Filipi 3:12-14 | Proses Pembaharuan Diri - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Proses Pembaharuan Diri

Filipi 3:12-14

I. Pembukaan

Suatu hari, seseorang memperhatikan sebuah kepompong yang bergerak-gerak menggeliat ... “nampaknya akan muncul seekor kupu-kupu sebentar lagi dari balik kepompong itu” kata orang itu. Dia kemudian memutuskan untuk menunggu keluarnya kupu-kupu itu dari kepompongnya. Lama dia menanti dan terus menanti hingga dia berpikir: “kenapa tidak aku bantu saja kupu-kupu itu untuk keluar dari kepompongnya? Ah .. iya .. aku bantu saja dia untuk keluar dari situ” Keputusan sudah di ambil, ia pun merobek kepompong itu dan melihat kupu-kupu keluar dari dalam situ.

Akan tetapi apa yang terjadi, oh .. ternyata kupu-kupu itu ketika keluar dari kepompongnya, jatuh tergeletak di tanah dan tidak bisa terbang ... Betapa menyesalnya orang tadi karena dia baru saja tersadar bahwa sang kupu-kupu itu membutuhkan perjuangan untuk bisa keluar dari kepompong ... sebab di saat itulah dia melatih sayap-sayap dan kekuatan tubuhnya untuk siap menyambut kehidupan yang baru.

II. Penjelasan Bahan

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Perjuangan untuk semakin mengenal cara Tuhan dalam membentuk kehidupan kita melalui cara-cara-Nya yang kadang tidak pernah kita duga maksud baik-Nya kepada pertumbuhan dan pembaruan diri kita.

Hal inilah yang dipercaya oleh Rasul Paulus ketika dia menjelaskan bagaimana perjalanan hidupnya dalam ‘menikmati’ proses pembentukan diri bagi masa depan hidupnya. Bukankah luar biasa, seseorang yang dahulu terkenal begitu jahatnya kepada Kristus dan pengikutnya, tapi sekarang menjadi ‘aktivis garda depan’ dalam penyebaran kasih Kristus kepada semua orang!

Boleh jadi apa yang terjadi pada masa lalu Paulus adalah sesuatu yang dilihat Tuhan sebagai jalan untuk menunjukkan bagaimana ke-Mahakuasaan-Nya dalam menyatakan cinta kasih kepada seseorang yang telah berulang kali menyakiti-hati-Nya. Dan ketika Tuhan ‘menangkap’ Paulus masuk dalam ‘jaring kasih-Nya’, tujuan hidup Paulus berubah total. Pembenci Kristus menjadi Pengasih Kristus. Sumber ketakutan menjadi sumber damai.

Bagi Paulus, hidupnya kini adalah hidup untuk Tuhan. Paulus sanggup melupakan sejarah kelam masa lalunya karena tahu bahwa Tuhan bisa menggunakan kehidupannya yang kelam itu untuk membawa orang-orang pada pertobatan!

III. Penerapan Bahan

Bagi beberapa orang, tidak mudah mengikuti jejak Saulus untuk menjadi seorang Paulus. Beberapa terjebak dengan kekelaman hidupnya dan tidak bisa keluar dari situ. Beberapa jatuh terperosok dalam penyesalan diri dan tidak melakukan apa-apa untuk mengalami perubahan diri.

Kabar baik bagi kita hari ini adalah:

Jika Tuhan sanggup mengubah kehidupan seorang bajingan macam Saulus menjadi Pekabar Injil Paulus, Tuhan bisa mengulangi hal itu lagi kepada siapapun di masa kini!

Bagi Tuhan, tidak penting apa yang telah terjadi di masa lalu kita, Tuhan bisa membuat kekelaman hidup seseorang menjadi jalan bagi-Nya untuk menunjukkan karya hebat dalam diri orang itu.

Masa depan kita tidak berada di masa lalu.

Ada kalimat yang mengatakan “yang lalu biarlah berlalu”. Kita tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang telah terjadi dalam hidup kita, cuma satu yang bisa kita lakukan, menyadari bahwa di situlah Allah sedang memproses hidup kita (seperti kupu-kupu yang membutuhkan perjuangan untuk bisa terbang bebas).

Mungkin sakit, sedih, malu ... tapi ketika kita bisa berkata seperti Paulus: “Aku melupakan apa yang ada di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku”, maka dari situ kita bisa bergerak menuju arah hidup yang lebih baik dari kemarin.

Pokok Diskusi
  1. Hal-hal apa saja yang menjadi penghambat seseorang untuk dapat manjalani proses pembaruan diri dalam hidupnya?
  2. Menurut Anda, hal-hal apa yang menjadi kunci agar seseorang bisa menjalani proses pembaruan diri?

