-->

II Samuel 12:16-23 | Anakku Mati

2 Samuel 12:16-23

Segera pandangkan hati dan pikiran kita ke atas.

Anakku Mati — Mendengar kabar duka hari ini, sempat terbersit satu pertanyaan dalam hati saya untuk Tuhan:

"Tuhan, dia masih muda, bukankah seorang yang masih muda seharusnya masih punya waktu yang panjang untuk melakukan sesuatu buat Tuhan, buat keluarga dan buat masa depannya? Kenapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi?"

Saya pernah nonton satu film, di mana ada keluarga yang menguburkan anaknya. Di akhir pemakaman anaknya itu, sang ayah menyampaikan sesuatu kepada jemaat yang hadir, "Tidak seharusnya seorang ayah atau seorang ibu pergi untuk menguburkan anak mereka."

Buat saya ungkapan ini adalah ungkapan hati yang mau berkata kepada Tuhan, "Tuhan, kalau boleh, aku duluan saja, ayahnya ini, yang duluan Tuhan panggil! Jangan anakku Tuhan, dia masih punya jalan hidup yang panjang."

Mazmur 90:10 mengatakan
Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun.

Baca juga

Akan tetapi, kalau memang Tuhan punya rencana lain, kita tahu bahwa inilah pilihan yang terbaik dari Tuhan untuk anak kita dan untuk keluarga yang ditinggalkan.

Berapa tahun anak kita sakit?
Dan di sepanjang sakitnya itu, keluarga sudah memperjuangkan semaksimal mungkin untuk kebaikan anak kita.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, II Samuel 12:16-23, hal itu pula yang diperjuangkan Daud untuk anaknya yang sakit keras waktu itu.

Daud puasa, berdoa, dia menangis minta kesembuhan anaknya dari Tuhan dan Daud juga ‘gak mau diganggu oleh orang lain pada waktu itu.

Dari pengalaman Daud, ada 2 hal yang mau kita maknai dalam memandang peristiwa yang mendukakan hati kita saat ini.

Sudut Pandang Daud


Apa yang Daud pandang ketika anaknya meninggalkan dia untuk selamanya?

Ada sesuatu yang menjadikan Daud mampu melakukan apa yang disebutkan di ayat 20.

2 Samuel 12:20
Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan.

Mengapa Daud mengalami perubahan yang begitu drastis dan membuat semua pegawainya waktu itu bingung?

Karena Daud memahami peristiwa yang mendukakan hati itu sebagai peristiwa kemenangan, satu hal yang membawa pembebasan dan kehidupan yang baru.

"Buat apa aku bersedih, anakku sudah bebas dari sakit kerasnya; Buat apa aku kuatir lagi, anakku sudah pulang ke rumah kekal. Nanti aku yang akan pergi kepadanya untuk berjumpa kembali di surga."

Hari ini adalah hari kemenangan bagi anak kita. Mari kita rayakan hari ini sebagai hari penyataan kasih Tuhan yang telah membawa pulang anak kita ke surga.

Bukan hanya sekadar berhenti di lembah kesedihan karena kehilangan yang sementara, akan tetapi segera pandangkan hati dan pikiran kita ke atas. Ke tempat di mana sekarang anak kita berada, di surga.

Karena di sana kita pun akan dikumpulkan kembali suatu hari nanti di dalam kehidupan yang baru, kehidupan yang kekal, seperti yang sudah dinikmati oleh anak kita.

Figur Daud dalam Hidup Kita

Ternyata dalam kehidupan kita, akan selalu ada figur Daud-Daud di sekitar kita!

Siapa Daud dalam hidup kita? Pandanglah mereka, ingatlah mereka. Orang-orang yang memperjuangkan hidup kita siang malam. Mereka rela melakukan apa saja untuk kita, dia mau supaya kita bisa mendapatkan yang terbaik di dalam hidup kita ini.

Jadi, siapa figur Daud di dalam hidup kita? Semua orang yang sayang pada kita, yang selalu mengingatkan jalan yang kita pilih di dalam hidup kita. Mereka adalah figur Daud dalam hidup kita di masa kini.

Mari kita melakukan yang baik dan terus berjuang untuk memperbaharui hidup kita. Kita ‘gak tahu sebesar apa pengorbanan mereka untuk kita. Semoga kita tidak pernah mengecewakan mereka, orang-orang yang telah berkorban, berjuang dan rela kasih kepada kita semua yang baik dalam hidup kita.

Ketika Anda lahir, Anda menangis dan orang-orang di sekeliling Anda tertawa & gembira. Maka berusahalah untuk membuat hidup Anda sedemikian rupa sehingga kelak … ketika Anda meninggal nanti, Anda tersenyum bahagia dan orang-orang di sekeliling Anda yang mengenal Anda menangis. (Mahatma Gandhi)
Credit: Pixabay (Gambar)

Post a Comment