Lukas 24:13-35 | Muka Muram di Jalan yang Suram

Lukas 24

Akan selalu ada tarik-menarik antara kebodohan-kebodohan kita yang membuat kita bermuka muram dengan jalan keselamatan yang telah Tuhan sediakan bagi kita.

Lukas 24:13-35 — Syalom bapak dan ibu semuanya. Tetap sehat, tetap semangat dalam melewati situasi yang sulit ini ya.

Bahan renungan kita sekarang pas sekali dengan yang sedang ramai beberapa hari belakangan ini. Orang-orang yanhg ribut-ribut soal pulang kampung atau mudik.

Nah ini nih, dua orang yang berjalan sepanjang 7 mil (kurang lebih 10 KM) dari Yerusalem ke Emaus disebutnya apa ya? Pulang kampung atau mudik? Atau malah merantau? Ah, yang terakhir mah pasti bukan ya.

Okelah, saya gak mau ajak kita untuk bahas itu sih hari ini. Cuma keinget saja yang sedang ramai diperbincangkan.

Saya percaya kita semua mengenal cukup dekat dengan perikop kita hari ini.

Tentang dua orang yang sudah kehilangan pengharapan mereka dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke kampung mereka di Emaus.

Mau ngapain lagi di kota (Yerusalem)? Yesus, Guru yang mereka harap-harapkan itu sudah wafat (ayat 20-21).

Perjalanan panjang yang pasti penuh dengan kelesuan!

Jarak 10 KM itu teh seperti dari Gereja kita di Sewan (GKP Tangerang) ke Universitas Pelita Harapan di Karawaci.

Nah itu, jalan dengan apa yang dikatakan dalam ayat 17, "muka muram".

Kita tahu bagaimana rasanya berjalan dengan muka yang muram.
Seakan-akan Tuhan tidak ada lagi, pengharapan lenyap sudah dan di depan sana suram.

Jangankan perjalanan panjang sejauh 10 KM, bermuka muram di rumah saja jalan di dalam rumah dari ruang depan ke dapur sudah gak enak rasanya.

Benar-benar perjalanan panjang yang melelahkan.

Bukan hanya fisik yang lelah, tetapi lebih dari itu, lelah pikiran.

Dan kita tahu orang yang bermuka muram di jalan yang suram, dengan semua kelelahannya itu akan sangat sensi (sensitif) terhadap segala sesuatunya.

Makanya saya sangat kagum dengan Yesus yang tidak mereka kenal pada waktu itu ... Kok bisa-bisanya Yesus menghardik mereka di ayat 25, "Hai kamu orang yang bodoh, lamban hati!" dan kedua murid tadi tidak marah.

Kata Yunani yang digunakan untuk kata bodoh di situ adalah anoetos (a - tanpa, noetos - berpikir), kata yang sama juga muncul di Titus 3:3 dan diterjemahkan menjadi "kejahilan" - jahiliah, kebodohan.

Kok bisa ya dihardik tapi gak marah?

Pastilah karena Yesus menjelaskan dengan sangat detail apa yang dikatakan di ayat 26-27

Lukas 26-27
26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" 27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Seorang penafsir Alkitab, Albert Barnes, menyebutkan ketika ia menafsir ayat 27 tentang ayat mana saja yang dijelaskan oleh Yesus kepada kedua orang murid yang tidak mengenaliNya itu.

The most striking passages foretelling the character and sufferings of Christ are the following, which we may suppose it possible our Saviour dwelt upon to convince them that, though he was crucified, yet he was the Christ: Genesis 3:15; Deuteronomy 18:15; Genesis 49:10; Numbers 21:8-9; Isaiah 53:1-12; Daniel 9:25-27; Isaiah 9:6-7; Psalm 110:1-7; Psalm 16:1-11; 22; Malachi 4:2-6.

Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal dari perikop kita.

Yang pertama, akan selalu ada tarik-menarik antara kebodohan-kebodohan kita yang membuat kita bermuka muram dengan jalan keselamatan yang telah Tuhan sediakan bagi kita.

Bukankah itu yang sedang diperjuangkan kita sekarang dengan PSBB, di rumah saja dulu ya.

Jalan pemulihan, keselamatannya sudah jelas: PSBB.

Sebelum Tuhan menghardik yang tidak patuh pun, sudah keduluan dihardik sama pak Polisi kan.

Ya marilah, kalau memang kita ingin badai Covid 19 ini segera berlalu, dengarkan jalan pemulihannya dan lakukan itu.

Yang terakhir, Lukas 24:33
Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.

Jarak 10 KM perjalanan yang lesu, bermuka muram dan ketika mereka menyadari bahwa yang sedari tadi berjalan bersama mereka adalah Yesus, mereka langsung melakukan perjalanan balik lagi ke Yerusalem. Sepuluh kilometer lagi.

Jalan yang ditempuhnya sama.
Jaraknya sama.

Tetapi jelas ada yang berbeda di dalam diri mereka kala mereka berjalan 10 kilometer lagi kembali dari Emaus menuju Yerusalem.

- Muka muram yang telah berganti dengan muka yang bersukacita.
- Lamban hati yang sudah berganti dengan hati yang berkobar-kobar.

Jalan suram yang telah diubahkan menjadi jalan sukacita karena perjumpaan mereka dengan Kristus.

Hari ini, kita pun bisa memilih kita ini mau menjalani yang mana?

Jalan yang sama, pergumulan yang sama ...

Mau bermuka muram atau bermuka berseri?
Memandang ini adalah jalan yang suram dan titik atau memandang bahwa ini adalah bagian dari cara Tuhan menunjukkan jalan keselamatan yang membawa sukacita pada akhirnya?

Selamat menemukan Kristus yang selalu dan benar-benar hadir ditengah-tengah kehidupan keluarga kita, bangsa kita, bumi kita yang sedang dilanda duka ini.

Tuhan memulihkan, Amin.

Post a Comment