Filipi 3:12-14 | Proses Pembaharuan Diri


Proses Pembaharuan Diri

Filipi 3:12-14

I. Pembukaan

Suatu hari, seseorang memperhatikan sebuah kepompong yang bergerak-gerak menggeliat ... “nampaknya akan muncul seekor kupu-kupu sebentar lagi dari balik kepompong itu” kata orang itu. Dia kemudian memutuskan untuk menunggu keluarnya kupu-kupu itu dari kepompongnya. Lama dia menanti dan terus menanti hingga dia berpikir: “kenapa tidak aku bantu saja kupu-kupu itu untuk keluar dari kepompongnya? Ah .. iya .. aku bantu saja dia untuk keluar dari situ” Keputusan sudah di ambil, ia pun merobek kepompong itu dan melihat kupu-kupu keluar dari dalam situ.

Akan tetapi apa yang terjadi, oh .. ternyata kupu-kupu itu ketika keluar dari kepompongnya, jatuh tergeletak di tanah dan tidak bisa terbang ... Betapa menyesalnya orang tadi karena dia baru saja tersadar bahwa sang kupu-kupu itu membutuhkan perjuangan untuk bisa keluar dari kepompong ... sebab di saat itulah dia melatih sayap-sayap dan kekuatan tubuhnya untuk siap menyambut kehidupan yang baru.

II. Penjelasan Bahan

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Perjuangan untuk semakin mengenal cara Tuhan dalam membentuk kehidupan kita melalui cara-cara-Nya yang kadang tidak pernah kita duga maksud baik-Nya kepada pertumbuhan dan pembaruan diri kita.

Hal inilah yang dipercaya oleh Rasul Paulus ketika dia menjelaskan bagaimana perjalanan hidupnya dalam ‘menikmati’ proses pembentukan diri bagi masa depan hidupnya. Bukankah luar biasa, seseorang yang dahulu terkenal begitu jahatnya kepada Kristus dan pengikutnya, tapi sekarang menjadi ‘aktivis garda depan’ dalam penyebaran kasih Kristus kepada semua orang!

Boleh jadi apa yang terjadi pada masa lalu Paulus adalah sesuatu yang dilihat Tuhan sebagai jalan untuk menunjukkan bagaimana ke-Mahakuasaan-Nya dalam menyatakan cinta kasih kepada seseorang yang telah berulang kali menyakiti-hati-Nya. Dan ketika Tuhan ‘menangkap’ Paulus masuk dalam ‘jaring kasih-Nya’, tujuan hidup Paulus berubah total. Pembenci Kristus menjadi Pengasih Kristus. Sumber ketakutan menjadi sumber damai.

Bagi Paulus, hidupnya kini adalah hidup untuk Tuhan. Paulus sanggup melupakan sejarah kelam masa lalunya karena tahu bahwa Tuhan bisa menggunakan kehidupannya yang kelam itu untuk membawa orang-orang pada pertobatan!

III. Penerapan Bahan

Bagi beberapa orang, tidak mudah mengikuti jejak Saulus untuk menjadi seorang Paulus. Beberapa terjebak dengan kekelaman hidupnya dan tidak bisa keluar dari situ. Beberapa jatuh terperosok dalam penyesalan diri dan tidak melakukan apa-apa untuk mengalami perubahan diri.

Kabar baik bagi kita hari ini adalah:

Jika Tuhan sanggup mengubah kehidupan seorang bajingan macam Saulus menjadi Pekabar Injil Paulus, Tuhan bisa mengulangi hal itu lagi kepada siapapun di masa kini!

Bagi Tuhan, tidak penting apa yang telah terjadi di masa lalu kita, Tuhan bisa membuat kekelaman hidup seseorang menjadi jalan bagi-Nya untuk menunjukkan karya hebat dalam diri orang itu.

Masa depan kita tidak berada di masa lalu.

Ada kalimat yang mengatakan “yang lalu biarlah berlalu”. Kita tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang telah terjadi dalam hidup kita, cuma satu yang bisa kita lakukan, menyadari bahwa di situlah Allah sedang memproses hidup kita (seperti kupu-kupu yang membutuhkan perjuangan untuk bisa terbang bebas).

Mungkin sakit, sedih, malu ... tapi ketika kita bisa berkata seperti Paulus: “Aku melupakan apa yang ada di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku”, maka dari situ kita bisa bergerak menuju arah hidup yang lebih baik dari kemarin.

Pokok Diskusi
  1. Hal-hal apa saja yang menjadi penghambat seseorang untuk dapat manjalani proses pembaruan diri dalam hidupnya?
  2. Menurut Anda, hal-hal apa yang menjadi kunci agar seseorang bisa menjalani proses pembaruan diri?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER