Filipi 1:3-11 | Allah yang Memulai, Allah yang Menyertai - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Tuhan yang menopang
Pembukaan

Beberapa abad yang lalu seorang pengkhotbah terpanggil untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di daerah pedalaman yang belum mengenal Kristus. Ketika suatu hari ia sedang memberitakan kabar baik itu, seorang penduduk maju ke depan dan memberi kepadanya sebuah kertas. Ketika ia membuka kertas itu, betapa terkejutnya ia membaca apa yang tertera di dalamnya: “Bodoh!”

Lama dia terdiam menatap kertas itu di tengah orang-orang yang masih mendengarkan pemberitaan firman yang ia sampaikan waktu itu. Ia sedih, ia merasa tidak diterima, ia kecewa. Tapi beberapa saat kemudian, ia melanjutkan khotbahnya dengan menjelaskan kertas yang baru saja ia terima itu: “Saudara-saudariku, saya sudah sering menerima surat .... dan selama saya menerima surat pasti ada nama pengirim surat dan isi suratnya .... nah, baru kali ini saja saya pertama kali menerima sebuah surat yang ada nama pengirimnya tapi lupa menuliskan isi suratnya kepada saya”.

Ia lalu melanjutkan pemberitaan kabar baik Tuhan itu dan banyak orang diberkati dan menjadi percaya pada Yesus.

Penjelasan Bahan

Hidup sebagai orang percaya yang memiliki kerinduan untuk mengabarkan kabar baik bagi sesama memang tidak mudah. Berbagai penolakan, cibiran bahkan penderitaan mungkin kita alami dalam perjalanan hidup kita ini. Kalau sudah begini, pertanyaan besar terpampang dalam papan kehidupan kita: Mmasihkah perlu dilanjutkan perjalanan kita sebagai orang percaya itu?

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Paulus tahu benar bagaimana rasanya susahnya memberitakan kabar baik Tuhan kepada sesama pada waktu itu. Berbagai ancaman, kejaran hingga akhirnya dia di penjara karena memberitakan kabar baik dari Tuhan. Dengan semua yang dialaminya itu, bukankah seharusnya Paulus merasakan penderitaan yang bisa membuatnya berhenti sampai di sini saja?!


Akan tetapi, anehnya, alih-alih menyesali apa yang telah terjadi di dalam hidup Paulus sekarang ini yang sedang di penjara; Alih-alih meratap sedih penderitaan yang ia alami sekarang ini ... Paulus menuliskan sesuatu yang luarbiasa kepada jemaat di Filipi:

“Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu”

Apakah Paulus lupa bahwa saat itu dia ada dalam penjara sehingga ia bisa senantiasa menceritakan rasa syukurnya kepada jemaat di Filipi? Tidak!

Ayat 7-8:
... baik pada waktu aku dipenjarakan ... Sebab Allah adalah saksiku ...

Paulus senantiasa dapat bersyukur dalam segala hal, bahkan penderitaan yang ia alami sekarang ini karena ia percaya bahwa Allah adalah saksi baginya! Dan hal itulah yang menjadi bentuk perwujudan iman yang memberikan kekuatan pada Paulus yang mau ia bagikan kepada jemaat di Filipi dan kepada kita sekarang bahwa meskipun sekarang benar dia di penjara tapi Allah adalah saksi baginya dan “Apa yang telah di mulai oleh Allah akan diteruskan oleh-Nya hingga kita menemukan kemuliaan Allah di dalam Yesus Kristus” (ayat 6).

Bagaimana dengan Kita?

Bagimana dengan kehidupan kita sebagai orang percaya di masa kini? Apakah terjalnya perjalanan menghentikan langkah maju kita? Apakah beban berat yang terdapat diatas bahu membuat kita lelah? Apakah penolakan yang mungkin terjadi dalam hidup kita bahkan penderitaan yang ada membuat kita enggan melanjutkan perjalanan?

Allah telah memulai sesuatu yang luar biasa baik di dalam hidup kita! Dan janji-Nya kepada kita semua adalah: kita tidak pernah sendirian dalam melewati semua itu, Allah menyertai kita!

Pokok Diskusi
  1. Adakah kisah hidup saudara yang dramatis, yang di dalamnya Saudara melihat dan merasakan bagaimana Allah bekerja dan menolong Suadara? Ceritakanlah.
  2. Dari kisah itu, masihkah kita ragu dan takut berjalan bersama Allah?

Filipi 1:3-11 | Allah yang Memulai, Allah yang Menyertai

Tuhan yang menopang
Pembukaan

Beberapa abad yang lalu seorang pengkhotbah terpanggil untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di daerah pedalaman yang belum mengenal Kristus. Ketika suatu hari ia sedang memberitakan kabar baik itu, seorang penduduk maju ke depan dan memberi kepadanya sebuah kertas. Ketika ia membuka kertas itu, betapa terkejutnya ia membaca apa yang tertera di dalamnya: “Bodoh!”

Lama dia terdiam menatap kertas itu di tengah orang-orang yang masih mendengarkan pemberitaan firman yang ia sampaikan waktu itu. Ia sedih, ia merasa tidak diterima, ia kecewa. Tapi beberapa saat kemudian, ia melanjutkan khotbahnya dengan menjelaskan kertas yang baru saja ia terima itu: “Saudara-saudariku, saya sudah sering menerima surat .... dan selama saya menerima surat pasti ada nama pengirim surat dan isi suratnya .... nah, baru kali ini saja saya pertama kali menerima sebuah surat yang ada nama pengirimnya tapi lupa menuliskan isi suratnya kepada saya”.

Ia lalu melanjutkan pemberitaan kabar baik Tuhan itu dan banyak orang diberkati dan menjadi percaya pada Yesus.

Penjelasan Bahan

Hidup sebagai orang percaya yang memiliki kerinduan untuk mengabarkan kabar baik bagi sesama memang tidak mudah. Berbagai penolakan, cibiran bahkan penderitaan mungkin kita alami dalam perjalanan hidup kita ini. Kalau sudah begini, pertanyaan besar terpampang dalam papan kehidupan kita: Mmasihkah perlu dilanjutkan perjalanan kita sebagai orang percaya itu?

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Paulus tahu benar bagaimana rasanya susahnya memberitakan kabar baik Tuhan kepada sesama pada waktu itu. Berbagai ancaman, kejaran hingga akhirnya dia di penjara karena memberitakan kabar baik dari Tuhan. Dengan semua yang dialaminya itu, bukankah seharusnya Paulus merasakan penderitaan yang bisa membuatnya berhenti sampai di sini saja?!


Akan tetapi, anehnya, alih-alih menyesali apa yang telah terjadi di dalam hidup Paulus sekarang ini yang sedang di penjara; Alih-alih meratap sedih penderitaan yang ia alami sekarang ini ... Paulus menuliskan sesuatu yang luarbiasa kepada jemaat di Filipi:

“Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu”

Apakah Paulus lupa bahwa saat itu dia ada dalam penjara sehingga ia bisa senantiasa menceritakan rasa syukurnya kepada jemaat di Filipi? Tidak!

Ayat 7-8:
... baik pada waktu aku dipenjarakan ... Sebab Allah adalah saksiku ...

Paulus senantiasa dapat bersyukur dalam segala hal, bahkan penderitaan yang ia alami sekarang ini karena ia percaya bahwa Allah adalah saksi baginya! Dan hal itulah yang menjadi bentuk perwujudan iman yang memberikan kekuatan pada Paulus yang mau ia bagikan kepada jemaat di Filipi dan kepada kita sekarang bahwa meskipun sekarang benar dia di penjara tapi Allah adalah saksi baginya dan “Apa yang telah di mulai oleh Allah akan diteruskan oleh-Nya hingga kita menemukan kemuliaan Allah di dalam Yesus Kristus” (ayat 6).

Bagaimana dengan Kita?

Bagimana dengan kehidupan kita sebagai orang percaya di masa kini? Apakah terjalnya perjalanan menghentikan langkah maju kita? Apakah beban berat yang terdapat diatas bahu membuat kita lelah? Apakah penolakan yang mungkin terjadi dalam hidup kita bahkan penderitaan yang ada membuat kita enggan melanjutkan perjalanan?

Allah telah memulai sesuatu yang luar biasa baik di dalam hidup kita! Dan janji-Nya kepada kita semua adalah: kita tidak pernah sendirian dalam melewati semua itu, Allah menyertai kita!

Pokok Diskusi
  1. Adakah kisah hidup saudara yang dramatis, yang di dalamnya Saudara melihat dan merasakan bagaimana Allah bekerja dan menolong Suadara? Ceritakanlah.
  2. Dari kisah itu, masihkah kita ragu dan takut berjalan bersama Allah?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER