Hakim-hakim 11:1-11 | Keputusan untuk Berkarya - Pdt. Gerry Atje
keputusan untuk berkarya
I. Hambatan untuk Berkarya

Ketika Allah memanggil kita untuk melakukan suatu karya bagi-Nya tidak bisa dipungkiri bahwa ada perasaaan-perasaan tertentu yang hadir dalam hati dan pikiran kita yang kemungkinan besar menjadikan kita ragu dalam mengambil keputusan untuk menerima panggilan itu!

Yefta mengalaminya. Pengalaman dikecewakan, ditolak, diejek (ayat 2) membuat Yefta ragu terhadap panggilan itu (ayat 7).

Salah satu fakta menarik terdapat dalam ayat 3; Hal ini mau mengatakan kepada kita bahwa betapa dekatnya diri kita ini kepada ‘Jalan yang Tidak Seturut dengan Kehendak Allah’ ketika pengalaman tidak mengenakkan itu hadir dalam sejarah hidup kita! Akhirnya: Kita melarikan diri ke arah yang salah; salah jalan dan jadinya nyasar! (ayat 3).

Mungkin itulah sebabnya mengapa salah satu definisi harafiah dari ‘dosa’ dalam Perjanjian Lama (Ibrani) adalah hatta yang berarti ‘tidak tepat sasaran, meleset’. Yefta, seorang pahlawan yang gagah perkasa (ayat 1) yang seharusnya bisa berkarya luar biasa oleh Allah, akan tetapi dalam ayat 3 ini dia meleset ke tanah Tob.

II. Karya Allah: Mengubah Hambatan menjadi Kesempatan untuk Berkarya

Untungnya kisah Yefta tidak berhenti sampai ayat 3. Dalam ayat selanjutnya dikatakan bahwa para tua-tua Gilead datang menjemput Yefta untuk menjadi pemimpin mereka. Pertanyaan penting: Mengapa harus Yefta, seseorang yang dahulu pernah mereka perlakukan secara tidak menyenangkan?


Dalam sejarah Israel, masa Hakim-hakim adalah masa di mana Israel sebagai satu kerajaan belumlah terbentuk; Jika mau dibandingkan dengan keadaan bangsa-bangsa lain, tentulah Israel kalah jauh: strategi perang, teknologi perang, bala tentara yang terlatih, dll. Mungkin ada kaitannya, kenapa para tua-tua Gilead saat ini datang ke Yefta – seorang pemimpin perampok, bukan orang lain.

Itu artinya: bahkan seandainya pun kita memiliki pengalaman ‘melesat dari sasaran Allah’ … Allah sanggup untuk mengubah pengalaman ‘salah jalan’ itu untuk kebaikan kita dan juga kabaikan orang-orang yang berada di sekitar kita, terlebih untuk berkarya bagi Tuhan. Contoh: Mantan Narkoba, Mantan Resedivis, … .

III. Keputusan-ku: Allah yang Memanggil, Allah pula yang Memperlengkapi dan Menguatkan

Inilah yang terpenting: Memutuskan untuk mulai berada di arah yang benar dan mulai berkarya bagi Tuhan (ayat 11). Masalahnya adalah dalam hal mengambil keputusan untuk mau dipakai oleh Allah menyatakan karya-Nya, yang epenuhnya memegang ‘kunci gembok’nya itu kita. Lalu di mana peran orang lain dan Tuhan? Tak pernah berhenti untuk meyakinkan kepada diri kita bahwa Allah bisa berkarya dalam diri kita … Hanya seandainya kita percaya dan mau memerikan kesempatan kepada Allah untuk membuktikan hal itu dalam hidup kita.

Hakim-hakim 11:1-11 | Keputusan untuk Berkarya

keputusan untuk berkarya
I. Hambatan untuk Berkarya

Ketika Allah memanggil kita untuk melakukan suatu karya bagi-Nya tidak bisa dipungkiri bahwa ada perasaaan-perasaan tertentu yang hadir dalam hati dan pikiran kita yang kemungkinan besar menjadikan kita ragu dalam mengambil keputusan untuk menerima panggilan itu!

Yefta mengalaminya. Pengalaman dikecewakan, ditolak, diejek (ayat 2) membuat Yefta ragu terhadap panggilan itu (ayat 7).

Salah satu fakta menarik terdapat dalam ayat 3; Hal ini mau mengatakan kepada kita bahwa betapa dekatnya diri kita ini kepada ‘Jalan yang Tidak Seturut dengan Kehendak Allah’ ketika pengalaman tidak mengenakkan itu hadir dalam sejarah hidup kita! Akhirnya: Kita melarikan diri ke arah yang salah; salah jalan dan jadinya nyasar! (ayat 3).

Mungkin itulah sebabnya mengapa salah satu definisi harafiah dari ‘dosa’ dalam Perjanjian Lama (Ibrani) adalah hatta yang berarti ‘tidak tepat sasaran, meleset’. Yefta, seorang pahlawan yang gagah perkasa (ayat 1) yang seharusnya bisa berkarya luar biasa oleh Allah, akan tetapi dalam ayat 3 ini dia meleset ke tanah Tob.

II. Karya Allah: Mengubah Hambatan menjadi Kesempatan untuk Berkarya

Untungnya kisah Yefta tidak berhenti sampai ayat 3. Dalam ayat selanjutnya dikatakan bahwa para tua-tua Gilead datang menjemput Yefta untuk menjadi pemimpin mereka. Pertanyaan penting: Mengapa harus Yefta, seseorang yang dahulu pernah mereka perlakukan secara tidak menyenangkan?


Dalam sejarah Israel, masa Hakim-hakim adalah masa di mana Israel sebagai satu kerajaan belumlah terbentuk; Jika mau dibandingkan dengan keadaan bangsa-bangsa lain, tentulah Israel kalah jauh: strategi perang, teknologi perang, bala tentara yang terlatih, dll. Mungkin ada kaitannya, kenapa para tua-tua Gilead saat ini datang ke Yefta – seorang pemimpin perampok, bukan orang lain.

Itu artinya: bahkan seandainya pun kita memiliki pengalaman ‘melesat dari sasaran Allah’ … Allah sanggup untuk mengubah pengalaman ‘salah jalan’ itu untuk kebaikan kita dan juga kabaikan orang-orang yang berada di sekitar kita, terlebih untuk berkarya bagi Tuhan. Contoh: Mantan Narkoba, Mantan Resedivis, … .

III. Keputusan-ku: Allah yang Memanggil, Allah pula yang Memperlengkapi dan Menguatkan

Inilah yang terpenting: Memutuskan untuk mulai berada di arah yang benar dan mulai berkarya bagi Tuhan (ayat 11). Masalahnya adalah dalam hal mengambil keputusan untuk mau dipakai oleh Allah menyatakan karya-Nya, yang epenuhnya memegang ‘kunci gembok’nya itu kita. Lalu di mana peran orang lain dan Tuhan? Tak pernah berhenti untuk meyakinkan kepada diri kita bahwa Allah bisa berkarya dalam diri kita … Hanya seandainya kita percaya dan mau memerikan kesempatan kepada Allah untuk membuktikan hal itu dalam hidup kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL