Kejadian 21:22-34 | Kualitas Hidup Orang Percaya

Kejadian 21:22-34

Kualitas hidup kita sebagai orang percaya terletak dalam pilihan-pilihan sikap yang kita ambil.

Kualitas Hidup Orang Percaya — Seorang raja mengadakan sayembara untuk menemukan gambaran tentang arti kedamaian sejati dalam sebuah lukisan. Maka 3 orang datang untuk membawa hasil lukisan mereka.

Lukisan pertama menggambarkan pemandangan alam – gunung, sawah, sungai yang mengalir, langit yang cerah. Lukisan ke dua menggambarkan keindahan pagi hari di sebuah hutan – burung-burung yang berkicau riang menyambut sang mentari pagi, embun pagi. Lukisan ketiga menggambarkan sebuah air terjun yang sangat deras.

Baca juga

Jika Anda adalah raja itu, siapa yang memenangkan sayembara? Sang raja dalam kisah ini kemudian memenangkan lukisan ke tiga: air terjun yang sangat deras. Mengapa? Karena ternyata ia melihat tidak jauh dari air terjun yang deras itu nampak ada seekor induk burung dan anak-anak burung sedang menikmati tidur mereka.

Dalam kehidupan bersama kita dengan yang lain, pasti akan selalu ada hal-hal yang menjadikan kita ‘tidak nyaman’ dengan situasi yang terjadi. Mungkin hal itulah yang membuat sang raja dalam ilustrasi tadi memenangkan lukisan ke tiga.

Karena nyatanya kedamaian yang sejati bukan berarti situasi tanpa ‘kegaduhan’, melainkan tetap merasakan kedamaian meskipun di sekeliling kita ada situasi dan kondisi yang mengganggu kedamaian hidup kita.
Kejadian 21:22-34
Perjanjian Abraham dengan Abimelekh
21:22 Pada waktu itu Abimelekh, beserta Pikhol, panglima tentaranya, berkata kepada Abraham: "Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan.
21:23 Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah harus engkau berlaku kepadaku dan kepada negeri yang kautinggali sebagai orang asing."
21:24 Lalu kata Abraham: "Aku bersumpah!"
21:25 Tetapi Abraham menyesali Abimelekh tentang sebuah sumur yang telah dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh.
21:26 Jawab Abimelekh: "Aku tidak tahu, siapa yang melakukan hal itu; lagi tidak kauberitahukan kepadaku, dan sampai hari ini belum pula kudengar."
21:27 Lalu Abraham mengambil domba dan lembu dan memberikan semuanya itu kepada Abimelekh, kemudian kedua orang itu mengadakan perjanjian.
21:28 Tetapi Abraham memisahkan tujuh anak domba betina dari domba-domba itu.
21:29 Lalu kata Abimelekh kepada Abraham: "Untuk apakah ketujuh anak domba yang kaupisahkan ini?"
21:30 Jawabnya: "Ketujuh anak domba ini harus kauterima dari tanganku untuk menjadi tanda bukti bagiku, bahwa akulah yang menggali sumur ini."
21:31 Sebab itu orang menyebutkan tempat itu Bersyeba, karena kedua orang itu telah bersumpah di sana.
21:32 Setelah mereka mengadakan perjanjian di Bersyeba, pulanglah Abimelekh beserta Pikhol, panglima tentaranya, ke negeri orang Filistin.
21:33 Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal.
21:34 Dan masih lama Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri orang Filistin.

Menunjukkan Kualitas Hidup Orang Percaya


Apa yang terjadi dengan Abraham dalam perikop kita, Kejadian 21:22-34, kira-kira menyiratkan hal itu pula. Seperti yang dikatakan dalam ayat 34 bahwa pada saat itu Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri Filistin, perlakuan tidak menyenangkan bisa saja terjadi dalam kehidupan Abraham.

Dan memang hal itu terjadi: ketika Abraham mengatakan kepada raja Abimelekh bahwa sebuah sumur yang digali oleh Abraham sendiri dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh.

Bagi masyarakat pada waktu itu, masalah sumur itu sama artinya dengan masalah ‘dapur sehari-hari’. Seperti seorang yang kehilangan mata-pencariannya kira-kira hal itulah yang terjadi jika kita kehilangan sumur di masa itu. Bagaimana memberi minum bagi ternak, menyirami ladang, dan mengupayakan berbagai kebutuhan rumah tangga jika tidak ada sumber air bagi mereka?

Abraham bisa saja menggugat dengan kemarahan kepada Abimelekh mengenai situasi itu. Akan tetapi, apa yang dilakukan Abraham sungguh mengagumkan: Alih-alih marah dan ‘menyatakan perang’, Abraham malahan mencari solusi yang positif dengan Abimelekh (Kejadian 21:27-29).

Apakah kita juga mampu menunjukkan kualitas hidup yang berbeda di tengah kehidupan kita sebagai orang percaya? Jelas mampu! Berdasarkan perikop hari ini ada 2 dasar yang bisa kita letakkan sebagai landasan kita untuk mampu menunjukkan kualitas hidup sebagai orang percaya.

Menyadari bahwa Kita Disertai oleh Tuhan

Kejadian 21:22-23
Pada waktu itu Abimelekh, beserta Pikhol, panglima tentaranya, berkata kepada Abraham: "Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan. Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah harus engkau berlaku kepadaku dan kepada negeri yang kautinggali sebagai orang asing."

Menyadari bahwa kehidupan kita disertai oleh Tuhan. Abimelekh mengetahui bahwa kehidupan Abraham disertai oleh Tuhan.

Oleh sebab itulah ia berkata seperti yang kita bisa lihat dalam Kejadian 21:23. Mungkin permasalahan banyak orang yang kemudian membuat mereka sulit untuk menunjukkan kualitas hidup sebagai orang percaya ada di sini: tidak menyadari bahwa Tuhan selalu ada beserta kita, meskipun situasi yang kita alami adalah kondisi yang ‘tidak menyenangkan’.


Memilih Menjalani Kehidupan yang Berkualitas

Kejadian 21:25-30
Tetapi Abraham menyesali Abimelekh tentang sebuah sumur yang telah dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh. Jawab Abimelekh: "Aku tidak tahu, siapa yang melakukan hal itu; lagi tidak kauberitahukan kepadaku, dan sampai hari ini belum pula kudengar." Lalu Abraham mengambil domba dan lembu dan memberikan semuanya itu kepada Abimelekh, kemudian kedua orang itu mengadakan perjanjian. Tetapi Abraham memisahkan tujuh anak domba betina dari domba-domba itu. Lalu kata Abimelekh kepada Abraham: "Untuk apakah ketujuh anak domba yang kaupisahkan ini?" Jawabnya: "Ketujuh anak domba ini harus kauterima dari tanganku untuk menjadi tanda bukti bagiku, bahwa akulah yang menggali sumur ini."

Memilih untuk menjalani kehidupan yang berkualitas. Keber-kualitas-an hidup kita sebagai orang percaya terletak dalam pilihan-pilihan sikap yang kita ambil.

Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita ini sebenarnya bersifat ‘netral’, yang menjadikan satu kejadian itu positif atau negatif adalah pilihan reaksi dan sikap yang kita ambil dalam menjalani segala sesuatu yang kita alami saat ini. Sebagai orang percaya, bukankah kita memiliki dasar yang sangat kuat agar kita memiliki kualitas hidup sebagai orang percaya: Janji-Nya!

Sharing: Tindakan atau sikap apa saja yang menjadi bentuk nyata dari kualitas hidup kita sebagai orang percaya di masa kini?

Kebahagiaan adalah suatu pilihan sadar. Bukan respons yang otomatis. Kebahagiaan adalah suatu sikap (iman) – bukan kapan dan di mana, melainkan di sini, sekarang ini. (Rose Barthel)

Post a Comment