamu tidak akan lagi disebut Yakub (yang artinya penipu), tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul dengan Allah dan manusia, dan engkau menang!”

Dari sanalah perubahan besar terjadi dalam hidup Yakub. Dia tidak lagi dikuasai oleh beban masa lalunya, melainkan ia sanggup menghadapi sumber ketakutan dan beban masa lalunya itu untuk meraih pemulihan diri yang utuh.

Kabar buruknya bagi kita hari ini adalah apa yang dialami oleh Yakub ketika dia menyadari tentang kehidupan masa lalunya dan kemudian hal itu membuat dia merasakan beban yang teramat dalam, bisa saja dialami oleh setiap kita hari ini. Seperti yang dialami oleh Yakub, kita pun seringkali memilih untuk ‘lari’ dan tidak mau mencari pemulihan diri dari semua rasa ketakutan dan beban-beban yang kita tanggung!

Kabar baiknya adalah pengalaman Yakub hari ini menjadikan bukti bagi kita yang mungkin juga mengalami dan merasakan apa yang menjadi ketakutan dan beban Yakub waktu itu, bahwa: Kita Bisa Menang! Kita bisa Dipulihkan!

Baca: Kejadian 33:8-10

Nah, mari kita hari ini sama-sama share tentang beberapa hal:
  1. Banyak orang di masa kini yang juga merasakan beban oleh karena masa lalunya. Tindakan-tindakan apa yang bisa mereka lakukan untuk bisa bebas dari beban masa lalu nya itu? Dan tindakan-tindakan apa yang membuat mereka tidak bisa lepas dari beban masa lalunya itu?
  2. Berkaca dari pengalaman Yakub, apa yang dapat kita renungkan ketika kita pun hari ini mengalami beban-beban masa lalu?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL